Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Wanita Anggun Sejati

Aroma kopi hitam tanpa gula beradu dengan wangi sisa hujan semalam yang masih menempel pada aspal jalanan di pinggiran Jakarta.

Di sebuah sudut ruangan berukuran empat kali lima meter yang dipenuhi dengan tumpukan map jepit transparan, Safira Angela duduk dengan punggung tegak.

Jemari tangannya yang lentik bergerak dengan ritme yang teratur di atas papan tik komputer jinjing yang sudah mulai usang di beberapa sudutnya.

Safira tidak pernah mengeluh, bahkan ketika pendingin ruangan di kubikelnya mulai mengeluarkan suara bising yang mengganggu konsentrasi karyawan lain.

Baginya, riuh rendah suasana kantor kecil milik PT Sinar Abadi Mandiri adalah sebuah perusahaan distributor alat tulis dan perlengkapan kantor berskala menengah adalah sebuah berkah yang menyelamatkannya dari kegelapan tiga tahun lalu.

"Safira, tolong cek laporan mutasi barang dari gudang cabang Bekasi. Pihak administrasi di sana bilang ada selisih sekitar dua puluh kardus kertas rangkap," suara lantang Bu Lastri, kepala bagian keuangan yang terkenal galak namun berhati emas, memecah keheningan kubikel.

Safira mendongak. Sebuah senyuman manis, tulus, dan menenangkan terbit di wajahnya yang bersih tanpa riasan tebal.

Rambut panjangnya yang berwarna hitam kecokelatan diikat rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah ovalnya dengan sempurna.

"Baik, Bu Lastri. Kebetulan saya baru saja menyelesaikan rekonsiliasi data untuk bulan ini. Saya periksa sekarang juga ya, Bu," jawab Safira dengan nada suara yang lembut, tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan ketergesa-gesaan.

Sifat Safira yang tenang dan tidak banyak tingkah atau yang sering disebut rekan-rekan kerjanya sebagai wanita anggun sejati membuatnya menjadi kesayangan di kantor tersebut.

Di saat karyawati lain sibuk bergosip tentang drama selebriti atau mengeluhkan jam kerja saat jam istirahat, Safira lebih memilih untuk duduk di pantry, menikmati bekal makan siang yang ia masak sendiri, atau membaca buku-buku tentang manajemen bisnis untuk mengasah otaknya.

Dia pintar, sangat pintar, namun kelebihannya itu tidak pernah ia pamerkan untuk menjatuhkan orang lain.

"Kamu itu ya, Fir. Kalau semua staf di sini seperti kamu, tensi darah saya tidak akan pernah naik setiap akhir bulan," puji Bu Lastri sembari meletakkan sebuah map merah di meja Safira.

"Terima kasih ya. Tolong ditaruh di meja saya kalau sudah selesai." lanjut Bu Lastri.

"Sama-sama, Bu." balas Safira singkat.

Safira kembali fokus pada layar monitornya. Matanya yang jernih dengan cepat memindai deretan angka-angka rumit di lembar kerja digital.

Otaknya bekerja dengan efisien mulai dari memilah, membandingkan, dan menemukan titik masalah hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Ada kesalahan input kode barang oleh staf magang di gudang Bekasi.

Dengan teliti, Safira membuat catatan kaki dan membetulkan formatnya agar Bu Lastri bisa membacanya dengan mudah.

Tiga tahun. Waktu yang cukup lama untuk mengubah seorang wanita yang dulunya hidup dalam gelimang kemewahan dan perlindungan penuh, menjadi seorang wanita mandiri yang harus menghitung setiap rupiah yang ia keluarkan untuk biaya hidup sehari-hari.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang, suasana kantor mendadak riuh. Jam istirahat adalah waktu di mana semua ketegangan mencair.

"Fir, makan siang di luar yuk? Itu ada warung soto mie baru di dekat pertigaan depan. Katanya enak dan murah," ajak rani, rekan sebangkunya yang bertubuh agak gempal dan selalu ceria.

Safira menoleh, lalu menepuk pelan tas kain kecil yang berada di bawah mejanya.

"Maaf ya, Ran. Aku bawa bekal hari ini. Sayang kalau tidak dimakan, takut basi." tolak Safira.

Rani mendesah pelan, namun tidak marah. Dia sudah hafal dengan kebiasaan Safira.

"Yah, sayang banget. Padahal aku mau cerita soal pacarku yang makin hari makin aneh itu. Ya sudah, aku duluan ya, Fir. Kamu jangan telat makan." seru Rani dengan nada kecewa namun dia segera pamit karena sudah lapar juga.

"Iya, Rani. Selamat makan siang."

Setelah area kubikel mulai sepi, Safira mengambil kotak bekalnya dan berjalan menuju pantry kecil di sudut belakang kantor. Ruangan itu kosong, hanya ada sebuah kulkas satu pintu, dispenser air, dan satu meja panjang dengan beberapa kursi plastik.

Safira duduk di salah satu kursi, membuka tutup kotak makanannya yang berisi nasi putih, tumis kangkung, dan sepotong tahu goreng. sederhana, namun baginya ini sudah lebih dari cukup.

Sembari mengunyah makanannya dengan perlahan dan sopan, pandangan mata Safira menerawang keluar jendela kaca pantry yang langsung menghadap ke jalan raya pinggiran kota yang padat dan berdebu. Pikirannya melayang pada keputusan besar yang ia ambil tiga tahun lalu.

Keputusan yang menghancurkan hatinya sendiri hingga berkeping-keping. Keputusan untuk berjalan pergi, meninggalkan sebuah rumah besar yang hangat, dan melepaskan statusnya sebagai seorang istri dari pria yang sangat ia cintai.

"Apakah dia baik-baik saja sekarang?"

Pertanyaan itu selalu muncul di benak Safira setiap kali dia memiliki waktu luang untuk melamun. Namun, dengan cepat Safira menggelengkan kepalanya, mengusir bayang-bayang masa lalu yang berusaha merayap masuk ke dalam benaknya.

"Tidak, Safira. Kamu tidak boleh egois. Kamu pergi demi kebaikannya. Kamu tidak boleh menariknya masuk ke dalam lumpur masalah keluargamu yang menjijikkan itu," bisik Safira pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar bergetar, namun matanya memancarkan ketegasan yang mutlak.

Dia tahu persis apa yang dia korbankan. Dia melepaskan kebahagiaannya sendiri agar pria itu tidak perlu menanggung beban, ancaman, dan kerugian besar akibat kejahatan ekonomi yang dilakukan oleh keluarga besar Safira di masa lalu.

Safira memilih untuk menelan semua kepahitan itu sendirian, memotong semua akses komunikasi, dan menghilang bak ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Bahkan surat perceraian sepihak yang ia urus secara diam-diam melalui pengacara lama keluarganya adalah bentuk keputusasaan terakhirnya untuk melindungi pria itu.

Setelah menyelesaikan makan siangnya, Safira mencuci kotak bekalnya hingga bersih di wastafel.

Saat dia hendak kembali ke meja kerjanya, dia berpapasan dengan Pak Bambang, manajer operasional mereka yang usianya sudah mendekati masa pensiun.

Wajah pria tua itu terlihat sangat pucat dan cemas, kontras dengan ekspresi santainya yang biasa.

"Selamat siang, Pak Bambang. Bapak baik-baik saja? Wajah Bapak pucat sekali." tanya Safira lembut, menunjukkan rasa kepeduliannya yang tulus.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

HAIII READERS

Akhirnya author kembali lagi dengan cerita baru nihhhh,,,, jangan lupa baca ya dan jangan lupa juga buat favoritkan cerita ini, kasih ulasan dan bintang lima nya juga, VOTE, LIKE, HADIAH dan komentar semangatnya ya biar cerita ini bisa lebih baik lagi dan bisa update hingga akhir.....

Selamat membaca yaaaaaa

Terpopuler

Comments

Lusi Hariyani

Lusi Hariyani

konflik y ringan2 aja kak...

2026-06-13

1

Umi Fitriani

Umi Fitriani

mampir Thor semangat 🤗

2026-08-24

0

Yuyu

Yuyu

.😍

2026-08-18

0

lihat semua
Episodes
1 Wanita Anggun Sejati
2 Dia Pasti Sudah Melupakan Aku
3 Selamat Datang Kembali
4 Pernikahan Itu Sudah Selesai
5 Badai Besar Yang Menghantam
6 Harus Tetap Bersembunyi
7 Nama Paling Haram Diucapkan
8 Hari Pertama
9 Intruksi Langsung
10 Mari Kita Mulai
11 Yang Mana Orangnya?
12 Keputusan Saya Adalah Mutlak
13 Profesionalitas Yang Dipaksakan
14 Pekerjaan Sampingan
15 Takdir Paling Tidak Terduga
16 Penuh Ancaman Mutlak
17 Tidak Boleh Menyerah Di Sini
18 Datang Sebagai Seorang Profesional
19 Selamat Bekerja
20 Beban Kerja Terlalu Berat
21 Kenapa Dia Tidak Pergi Makan?
22 Menunggu Laporan Progres Harian
23 Siksaan Psikologis
24 Kenapa Kamu Tidak Menyerah Saja?
25 Pingsan
26 Prioritas Utama
27 Rasa Bersalah
28 Ketenangan Pikiran
29 Tetap Berbaring
30 Jauh Lebih Berat
31 Pilihanmu Hanya Dua
32 Benar-benar Menyedihkan
33 Mencari Tahu
34 Rahasia Terungkap
35 Aku Adalah Monster
36 Mengunjungi Kakak
37 Safira... Maafkan aku
38 Sembunyikan Identitas Saya
39 Seperti Ada Yang Salah
40 Sudah Masuk Kerja
41 Gaji Saya Dipotong
42 Bisik-bisik Miring
43 Untuk Melindungimu
44 Semuanya Terungkap
45 Bertahanlah Sebentar Lagi
46 Mulai Menampakkan Dirinya
47 Rasa Lega
48 Jaga Kesehatanmu
49 Menyentuh Hal Paling Berharga
50 Tunggu aku, Safira
51 Ketakutan Terbesar
52 Aku Sudah Tahu Semuanya
53 Biarkan Dia Masuk
54 Tidak Perduli Reputasi
55 Kita Belum Pernah Bercerai
56 Maafkan Mereka
57 Kecemasan Mencapai Puncaknya
58 Pulanglah Ke Rumah
59 Rumah Masa Kecilku
60 Selamat Datang Kembali
61 Kelanjutan Hubungan Kita
62 Hubungan Privat Dulu
63 Kamu Sangat Cantik
64 Seluruh Badanku Rasanya Remuk
65 Pelan Sedikit
66 Fondasi Yang Jauh Lebih Kuat
67 Rahasia
68 Sudah Sadar Sepenuhnya
69 Kamu Aman Sekarang
70 Menceritakan Semuanya
71 Sidang Lanjutan
72 Putusan Mutlak
73 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
74 Pemakaman
75 Simpan Untuk Malam Nanti
76 Aku Tidak Mengizinkannya
77 Hari Terakhir
78 Siksaan Mental
79 Mutasi Permanen
80 Selamat Pagi
81 Benih-benih Kecurigaan
82 Dilabrak
83 Ini Bagian Dari Tugasku
84 Jangan Berbohong Kepadaku!
85 Lockdown Internal
86 Neraka di Tangan Gavin
87 Nyonya Besar Abraham
88 Mas Gavin?
89 Panggilan Sayang
90 Teman Dekat Gavin
91 Kamu Adalah Harta Yang Paling Berharga
92 Menjaga Sikap Dan Batasanmu
93 Kebahagianmu Adalah Tanggung Jawabku
94 Selamat Atas Pembukaan Kembali
95 Sensitif
96 Suamiku Posesif Sekali
97 Cek Mandiri
98 POSITIF
99 Berita Bahagia
100 Suami Terbaik
101 Demi Anak Kita
102 Perubahan Hormon
103 Kamu Adalah Ratu
104 Ngidam
105 Rujak Tradisional
106 Jaga Ratu Kecilmu Baik-baik
107 Perhatian Dan Oleh-oleh Dari Mertua
108 Suami Yang Luar Biasa
109 Keputusan Paling Mengerikan
110 Bahagia Sekali
111 Dia Sangat Cantik
112 Persiapan Yang Sempurna
113 Puncak Kontraksi Yang Sesungguhnya
114 Sakit Sekali
115 Malaikat Kecil
116 Prioritas Tinggi
117 Awal Dari Lembaran Baru
118 Putri Papa Cemburu?
119 Tumbuh Sangat Cepat
120 Kebahagiaan Akan Menyapa
121 Kisah Manis Yang Terus Terukir (END)
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Wanita Anggun Sejati
2
Dia Pasti Sudah Melupakan Aku
3
Selamat Datang Kembali
4
Pernikahan Itu Sudah Selesai
5
Badai Besar Yang Menghantam
6
Harus Tetap Bersembunyi
7
Nama Paling Haram Diucapkan
8
Hari Pertama
9
Intruksi Langsung
10
Mari Kita Mulai
11
Yang Mana Orangnya?
12
Keputusan Saya Adalah Mutlak
13
Profesionalitas Yang Dipaksakan
14
Pekerjaan Sampingan
15
Takdir Paling Tidak Terduga
16
Penuh Ancaman Mutlak
17
Tidak Boleh Menyerah Di Sini
18
Datang Sebagai Seorang Profesional
19
Selamat Bekerja
20
Beban Kerja Terlalu Berat
21
Kenapa Dia Tidak Pergi Makan?
22
Menunggu Laporan Progres Harian
23
Siksaan Psikologis
24
Kenapa Kamu Tidak Menyerah Saja?
25
Pingsan
26
Prioritas Utama
27
Rasa Bersalah
28
Ketenangan Pikiran
29
Tetap Berbaring
30
Jauh Lebih Berat
31
Pilihanmu Hanya Dua
32
Benar-benar Menyedihkan
33
Mencari Tahu
34
Rahasia Terungkap
35
Aku Adalah Monster
36
Mengunjungi Kakak
37
Safira... Maafkan aku
38
Sembunyikan Identitas Saya
39
Seperti Ada Yang Salah
40
Sudah Masuk Kerja
41
Gaji Saya Dipotong
42
Bisik-bisik Miring
43
Untuk Melindungimu
44
Semuanya Terungkap
45
Bertahanlah Sebentar Lagi
46
Mulai Menampakkan Dirinya
47
Rasa Lega
48
Jaga Kesehatanmu
49
Menyentuh Hal Paling Berharga
50
Tunggu aku, Safira
51
Ketakutan Terbesar
52
Aku Sudah Tahu Semuanya
53
Biarkan Dia Masuk
54
Tidak Perduli Reputasi
55
Kita Belum Pernah Bercerai
56
Maafkan Mereka
57
Kecemasan Mencapai Puncaknya
58
Pulanglah Ke Rumah
59
Rumah Masa Kecilku
60
Selamat Datang Kembali
61
Kelanjutan Hubungan Kita
62
Hubungan Privat Dulu
63
Kamu Sangat Cantik
64
Seluruh Badanku Rasanya Remuk
65
Pelan Sedikit
66
Fondasi Yang Jauh Lebih Kuat
67
Rahasia
68
Sudah Sadar Sepenuhnya
69
Kamu Aman Sekarang
70
Menceritakan Semuanya
71
Sidang Lanjutan
72
Putusan Mutlak
73
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
74
Pemakaman
75
Simpan Untuk Malam Nanti
76
Aku Tidak Mengizinkannya
77
Hari Terakhir
78
Siksaan Mental
79
Mutasi Permanen
80
Selamat Pagi
81
Benih-benih Kecurigaan
82
Dilabrak
83
Ini Bagian Dari Tugasku
84
Jangan Berbohong Kepadaku!
85
Lockdown Internal
86
Neraka di Tangan Gavin
87
Nyonya Besar Abraham
88
Mas Gavin?
89
Panggilan Sayang
90
Teman Dekat Gavin
91
Kamu Adalah Harta Yang Paling Berharga
92
Menjaga Sikap Dan Batasanmu
93
Kebahagianmu Adalah Tanggung Jawabku
94
Selamat Atas Pembukaan Kembali
95
Sensitif
96
Suamiku Posesif Sekali
97
Cek Mandiri
98
POSITIF
99
Berita Bahagia
100
Suami Terbaik
101
Demi Anak Kita
102
Perubahan Hormon
103
Kamu Adalah Ratu
104
Ngidam
105
Rujak Tradisional
106
Jaga Ratu Kecilmu Baik-baik
107
Perhatian Dan Oleh-oleh Dari Mertua
108
Suami Yang Luar Biasa
109
Keputusan Paling Mengerikan
110
Bahagia Sekali
111
Dia Sangat Cantik
112
Persiapan Yang Sempurna
113
Puncak Kontraksi Yang Sesungguhnya
114
Sakit Sekali
115
Malaikat Kecil
116
Prioritas Tinggi
117
Awal Dari Lembaran Baru
118
Putri Papa Cemburu?
119
Tumbuh Sangat Cepat
120
Kebahagiaan Akan Menyapa
121
Kisah Manis Yang Terus Terukir (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!