Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Makhluk Apa Itu?

Jam dinding kamar menunjukkan pukul satu dini hari. Keheningan malam menyelimuti kamar utama apartemen itu, dipadu dengan hembusan pendingin ruangan yang menusuk tulang.

Di seberang benteng putih buatan Naya, napas perempuan itu sudah terdengar teratur dan halus. Naya sudah lelap dalam tidur nyenyaknya, seolah tidak punya beban pikiran sedikit pun.

Sementara Arka? Pria itu masih telentang memandangi langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar.

Kehadiran Naya di atas kasurnya menciptakan atmosfer yang sangat aneh. Ada perasaan canggung yang tak kasatmata, namun di saat bersamaan, detak dadanya berdesir lebih cepat dari biasanya.

Arka bergeming sejenak, menatap benteng bantal di sampingnya sebelum akhirnya mengibaskan selimut dengan pelan.

Dengan gerakan perlahan, ia memutar tubuh dan menurunkan kedua kakinya ke lantai yang dingin. Lalu berdiri dan berjalan melangkah menuju sofa di sudut kamar usai menyambar tablet yang tergeletak di atas meja kaca, menekannya hingga layar menyala, lalu mendudukkan diri di atas sofa yang empuk.

Ia memijat pangkal hidungnya pelan, berusaha mengusir rasa kantuk yang janggal sekaligus desakan aneh di dalam dadanya.

Ia membuka beberapa dokumen pekerjaan, laporan keuangan harian hingga berkas proyek baru. Berharap deretan angka dan istilah bisnis bisa mengalihkan pikirannya.

Namun, fokusnya hancur berantakan. Matanya terus-terusan bergeser melirik ke arah tempat tidur.

Dari posisinya di sofa, ia bisa melihat siluet Naya yang meringkuk nyaman di balik selimut tebal. Bantal guling yang dijadikan pembatas di tengah kasur kini terasa konyol.

Ia lalu menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar lalu mematikan layar tablet. Suasana kamar kembali gelap, hanya disinari pendar samar lampu tidur di pojok ruangan.

Tiba-tiba, suara gesekan kain kembali terdengar. Naya bergerak dalam tidurnya, membalikkan badan ke arah sofa hingga guling pembatas itu terdorong sedikit.

Dalam remang malam, Arka bisa melihat wajah lelap Naya yang tampak begitu polos, sangat berbeda dengan tingkah kekanak-kanakan dan ocehan sengitnya jika sedang terbangun.

“Dasar penjahat tidur,” gumam Arka pelan dengan helaan napas halus.

“Bisa-bisanya dia tidur nyenyak, sementara aku di sini hampir gila.”

Arka menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memiringkan posisi duduknya sambil terus memperhatikan helaan napas Naya.

Rasa asing yang hangat lambat laun menyusup di antara rasa canggung yang menyiksanya sejak tadi. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka menyerah pada rasa kantuknya bukan karena lelah bekerja, melainkan karena terbuai oleh irama napas seseorang di ruang yang sama.

*

*

Sinar matahari pagi menyusup tipis melalui celah gorden, menggantikan cahaya samar lampu tidur yang kini padam.

Naya mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang mulai memenuhi ruangan.

Ia mengeliat pelan, menghirup udara pagi yang segar, sebelum akhirnya kesadarannya terkumpul sepenuhnya.

Pandangannya kemudian tertuju pada area kasur di sebelahnya. Bantal guling pembatas yang ia susun semalam masih ada di sana, tetapi sosok Arka sudah tidak terlihat.

Ia menyipitkan mata, mengamati sekeliling kamar utama yang luas itu. Hingga akhirnya, tatapannya terhenti pada sosok pria yang terbaring meringkuk di atas sofa sudut ruangan. Pria itu masih terlelap anggun dengan sebelah tangan menggantung di tepi sofa dan tablet yang tergeletak pasrah di atas lantai.

Naya lalu menyibak selimut, menggelengkan kepala heran.

“Kok malah tidur di sofa? Kan sudah dikasih pembatas?” batinnya geli.

Ia lalu bangkit dan melangkah perlahan menuju sofa. NIatnya sederhana,  membangunkan pria itu sekaligus bertanya ingin dibuatkan sarapan apa pagi ini sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Namun, tepat beberapa langkah sebelum mencapai sofa, ujung jari kakinya tak sengaja menyangkut pada lipatan karpet tebal yang sedikit terangkat.

“Aduh—!”

Naya kehilangan keseimbangan secara mendadak. Tubuhnya terdorong ke depan, tanpa sempat mencari pegangan.

BRUK!

Dan tanpa mampu dihindari tubuhnya pun  mendarat tepat di atas dada bidang Arka. Siku tangannya refleks menahan beban tubuh di kiri dan kanan bahu pria itu, sementara dadanya menempel rapat pada tubuh Arka.

Hantaman mendadak itu membuat Arka terperanjat hebat dari tidurnya. Napasnya tersengal kaget, matanya langsung terbuka lebar secara refleks.

Dan untuk beberapa detik yang mendebarkan, waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar itu.

Jarak di antara wajah mereka begitu dekat, hingga Arka bisa merasakan hembusan napas Naya yang hangat menerpa kulit pipinya. Aroma manis sampo buah yang tercium dari rambut Naya yang terurai makin mengacaukan fokusnya yang baru saja terkumpul dari mimpi.

Mata Arka yang semula membelalak kaget perlahan terkunci pada manik mata Naya yang terbuka lebar karena panik. Dada pria itu naik-turun tidak beraturan, bukan hanya karena hantaman mendadak di atas tubuhnya, tetapi juga akibat degupan kencang yang menghantam rongga dadanya tanpa ampun.

“K-kamu...” suara Arka terdengar serak khas orang baru bangun tidur, bercampur dengan nada tidak percaya. “Apa yang sedang kamu lakukan?”

Naya membeku, tangannya yang menahan beban tubuh di kiri dan kanan bahu Arka mendadak terasa gemetar. Posisi mereka benar-benar intim dan memalukan dengan tubuhnya menindih Arka sepenuhnya, dengan posisi wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja.

“S-saya... itu...” Naya melebarkan matanya, tergagap parah. Pipinya seketika merona merah padam hingga ke ujung telinga.

“Karpetnya! Tadi karpetnya terlipat, saya tersandung, dan tid—”

“Tersandung lalu memutuskan untuk jatuh tepat di atasku?” potong Arka dengan alis terangkat sebelah. Meski suaranya terdengar datar, Naya bisa melihat ada pendar geli yang sangat tipis di manik mata hitam milik pria itu.

“Bukan sengaja ya, Pak Arka! Saya cuma mau membangunkan Pak Arka dan mau bertanya mau dibuatkan sarapan apa!” pekik Naya tertahan, berniat membela diri sekaligus hendak secepatnya bangkit berdiri.

Namun, gerakan panik Naya justru

membuat posisinya makin tidak seimbang. Siku tangannya tergelincir di atas bahan empuk sofa, membuat tubuhnya kembali merosot turun.

Refleks, kedua tangan Arka melingkar di pinggang Naya untuk menahannya agar tidak jatuh terguling ke lantai.

Usaha Arka berhasil, namun dampaknya justru membuat tubuh Naya semakin terdorong rapat mengikis habis jarak di antara mereka. Kini, hidung Naya bahkan hampir bersentuhan dengan ujung hidung Arka.

Suasana di antara mereka seketika mengencang. Sentuhan jemari Arka yang kokoh di pinggangnya mengirimkan sengatan halus yang membuat Naya menahan napas sepenuhnya.

“Kalau mau bangunin,” bisik Arka pelan, suaranya yang dalam terasa begitu dekat hingga menggetarkan dada Naya, “tidak perlu pakai atraksi sirkus begini, Naya.”

Pipi Naya terasa makin membara, seolah-olah seluruh darah di tubuhnya mendadak berkumpul di wajahnya. Dalam jarak serapat ini, tatapan tajam dan bisikan Arka benar-benar melumpuhkan akalnya.

“Saya tidak berniat atraksi, ya!” sembur Naya gagap, berusaha keras mengembalikan kewibawaannya meski suaranya terdengar mencicit.

“Lagian siapa juga yang suruh Pak Arka tidur di sofa kayak begini? Makanya karpetnya sampai kegeser! Lepasin tidak? Nanti kalau ada yang liat gimana!”

Ia mulai menggeliat, berniat mendorong dada Arka agar bisa segera berdiri. Namun, alih-alih melepaskan, remasan jemari Arka di pinggangnya justru terasa sedikit memadat. Pria itu menatapnya datar, seolah menikmati kepanikan yang terpancar jelas dari mata Naya.

“Memangnya siapa yang mau melihat? Ini kamar pribadi saya,” sahut Arka santai, suaranya masih berat khas bangun tidur.

“Dan kamu yang jatuh duluan, kenapa malah menyalahkan karpet?”

“Ya kan memang gara-gara kar—”

Naya mendadak menghentikan kalimatnya. Kalimat pembelaan diri yang sudah berada di ujung lidahnya menguap begitu saja.

Di tengah usahanya yang terus menggeliat dan bergerak untuk lepas dari kuncian tangan Arka, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Tepat di bawah perut dan paha bagian atasnya, pada area yang menempel rapat dengan tubuh Arka, sesuatu yang tadinya pasif perlahan-lahan mengeras dan terdorong naik.

Ada gerakan samar namun amat jelas yang mengusik gaun tidurnya. Tubuhnya seketika kaku seperti patung. Mata cantiknya membelalak sempurna, menatap Arka dengan campuran antara kaget, bingung, dan panik yang luar biasa.

Ia reflek menghentikan seluruh gerakannya. Suasana kamar yang tadinya dipenuhi ketegangan canggung mendadak berubah menjadi hening yang mencekam.

“P-Pak Arka...” cicit Naya pelan, suaranya bergetar hebat. Matanya bergerak ragu-ragu turun ke arah bawah tubuh mereka, lalu kembali menatap mata Arka dengan raut kepolosannya yang tak tertolong.

“I-itu... di bawah... ada yang gerak-gerak. Makhluk apa itu?”

Pertanyaan polos tanpa filter yang keluar dari bibir Naya itu seketika membuat ekspresi tenang dan godaan jahil di wajah Arka hancur berkeping-keping.

Arka membeku, napasnya tertahan di tenggorokan, dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Arka, warna merah padam menjalar cepat dari leher hingga membakar kedua ujung telinganya.

–tbc–

1
sunaryati jarum
Tak usah gengsi permintaan Oma Soraya,memberi jalan untukmu memiliki Naya seutuhnya dan selamanya sampai maut memisahkan kalian
Maseni Maseni: yeah betul itu kak
peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba....sebenarnya arka mau bilang cinta ke naya tapi gengsi sekarang dibukakan jalan tuh sama permintaan oma soraya

sekarang saatnya saling mengungkapkan rasa... ga usah buru buru nikmati saja alurnya biar muncul kemistry di antara kalian

lanjut kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah ,Arka mengikuti nprovokasi Deni, semoga kalian jadi suami istri beneran, karena Arka mulai jatuh hati dan selalu kepikiran Naya.
sunaryati jarum
Mulai mengkhawatirkan istri dan memberi.perhatian
sunaryati jarum
Bener Naya kamu tak perlu itu, karena ada guling yang lebih hangat,yaitu suami kontrakmu yang hampir runtuh mempertahankan komitmen tentang pernikahan kalian😂😂🥰🥰
sunaryati jarum
Jika Naya bekerja ada celah bagi Redy dan kroninya untuk mengulik pernikahan Arka dan Naya
sunaryati jarum
Terus provokator Rendy , pernikahan yang awalnya kontrak jadi permanen, yang awalnya sandiwara jadi sesungguhnya,Arka yang tadinya gengsi jadi biasa
sunaryati jarum
Makin bucin ,ya
sunaryati jarum
Mulai posesif ,Nak Arka
Maseni Maseni
sepertinya makin seru kalau naya bekerja bareng andrea.... arka protes ga? cemburu ga saat istrinya sukses ditempat kerjanya?
semoga saja jangan sampai memicu trauma arka yg sdh lama ditutup rapat

lanjut double up ya kak🙏😍
sunaryati jarum
Di tempat tidur ada yang sah saja tidak disentuh apalagi ondel+ ondel mungkin jadi toilet umum
sunaryati jarum
Perasaan yang hadir di hati kamu tidak salah,Nak Arka.Hanya kamu berusaha menolak dan menyangkalnya
sunaryati jarum
, Jantungmu berdiscon hanya bersentuhan tangan dan mencium wangi.harum sabun mandi di tubuh Naya.Itu tanda kamu telah tertarik pada Naya.
Maseni Maseni
berawal dari hinaan dan ancaman rendy.....arka mengajak naya untuk benar benar melakukan peran suami istri sungguhan

lanjut kak
Wien Ibunya Fathur
inget paha lagi 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): emang paha merusak otak ya kak🤭🤭
total 1 replies
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!