Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Laut Seribu Arus
Lonceng kapal berdentang tiga kali di kejauhan. Bunyinya merambat berat di atas riak sungai, memantul pada tiang-tiang kayu rumah panggung yang basah.
Beberapa lentera minyak di seberang dermaga lekas dipadamkan. Suara langkah kaki tergesa berbaur dengan bentakan pelan para tetua yang menyuruh anak-anak lekas masuk.
Lu Han menutup daun jendela dengan sentakan cepat. "Jangan berdiri dekat air."
Ye Chan melirik celah dinding sambil memegangi rusuknya yang masih diperban. "Monster pemangsa?"
"Belum tentu," sahut Lu Han seraya melilitkan tali sabut ke palang pintu. "Kalau monster menyerang, lonceng dibunyikan terus-menerus tanpa henti. Tiga kali dentang menandakan ada gangguan di jalur pelayaran utama."
"Lalu kenapa mereka begitu panik?"
Lu Han mengencangkan simpul talinya dengan dengusan pendek. "Karena gangguan sebesar itu bisa berubah jadi bencana mematikan sewaktu-waktu."
Ye Chan mengangguk kecil. Penjelasan itu cukup masuk akal.
Ia melangkah perlahan menuju celah papan jendela yang baru saja dirapatkan. Udara lembap beraroma lumpur basah menyusup masuk melalui rongga kayu.
Sungai di luar sana terbentang hitam pekat. Cahaya bulan hanya mampu menyapu permukaannya yang bergelombang tipis.
Sebuah riak ganjil bergulir di dekat tiang penyangga rumah.
Ye Chan mengangkat telunjuk kanannya secara perlahan.
Air di luar celah jendela bergetar halus. Ia tidak melafalkan mantra atau memicu segel tangan rumit. Kesadarannya hanya menyentuh aliran air secara naluriah.
Sebuah bayangan raksasa meluncur pelan jauh di kedalaman sungai. Sosok itu panjang, meliuk tanpa suara di balik pekatnya arus dasar.
Bayangan itu mendadak berhenti.
Ye Chan menyipitkan mata, menahan napasnya sejenak. Makhluk itu berukuran sangat masif, tetapi tubuhnya tidak berenang melawan arah aliran utama.
Ia menggeser ujung jarinya satu inci ke kiri.
Arus halus ikut bergeser.
Sosok raksasa di bawah air bergerak memutar. Gerakannya tenang, sama sekali tidak berniat mengejar riak buatan Ye Chan. Makhluk itu justru membelokkan ekornya, hanyut mengikuti arus seakan sedang berusaha keluar dari kepungan sesuatu.
Ye Chan menarik tangannya kembali ke sisi tubuh. "Makhluk itu tidak sedang berburu mangsa."
Lu Han menoleh dengan tatapan menyelidik. "Bagaimana kau tahu hal itu?"
"Hanya perkiraan," jawab Ye Chan seraya beringsut mundur ke sudut ruangan. "Tapi kalau ia berniat menyerang desa, tiang kayu tempat kita berpijak sudah patah sejak tadi."
Tiba-tiba, suara derak kayu terdengar keras dari arah dermaga luar.
Disusul teriakan serak seorang pria. "Talinya putus! Perahunya hanyut!"
Lu Han menyambar tombak pendeknya tanpa berpikir panjang. "Sialan, perahuku!"
Pintu kayu dibanting terbuka lebar. Ye Chan menghela napas panjang seraya meraih tongkat kayu di dekat lantai. Malam ini tubuhnya benar-benar dipaksa lembur.
Angin basah menyapu wajah Ye Chan begitu ia menjejak jembatan titian luar.
Perahu kayu milik Lu Han telah terlepas dari tambatan, berputar liar di tengah pusaran sungai. Lu Han melompat ke ujung dermaga yang licin, lalu melemparkan seutas tali tambang sekuat tenaga.
Ujung tali itu jatuh menepuk air, berjarak dua depa dari bibir perahu.
"Sialan!" umpat Lu Han, bersiap melompat ke pusaran air dingin.
Ye Chan mencengkeram kerah belakang baju pemuda itu dengan tangkas. "Kalau kau melompat sekarang, kau hanya menambah satu mayat yang harus diseret ke darat."
"Lepaskan aku!" sergah Lu Han, meronta liar.
Ye Chan menatap mata pemuda itu dengan dingin. "Perahu usang itu lebih berharga daripada nyawamu sendiri?"
Lu Han membeku di tempat, giginya bergemeletuk menahan amarah yang buntu.
Ye Chan mengangkat tangan kirinya ke arah sungai. 'Bagi seorang nelayan miskin, alat kerja adalah segalanya.'
Air di sekitar lambung perahu mendadak bergolak pelan. Aliran liar yang menyeret perahu perlahan kehilangan tenaganya.
Nyeri tajam menusuk jalur meridian di dada Ye Chan.
Ia menggertakkan gigi, menahan erangan yang nyaris lolos. Kekuatan tubuhnya masih rapuh. Ia tidak memaksa menarik bobot perahu secara langsung. Sebagai gantinya, ia membelokkan arus air dari samping, membiarkan aliran sungai mendorong buritan perahu merapat ke dermaga.
Lambung perahu berderit membentur tiang pancang.
"Sekarang!" desis Ye Chan dengan suara tertahan.
Lu Han melemparkan tali cadangan dengan cepat. Jerat tali mengunci tiang perahu dengan tepat. Tiga pria desa lainnya lekas membantu menarik tambang hingga perahu aman tertambat.
Ye Chan menurunkan tangannya, bertumpu berat pada tongkat kayu. Dadanya naik-turun menahan perih.
Lu Han melangkah menghampirinya dengan tatapan bingung. "Itu tadi teknik sihir air milik sekte mana?"
"Bukan urusanmu," sahut Ye Chan pendek. "Anggap saja aku sedang tidak ingin menjelaskan apa pun padamu."
Ia memutar tumit untuk kembali ke rumah, namun sebuah seruan tua menghentikan langkahnya.
"Anak muda, tunggu sebentar."
Seorang nelayan tua berambut kelabu melangkah mendekat dengan lentera bambu di tangan. "Kemampuanmu mengatur arus cukup berguna. Kalau kau ingin menetap di sini, para tetua bisa memberimu upah kerja."
Ye Chan menatap lelaki tua itu tanpa basa-basi. "Berapa bayarannya?"
Lu Han menepuk jidatnya sendiri. "Bahkan dalam keadaan sekarat begini kau masih sempat memikirkan uang?"
"Obat pemulih luka tidak dibagikan gratis oleh siapa pun," potong Ye Chan tajam.
Nelayan tua itu tertawa pendek. "Bagus. Orang yang tahu harga diri dan uang jauh lebih mudah diajak kerja sama."
Ia menunjuk ke muara sungai di timur. "Besok fajar, kapal dagang dari Kota Arus Biru bakal berlabuh. Mereka mencari orang yang paham arus liar. Kalau kau mampu memandu mereka, kau bisa memperoleh obat bermutu untuk merawat lukamu."
Mata Ye Chan berbinar tipis. Obat penyembuh adalah incaran utamanya saat ini. "Aku akan bicara dengan kapten mereka besok pagi."
***
Tiga jam berlalu hingga hawa dingin fajar menusuk celah dinding papan.
Di atas meja kayu tergeletak tiga barang milik Ye Chan: sebuah botol pil porselen kosong, kantong kain dekil berisi lima batu roh rendah, dan dua tangkai tanaman obat berdaun lebat.
Ye Chan menyentuh daun berurat biru tersebut. Aroma getahnya berbau asin di udara dingin.
"Rumput Nadi Air," gumamnya pelan.
Tanaman liar bermutu rendah. Khasiatnya hanya mampu menenangkan gejolak energi di pembuluh darah, tidak sanggup menyambung meridiannya yang koyak.
Ia menatap kepingan batu roh di sebelahnya. Bekal perjalanannya terkuras habis demi melarikan diri dari Lembah Kekacauan tempo hari. Setiap keping batu roh kini sangat berharga bagi kelangsungan hidupnya.
Ye Chan membuka telapak tangan kirinya di atas cangkir teh.
Setetes air terangkat ke udara, membentuk gumpalan bulat kecil. Ia mencoba memutar tetesan itu menggunakan kehendak pikirannya.
Tetesan air berputar cepat, lalu pecah berantakan ke atas meja papan.
Rasa ngilu menusuk dari pangkal lengan menuju tengkuknya.
Ye Chan segera menarik kembali energinya. 'Kendaliku masih sangat dangkal. Jangkauannya pendek dan boros tenaga.'
Tubuhnya adalah pembatas terbesar saat ini. Memaksakan penguasaan elemen sebelum meridiannya sembuh hanya akan merusak fondasi kultivasinya secara permanen.
Langkah pertamanya jelas: obati tubuh, kumpulkan modal batu roh, lalu pahami rahasia energi air yang bersemayam di dalam dirinya.
Pintu depan berderit terbuka pelan.
Lu Han melangkah masuk membawa semangkuk bubur ikan panas. "Kapal dagang dari kota sudah melempar sauh di dermaga utama."
Ye Chan menatap mangkuk yang diletakkan di mejanya. "Kau meminta bayaran untuk sarapan ini?"
"Makan saja sebelum bubur itu dingin," gerutu Lu Han seraya mendengus kesal.
Ye Chan menyendok bubur itu ke mulutnya. "Baguslah, akhirnya ada sedikit keberuntungan pagi ini."
Kabut tebal perlahan memudar saat Ye Chan tiba di dermaga utama desa.
Sebuah kapal dagang berukuran megah bersandar di antara tiang pancang. Lambung kapal terbuat dari kayu ulin gelap yang dilapisi lempengan logam bertatah mantra pelindung. Tiga layar sutra biru berkibar pelan tertiup angin muara.
Dua pengawal berjubah abu-abu berdiri tegak di geladak kapal. Pedang panjang mereka tersampir rapi, memancarkan tekanan Qi tingkat Pembentukan Inti yang cukup stabil.
Seorang pria tambun dengan jubah bersulam emas melangkah menuruni jembatan kayu kapal.
"Siapa di antara kalian yang mengaku bisa memandu arus?" seru kapten kapal itu dengan suara lantang.
Lu Han menunjuk rekannya. "Orang ini."
Kapten itu memandang perban kotor yang membebat dada Ye Chan dengan alis bertaut. "Dia hampir tidak bisa berdiri tegak."
"Tapi orang ini yang menjinakkan arus liar semalam," timpal Ye Chan dengan nada tenang.
Kapten menyipitkan mata, menimbang sikap pemuda di depannya. "Jalur utara menuju Kota Arus Biru mendadak bergolak aneh. Dua perahu pengintaiku terpaksa putar balik. Kau bisa mencari jalur amannya?"
"Dua puluh batu roh rendah," tukas Ye Chan tanpa ragu. "Separuh dibayar di muka sekarang juga."
Kapten tertawa sinis. "Pekerjaanmu belum dimulai sama sekali, bocah."
"Dan separuh tubuhku dipertaruhkan untuk memandu kapal besarmu," balas Ye Chan dingin.
Kapten mendengus pelan, lalu melempar sebuah kantong kecil ke udara. Ye Chan menangkap kantong itu dengan cekatan, menimbang berat sepuluh batu roh di dalamnya tanpa perlu membuka ikatannya.
Ia mengantongi batu roh itu ke balik jubahnya. "Bawa aku ke ruang navigasi sekarang."
Ruang navigasi kapal berbau damar dan kayu manis.
Sebuah peta dari kulit binatang terbentang lebar di atas meja jati. Ye Chan mengamati garis tinta yang menandai kedalaman palung dan riam sungai. Jari telunjuknya menyusuri lekukan jalur utara, lalu mendadak terpaku pada satu titik.
Sebuah lingkaran bertinta merah pekat tertera jelas di sana.
Tiga karakter kuno tertulis tegas di sampingnya: DAERAH ROH KUNO.
"Kenapa rute ini diberi tanda larangan melintas?" tanya Ye Chan, melirik kapten di sampingnya.
Raut wajah kapten seketika mengeras. "Karena sesuatu di kedalaman sana telah bangkit dari tidurnya."
"Monster buas?"
Kapten menggeleng pelan dengan rahang mengetat. "Dua kapal dagang lenyap tanpa jejak di pusaran itu. Kapal ketiga berhasil kembali, tapi ingatan seluruh awaknya musnah terbakar."
Ye Chan menatap lingkaran merah di atas kulit binatang itu.
Tiba-tiba, setetes air tawar di atas permukaan peta bergerak pelan dengan sendirinya. Tetesan itu merayap memanjang, membentuk jalur basah yang mengarah lurus ke lingkaran merah tersebut.
Ye Chan segera menelungkupkan telapak tangannya ke atas peta, menekan tetesan air itu sebelum kapten sempat menyadarinya.
Di bawah papan geladak kapal, jauh di dasar palung hitam yang dingin, desir arus bergetar menyapa benaknya. Sesuatu yang teramat purba baru saja membuka matanya.