Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.

Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.

Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.

Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.

Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.

BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Mana Orangnya?

Suaranya yang berat, dalam, dan tanpa riak gelombang itu menggema di dalam ruang rapat yang kedap. Hanya dengan tiga kata itu, seluruh atensi di dalam ruangan tersedot sepenuhnya pada pria itu. Pak Bambang dan Bu Lastri langsung membetulkan posisi duduk mereka, tidak berani bersandar sedikit pun.

Seorang direktur dari divisi eksekutif Abraham Group yang duduk di sisi kanan Gavin segera berdeham dan membuka presentasi.

Layar proyektor besar di depan menampilkan draf transisi operasional, bagan reorganisasi, serta target kuartal pertama pasca-akuisisi.

Pria paruh baya itu menjelaskan dengan nada bicara yang lugas, menjabarkan bagaimana PT Sinar Abadi Mandiri akan dilebur ke dalam jaringan logistik retail raksasa milik mereka.

Sepanjang dua puluh menit pertama, Gavin hanya diam mendengarkan. Wajahnya datar seperti patung marmer, matanya menatap tajam ke arah layar, namun sesekali, tatapan mematikan itu sengaja dijatuhkan ke sudut paling belakang meja yaitu tempat di mana seorang wanita terus menundukkan kepala tanpa berani bergerak sedikit pun.

Gavin bisa melihat bagaimana bahu sempit wanita itu tampak tegang. Dia tahu, Safira sedang ketakutan. Dan entah mengapa, ada kepuasan kelam yang merayap di dalam dada Gavin melihat reaksi tersebut.

"Demikian draf awal untuk integrasi lini distribusi, Tuan Gavin. Untuk bagian keuangan dan audit aset fisik, drafnya sudah selesai diperiksa oleh tim legal dan keuangan pusat." ujar direktur tersebut mengakhiri penjelasannya, lalu menatap Gavin untuk meminta arahan.

Gavin tidak langsung merespons. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan selama hampir setengah menit. Gavin sengaja mengulur waktu, membiarkan ketegangan di dalam ruangan meningkat hingga membuat Pak Bambang mulai menyeka keringat di pelipisnya.

Gavin perlahan menegakkan tubuhnya, memajukan badannya ke arah meja. Tatapannya kini beralih pada rombongan staf dari perusahaan kecil yang baru dibelinya itu.

"Saya sudah membaca laporan keuangan dan data inventaris yang dikirimkan oleh manajemen kalian minggu lalu," ujar Gavin, nadanya lambat namun sarat akan penekanan di setiap kata.

"Secara umum, angka-angkanya stabil. Namun... bagi standar Abraham Group, stabil saja tidak cukup. Saya melihat ada kejanggalan dalam metode sinkronisasi data antara gudang retail di pinggiran kota dengan laporan mutasi barang bulanan." lanjutnya dengan intimidasi.

Pak Bambang tersentak kecil. Dengan suara yang agak bergetar, dia mencoba menjelaskan.

"Ma-maaf sebelumnya, Tuan Gavin. Saya Bambang, manajer operasional. Mengenai sinkronisasi tersebut, selama ini kami memang menggunakan sistem semi-manual karena keterbatasan infrastruktur perangkat lunak di cabang-cabang kecil kami. Namun, seluruh pencatatan fisik kami jamin akurat." balas Pak Bambang dengan gugup.

Gavin menyipitkan matanya, menatap Pak Bambang dengan pandangan meremehkan yang dingin.

"Saya tidak berbisnis dengan jaminan kata-kata, Pak Bambang. Saya berbisnis dengan sistem yang presisi. Jika ada selisih satu angka saja dalam draf logistik, itu artinya ada inefisiensi yang bisa merugikan perusahaan miliaran rupiah dalam jangka panjang." seru Gavin dengan tegas.

Bu Lastri di sebelah Pak Bambang mulai panik. Dia menyenggol lengan Pak Bambang, bingung harus menjawab apa karena draf detail itu bukan dia yang menyusunnya secara langsung dari lapangan.

Gavin melihat pergerakan itu. Sudut matanya menangkap map biru tua yang terletak di depan Safira di ujung meja. Sebuah rencana matang dan kejam langsung terbentuk di kepala cerdasnya.

Dia tidak akan membiarkan wanita itu terus bersembunyi di balik punggung rekan-rekannya. Dia ingin mendengar suara yang selama tiga tahun ini menghantui malam-malam sepinya yaitu suara yang dulu selalu membisikkan kata cinta, namun juga suara yang menorehkan luka paling dalam di hidupnya.

"Siapa yang bertanggung jawab penuh atas kompilasi data mutasi barang dan audit rekonsiliasi untuk seluruh gudang retail cabang?" tanya Gavin, suaranya meninggi satu oktav, menuntut jawaban mutlak.

Pak Bambang menelan ludah, lalu menoleh ke arah belakang meja dengan ragu.

"Ah... untuk bagian itu, staf senior administrasi data kami yang mengerjakannya, Tuan. Dia yang menyusun seluruh laporan rekonsiliasi tiga tahun terakhir." jawab Pak Bambang.

"Siapa namanya?" tanya Gavin datar, seolah-olah dia benar-benar tidak tahu.

"Safira. Safira Angela, Tuan." jawab Pak Bambang jujur.

Gavin menyandarkan kembali punggungnya, tatapannya langsung mengarah lurus, mengunci sosok wanita di ujung belakang itu dengan intensitas yang luar biasa kuat.

"Safira Angela... yang mana orangnya?" tanya Gavin dengan pura-pura tidak mengenalnya.

Mendengar namanya disebut secara resmi oleh pria itu, Safira tahu dia tidak bisa menghindar lagi. Ini adalah dunia profesional, dan jika dia menolak bicara, dia hanya akan mempermalukan Pak Bambang yang selama ini sangat baik kepadanya, atau bahkan memicu kecurigaan yang lebih besar dari staf hukum yang ada di sana.

Safira menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menstabilkan getaran di dadanya. Dia mengangkat kepalanya dengan anggun. Wajahnya yang pucat namun tetap terlihat cantik dan lembut itu kini terpampang jelas di bawah benderang lampu ruang rapat.

Dia menatap lurus ke arah depan, sengaja mengarahkan pandangannya sedikit meleset ke arah bahu Gavin, bukan langsung ke matanya, demi menjaga sisa-sisa kewarasannya.

"Saya, Tuan." ucap Safira.

Suaranya terdengar lembut, jernih, dan begitu tenang di telinga, tidak menunjukkan kegugupan yang berarti meskipun di dalam dirinya ada badai yang sedang mengamuk.

Suara itu... Gavin merasakan sengatan tak kasat mata di dadanya saat gelombang suara Safira menyentuh indra pendengarannya. Masih sama. Lembut dan menenangkan, suara yang dulu selalu menyambutnya pulang kerja.

Namun sekarang, suara itu terdengar begitu formal dan asing, ditujukan kepadanya sebagai Tuan. Amarah di dalam diri Gavin kembali bergolak.

"Langkah maju ke depan, bawa berkasmu," perintah Gavin dingin, tanpa kompromi.

"Jelaskan kepada saya bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa metode semi-manual yang kamu gunakan tidak memiliki risiko kebocoran data." lanjutnya tegas.

Safira memejamkan mata sesaat. Dia berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat sopan dan teratur. Dia mengambil map biru tua miliknya, lalu melangkah perlahan menyusuri sisi meja marmer hitam yang panjang.

Setiap ketukan langkah sepatunya di atas karpet tebal terasa seperti dentuman jam dinding yang menghitung mundur takdirnya.

Kini, Safira berdiri di sisi ujung meja yang dekat dengan barisan direksi pusat, hanya berjarak kurang dari dua meter dari kursi tempat Gavin duduk.

Dari jarak sedekat ini, Safira bisa mencium dengan jelas aroma parfum Gavin yaitu cedarwood yang pekat dan dia bisa melihat bagaimana dada bidang pria itu naik turun dengan ritme yang berat.

"Selamat pagi, Tuan Gavin dan jajaran direksi." Safira membuka map birunya dengan tangan yang sebisa mungkin ia buat tetap stabil.

"Terkait pertanyaan Anda mengenai risiko kebocoran data pada metode semi-manual yang kami gunakan, saya ingin mengklarifikasi beberapa poin berdasarkan draf audit halaman empat belas." ujar Safira.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Ida Haryono
lanjut thor gmn gavin bs selembut itu dg istri cibtanya....aku jadi sendu nich apkh pasangan kita bs spt itu he..he....
Ani Kurniati
bagus
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
Hah? Gimana-gimana?
Ida Haryono
asyiik ya indehoylah terus tapi jgn sd safira sakit ya.....
Ida Haryono
lanjut thor kisah ini bagus dan cinta sehati nrk terjalin kembali mudah2an cita2 Gavin bersama Safura berjalan peniuh kasih d cinta....🤣
Raji Hamizan
nona muda dong jgn nyonya
Ida Haryono
lanjut thor....cerita ini berbeda dgn yg lain2nya .....agk complicated dgn alur csrita msg2 perannya....nggak sabar endingnya....🤣👍
Inooy
aq koq janggal denger Safira memanggil Dimas BAPAK..cukuplah PAK aj g perlu BAPAK
Ghaitsa Adzra Serintia
keren
Ade Chubi
kasihan Safira😭
Paw_chan🐾
bagus
imoe nawar
👍
ILALANG
banyak yang menyalahkan Gavin tanpa melihat tiga tahun yang lalu dimana Gavin dan keluarganya menanggung aib
ILALANG
ini bukan salah Gavin 100% karena yg dia tau kalau mantan istrinya ini sudah menhianatinya diceraikan tanpa alasan dan bahkan tidak ada kabar selama 3 tahun,kalau ada yang bilang kenapa Gavin ga mencari tau penyebabnya itu dikarenakan dia udah sakit hati duluan dan merasa istrinya tidak menginginkannya lagi dan juga merasa dia ditinggal tanpa alasan yang jelas,ingat mereka ini suami istri bukan orang yg masih pacaran,justru dengan Safira menceraikan Gavin malah manjadi aib bagi keluara Abraham,karena orang akan merasa masa seorang Gavin ditinggal cerai sama istrinya,dan itu juga sangat melukai hati Gavin dan merasa tidak memiliki harga dir.
Kalau Safira ya dia memang kasihan karna menanggung beban sendirian tapi ingat dia sendiri yang memilih jalan ini jadi harusnya dia lebih sadar diri ketika Gavin balas dendam
Ade Chubi
duh kasihan Shafira 😭
Ade Chubi
baru mampir baca ,sedih 😭
semangat Shafira💪💪
Hadi Mulyono
ceritanya bagus bahasanya jg Alus .jarang ada kesalahan penulisan .keluarga harmonis suami yg setia penyayang 👍
Hadi Mulyono
kaya raya ganteng setia kayaknya cuma Gavin deh ..jaman sekarang 1001 🤣🤣
Hadi Mulyono
nah gitu ga in satt set
Hadi Mulyono
baca.. air mata ga diem
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!