Badai Besar Yang Menghantam

Setelah makan malam selesai, Gavin pamit untuk beristirahat di kamarnya yang terletak di lantai dua. Kamar mewah bernuansa maskulin itu masih sama seperti tiga tahun lalu, bersih tanpa debu karena selalu dirawat.

Gavin berjalan menuju balkon kamarnya yang luas, menatap pemandangan malam kota Jakarta dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana jasnya. Angin malam berembus kencang, menerpa rambut hitamnya yang tertata rapi.

"Di mana pun kamu berada sekarang, nikmatilah kebebasanmu," bisik Gavin pada kegelapan malam, suaranya terdengar begitu sunyi dan dingin.

"Karena jika suatu saat takdir mempertemukan kita kembali, aku pastikan kamu akan membayar mahal untuk setiap tetes air mata dan kehancuran yang pernah kamu tinggalkan di rumah ini." serunya lagi dengan penuh kebencian disetiap katanya.

Pria itu membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kaca balkon dengan rapat, mengunci rapat-rapat masa lalu yang pahit di luar sana, siap menyongsong hari esok sebagai penguasa baru yang tak terkalahkan.

Suara bising klakson kendaraan yang saling bersahutan di jalan raya pinggiran kota perlahan memudar, digantikan oleh deru suara mesin angkutan umum yang bergetar hebat saat melewati jalanan berlubang.

Safira Angela duduk menyandar di dekat jendela angkot yang pengap, menempelkan dahi halusnya pada kaca mobil yang terasa hangat oleh sisa terik matahari sore.

Langkah kakinya terasa begitu berat malam ini, seolah setiap senti tanah yang ia pijak menuntut energi terakhir yang tersisa di dalam tubuhnya.

Berita tentang akuisisi perusahaan oleh Abraham Group siang tadi benar-benar menguras habis ketenangan jiwanya. Sepanjang sisa jam kerja, fokusnya terpecah, memaksa otaknya bekerja dua kali lebih keras agar tidak melakukan kesalahan fatal pada lembar kerja digital yang menjadi tanggung jawabnya.

"Kiri, Bang." ucap Safira dengan nada suara yang lembut namun cukup jelas terdengar oleh sopir angkot.

Mobil berhenti dengan sentakan kasar di seberang sebuah gang sempit yang remang-remang. Safira turun, menyerahkan selembar uang lima ribuan yang sudah lecek dari dompet kainnya, lalu melempar senyum terima kasih yang sopan sebelum kendaraan umum itu kembali melesat membelah malam.

Safira merapatkan jaket rajut abu-abu rajutan sendiri yang sudah mulai menipis di bagian siku.

Dia melangkah memasuki Gang senggol, sebuah kawasan permukiman padat penduduk yang jalannya hanya cukup dilewati oleh dua sepeda motor yang berpapasan.

Bau asap masakan beradu dengan aroma selokan yang menggenang di sisi jalan, sebuah pemandangan dan atmosfer yang sangat kontras dengan lingkungan tempat tinggalnya di masa lalu.

Setelah berjalan sekitar lima ratus meter ke dalam gang, Safira tiba di depan sebuah bangunan dua lantai dengan cat dinding hijau lumut yang sudah mengelupas di sana-sini. Itu adalah rumah indekos khusus wanita tempatnya bernaung selama tiga tahun terakhir.

"Baru pulang, Neng Fira?" sapa Bu Ratna, pemilik kos yang sedang duduk di teras depan sambil memotong sayuran untuk jualan besok pagi.

Safira menghentikan langkahnya, menundukkan kepala sedikit dengan sikap yang sangat santun.

"Iya, Bu Ratna. Kebetulan tadi pekerjaan di kantor agak banyak, jadi harus lembur sebentar untuk merapikan berkas." jawab Safira dengan ramah.

Bu Ratna menatap Safira dengan pandangan iba. Wanita tua itu tahu betul bahwa Safira adalah sosok yang berpendidikan, sopan, dan memiliki pembawaan yang berbeda dari penghuni kos lainnya yang terkadang berisik.

Namun, dia juga tahu Safira hidup dalam kesendirian yang amat sangat dan selalu berhemat secara ekstrem.

"Jangan terlalu diforsir tenaganya, Neng. Wajahmu kelihatan pucat sekali itu. Nanti kalau sakit, repot tidak ada yang merawat di kamar. Ini, Ibu ada sisa kolak pisang tadi sore, bawalah ke kamar untuk takjil atau camilan malam." ujar Bu Ratna sambil menyodorkan sebuah mangkuk plastik kecil berisi kolak.

Air mata Safira hampir saja merebak mendengar perhatian kecil itu, namun dia menahannya dengan sekuat tenaga.

"Terima kasih banyak, Bu Ratna. Ibu baik sekali. Saya permisi ke kamar dulu ya, Bu." ucap Safira.

Safira melangkah menaiki tangga kayu yang berderit setiap kali dipijak menuju lantai dua. Kamarnya berada di paling ujung, kamar nomor enam.

Begitu kunci pintu diputar dan daun pintu kayu yang agak seret itu terbuka, keheningan yang dingin langsung menyergap dirinya.

Ruangan itu sangat kecil, hanya berukuran tiga kali tiga meter. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tanpa ranjang yang diletakkan langsung di atas lantai, sebuah lemari pakaian plastik berukuran sedang, dan sebuah meja kayu lipat kecil di sudut ruangan yang berfungsi sebagai tempat belajar sekaligus tempat menaruh kompor portabel. Tidak ada pendingin ruangan, hanya ada sebuah kipas angin dinding kecil yang baling-balingnya sudah berdebu.

Safira menutup pintu, menguncinya dari dalam, lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang tertutup.

Di dalam kesunyian kamar yang remang-remang itu, pertahanannya runtuh. Pundaknya yang semula tegap kini merosot, bergetar hebat seiring dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi pipinya yang mulus.

Dia berjalan dengan lemas menuju kasur, lalu duduk di tepiannya dengan kedua lutut yang ditekuk ke dada. Safira menenggelamkan wajahnya di antara lutut, terisak tanpa suara agar tidak terdengar oleh penghuni kamar sebelah.

Kehidupan tiga tahun ini benar-benar menjungkirbalikkan dunianya. Dari seorang nyonya muda di sebuah mansion mewah yang dilayani oleh belasan pelayan, kini dia harus mencuci pakaiannya sendiri dengan tangan di kamar mandi dalam yang sempit, memasak makanan seadanya, dan menghitung setiap butir beras yang dia konsumsi demi menghemat uang.

Semua itu terjadi karena badai besar yang menghantam keluarga kandungnya tiga tahun lalu. Kakak kandung Safira melakukan penipuan investasi besar-besaran yang merugikan banyak pihak, termasuk menyeret nama baik perusahaan mitra mereka.

Ayah Safira yang shock terkena serangan jantung hingga meninggal dunia, meninggalkan utang yang menumpuk dan tuntutan hukum yang mengerikan dari para korban yang murka.

Saat itu, para korban dan pihak-pihak yang dirugikan mulai mengincar Safira, mencari celah untuk menghancurkan hidupnya, bahkan mengancam akan menyeret Abraham Group yaitu keluarga suaminya ke dalam pusaran kasus hukum dan skandal publik jika Gavin tidak membayar tebusan dalam jumlah yang tidak masuk akal.

Hal tersebut membuat Safira harus segera mencari solusi agar keluarga sang suami tidak ikut terjerat, karena Safira tahu, jika dia tetap tinggal di sisi Gavin, suaminya yang sangat mencintainya itu pasti akan mengorbankan apa saja, termasuk reputasi dan aset berharga milik Abraham Group demi melindunginya dan Safira tidak ingin Gavin berkorban akan hal itu karena permasalahan ini begitu besar dan nama baik sang suami dan keluarga Abraham dipertaruhkan.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Terpopuler

Comments

Rahma Inayah

Rahma Inayah

up yg byk Thor mkn seru ceritanya

2026-06-15

1

Fitra Sari

Fitra Sari

la jut KK doubell up 🙏🙏🙏🙏

2026-06-15

1

Eliermswati

Eliermswati

lnjut up nya thor😍😍

2026-06-15

1

lihat semua
Episodes
1 Wanita Anggun Sejati
2 Dia Pasti Sudah Melupakan Aku
3 Selamat Datang Kembali
4 Pernikahan Itu Sudah Selesai
5 Badai Besar Yang Menghantam
6 Harus Tetap Bersembunyi
7 Nama Paling Haram Diucapkan
8 Hari Pertama
9 Intruksi Langsung
10 Mari Kita Mulai
11 Yang Mana Orangnya?
12 Keputusan Saya Adalah Mutlak
13 Profesionalitas Yang Dipaksakan
14 Pekerjaan Sampingan
15 Takdir Paling Tidak Terduga
16 Penuh Ancaman Mutlak
17 Tidak Boleh Menyerah Di Sini
18 Datang Sebagai Seorang Profesional
19 Selamat Bekerja
20 Beban Kerja Terlalu Berat
21 Kenapa Dia Tidak Pergi Makan?
22 Menunggu Laporan Progres Harian
23 Siksaan Psikologis
24 Kenapa Kamu Tidak Menyerah Saja?
25 Pingsan
26 Prioritas Utama
27 Rasa Bersalah
28 Ketenangan Pikiran
29 Tetap Berbaring
30 Jauh Lebih Berat
31 Pilihanmu Hanya Dua
32 Benar-benar Menyedihkan
33 Mencari Tahu
34 Rahasia Terungkap
35 Aku Adalah Monster
36 Mengunjungi Kakak
37 Safira... Maafkan aku
38 Sembunyikan Identitas Saya
39 Seperti Ada Yang Salah
40 Sudah Masuk Kerja
41 Gaji Saya Dipotong
42 Bisik-bisik Miring
43 Untuk Melindungimu
44 Semuanya Terungkap
45 Bertahanlah Sebentar Lagi
46 Mulai Menampakkan Dirinya
47 Rasa Lega
48 Jaga Kesehatanmu
49 Menyentuh Hal Paling Berharga
50 Tunggu aku, Safira
51 Ketakutan Terbesar
52 Aku Sudah Tahu Semuanya
53 Biarkan Dia Masuk
54 Tidak Perduli Reputasi
55 Kita Belum Pernah Bercerai
56 Maafkan Mereka
57 Kecemasan Mencapai Puncaknya
58 Pulanglah Ke Rumah
59 Rumah Masa Kecilku
60 Selamat Datang Kembali
61 Kelanjutan Hubungan Kita
62 Hubungan Privat Dulu
63 Kamu Sangat Cantik
64 Seluruh Badanku Rasanya Remuk
65 Pelan Sedikit
66 Fondasi Yang Jauh Lebih Kuat
67 Rahasia
68 Sudah Sadar Sepenuhnya
69 Kamu Aman Sekarang
70 Menceritakan Semuanya
71 Sidang Lanjutan
72 Putusan Mutlak
73 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
74 Pemakaman
75 Simpan Untuk Malam Nanti
76 Aku Tidak Mengizinkannya
77 Hari Terakhir
78 Siksaan Mental
79 Mutasi Permanen
80 Selamat Pagi
81 Benih-benih Kecurigaan
82 Dilabrak
83 Ini Bagian Dari Tugasku
84 Jangan Berbohong Kepadaku!
85 Lockdown Internal
86 Neraka di Tangan Gavin
87 Nyonya Besar Abraham
88 Mas Gavin?
89 Panggilan Sayang
90 Teman Dekat Gavin
91 Kamu Adalah Harta Yang Paling Berharga
92 Menjaga Sikap Dan Batasanmu
93 Kebahagianmu Adalah Tanggung Jawabku
94 Selamat Atas Pembukaan Kembali
95 Sensitif
96 Suamiku Posesif Sekali
97 Cek Mandiri
98 POSITIF
99 Berita Bahagia
100 Suami Terbaik
101 Demi Anak Kita
102 Perubahan Hormon
103 Kamu Adalah Ratu
104 Ngidam
105 Rujak Tradisional
106 Jaga Ratu Kecilmu Baik-baik
107 Perhatian Dan Oleh-oleh Dari Mertua
108 Suami Yang Luar Biasa
109 Keputusan Paling Mengerikan
110 Bahagia Sekali
111 Dia Sangat Cantik
112 Persiapan Yang Sempurna
113 Puncak Kontraksi Yang Sesungguhnya
114 Sakit Sekali
115 Malaikat Kecil
116 Prioritas Tinggi
117 Awal Dari Lembaran Baru
118 Putri Papa Cemburu?
119 Tumbuh Sangat Cepat
120 Kebahagiaan Akan Menyapa
121 Kisah Manis Yang Terus Terukir (END)
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Wanita Anggun Sejati
2
Dia Pasti Sudah Melupakan Aku
3
Selamat Datang Kembali
4
Pernikahan Itu Sudah Selesai
5
Badai Besar Yang Menghantam
6
Harus Tetap Bersembunyi
7
Nama Paling Haram Diucapkan
8
Hari Pertama
9
Intruksi Langsung
10
Mari Kita Mulai
11
Yang Mana Orangnya?
12
Keputusan Saya Adalah Mutlak
13
Profesionalitas Yang Dipaksakan
14
Pekerjaan Sampingan
15
Takdir Paling Tidak Terduga
16
Penuh Ancaman Mutlak
17
Tidak Boleh Menyerah Di Sini
18
Datang Sebagai Seorang Profesional
19
Selamat Bekerja
20
Beban Kerja Terlalu Berat
21
Kenapa Dia Tidak Pergi Makan?
22
Menunggu Laporan Progres Harian
23
Siksaan Psikologis
24
Kenapa Kamu Tidak Menyerah Saja?
25
Pingsan
26
Prioritas Utama
27
Rasa Bersalah
28
Ketenangan Pikiran
29
Tetap Berbaring
30
Jauh Lebih Berat
31
Pilihanmu Hanya Dua
32
Benar-benar Menyedihkan
33
Mencari Tahu
34
Rahasia Terungkap
35
Aku Adalah Monster
36
Mengunjungi Kakak
37
Safira... Maafkan aku
38
Sembunyikan Identitas Saya
39
Seperti Ada Yang Salah
40
Sudah Masuk Kerja
41
Gaji Saya Dipotong
42
Bisik-bisik Miring
43
Untuk Melindungimu
44
Semuanya Terungkap
45
Bertahanlah Sebentar Lagi
46
Mulai Menampakkan Dirinya
47
Rasa Lega
48
Jaga Kesehatanmu
49
Menyentuh Hal Paling Berharga
50
Tunggu aku, Safira
51
Ketakutan Terbesar
52
Aku Sudah Tahu Semuanya
53
Biarkan Dia Masuk
54
Tidak Perduli Reputasi
55
Kita Belum Pernah Bercerai
56
Maafkan Mereka
57
Kecemasan Mencapai Puncaknya
58
Pulanglah Ke Rumah
59
Rumah Masa Kecilku
60
Selamat Datang Kembali
61
Kelanjutan Hubungan Kita
62
Hubungan Privat Dulu
63
Kamu Sangat Cantik
64
Seluruh Badanku Rasanya Remuk
65
Pelan Sedikit
66
Fondasi Yang Jauh Lebih Kuat
67
Rahasia
68
Sudah Sadar Sepenuhnya
69
Kamu Aman Sekarang
70
Menceritakan Semuanya
71
Sidang Lanjutan
72
Putusan Mutlak
73
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
74
Pemakaman
75
Simpan Untuk Malam Nanti
76
Aku Tidak Mengizinkannya
77
Hari Terakhir
78
Siksaan Mental
79
Mutasi Permanen
80
Selamat Pagi
81
Benih-benih Kecurigaan
82
Dilabrak
83
Ini Bagian Dari Tugasku
84
Jangan Berbohong Kepadaku!
85
Lockdown Internal
86
Neraka di Tangan Gavin
87
Nyonya Besar Abraham
88
Mas Gavin?
89
Panggilan Sayang
90
Teman Dekat Gavin
91
Kamu Adalah Harta Yang Paling Berharga
92
Menjaga Sikap Dan Batasanmu
93
Kebahagianmu Adalah Tanggung Jawabku
94
Selamat Atas Pembukaan Kembali
95
Sensitif
96
Suamiku Posesif Sekali
97
Cek Mandiri
98
POSITIF
99
Berita Bahagia
100
Suami Terbaik
101
Demi Anak Kita
102
Perubahan Hormon
103
Kamu Adalah Ratu
104
Ngidam
105
Rujak Tradisional
106
Jaga Ratu Kecilmu Baik-baik
107
Perhatian Dan Oleh-oleh Dari Mertua
108
Suami Yang Luar Biasa
109
Keputusan Paling Mengerikan
110
Bahagia Sekali
111
Dia Sangat Cantik
112
Persiapan Yang Sempurna
113
Puncak Kontraksi Yang Sesungguhnya
114
Sakit Sekali
115
Malaikat Kecil
116
Prioritas Tinggi
117
Awal Dari Lembaran Baru
118
Putri Papa Cemburu?
119
Tumbuh Sangat Cepat
120
Kebahagiaan Akan Menyapa
121
Kisah Manis Yang Terus Terukir (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!