Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Belum sempat ia bertanya lebih lanjut Lelaki tua itu sudah hilang di balik pepohonan, meninggalkan Raka yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya. Rumah kedelapan. Mengapa disebut demikian? Dan mengapa lelaki tua itu berbicara seakan tempat itu bukan sekadar bangunan biasa? Raka menatap rumah itu sekali lagi, lalu memutuskan untuk tidak mendekatinya lebih jauh. Ia tahu, kalau ia melangkah lebih maju, mungkin ia akan membuka sesuatu yang belum siap ia hadapi.

Sore itu juga, Raka kembali ke penginapan yang terletak di pinggir kota Yogyakarta. Kamar itu sederhana, bersih, dan tenang. Begitu masuk, ia langsung duduk di meja kecil di dekat jendela, mengambil buku catatan, dan mulai menuliskan semua yang ia lihat dan dengar. Ia menggambar bentuk rumah itu dua lantai, jendela besar di bagian atas, posisinya di atas bukit. Ia mencatat apa yang dikatakan lelaki tua itu, nada bicaranya, dan tatapan matanya yang seakan menyimpan beban berat. Semua hal kecil ia tulis, karena entah bagaimana, ia merasa hal-hal itu akan menjadi penting di masa depan.

Malam itu, Raka sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan rumah itu muncul di pikirannya. Jendela lantai dua yang besar itu seakan menatapnya, seakan ada sesuatu di balik kaca itu yang ingin keluar, ingin berbicara, ingin diceritakan. Ia bangun beberapa kali, berjalan ke jendela kamar penginapannya, menatap langit malam Yogyakarta yang jernih dan bertabur bintang. Ada sesuatu yang memanggilnya kembali ke sana, sesuatu yang belum selesai.

Keesokan harinya, Raka tidak langsung pulang. Ia berkeliling mencari informasi tentang kawasan itu. Ia bertanya kepada penjaga warung, pengemudi ojek, dan warga yang ia temui di jalan. Namun setiap kali ia menyebutkan rumah di atas bukit itu, orang-orang akan terdiam, saling berpandangan, lalu menggeleng atau mengalihkan pembicaraan. Tidak ada yang mau berbicara tentang rumah itu. Tidak ada yang mau menyebutkan nama keluarga yang dulu tinggal di sana. Semuanya seakan sepakat untuk melupakan tempat itu.

Hingga sore itu tiba, Raka memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Di perjalanan pulang, ia terus memikirkan rumah itu dan kata-kata lelaki tua itu. Ia tahu, ia tidak bisa berhenti di sini. Rumah itu telah menancap di hatinya, dan entah bagaimana, ia merasa tempat itu menunggunya.

Sesampainya di Jakarta, Raka langsung mengumpulkan seluruh kru produksi di ruang rapat. Wajahnya terlihat lelah setelah perjalanan jauh, namun matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Di atas meja, terbentang foto-foto rumah itu yang ia ambil diam-diam dari kejauhan.

"Ini tempatnya," ucap Raka pelan namun tegas, sambil menunjuk foto rumah berlantai dua itu. "Di Yogyakarta, di kawasan perbukitan dekat Gunung Api Purba. Rumah itu berdiri sendirian di atas bukit, berbeda dari rumah-rumah lain di sekitarnya. Dan ada sesuatu tentang tempat itu. Sesuatu yang membuat orang-orang di sana takut membicarakannya."

Bu Sari mengerutkan kening melihat foto itu. Rumah itu tampak sunyi, berdiri kokoh namun terabaikan. "Rumah itu terlihat sudah lama ditinggalkan, Raka. Dan kau bilang warga setempat tidak mau membicarakannya? Itu justru tanda bahwa kita sebaiknya tidak ke sana."

"Justru karena itulah kita harus ke sana," jawab Raka tenang. "Tempat itu punya cerita. Aku belum tahu cerita apa, tapi aku merasakannya. Dan film ini butuh cerita yang nyata, bukan yang kita buat-buat sendiri. Kita akan meminta izin kepada warga setempat, menghormati semua aturan mereka, dan tidak akan melakukan hal yang melanggar adat. Tapi kita harus pergi ke sana."

Laras yang sejak tadi memperhatikan foto itu dengan saksama, tiba-tiba berbicara dengan suara pelan yang sedikit bergetar. "Rumah itu... jendela di lantai dua itu... sepertinya aku pernah melihatnya di mimpi."

Semua mata beralih ke arah Laras. Ia menunduk, seakan menyadari betapa anehnya kata-kata itu, lalu melanjutkan. "Aku sering bermimpi tentang rumah seperti itu sejak kecil. Rumah dengan jendela besar di lantai atas, dan seseorang berdiri di sana, menatap ke bawah. Aku tidak pernah tahu apa arti mimpi itu. Tapi melihat foto ini... rasanya sama persis."

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang berbicara, namun setiap orang merasakan perubahan suasana. Raka menatap Laras, dan di saat itu juga, ia semakin yakin bahwa keputusannya benar. Rumah itu bukan sekadar lokasi syuting. Ada sesuatu yang menghubungkan mereka semua dengan tempat itu, sesuatu yang belum terungkap.

"Kalau begitu," ucap Raka memecah keheningan, "kita berangkat. Besok pagi. Semua persiapan selesai dalam dua hari. Kita akan pergi ke rumah itu, bukan untuk mencari masalah, tapi untuk menceritakan kisah yang selama ini disembunyikan."

Budi menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baik, Raka. Kita ikut. Tapi kita harus berjanji satu hal. Kalau ada hal yang benar-benar berbahaya, kita pulang. Tanpa menunda."

"Setuju," jawab Raka. "Kalau ada bahaya yang nyata, kita pulang."

Pertemuan itu berakhir dengan keputusan bulat. Mereka akan pergi ke Yogyakarta, ke rumah yang berdiri sendirian di atas bukit itu. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari, bahwa keputusan itu bukan hanya tentang lokasi syuting. Itu adalah awal dari sebuah perjalanan yang akan mengubah hidup mereka selamanya, perjalanan yang akan membawa mereka menyentuh masa lalu yang seharusnya sudah terkubur bersama waktu.

Di sore itu juga, di tempat yang jauh dari kebisingan Jakarta, lelaki tua yang ditemui Raka sedang duduk di teras rumahnya yang sederhana. Ia menatap ke arah bukit itu, ke arah rumah kedelapan yang berdiri sunyi di sana. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya duduk diam, ikut menatap ke arah yang sama.

"Mereka akan datang, Bu," ucap lelaki tua itu pelan. "Anak muda itu akan kembali. Dan kali ini, pintu itu akan terbuka kembali."

Wanita di sampingnya menghela napas panjang, lalu menjawab dengan suara yang penuh kekhawatiran. "Semoga mereka siap menghadapi apa yang ada di sana, Pak. Karena rumah itu tidak pernah melupakan siapa pun yang pernah masuk ke dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!