Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Unik!

# GADIS UNIK! #

*TAK... TUK... TAK... TUK...*

Langkah anggun dari sepatu hak tinggi itu menggema di sepanjang koridor, menyita perhatian siapa saja yang melintas.

"Eh, kalian merasa familiar tidak sama wanita itu? Artis bukan, sih? Elegan banget ya..." bisik seorang mahasiswa pada kerumunannya. "Kira-kira mau apa datang ke kampus kita? Apa mungkin mau syuting di sini?"

Kumpulan mahasiswa yang sedang nongkrong di koridor kampus seketika terpesona oleh keanggunan wanita paruh baya tersebut. Ia tampak sangat berkelas, wajahnya cantik menawan dengan tatanan rambut ikal yang rapi. Bahkan jejak aroma parfum mahal yang tertinggal di udara sanggup membuai dan memberi kesan mendalam. Saking terpesonanya mereka pada sang wanita, banyak yang sampai tidak menyadari keberadaan seorang pemuda tampan berambut silver-white yang berjalan di sisinya bak model profesional.

"Kayaknya beneran kampus kita mau dipakai syuting film, deh."

*Tok... tok... tok...*

"Hmmm... Akhirnya kalian datang juga," desah seorang pria tua dari balik meja kerjanya. "Ternyata firasat burukku selama berhari-hari ini terbukti. Hahhh...Aku ini sudah tua, ingin pensiun tenang, tapi malah harus mengurus bencana seperti ini. Apa kalian sudah tidak punya tempat lain yang bisa dituju selain kampusku?"

Profesor Antony Wistlen memijat keningnya yang mendadak pening saat menyaksikan dua orang itu melangkah masuk ke ruang rektorat. Ia menghela napas lelah, menunjukkan secara terang-terangan bahwa ia sama sekali tidak menyambut kedatangan anak perempuan dan cucu bungsunya tersebut.

Ya, wanita yang baru saja mencuri perhatian seluruh koridor adalah Ny. Evelyn Pierce, putri dari Prof. Antony. Sementara pemuda yang duduk di sampingnya adalah Axcelino Pierce, cucu kesayangan sang Profesor.

"Ayahhh... bukankah Axcel ini cucu kesayangan Ayah? Kenapa Ayah tega menyebut kami bencana?" protes Evelyn dengan nada manja. "Lagipula Ayah sudah tua. Aku minta Axcel pulang dan masuk ke Universitas Santosburgh ini justru demi Ayah. Harusnya Ayah senang, dong, Axcel bisa menjaga Ayah di sini. Axcel sudah sepuluh tahun di luar negeri, aku tahu Ayah pasti merindukannya setiap saat, kan?"

Prof. Antony mendongak, lalu tersenyum penuh arti menatap cucunya yang hanya terduduk diam di sebelah sang mama. Memang benar, kehadiran Axcel selalu mendatangkan huru-hara di lembaga pendidikan mana pun yang ia pijaki, tetapi pemuda itu tetaplah cucu kesayangannya.

Axcelino Pierce, siapa yang tidak mengenalnya? Meski bertahun-tahun mengenyam pendidikan di luar negeri, namanya tetap bergaung kencang di dalam negeri. Statusnya sebagai pewaris tunggal Pierce Group berpadu erat dengan reputasinya sebagai pelajar troublemaker ulung. Ulahnya seolah tak ada habisnya menciptakan gebrakan. Jika bukan karena kekuatan uang yang mampu membungkam segala kasus, mungkin tidak ada satu pun sekolah di dunia ini yang sudi menerimanya sebagai murid.

Prof. Antony bangkit dari kursi kebesarannya lalu menghampiri Axcel. Ia mengisyaratkan cucunya untuk berdiri, ingin mengamati sosok pemuda yang selama ini sulit ditemuinya itu secara langsung. Kini, bocah kecilnya telah tumbuh menjadi pemuda tinggi tegap berparas tampan luar biasa.

"Kemarilah, biarkan Kakek memelukmu."

Axcel agak ragu sejenak sebelum membalas pelukan hangat kakek yang sangat ia sayangi itu. Lantaran selalu bermasalah dengan kehidupan sosialnya, Axcelino yang dulunya seorang extrovert kini lebih memilih membatasi diri dan menarik diri dari keramaian.

"Baiklah... Belajarlah sesukamu. Kampus ini milik almarhum ayahmu, dan kau jugalah yang kelak menjadi pewarisnya," ujar Prof. Antony seraya melepaskan pelukan. "Lakukan apa pun yang kau mau. Asal kau tidak sampai membunuh orang saja, Kakek sudah sangat bersyukur. Oh ya, apa kau tetap di jurusan Seni? Tidak tertarik mendalami Bisnis? Kasihan Mamamu kalau tidak ada yang membantu mengurus perusahaan nanti."

Di luar dugaan, Axcel mengangguk patuh. Sikap itu merangsang rasa heran di benak sang Kakek dan Ibunya. Axcel, yang biasanya berjiwa seni liar dan menjunjung kebebasan, tiba-tiba menurut begitu saja saat diminta mengulang kuliah di jurusan Bisnis. Padahal Prof. Antony tadi hanya berniat bercanda. Mungkinkah ada alasan khusus yang membuat cucunya mendadak sejinak ini?

Prof. Antony melempar pandang keraguan ke arah Ny. Evelyn, seolah bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada cucunya hingga di drop out lagi.

"Sudahlah, Yah, tidak perlu diinterogasi lagi," sela Evelyn santai. "Seperti kata Ayah tadi, dia tidak membunuh orang saja sudah jadi berita super baik, bukan? Jadiii... mari nanti kita makan malam bersama, untuk menyambut kembalinya Putra Mahkota Axcelino Pierce, calon pebisnis muda kita!"

Prof. Antony akhirnya mengangguk setuju. Ia pun tak ingin melihat wajah cucunya terus-terusan ditekuk suram dan nampak tertekan.

Evelyn berpaling pada putranya. "Okeee... Kamu tidak perlu mengantar Mama. Bersenang-senanglah dan cari teman baru. Mama tidak memaksamu mendapat nilai akademis yang sempurna, kok. Yang penting anak Mama bisa menikmati masa mudanya dengan benar, Mama sudah bangga. Tenang saja, Mama sudah minta Kakek untuk merahasiakan identitasmu. Jadi tidak perlu khawatir, tapi tolong jangan buat Kakekmu pusing, ya... Usahakan jangan sampai ada wali murid yang melayangkan aduan tentangmu lagi."

Axcel hanya mampu mengukir senyum canggung ketika sang Mama melenggang pergi meninggalkan dirinya di ruang rektorat bersama sang Kakek. Tak lama kemudian, ia menunggu seseorang yang dipanggil kakeknya untuk memandu keliling area kampus.

*Tok... tok...*

"Permisi, Prof. Kak Rey sedang ada kelas dan belum selesai, jadi saya diminta datang untuk menggantikan beliau. Ada yang bisa saya bantu, Prof?"

Gadis yang berdiri di ambang pintu itu adalah Sora Kyne, mahasiswi tahun kedua yang aktif di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Santosburgh. Namanya cukup populer karena ia selalu terlibat di berbagai kegiatan kampus. Sikapnya yang humble dan cenderung suka mendominasi berbanding terbalik dengan perawakannya yang mungil dan imut. Prof. Antony lantas meminta Sora untuk mengantarkan Axcel mengenal lingkungan kampus.

"Hai! Aku Sora... Kamu siapa?" sapa Sora ramah seraya mengulurkan tangan.

Namun, sapaan itu menguap begitu saja. Axcel melewatinya tanpa menoleh sedikit pun. Sora membeku, menarik kembali tangannya, lalu mengepalkan jemarinya menahan kekesalan di balik badan. Kendati gusar, ia tetap memaksakan senyum manis di wajahnya saat melihat punggung Axcel yang sudah berjalan mendahului. Setelah berpamitan pada Prof. Antony, Sora bergegas berlari kecil menyusul pemuda itu.

"Haah... huuft! Jalanmu cepat banget sih! Panjang banget itu kaki!" cerca Sora begitu berhasil menyamai langkahnya. "Axcel, namamu Axcel, kan? Kamu mau keliling sendirian atau mau aku temani? Soalnya aku juga malas kalau harus jalan sama Maba (Mahasiswa Baru) songong. By the way, tumben Santosburgh mau menerima mahasiswa baru di tengah semester? Kamu sebenarnya mahasiswa pindahan, ya?"

Axcel mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap dingin ke arah Sora yang sedari tadi terus mengoceh. Sora menaikkan alis kanannya sembari memajukan dagu, menantang tatapan itu. Namun, tinggi badan Sora yang hanya 160 cm membuatnya lelah harus terus mendongak menatap pemuda tinggi di depannya dari jarak dekat. Sora lantas mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak, lalu menunduk sebentar memijat leher belakangnya.

"Apa kau tahu siapa aku? Apa kau tidak takut?" tanya Axcel datar.

Sora yang masih memijat lehernya, mendadak memiringkan kepala. Ia menatap Axcel kembali, lalu berdecih pelan. Dalam hati, gadis itu menertawakan Axcel yang dinilainya terlalu percaya diri, sok terkenal, dan sok misterius. Memang harus diakui, wajah pemuda ini tampan bak idol K-Pop, tetapi Sora yakin seratus persen kalau cowok di hadapannya ini hanyalah mahasiswa biasa.

"Apa...? Kenapa...? Memangnya kamu ini artis yang baru debut?" cibir Sora terang-terangan. "Aku tidak suka main fans-fansan dan nggak tertarik sama dunia idol. Jadi maaf ya kalau aku nggak kenal kamu. Sama sekali nggak tertarik juga!"

Sudut bibir Axcel terangkat tipis. Baguslah. Akan jauh lebih nyaman jika orang-orang di kampus ini tidak mengenali siapa dirinya. Axcel berharap situasi ini bertahan selamanya, agar tidak ada satu orang pun yang mengusik kedamaiannya atau berusaha mendekatinya. Ia benar-benar sudah muak dengan kehidupan sosial yang selalu penuh prasangka dan tak pernah membiarkannya tenang.

"Jadi... kau mau jadi teman pertamaku di sini?" tanya Axcel kemudian.

Wajah Sora kembali dihinggapi rasa heran, tetapi kemudian sebuah senyuman lebar terbit di bibirnya. Ia kembali mengulurkan tangan, mengajak Axcel bersalaman. Lantaran tak kunjung mendapat respons, dengan gemas Sora mendekat dan menarik paksa tangan Axcel yang tersimpan di dalam saku celana untuk menjabat tangannya.

Sentuhan itu membuat Axcel tersentak. Ini adalah kali pertama baginya menjabat tangan seseorang di luar anggota keluarganya. Refleks, Axcel langsung menarik tangannya kembali dan melanjutkan langkah mengitari area kampus.

"Hei! Hei! Hei! Kamu jangan pernah menyesal, ya! Kita ini sudah resmi berteman!" seru Sora seraya mengejar dari belakang. "Ayo kita ke kantin, dan kamu harus traktir aku makan siang!"

Belum sempat Axcel menanggapi ajakan tersebut, tubuhnya sudah terhuyung kaget lantaran Sora mendadak menarik jaketnya dan berbelok tajam ke kanan menuju area kantin.

Begitu melangkah masuk ke kantin, hampir semua mahasiswa yang berpapasan dengan Sora menyapanya dengan sopan, bahkan terkesan segan dan sedikit takut pada gadis mungil itu. Sora membalas semua sapaan mereka dengan ceria. Sementara itu, mahasiswa yang duduk agak jauh sibuk berbisik-bisik, mengagumi paras tampan Axcel yang menyegarkan pemandangan.

"Bu Kantin! Aku mau ini... ini... ini... mmm, sama yang itu ya. Banana milk nya satu, terus kasih anggur lima biji saja," pesan Sora tangkas. "Axcel, kamu mau makan apa?"

Axcel tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan Sora yang sepertinya memiliki pengaruh besar (overpower) di kampus ini. Pemuda itu membatin, mungkinkah gadis mungil ini anak orang kaya yang suka berbuat semena-mena? Sebab untuk memesan makanan saja ia sama sekali tidak perlu mengantre. Orang-orang di antrean bahkan langsung menepi begitu saja, memberi jalan agar Sora bisa memesan lebih dulu.

"Excel... Excel... Hei! Bagaimana kalau aku pesankan yang sama seperti punyaku?"

Axcel menggeleng pelan. Ia tidak terbiasa makan dalam porsi sebanyak itu. Ia akhirnya hanya meminta Bu Kantin membuatkan satu kebab extra daging tanpa mayones.

Begitu Bu Kantin menyebutkan total harga pesanan mereka, tanpa rasa malu sedikit pun Sora langsung menodongkan telapak tangannya ke hadapan Axcel, meminta teman barunya itu untuk membayar. Axcel hanya perlu mendekatkan smartwatch nya ke mesin pembayaran, dan BEEP!transaksi berhasil.

"Waaah... Keren! Karena kamu sudah royal, next time gantian aku yang traktir," puji Sora gembira. "Ayo kita cari tempat duduk!"

Kondisi kantin saat itu sangat padat. Semua kursi umum hingga area VIP tampak terisi penuh. Namun, hal itu jelas bukan masalah bagi Sora. Gadis itu melangkah santai mendekati sebuah meja yang dihuni oleh empat orang mahasiswa. Cukup dengan satu dehaman pelan dari Sora, keempat mahasiswa itu langsung berdiri tergesa-gesa dan membereskan makanan mereka yang belum habis, lalu pergi menyerahkan meja tersebut padanya.

"Lihat, kan? Kamu beruntung banget bisa berteman sama aku," ujar Sora bangga seraya mendaratkan bokongnya di kursi. "Ingat ya... kamu harus bersyukur dan tidak boleh menyesal! Soalnya kamu sendiri yang meminta. Aku biasanya nggak gampang menerima orang baru. Tentu saja, aku bisa jadi privilege juga buat kamu."

Axcel menyunggingkan senyum tipis lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Dengan tenang, ia mengamati Sora yang menyantap makanannya dengan sangat lahap. Beberapa kali meja mereka dihampiri mahasiswi lain yang berharap Sora mau memperkenalkan pemuda tampan di sisinya. Namun, cukup dengan satu kibasan tangan santai dari Sora, gadis-gadis itu langsung mundur teratur dengan raut kecewa.

"Apa kau sedang memonopoliku?" tanya Axcel santai. "Mereka bisa saja salah paham dengan hubungan kita."

*UHUKK! UHUKKK!*

Sora tersedak hebat. Kata 'kesalahanpahaman hubungan' sukses membuat tenggorokannya tersumbat. Ia baru sadar kalau sedari tadi dirinya memang mengusir siapa pun yang mencoba mendekati Axcel. Apakah karena ia terlalu asyik menikmati makanan hingga tak ingin diganggu? Atau... ia memang tidak rela ada orang lain yang mendekati teman barunya?

"O-owh... Apa aku harus berbagi teman?" balas Sora gengsi setelah berhasil menelan makanannya. "Aku saja belum mengenalmu sepenuhnya, kenapa harus berbagi perhatian? Tunggu sampai aku bosan dulu, baru kamu boleh berteman dengan yang lain. Itu konsekuensi kalau jadi teman baruku!"

*PYURRR...! TAK!*

"Ah, maaf! Maaf... Aku nggak sengaja terpeleset!" seru seorang mahasiswi yang tiba-tiba menabrak meja mereka dan menumpahkan minuman miliknya ke jaket Axcel. "Maaf, Jaket Kakak jadi kotor. Aku bantu laundry sebagai permintaan maaf, ya. Kakak bisa lepas jaketnya sekarang?"

*BRAKKKK...!*

⭐⭐⭐⭐⭐

*WADUH! Baru juga hari pertama kuliah dan jadian berteman\, kok udah ada insiden siram-menyiram jaket begini?! 😱💥 Siapa sih mahasiswi yang 'tidak sengaja' terpeleset itu? Benar-benar murni kecelakaan\, atau ada niat terselubung buat mengusik sang Putra Mahkota Pierce Group?! Terus\, reaksi Axcel bakal gimana setelah Sora menggebrak meja?!*

*Penasaran banget kan sama kelanjutan kekacauan di kantin Santosburgh? 🤫✨*

*Yuk\, bantu dukung cerita ini dengan cara:*

1. Tekan tombol LIKE & LOVE (❤️)

2. SIMPAN / BOOKMARK cerita ini ke perpustakaan kamu biar tak ketinggalan *update*!

3. Tinggalkan KOMENTAR tebakan kalian: kira-kira siapa yang gebrakan meja tadi?!

*Jangan lupa langsung lanjut BACA BAB SELANJUTNYA ya! Sampai jumpa di bab depan! Ride the chaos! 🚀🔥*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!