Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Suasana malam di Mansion Mewah Keluarga Ashford terasa begitu menekan.
Pilar-pilar marmer putih yang menjulang tinggi serta pendar lampu kristal gantung raksasa di aula utama tak mampu mengikis aura dingin yang membeku di dalam ruang kerja pribadi Leander Ashford.
Ruangan berdinding kayu mahoni gelap itu dipenuhi keheningan mencekam, hanya dihiasi oleh dentik jam berdiri bergaya antik dan deru halus perapian yang menyala redup.
Di balik meja kerja ukir yang megah, Leander Ashford berdiri membelakangi ruangan.
Pria penguasa dinasti Ashford itu menggenggam segelas wiski murni, menatap lurus ke luar jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan gemerlap lampu kota Los Angeles dari atas perbukitan Beverly Hills.
Klek.
Pintu ganda ruang kerja terdorong terbuka.
Jameson Baxter Ashford melangkah masuk dengan langkah tegap.
Kemeja hitamnya yang tergulung rapi hingga siku serta rahang tegasnya memancarkan aura dominasi yang tak pernah pudar.
Namun, di balik ketenangan visualnya, pendar mata hazel sang dosen menyiratkan keletihan yang amat sangat mendalam usai melewati hari-hari penuh ketegangan di kampus.
"Kau memanggilku pulang, Dad?" tanya Jameson dengan suara serak yang berat, menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan.
Leander tidak langsung berbalik.
Ia memutar gelas kristal di tangannya, membiarkan es batu berdenting halus sebelum akhirnya memutar tubuh tegapnya.
Wajah pria itu begitu tenang, namun sepasang matanya yang berpengalaman memancarkan intimidasi mutlak—sebuah pendar mata milik seorang pria yang telah memimpin imperium bisnis dan politik selama puluhan tahun.
"Duduklah, JB," perintah Leander singkat, suaranya mengalun berat dan tak terbantahkan.
Jameson menarik napas pelan, lalu mendudukkan fisiknya di atas kursi kulit di hadapan meja kerja sang ayah. Ia menyilangkan kakinya yang jenjang, menatap Leander tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Jika Mommy ingin memarahiku lagi soal insiden rekaman atau laporan direksi, dia bisa—"
"Ibu mu sedang beristirahat di kamarnya," potong Leander tenang, melangkah mendekat dan meletakkan gelas wiskinya di atas meja.
Pria itu menopang kedua tangannya di tepi meja mahoni, menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka berhadapan rapat.
"Mommy-mu cemas karena dia mencintaimu, JB. Tapi aku... aku berada di sini malam ini untuk memberikan peringatan sebagai Ayahmu."
Jameson menyipitkan matanya tipis. "Peringatan?"
"Sembilan jam lalu," ujar Leander dengan artikulasi yang amat sangat jelas dan menekan, "tim hukum pribadi keluarga kita menerima laporan bahwa kau baru saja menggunakan wewenang politik dan pengaruh nama besar Ashford untuk menekan jajaran kepolisian Los Angeles. Kau membatasi ruang gerak seorang penyidik bernama Alistair Reed di Universitas."
Atmosfer di dalam ruangan seketika mendingin.
Jameson tidak tersentak, raut wajahnya tetap terkunci rapat dalam topeng dingin.
"Alistair Reed adalah penyidik yang berbahaya," lanjut Leander, pendar matanya makin menajam.
"Dia bukan polisi korup yang bisa kau bayar, dan dia bukan pria bodoh. Tindakanmu menahannya secara terang-terangan justru membuat penyidik itu makin yakin bahwa ada sesuatu yang sangat besar yang sedang kau sembunyikan di balik kampus itu."
"Aku hanya melindungi ketenangan akademisku, Dad," sahut Jameson tenang, menyandarkan punggungnya di kursi.
"Berhenti membodohiku, Jameson Baxter Ashford!" desis Leander dengan nada suara yang turun hingga ke frekuensi terendah namun sarat akan ancaman murni.
Leander menegakkan tubuhnya, menunjuk tepat ke arah dada Jameson.
"Kau tidak sedang melindungi ketenangan kampus! Kau sedang melindungi seorang wanita! Kau mempertaruhkan nama keluarga hanya demi menutup jejak berdarah milik Hazel Rosemary Brooks!"
Jameson membeku sejenak.
Pria muda itu tidak membantah, pendar matanya justru berkilat dengan obsesi dan perlindungan yang makin pekat.
"Hazel adalah urusanku."
"Dia bukan sekadar 'urusanmu' jika tindakannya mulai mengancam Nama keluarga ini!" tegas Leander, menghentakkan telapak tangannya ke atas meja.
BRAK!
"Kau pikir aku tidak tahu siapa gadis itu? Tim intelijen kita telah menggali latar belakangnya di Inggris. Gadis itu adalah sosok yang rusak, Jameson! Dia membawa kematian dan kegelapan ke mana pun dia melangkah! Kematian dua mahasiswa di kampusmu dalam waktu singkat... kau pikir Daddy tidak tahu siapa eksekutor sebenarnya di balik semua itu?!"
Jameson mengepalkan tangannya di atas paha. Urat-urat di lehernya menegang kaku saat mendengar sang ayah membicarakan Hazel.
"Aku tidak peduli seberapa gelap jiwanya, Dad. Dia adalah wanita yang kupilih."
"Dan pilihanmu itu bisa menghancurkanmu Son!" tembak Leander cepat, menatap putra tunggalnya dengan pandangan campur aduk antara amarah dan kebanggaan yang terlarang.
Leander membuang napas panjang lewat hidungnya, melangkah menuju perapian dan menatap kobaran api yang menari-nari.
"Dengarkan Daddy baik-baik, JB," kata Leander dengan suara yang melunak namun terasa sangat berat.
"Keluarga Ashford dibangun di atas darah, kekuasaan, dan kendali mutlak. Jika kau menginginkan seorang wanita—seberapa berbahaya pun dia—kau harus menjadi pihak yang memegang tali lehernya. Kau harus menjadi penguasanya, bukan pria bodoh yang terseret masuk ke dalam pusaran pembunuhannya hingga kau sendiri yang bertekuk lutut di bawah kakinya!"
Jameson berdiri dari duduknya, merapikan kemeja hitamnya dengan gerakan anggun yang angkuh.
Pria muda itu menatap punggung sang ayah dengan ketegasan yang tak kalah mengerikan.
"Aku tidak pernah bertekuk lutut pada siapa pun, Dad," bisik Jameson dengan suara serak yang mematikan.
"Jika Hazel adalah kegelapan murni... maka aku akan menjadi iblis yang menguasai kegelapan itu. Aku tidak akan membiarkan polisi, keluarga kita, atau siapa pun di dunia ini menyentuhnya."
Leander menoleh perlahan, menatap mata putranya.
Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat dingin—melihat refleksi masa mudanya sendiri yang liar kini bersemayam utuh di dalam diri Jameson.
"Kalau begitu, selesaikan permainanmu malam ini, Jameson," vonis Leander pelan.
"Ini adalah peringatan pertamaku dan terakhirku. Jika gadis bernama Hazel itu sampai membawa nama Ashford ke dalam ruang sidang kepolisian... aku sendiri yang akan memastikan wanita itu menghilang secara permanen dari muka bumi ini, tanpa ada satu jejak pun yang tersisa."
Deg.
Ancaman dingin sang ayah menggantung kaku di udara.
Jameson tidak membalas lagi dengan kata-kata.
Pria muda itu hanya menyunggingkan senyum miring yang teramat sangat berbahaya, menundukkan kepalanya singkat sebagai bentuk hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Sang Ayah.