Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Setelah ketegangan singkat yang dibawa Sofia menguap tanpa sisa, diganti rasa haru Clara, suasana ballroom kembali dipenuhi kehangatan dan kemeriahan.
Acara resepsi pernikahan penguasa Van Der Berg Group itu resmi dimulai. Skalanya benar-benar membuat Clara tak henti-hentinya menahan napas.
Lampu chandelier kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan. Meja-meja bundar ditata sempurna dengan peralatan makan berlapis emas dan centerpiece mawar putih.
Jajaran koki dari restoran Michelin-star didatangkan langsung dari Prancis dan Jepang untuk menyajikan hidangan fine dining bagi para tamu, yang mayoritas adalah jajaran menteri, duta besar, dan taipan bisnis multinasional.
Di atas pelaminan yang megah, Alexio berdiri tegak dengan satu tangan yang tak pernah lepas melingkar posesif di pinggang ramping Clara. Pria itu menerima ucapan selamat dari para tamu dengan anggukan singkat yang berwibawa, namun sesekali ia akan menunduk, berbisik mengecek keadaan istrinya.
"Kakimu sakit, Nyonya Van Der Berg?" bisik Alexio tepat di telinga Clara, sengaja menekan gelar baru wanita itu.
Clara merasakan wajahnya memanas. "Sedikit. Heels ini terlalu tinggi, Alexio."
"Apa kau masih sanggup bertahan sebentar lagi. Jika tidak, aku akan mengusir mereka semua sekarang juga agar kau bisa beristirahat," jawab Alexio dengan wajah sangat serius, seolah membatalkan resepsi triliunan rupiah itu adalah hal sepele baginya.
Clara buru-buru mencubit pelan lengan suaminya. "Jangan gila! Tersenyum saja dan sapa tamunya."
Alexio mendengus pelan, lalu menurut. Namun, perhatian Clara kini teralihkan pada pemandangan di area meja VVIP keluarga.
Ken yang tampak gagah dengan setelan jas mini berpotongan slim-fit, serta Key yang menggemaskan dalam balutan gaun princess kecil yang senada, tampak sedang dikerumuni oleh beberapa CEO yang mencoba mengambil hati mereka.
Mendekati anak-anak adalah cara paling klasik untuk mengambil hati ayahnya. Namun, para CEO itu jelas salah memilih target.
Seorang direktur perusahaan properti membungkuk, menyodorkan sekotak cokelat impor eksklusif ke hadapan Ken. "Tuan Muda Ken, Paman punya cokelat paling enak dari Belgia. Mau?"
Ken, yang sedang menikmati segelas jus jeruk organik, meletakkan gelasnya dengan elegan. Ia membetulkan letak kacamatanya, menatap pria itu dengan tatapan analitis yang persis seperti Alexio saat sedang menguliti kelemahan lawan bisnisnya.
"Terima kasih atas tawarannya, Tuan. Tapi penyuapan menggunakan gula buatan tidak akan menyelamatkan harga saham perusahaan Anda yang sedang anjlok," ucap Ken dengan artikulasi formal yang sangat fasih.
"Berdasarkan analisis data kuartal ketiga yang saya baca minggu lalu, rasio utang perusahaan Anda sudah melebihi batas aman. Saya sarankan Anda lebih fokus pada perbaikan struktur manajemen internal daripada menyogok anak kecil dengan cokelat."
Direktur itu seketika mematung dengan mulut setengah terbuka, wajahnya pucat pasi seolah baru saja disidang oleh dewan komisaris, sementara Alexander yang duduk tak jauh dari sana tertawa terbahak-bahak sambil menepuk paha.
Di sisi lain meja, Key sedang menatap sepiring canapé dengan topping kaviar hitam menggunakan dahi berkerut. Olivia, sang Oma, yang duduk berdampingan dengan Andries dan Ketty menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Ini kaviar Beluga paling mahal," bujuk Olivia lembut.
Key mendesah pelan, menusuk kaviar itu dengan garpu peraknya bak seorang kritikus kuliner profesional.
"Visualnya memang menarik, Oma. Tapi berdasarkan literatur nutrisi yang Key pelajari, kandungan sodium dan merkuri dalam hidangan laut mentah tidak optimal untuk perkembangan sinapsis otak anak-anak. Lagipula..."
Key menatap Olivia dengan mata membulat polos,
"...rasanya sedikit amis. Key lebih suka telur dadar buatan Mama. Lebih higienis dan terbukti mendukung pertumbuhan."
Olivia nyaris memekik gemas. Ia langsung mencubit pelan pipi tembam cucu perempuannya itu.
"Astaga, cucu Oma pintar sekali! Besok Oma akan menyuruh koki terbaik kita belajar membuat telur dadar ala Mama Clara, ya!"
Dari atas pelaminan, Clara yang menyaksikan kejadian itu tak bisa menahan senyum bahagianya.
"Anak-anakmu benar-benar membuat para tamu ketakutan, Xio."
Alexio tersenyum miring, sorot matanya memancarkan kebanggaan absolut.
"Mereka adalah Van Der Berg. Sudah seharusnya mereka tidak bisa disogok dengan hal-hal murahan."
Pria itu kemudian menunduk, menatap bibir Clara dengan tatapan yang tiba-tiba menggelap penuh gairah.
"Tapi sejujurnya, Clara..." suara Alexio merendah, berubah serak dan mengintimidasi dalam cara yang seksi, "...melihat kecerdasan mereka berdua, kurasa analisis genetik keluargaku benar. Memiliki satu putra pewaris setajam Ken dan satu putri kecil secerdas Key ternyata membuatku serakah. Kita harus segera memulai proyek selanjutnya. Bagaimana kalau sepasang anak kembar lagi?"
Clara tersedak napasnya sendiri. Matanya melotot menatap Alexio yang kini tersenyum penuh isyarat setan.
"A-apa? Proyek apa?! Alexio, ini bahkan belum malam!" desis Clara panik, wajahnya semerah tomat matang.
"Bisa kita mulai sekarang, jika kau mau." Alexio menyeringai, semakin merapatkan pelukannya di pinggang Clara, sama sekali tidak peduli dengan ribuan pasang mata yang menatap mereka dengan kagum di ruangan itu.
Hari itu, Jakarta tidak hanya menjadi saksi pernikahan termegah abad ini, tetapi juga menjadi saksi jatuhnya sang penguasa sedingin es ke dalam pelukan hangat keluarga kecilnya yang luar biasa.
Bersambung...
asli part ini bacanya seru