Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 : kesepakatan rahasia di atas kuda
Rombongan kekaisaran bergerak kembali menuju istana dengan kawalan yang jauh lebih ketat. Para pembunuh bayaran dari Organisasi Belati Hitam diseret dalam kondisi dirantai di belakang barisan prajurit. Di barisan paling depan, Ara dan Kaisar Yan berkuda berdampingan. Kabut tebal yang tadi menyelimuti hutan perlahan mulai menipis, membiarkan berkas sinar matahari sore menerobos sela-sela dahan pohon.
Kaisar Yan sesekali melirik wanita di sebelah kirinya. Ara tampak begitu santai, satu tangannya memegang kendali kuda dengan lihai, sementara tangan satunya lagi memegang tusuk gigi kayu yang entah dia dapatkan dari mana. Sama sekali tidak ada raut tegang di wajah jelitanya setelah hampir saja kehilangan nyawa.
"Kau tahu, Xia Ruo," Kaisar Yan membuka suara, memecah keheningan di antara mereka berdua. "Menuduh seorang Menteri Utama seperti Menteri Wang bukanlah perkara sepele. Meskipun pembunuh itu sudah mengaku, pria tua bangka itu pasti punya seribu satu cara dan sekutu di pengadilan untuk mengelak."
Ara menoleh, lalu mendengus remeh. Ditatapnya wajah tampan kaisar sedingin es itu dengan pandangan malas. "Alah, lu sebagai bos besar di kekaisaran ini masa loyo banget, Mas Bro? Tinggal seret aja itu pembunuh ke depan mukanya pas rapat menteri, terus skakmat di tempat. Gak usah pake bertele-tele."
Kaisar Yan terkekeh rendah, suara tawa baritonnya terdengar sangat seksi namun sarat akan intrik politik. "Politik tidak sesederhana tawuran jalanan yang ada di otak barbarmu itu, Permaisuri. Jika aku langsung mengeksekusinya tanpa mencabut seluruh akar sekutunya di pengadilan, yang ada justru akan memicu pemberontakan dari faksi militer yang mendukungnya."
Ara terdiam sejenak. Otak modernnya mulai mencerna situasi. Dia sadar, posisi tubuh Xia Ruo yang dia tempati ini juga masih rentan di istana belakang. Selama faksi Menteri Wang dan Selir Agung Li masih berkuasa, hidupnya tidak akan pernah tenang dari gangguan 'ular-ular' istana.
"Oke, gua paham maksud lu," ucap Ara, raut wajahnya mendadak berubah serius, memancarkan aura ketegasan seorang pemimpin tongkrongan.
Dia merapatkan laju kudanya hingga bahunya hampir bersentuhan dengan bahu kekar Kaisar Yan. "Lu butuh alibi dan waktu buat nyari bukti korupsi atau borok-boroknya si menteri itu sampai ke akar-akarnya, kan? Sedangkan gua, gua butuh jaminan keamanan biar kagak dikirim pembunuh bayaran mulu tiap minggu."
Kaisar Yan menghentikan sedikit laju kudanya, menatap intens ke dalam sepasang mata bulat Ara yang berkilat cerdas.
"Lalu, apa rencanamu?"
"Gini aja, kita bikin kesepakatan rahasia. Lu dan gua, kita kerja sama alias collab," tawar Ara ceplas-ceplos, menggunakan istilah modern tanpa beban. "Gua bakal pura-pura tetap bertingkah barbar dan bikin pengalihan isu di istana belakang biar perhatian Menteri Wang teralih ke gua. Selama mereka sibuk nyari cara buat menjatuhkan gua di harem, lu bisa leluasa gerak di pengadilan luar buat nyari bukti-bukti busuk mereka di bawah meja."
Kaisar Yan tertegun mendengar tawaran kerja sama yang begitu taktis dari wanita yang dulunya hanya bisa menangis ini. Ide menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan untuk memancing musuh adalah strategi yang sangat berani dan berbahaya.
"Sebagai imbalannya, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Kaisar Yan, matanya menyipit penuh minat.
Ara menyeringai sangar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Gampang. Pertama, lu harus pastikan jatah bulanan paviliun gua kagak bakal disunat lagi sama siapapun. Kedua, gua minta kebebasan penuh buat melatih fisik gua dan pelayan gua tanpa ada kasim kolot yang protes soal tata krama. Dan yang terakhir..." Ara menggantung kalimatnya sejenak, lalu menepuk pedang giok di pinggang Kaisar Yan. "Gua minta hadiah berupa senjata asli kualitas nomor satu dari gudang persenjataan lu. Gimana? Deal, Mas Bro?"
Kaisar Yan menatap telapak tangan Ara yang disodorkan ke arahnya untuk bersalaman. Di kekaisaran ini, tidak pernah ada seorang pun yang berani menawarkan kesepakatan bisnis setara dengan seorang kaisar. Namun, rasa kagum dan ketertarikan yang membuncah di dada Kaisar Yan membuat pria itu tidak bisa menolak.
Perlahan, Kaisar Yan menjabat tangan lembut namun kokoh milik Ara. "Kesepakatan diterima, Permaisuriku. Mulai hari ini, kita adalah sekutu."
Ara menjabat tangan kokoh itu dengan mantap, lalu memberikan cengkeraman kuat ala anak tongkrongan sebelum melepaskannya. Di balik jabat tangan itu, sebuah aliansi rahasia yang akan mengguncang seluruh kekaisaran resmi terbentuk di tengah perjalanan pulang dari Hutan Larangan.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣