Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam itu, Ethan pergi ke sebuah klub malam. Ia duduk di sudut bar, menghabiskan minuman demi minuman tanpa memedulikan waktu. Musik yang bising dan keramaian di sekelilingnya tidak mampu mengusir pikirannya dari Selena.
Setiap kali mengingat percakapan yang didengarnya siang tadi, dadanya terasa sesak. Selena hamil anaknya, tetapi perempuan itu sama sekali tidak ingin dirinya terlibat. Bahkan, Selena rela bercerai dari Jason daripada membiarkannya mengetahui kebenaran tersebut.
Ethan menenggak minumannya hingga habis, lalu meminta pelayan menuangkan lagi.
"Kenapa harus Jason?" gumamnya dengan tawa hambar. "Kenapa kau memilih kakakku untuk melindungimu dariku?"
Ia tahu dirinya tidak berhak menyalahkan Selena. Namun, semakin ia menyadari bahwa perempuan itu benar-benar ingin menghapusnya dari hidupnya, semakin sulit baginya menerima kenyataan tersebut.
Menjelang tengah malam, Ethan akhirnya meninggalkan klub. Langkahnya sedikit sempoyongan ketika memasuki mobil, tetapi ia masih ingat satu tempat yang ingin ditujunya. Yaitu pulang ke rumah atau lebih tepatnya, kamar Selena.
Rumah sudah sunyi ketika Ethan tiba. Ia melepas jaket kulitnya, lalu berjalan melewati ruang tengah dengan langkah yang hati-hati. Ia tahu Jason mungkin masih terjaga, sehingga ia berusaha tidak menimbulkan suara.
Setelah memastikan lorong lantai atas kosong, Ethan berhenti di depan kamar Selena. Tangannya terangkat, tetapi ia tidak mengetuk. Ia tahu Selena tidak akan membukakan pintu jika mengetahui siapa yang berdiri di luar.
Akhirnya, ia membuka pintu perlahan. Kamar itu hanya diterangi lampu tidur. Selena terlelap di ranjang, tubuhnya sedikit menyamping dengan selimut menutupi hingga pinggang. Ethan berdiri di ambang pintu, menatapnya dalam diam.
Melihat Selena dari dekat membuat pikirannya kembali kacau. Perempuan itu tampak begitu tenang dalam tidurnya, seolah tidak ada rahasia yang sedang mereka perebutkan. Ethan melangkah masuk dan menutup pintu tanpa suara.
Ia berhenti beberapa langkah dari ranjang, menunduk menatap Selena.
"Jadi, kau benar-benar ingin menyembunyikan anakku dariku?" bisiknya.
Bagaimana mungkin wanita itu berniat membesarkan malaikat kecil mereka di bawah bayang-bayang Jason? Mengingat masa-masa indah saat Selena dulu bersandar manja di dadanya sambil membicarakan angan-angan tentang keluarga kecil mereka, kini Ethan merasa separuh jiwanya direnggut paksa. Ketakutan di paras ayu itu beberapa saat lalu meremukkan hatinya, namun penolakan Selena justru semakin mengunci obsesinya.
"Kamu tidak akan bisa lari dariku, Selena..." bisik Ethan serak, suaranya terdengar hampa menembus keheningan malam.
Selena masih terlelap ketika Ethan yang dalam pengaruh alkohol, naik ke ranjang lalu naik ke atas tubuh Selena, membuat Selena terbangun saat merasakan kasur bergerak. Matanya membelalak ketika melihat Ethan begitu dekat.
"Ethan, turun! Apa yang kau lakukan?" Selena berusaha mendorong bahunya, tetapi Ethan tetap menatapnya dengan wajah tegang.
"Aku hanya ingin kau mendengarkanku, Selena. Jangan terus mengusirku seolah aku tidak ada hubungannya dengan hidupmu."
Selena menggeleng ketakutan. "Kau tidak berhak memaksaku! Turun sekarang!"
Selena terus mendorong dada Ethan, berusaha melepaskan diri. "Aku bilang turun, Ethan!"
Ethan terdiam ketika melihat ketakutan di wajahnya. Namun, saat Selena mencoba meraih ponselnya, ia spontan menahan tangan perempuan itu.
"Jangan panggil Jason!" katanya dengan suara berat.
"Kenapa? Kau takut kakakmu tahu apa yang sedang kau lakukan?" Selena menatapnya penuh kebencian. "Lepaskan aku! Aku tidak mau berada di dekatmu!"
Ucapan itu membuat Ethan tersentak. Ia akhirnya melepaskan tangan Selena, tetapi belum beranjak dari atas ranjang. Selena segera bergeser menjauh, lalu menarik selimut untuk melindungi dirinya.
Ethan mengabaikan penolakan Selena. Dalam keadaan mabuk, ia justru semakin keras kepala ketika perempuan itu terus menyuruhnya pergi. Saat Selena berusaha bangkit dari ranjang, Ethan menahannya hingga ia kembali terlentang di kasur.
"Lepaskan aku, Ethan!" Selena meronta, berusaha mendorong tubuhnya menjauh.
"Diam dan dengarkan aku dulu!" bentak Ethan. "Kau boleh membenciku, tapi jangan pernah berpikir kau bisa menyembunyikan anakku dariku!"
"Aku tidak mau mendengarkanmu! Keluar dari kamarku!"
Ethan tidak menghiraukannya. Ketika Selena berusaha meraih ponsel di nakas, ia kembali menahan pergelangan tangannya. Selena menatapnya dengan ketakutan sekaligus kebencian.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya. "Aku membencimu, Ethan! Setelah apa yang kau lakukan, kau masih berani datang ke sini dan memaksaku?"
Ethan terdiam sesaat, tetapi emosinya yang tidak terkendali membuatnya sulit menerima penolakan itu. Ia kembali mendekat meskipun Selena terus berusaha menjauh.
"Berhenti melawanku dan dengarkan aku!" desaknya keras kepala.
"Tidak!" Selena berteriak sambil berusaha melepaskan diri. "Aku tidak mau berurusan denganmu lagi!"
Namun, Ethan yang sedang mabuk tetap tidak mau mendengarkan. Ia terus memaksakan kehendaknya, mengabaikan ketakutan Selena dan membuat perempuan itu semakin yakin bahwa ia tidak akan pernah merasa aman selama Ethan berada di dekatnya.
Ethan yang sudah mabuk kehilangan kesabaran mendengar Selena terus menyuruhnya pergi. Ia tiba-tiba membungkuk dan mencium Selena secara paksa agar perempuan itu berhenti berteriak. Selena terkejut, lalu segera meronta dan memukul dadanya, berusaha melepaskan diri. Namun, Ethan yang impulsif tetap menahannya, mengabaikan penolakan Selena.
"Ethan, lepaskan aku!" Selena berteriak begitu berhasil memalingkan wajahnya. "Aku membencimu! Jangan sentuh aku lagi!"
Ethan menatapnya dengan rahang mengeras. "Berhenti mengatakan kau membenciku!"
"Memangnya kau bisa memaksaku untuk tidak membencimu?" Selena balas membentak, matanya memerah karena marah dan takut. "Kau sudah menghancurkan semuanya, Ethan!"
Ethan kembali mencium selena dengan paksa, keras kepala dan tidak mau mendengarkan. Selena terus berusaha melepaskan diri, sementara suasana kamar semakin tegang oleh pertengkaran mereka.
Selena terus berusaha melawan Ethan, tetapi lelaki itu kembali mengungkungnya. Aroma alkohol dari napas Ethan membuat Selena semakin mual. Ia menggigit bibir Ethan sampai berdarah dan akhrinya Ethan melepaskan pagutannya.
"Minggir! Aku muak dengan tingakhmu!"
"Kenapa kau terus menolakku?" Ethan membalas dengan suara berat. "Aku ayah dari anak yang kau kandung!"
"Menjadi ayah biologisnya tidak memberimu hak untuk menyentuhku!" Selena menatapnya penuh kebencian. "Kau sudah menyakitiku, Ethan. Apa kau masih belum puas?"
Ethan terdiam sesaat, tetapi keras kepalanya membuatnya kembali mendekat. Selena segera beringsut untuk lepas darinya. Tapi Ethan berusaha meraih tangannya lagi, Selena menepisnya dan berteriak sekuat tenaga, "Jangan sentuh aku!"
Suara itu terdengar sampai lorong. Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka keras. Jason yang mendengar teriakan Selena segera masuk dan mendapati Ethan di atas Istrinya, sementara Selena berusaha mendorongnya dengan wajah ketakutan.
"Lepaskan dia!" bentak Jason.
Jason langsung menerjang adiknya dan menariknya menjauh dari Selena. Begitu Ethan berbalik, Jason melayangkan pukulan keras ke wajahnya hingga lelaki itu terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Jason!" Selena berseru kaget.
Ethan menyeka sudut bibirnya, lalu bangkit dengan sempoyongan. Dalam keadaan mabuk, ia justru membalas pukulan Jason. Keduanya terlibat perkelahian di tengah kamar, membuat kursi di dekat meja rias terjungkal.
"Kau sudah gila?!" Jason mencengkeram kerah baju Ethan sebelum menghantamkan tinjunya sekali lagi. "Dia sudah menyuruhmu berhenti, tapi kau tetap memaksanya!"
Ethan terhuyung, tetapi masih berusaha melawan. "Dia mengandung anakku!"
Jason kembali melayangkan pukulan, kali ini membuat Ethan tersungkur di lantai.
"Dan itu memberimu hak untuk melecehkannya?!" bentak Jason. "Dia istriku, Ethan! Dia Kakak iparmu! Bagaimana kau bisa melakukan hal seperti ini kepadanya?"
Ethan mencoba berdiri sambil menatap kakaknya penuh amarah. "Sebelum dia jadi istrimu, dia lebih dulu menjadi wanitaku!"
Jason mencengkeram kerahnya lagi, tetapi kali ini ia tidak memukul. Wajahnya menegang menahan amarah yang nyaris meledak.
"Kalau kau masih berani mendekatinya, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari rumah ini."
Jason yang melihat Ethan menyeringai kembali kehilangan kesabaran. Ia menarik kerah baju adiknya, lalu melayangkan pukulan hingga Ethan kembali tersungkur ke lantai.
"Dasar tidak tahu malu!" bentak Jason. "Dia sudah menolakmu berkali-kali, tapi kau tetap memaksanya!"
Ethan berusaha membalas, tetapi tubuhnya yang sempoyongan akibat alkohol membuat gerakannya tidak terarah. Jason kembali menghajarnya, melampiaskan amarah yang sejak tadi ditahannya. Suara pukulan, bentakan, dan benda-benda yang jatuh membuat keributan itu terdengar hingga lantai bawah.
Tak lama kemudian, asisten rumah tangga yang sudah lama mengurus keluarga Carter bergegas naik bersama beberapa pembantu lainnya. Mereka terkejut melihat Jason memukuli Ethan di lantai kamar, sementara Selena berdiri di dekat ranjang dengan wajah pucat.
"Tuan Jason! Cukup!" seru asisten rumah tangga itu sambil berusaha melerai.
Dua pembantu segera membantu menarik Jason menjauh, sedangkan yang lain menolong Ethan agar tidak kembali diserang. Namun, Jason masih berusaha menerjang adiknya.
"Lepaskan aku!" bentaknya. "Aku belum selesai dengannya!"
"Tuan, hentikan! Anda bisa mencelakainya!" Asisten rumah tangga itu menahan lengan Jason dengan kedua tangan.
Jason akhirnya berhenti, tetapi dadanya masih naik turun menahan amarah. Ia menunjuk Ethan yang tergeletak sambil berkata tajam, "Bawa dia keluar dari kamar ini. Sekarang!"
Tak seorang pun berani membantah. Para pembantu membantu Ethan berdiri, sementara asisten rumah tangga lainnya segera menghampiri Selena.
"Nona Selena, apa Anda terluka?"
Selena menggeleng pelan. Pandangannya beralih kepada Jason yang masih berdiri dengan tangan mengepal. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihaknya, tetapi ketakutan akibat kejadian barusan masih membuatnya sulit menenangkan diri.
Jason menyadari tatapan Selena. Amarah di wajahnya belum sepenuhnya hilang, tetapi ia segera menghampiri istrinya.
"Selena, aku di sini. Jangan takut!"
Di sisi lain, Ethan masih berusaha melepaskan diri dari pegangan para pembantu. Meski sudah dipukuli oleh kakaknya sendiri, ia tetap menatap Selena dengan keras kepala sebelum akhirnya dibawa keluar dari kamar.