Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Fondasi yang Terlupakan

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Lin Mu membuka mata.

Semalaman ia duduk bersila di lantai kamarnya yang dingin, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun hidup sebagai Lin Mu, ia merasakan sesuatu mengalir di dalam tubuhnya—aliran tipis, nyaris tak terasa, seperti sungai kecil yang baru saja mencair dari es. Qi. Sedikit, memalukan jika dibandingkan dengan kekuatan yang dulu ia miliki sebagai Ye Xuan, tapi ada.

Ia menatap kedua telapak tangannya di bawah cahaya remang subuh. Tiga meridian utama sudah terbuka sebagian—Meridian Jantung Langit, Meridian Akar Bumi, dan sedikit celah di Meridian Pusar Naga. Selebihnya masih tersumbat rapat, terkubur di balik puluhan tahun tubuh ini dibiarkan membusuk tanpa bimbingan.

Wajar, pikirnya. Tubuh ini dianggap sampah sejak lahir. Tak seorang pun repot-repot memeriksa kenapa meridiannya tersumbat—mereka hanya menyerah dan mencap "cacat".

Ia mulai mengingat kembali, perlahan, fragmen demi fragmen. Teknik dasar yang dulu ia ajarkan pada murid-murid pemula di Puncak Pedang Sembilan Langit—Napas Fondasi Sembilan Aliran—teknik yang begitu sederhana hingga ia sendiri nyaris lupa pernah mempelajarinya berabad-abad lalu, sebelum menjadi legenda. Teknik itu tidak butuh bakat istimewa. Hanya butuh kesabaran dan pemahaman yang benar tentang aliran qi—dua hal yang tak pernah dimiliki siapa pun di kota kecil ini untuk mengajarinya dengan benar.

Ia mulai mengatur napas sesuai irama yang nyaris terlupakan itu.

Ketukan pelan di pintu menghentikannya.

"Lin Mu? Kau di dalam?" Suara seorang perempuan muda, cemas. "Aku dengar apa yang terjadi kemarin di alun-alun. Aku bawakan obat—"

Lin Mu membuka pintu. Di hadapannya berdiri Lin Wan, kakak perempuannya satu-satunya di klan ini yang masih memperlakukannya sebagai manusia, bukan aib. Wajahnya pucat karena khawatir, membawa nampan kecil berisi mangkuk obat herbal yang uapnya masih mengepul.

"Aku baik-baik saja, Kak," kata Lin Mu.

Lin Wan menatapnya lebih lama dari biasanya, alisnya berkerut. Ada sesuatu yang berbeda dari cara adiknya berdiri, cara ia menatap balik—tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang semalam babak belur di depan seluruh kota.

"Kau... terdengar berbeda," katanya pelan.

"Mungkin aku hanya lelah dipukuli," Lin Mu menjawab sambil menerima mangkuk obat itu, mencoba menyembunyikan senyum tipis. Ia tidak bisa menjelaskan pada Lin Wan tentang jiwa tiga ratus tahun yang kini bersarang di tubuhnya—belum saatnya. Tapi ia berjanji dalam hati: perempuan ini, satu-satunya yang tidak pernah meninggalkannya, akan menjadi orang pertama yang ia lindungi begitu ia cukup kuat.

"Klan Zhao mengirim pesan pagi ini," Lin Wan berkata sambil duduk di tepi ranjang kayu yang reyot, suaranya turun jadi bisikan. "Mereka membatalkan perjodohan secara resmi—dan menuntut ganti rugi karena kau dianggap 'mempermalukan' Zhao Yan di depan umum kemarin. Ayah murka. Ia bilang akan menyeretmu ke Aula Leluhur untuk dihukum."

Lin Mu meminum obatnya perlahan, rasa pahit menyebar di lidahnya. Dalam kehidupannya yang lalu, ia pernah meminum racun yang jauh lebih mematikan dari sekadar ramuan pahit tanpa berkedip. Hukuman dari seorang kepala klan kecil di pinggiran dunia ini bukanlah sesuatu yang menakutkan baginya.

"Biar mereka menyeretku," katanya tenang. "Aku akan datang sendiri."

Aula Leluhur Klan Lin adalah bangunan tertua di seluruh wilayah, dindingnya dipenuhi ukiran nama-nama leluhur yang telah lama dilupakan kejayaannya. Di sanalah Lin Mu berdiri siang itu, di hadapan ayahnya—Kepala Klan Lin Hao—dan sejumlah tetua yang duduk berjajar dengan wajah dingin.

"Kau membawa aib bagi klan ini untuk yang terakhir kalinya," Lin Hao berkata, suaranya bergetar menahan amarah lebih karena malu ketimbang peduli. "Klan Zhao menuntut lima ratus keping perak sebagai ganti rugi. Karena kau tidak punya apa-apa, kau akan diusir dari kediaman utama dan dipindahkan ke Halaman Belakang bersama para pelayan, sampai utang itu lunas."

Beberapa tetua mengangguk setuju. Sebagian bahkan tersenyum kecil, puas melihat "sampah klan" akhirnya dibuang secara resmi.

Hanya satu orang yang diam.

Di sudut ruangan, Tetua Qing—tetua tertua klan, bermata satu dengan bekas luka memanjang dari dahi hingga rahang—duduk tanpa berkata apa pun, matanya yang tajam tak sedetik pun lepas dari Lin Mu sejak pemuda itu memasuki ruangan. Ia telah merasakan hawa aneh itu semalam. Dan kini, berdiri sedekat ini, ia merasakannya lagi—samar, tertekan, seperti gunung berapi yang memilih untuk tidur.

"Aku terima keputusan itu," Lin Mu berkata, membungkuk sopan, jauh lebih tenang dari yang diperkirakan siapa pun di ruangan itu. "Halaman Belakang pun tidak masalah. Aku hanya butuh tempat untuk berlatih dengan tenang."

Bisik-bisik mengejek menyebar di antara para tetua. Berlatih? Sampah tak berguna yang meridiannya baru terbuka sedikit ini bicara soal berlatih, seakan ia punya masa depan sebagai kultivator.

Lin Hao mendengus. "Terserah kau. Keluar dari ruangan ini."

Saat Lin Mu berbalik untuk pergi, suara serak Tetua Qing akhirnya terdengar, menghentikan semua orang.

"Tunggu."

Semua mata beralih padanya. Tetua Qing jarang bicara dalam pertemuan klan selama puluhan tahun terakhir.

Ia bangkit perlahan, tongkat kayunya berdentang pelan di lantai batu, dan berjalan mendekati Lin Mu, memandangnya dari dekat seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah pemuda itu.

"Anak muda," katanya pelan, hanya cukup terdengar oleh Lin Mu dan beberapa orang terdekat, "teknik pernapasan apa yang baru saja kau gunakan semalam, di kamarmu?"

Jantung Lin Mu berdegup sekali, tenang namun waspada. Tetua tua ini merasakannya.

"Hanya teknik dasar yang kutemukan sendiri," jawabnya datar.

Tetua Qing menatapnya lama, matanya yang satu itu berkilat seperti sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar seorang pemuda cacat yang baru saja diusir dari rumahnya sendiri.

"Temui aku di Halaman Belakang setelah matahari terbenam," katanya akhirnya, lalu berbalik pergi tanpa penjelasan lebih lanjut, meninggalkan seluruh ruangan—termasuk Lin Hao—bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi.

Lin Mu tersenyum tipis saat melangkah keluar dari Aula Leluhur.

Rupanya, tidak semua orang di klan ini buta.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!