Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Pewaris Cacat

Menikahi Pewaris Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Orang Disabilitas / CEO
Popularitas:234k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

​"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."

​"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
​Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.

"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."

​Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.

​Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?

Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Dante

Pukul sebelas lewat lima belas menit pagi, ruang operasional kediaman Velmore berubah menjadi medan perang dingin yang dipenuhi aura intimidasi mematikan. Pintu ganda ruangan dihantam hingga terbuka lebar. Dante meluncurkan kursi rodanya masuk dengan kecepatan tinggi, diikuti Riko dan Arelio yang berlari dengan napas terengah-engah.

Ujung kemeja hitam Dante agak terlipat, rahangnya merapat ketat hingga urat-urat di leher dan pelipisnya bertonjolan. Sepasang mata elangnya memancarkan kilat kemarahan yang begitu pekat dan mengerikan, sebuah kemarahan murni dari seorang predator yang wilayah dan belahan jiwanya baru saja diusik.

"Tuan Dante! Laporan resmi dari tim pengawal di gedung redaksi baru saja masuk!" seru Riko dengan suara bergetar, menjatuhkan tabletnya di atas meja utama. "Pengawal satu terkena tembakan penyengat listrik bertegangan tinggi, sedangkan pengawal dua mengalami trauma benturan kepala! Minibus hitam yang membawa Mbak Levara menabrak palang parkir basement dan menerobos jalan protokol menuju arah utara!"

BRAK!

Dante menghantam meja kayu mahoni di hadapannya dengan kepalan tangan kirinya. Suara benturan keras itu berngaung memenuhi seluruh sudut ruangan, membuat Riko dan Arelio tersentak mundur.

"Bagaimana mungkin dua tim pengawal terlatih Velmore bisa dilumpuhkan hanya dalam waktu kurang dari dua menit?!" bentak Dante dengan suara bass-nya yang membahana, bagaikan gemuruh guntur yang memecah keheningan.

"Siapa yang memberi izin Levara melangkah ke area parkir remang-remang itu tanpa pemeriksaan terlebih dahulu?!"

"Dante, tenanglah ...," Arelio mencoba menyela seraya melangkah mendekat, meski peluh dingin mengucur di dahinya akibat aura mencekam yang dipancarkan Dante. "Ini bukan murni kesalahan pengawal. Manuver tim Veyron sangat cepat dan terencana. David Veyron sudah bertindak seperti binatang yang terpojok di ujung jurang!"

"Tenang?!" pangkas Dante seraya menatap Arelio dengan pandangan membunuh yang amat tajam. "Istri saya diculik oleh pembunuh berdarah dingin, Arelio! Jangan pernah menyuruh saya untuk tenang!"

Dante menarik napas panjang, mengontrol desakan emosinya dalam hitungan detik. Meski matanya memancarkan kemarahan raksasa, otaknya yang jenius langsung bekerja dalam mode pertempuran taktis tingkat tinggi.

"Riko!" perintah Dante dengan nada dingin yang membekukan darah.

"Siap, Tuan Dante!" sahut Riko tegap, langsung berdiri di depan papan kontrol server.

"Buka akses jaringan satelit pemantau pribadi Velmore Group detik ini juga!" tutur Dante, jari-jarinya menunjuk ke arah layar monitor raksasa di dinding. "Peretas seluruh kamera pengawas jalan raya, CCTV tol pelabuhan, hingga jaringan lalu lintas kota! Lacak setiap minibus hitam bernomor polisi palsu yang melaju melampaui batas kecepatan dalam radius sepuluh kilometer dari gedung redaksi!"

"Sedang memproses, Tuan!" jemari Riko menari liar di atas papan ketik. "Sistem peretas satelit aktif! Memindai seluruh rekaman lalu lintas secara real-time!"

Dante tidak berhenti di situ. Ia meraih ponsel terenkripsi pribadinya, menekan tombol panggilan cepat dengan kode jalur merah, jalur komunikasi rahasia yang hanya digunakan untuk situasi darurat tingkat tertinggi.

"Halo, Dante?" suara berat dan berwibawa seorang jenderal bintang tiga kepolisian terdengar dari balik pengeras suara ponsel.

"Jenderal," ucap Dante tanpa basa-basi, suaranya mengandung tekanan mutlak yang tak bisa dibantah. "Dua puluh menit yang lalu, istri saya, Levara Velmore, diculik oleh kelompok bersenjata milik David Veyron di area parkir gedung redaksi nasional."

Hening sejenak di seberang telepon, sebelum suara Jenderal itu terdengar tegang. "Apa?! David Veyron nekat melakukan itu di tengah status tersangka dan surat penangkapan yang baru diterbitkan Kejaksaan?!"

"Saya tidak butuh peryataan terkejut Anda, Jenderal," pangkas Dante dingin. "Saya butuh tindakan detik ini juga. Tutup seluruh akses keluar kota. Blokir pelabuhan peti kemas, bandara swasta, hingga jalur tol antar-provinsi! Gunakan seluruh personel gabungan yang Anda miliki!"

"Tapi Dante, melakukan isolasi total untuk seluruh kota butuh prosedur hukum resmi dari—"

"Jika dalam waktu lima belas menit seluruh pintu keluar kota belum diblokir," potong Dante dengan intimidasi yang teramat pekat, "saya akan merilis seluruh rekaman aliran dana suap pejabat yang tersisa di flashdisk Edlan Soerja ke media internasional. Dan saya pastikan instansi Anda akan terseret sampai ke akar-akarnya. Lakukan tugas Anda!"

TUT!

Dante mematikan panggilan secara sepihak, menyisa aura ketakutan di seberang garis telepon.

"Arelio!" panggil Dante lagi.

"Aku di sini, Dante!" sahut Arelio mantap.

"Hubungi seluruh pimpinan jaringan intelijen swasta dan mantan personel pasukan khusus yang bekerja di bawah naungan anak perusahaan Velmore," perintah Dante dengan mata berkilat tajam.

"Gerakkan tiga ratus personel bersenjata lengkap sekarang juga! Sebar mereka ke seluruh area industri tua, gudang terbengkalai, dan pelabuhan tua milik anak perusahaan Veyron Group!"

"Dante ... kau mengerahkan kekuatan militer swasta di tengah kota?" tanya Arelio dengan mata membelalak terkejut. "Itu bisa memicu kekacauan publik!"

"Saya tidak peduli jika harus meratakan kota ini menjadi tanah, Arelio!" tegas Dante, suaranya bergetar dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan. "Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut Levara, saya pastikan mereka tidak akan pernah melihat matahari terbit esok hari!"

Arelio menelan ludah, melihat keteguhan dan rasa cinta raksasa yang terpancar dari diri Dante. Tanpa bertanya lagi, Arelio langsung merogoh ponselnya dan mengeksekusi perintah tersebut.

"Tuan Dante! Saya mendapat petunjuk!" teriak Riko tiba-tiba seraya menunjuk layar monitor bagian tengah.

Layar memperlihatkan rekaman CCTV jalan tol lingkar luar. Minibus hitam yang dicari terlihat menembus palang pintu tol dengan kecepatan tinggi, lalu berbelok menuju kawasan industri tua di pinggiran pesisir pantai.

"Sinyal pelacak tersembunyi di dalam liontin kalung yang dipakai Mbak Levara memancarkan frekuensi darurat!" tambah Riko gembira. "Lokasinya terdeteksi di Pabrik Pengolahan Kayu Tua milik Veyron Group yang sudah bangkrut lima tahun lalu!"

Dante menatap titik merah yang berkedip di peta digital tersebut. Senyuman dingin yang paling mematikan terukir di wajahnya.

"Pabrik kayu tua Veyron ...," bisik Dante, mengepalkan jemari tangannya hingga memutih. "David Veyron ingin menyelesaikan semuanya di tempat dia mengurung Papa Edlan dua puluh tahun lalu."

Dante memutar kursi rodanya menghadapi Riko dan Arelio.

"Riko, siapkan helikopter dan tim serbu utama di helipad kediaman sekarang juga!" perintah Dante bergema penuh dominasi. "Kita berangkat detik ini juga. Hari ini, saya sendiri yang akan mengakhiri riwayat David Veyron dan membawa pulang istri saya!"

1
nyonya
paling hamidun
Ita rahmawati
Hamidun nih levara
Nurul Aeni
hrs nya manggilnya mama danira donk thoor,jgn hanya nama saja
Adhe Fitria
omelin resepsionis nya tuh
Iccha Risa
bibi bisa aja dech, Dante pasti mw kalo yg bikin Levara 🤭
Iccha Risa
sbg pria dgn watak seperti Dante pasti dipermasalahkan tapi kalo ada pawangnya pasti mw mw aja kan Dante bucin 🤭🤣
Irma Juniarti
harusnya mama danira,atau kak Rara salah tulis mau bilang senara kali😁
Irma Juniarti
tuh Tanta sama receptionis kamu tuh,dia yg menyuruh levara menunggu
Irma Juniarti
kan bisa di hubungi asisten Riko,masak istri bosss mau keruangan pribadi suami sendri gak boleh.
Irma Juniarti
dante bayi tua itu 🤣🤣🤣🤣
Irma Juniarti
kan unik bi asri😁😁😁
Baim Jum
jangan " hamidun thu
AFPA
manggilnya kan mama..kok tetiba manggil danira?
kaylla salsabella
la kok gak panggil mama
Sugiharti Rusli
karena sekarang istri kamu sedang mengandung calon anak kalian Dante, dan mungkin Levara merasa pusing jadi pingsan
Sugiharti Rusli
sepertinya kelupaan nih panggilan mamanya di depan nama Danira yah😁✌
indrie_💖
rasakan km julii..si licik nan serakah
Ilfa Yarni
semoga levara ga Papa krn dia hamil JD dia pinsan
indrie_💖
ngelunjak lama2 nih tuyul 🤣🤣km yg pebinor 🤣🤣 onty Lepa kan ictli om cateee😁🤦
indrie_💖
lop lop mengkerek itu apa paloo🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!