Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Naya duduk di tepi ranjang dengan ponsel di genggaman. Layarnya menyala, menampilkan deretan pesan yang sudah ia kirim sejak hari pertama Aslan pergi. Semua pesannya terkirim, tapi tidak satupun di balas oleh suaminya itu.

"Mas, kamu di mana? Sudah sampai belum?”

Pesan itu ia kirim di hari pertama, tepat dua jam setelah Aslan meninggalkan rumah dengan koper besar. Tidak ada balasan.

“Mas, bagaimana pekerjaannya? Ada kendala tidak?”

Ia kirim tiga hari kemudian, setelah menunggu sampai tengah malam. Masih sunyi.

“Mas, kamu baik-baik saja kan? Kenapa pesanku tidak dibalas?”

Suara Naya sempat bergetar saat mengetik kalimat itu. Ia bahkan sempat menelepon berkali-kali. Panggilan masuk, berdering, lalu masuk ke kotak suara. Tidak pernah diangkat.

“Mas, kamu kapan pulang?”

Pertanyaan itu ia ulang hampir setiap dua hari sekali. Kadang dengan emoji kecil di ujung kalimat, kadang hanya teks polos. Semua diabaikan.

Sudah, empat puluh dua hari sudah berlalu. Rumah terasa semakin besar dan semakin sepi. Naya masih bangun pagi, memasak, membersihkan, mencuci baju Aslan yang tersisa di ranjang kotor, meski ia tahu suaminya mungkin tidak akan segera memakainya. Setiap malam ia duduk di sofa ruang tamu, menatap pintu, seolah suatu saat kunci akan berputar dan Aslan akan masuk dengan wajah lelah seperti biasa. Tapi tidak pernah terjadi.

Kekhawatiran mulai menggerogoti perasaannya. Dulu, perjalanan dinas Aslan paling lama seminggu. Paling sering hanya empat atau lima hari. Ia selalu membalas pesannya, meski singkat. Kali ini berbeda. Benar-benar berbeda. Tidak ada pesan, tidak ada telepon, tidak ada balasan, tidak ada kabar sama sekali.

Naya menatap layar ponselnya lama, lalu menghela napas gemetar. “Aku harus temui Faris…” gumamnya lirih.

Faris adalah sekretaris Aslan. Laki-laki itu biasanya selalu ikut Aslan ke mana pun ia pergi. Naya pernah beberapa kali bertemu dengannya di rumah, saat Faris mengantar dokumen atau menjemput Aslan. Pria itu sopan, sedikit kaku, tapi selalu menjawab pertanyaan Naya dengan jelas.

Anehnya, perjalanan dinas kali ini Aslan tidak membawa Faris. Naya ingat betul. Pagi itu, saat Aslan turun dengan koper, Faris tidak ada di mobil. Biasanya laki-laki itu sudah menunggunya di mobil.

Naya membuka daftar kontak. Jari-jarinya gemetar saat menekan nama Faris. Ia ragu beberapa detik, lalu menekan tombol telepon.

Tak lama panggilan tersambung....

“Halo, Bu Naya?” suara Faris terdengar di seberang, sedikit terkejut.

Naya menelan ludah. “Fari, maaf mengganggu. Aku ingin bertanya,  Mas Aslan di mana sekarang?”

Ada jeda singkat di ujung telepon. Terlalu singkat untuk tidak mencurigakan.

“Pak Aslan… sedang dalam perjalanan dinas, Bu,” jawab Faris hati-hati. “Seharusnya masih di luar kota.”

“Sudah lebih dari sebulan, Faris,” kata Naya, suaranya pelan tapi tegas. “Dia tidak membalas satu pun pesanku. Tidak mengangkat telepon. Kamu ikut dengannya?”

Jeda itu lebih panjang kali ini. “Tidak, Bu. Kali ini Pak Aslan pergi sendiri.”

Naya menutup mata. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Sendiri? Biasanya kamu selalu ikut. Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"

Faris terdiam beberapa detik. Lalu suaranya turun, hampir berbisik. “Bu… sebaiknya Ibu tidak terlalu khawatir. Pak Aslan pasti aman. Mungkin sinyal di lokasi kerja sedang buruk.”

Naya membuka mata. Tatapannya menajam ke arah jendela yang menampilkan siang yang cerah di luar. “kalau kamu tahu sesuatu, bilang padaku. Aku istrinya.”

Di seberang, Faris menghela napas panjang. “Maaf, bu… saya hanya asisten. Saya tidak berhak membicarakan urusan pribadi Pak Aslan.

Panggilan itu terputus beberapa detik kemudian. Naya menatap layar yang sudah kembali gelap. Jari-jarinya masih menggenggam ponsel dengan erat. Sesuatu di dalam dadanya bergeser. Bukan lagi sekadar khawatir. Bukan lagi sekadar rindu yang ditahan.

Ada rasa lain yang mulai tumbuh. Rasa yang lebih dingin. Rasa yang membuatnya ingin tahu, benar-benar tahu, ke mana suaminya pergi tanpa kabar selama lebih dari sebulan, dan mengapa Faris terdengar seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

*****

Keesokan paginya, Naya sudah berdiri di depan gedung perkantoran tempat Aslan bekerja. Ia mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat rapi.

Resepsionis di lobi menatapnya heran ketika Naya menyebutkan namanya. “Saya istri Pak Aslan. Saya ingin bertemu Faris.”

Beberapa menit kemudian, Faris muncul dari lift dengan wajah tegang. Kemeja biru mudanya rapi, tapi kacamata di hidungnya sedikit melorot karena ia berkali-kali mengusap peluh di pelipis.

“Bu Naya… kenapa Ibu datang ke sini?” suaranya pelan, hampir berbisik. Ia melirik ke kanan-kiri, khawatir rekan kerja lain mendengar.

Naya tidak menjawab. Ia hanya menatap Faris dalam-dalam, lalu berkata singkat, “Kita bicara di tempat yang lebih sepi.”

Mereka masuk ke ruang meeting kecil di sudut koridor. Begitu pintu tertutup, Naya langsung mengunci dari dalam. Faris terkejut, tapi tidak berani protes.

“Faris, Saya sudah menunggu lebih dari sebulan. Pesanku tidak dibalas. Teleponku tidak diangkat. Kemarin kau bilang tidak tahu. Hari ini aku tidak akan pulang sebelum kau jujur.” suara Naya rendah, tapi penuh tekanan.

Faris mengusap tengkuknya, gelisah. “Bu… saya benar-benar tidak bisa—”

“Kenapa?,” potong Naya. Ia melangkah mendekat. “Kau asistennya. Kau tahu semua jadwalnya. Kau tahu ke mana dia pergi. Dan kau tahu kenapa dia tidak membawa kau kali ini.”

Faris menunduk. Jari-jarinya saling meremas. “Pak Aslan… memerintahkan saya untuk tidak memberi tahu siapa pun. Termasuk Ibu.”

Naya tertawa kecil, pahit. “Termasuk istrinya sendiri?”

Faris terdiam.

Naya menarik napas dalam, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka galeri dan menunjukkan deretan screenshot pesan yang tidak dibalas. “Lihat. Empat puluh tiga hari. Empat puluh tiga hari saya sendirian dirumah tanpa kabar. Saya sudah cukup sabar, Faris. Sekarang, katakan di mana Aslan.”

Faris menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia berkata, “Pak Aslan… tidak sedang dinas.”

Naya membeku. “Apa?”

“Dia tidak ada di luar kota untuk urusan kantor,” ulang Faris, kali ini lebih jelas. “Sejak berangkat itu… dia langsung ke Bandung. Dan… dia tidak sendiri.”

Darah Naya seperti berhenti mengalir. “Tidak sendiri… maksudmu?”

Faris menelan ludah susah payah. Matanya menghindari tatapan Naya. “Ada… seorang wanita. Namanya Riana. Mereka… sudah cukup lama dekat. Kali ini Pak Aslan bilang ingin menyelesaikan sesuatu di sana. Saya diminta menjaga rahasia. Bahkan diminta memalsukan laporan perjalanan dinas agar anda tidak curiga.”

Naya berdiri diam. Suara Faris terdengar jauh, seolah datang dari dasar sumur. Dinding ruang meeting yang putih terasa menyempit.

“Riana…” gumamnya pelan. Nama itu terasa asing dan menusuk di lidahnya.

Faris menunduk semakin dalam. “Saya minta maaf, Bu. Saya seharusnya tidak—”

“Beritahu saya alamatnya, Faris.” potong Naya. Suaranya tiba-tiba sangat tenang. Terlalu tenang. 

Faris mengangkat wajah, kaget. “Bu, jangan. Pak Aslan bisa—”

“Faris” ulang Naya, kali ini lebih tegas. Ia melangkah mendekat sampai Faris terpojok di meja. “Kalau kau tidak kasih, aku akan ke lantai direktur sekarang juga dan ceritakan semuanya. Termasuk laporan palsu yang kau buat.”

Wajah Faris memucat. Ia tahu ancaman itu bukan gertakan. Dengan tangan gemetar, ia mengambil secarik kertas dari saku kemeja, lalu menulis cepat sebuah alamat di kawasan Dago, Bandung.

Naya menerima kertas itu tanpa mengucapkan terima kasih. Ia memasukkannya ke dalam tas, lalu menatap Faris sekali lagi.

“Jangan bilang apa-apa ke dia. Biar saya sendiri yang menemuinya" tegas Naya.

Faris hanya mampu mengangguk kaku.

Klek....

Naya membuka kunci pintu dan keluar tanpa menoleh. Langkahnya stabil, punggungnya tegak. Tapi di dalam dadanya, sesuatu sudah retak total. Bukan lagi khawatir. Bukan lagi rindu. Yang tersisa hanyalah keputusan yang sudah final.

1
aku
dengerin pak sam tuh bos 😁
𝐀⃝🥀Weny
jangan sampai kamu terlambat lagi Erland 😊
𝐀⃝🥀Weny
pas pacaran kan banyak janji² manis🤣🤣🤣
falea sezi
🤣🤣 nunggu penyesalan si bangke aslan
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 ingin hidup mewah , dengan merebut suami orang yang bisa kau bodohi tapi dia tetap perhitungan tentang uangnya.Benarkah anak yang kau kandung benih Aslan? Emak harap bukan.Agar jika terbongkar nanti Aslan makin menyesal.😃😃
Ariany Sudjana
hahaha pelacur murahan kamu itu Liza, kamu itu hanya bisa menghabiskan uang, tapi ga bisa menghasilkan uang 🤣🤣😂😂 dan otak kamu zonk, kelas kamu jauh dibawah Naya, yang cerdas dan mandiri 🤣🤣😂😂
jadi kenapa kamu harus marah?
cinta semu 2
🤣🤣🤣🤣 pelakor bergaya elit ...dinkasih ATM langsung tancap gas belanja barang branded... sementara suami siri ny belajar hidup irit...
cinta semu 2
pelakor kelas teri mah level ny terjun ke bawah ..jaman dah canggih masih pake gaya manual🤣🤣sekalian bawa keranjang sayuran biar Aslan yakin kalo mau pergi ke pasar 😁
𝐀⃝🥀Weny
sokoooor.... itulah wanita yang kamu pilih.. ternyata mata duitaaaan.. kuras habis saja Liza uangnya biar kapok tu orang🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
sok berkuasa 😪 padahal blm di akui secara hukum🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤣 terus Liza kuras uang Aslan bersama ibumu, sebelum dibuang saat terbongkar anak dalam kandungan kamu bukan anak Aslan.
sunaryati jarum
Itu baru istri siri sudah mengacaukan pekerjaan kamu nanti setelah jadi istri sah menghancurkan perusahaan kamu 👋👋🤣🤣
Agus Tina
Rasain, memang apa si yang siharapkan dari seorang wabita yg berani menerima cinta dari pria beristri? Kekataan, ketenaraan, jadi terima saja .... itu pilihanmu Aslan ...
Sri Widiyarti
tunggu kurma otw Aslan...
Oma Gavin
rasakan itu ashlan istri siri pilihan mu bisanya habisin duit mata mu sudah ketutup selangkangannya
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus marah Aslan? itu uangnya Naya, dan harus dia selamatkan daripada jatuh ke pelacur murahan yang ga tahu diri itu
Ariany Sudjana
baru jadi istri siri, sudah bertingkah seperti nyonya bos 😂😂🤣🤣 maklum sih orang miskin, jadi seperti kacang lupa kulitnya, karena dapat suami orang kaya, dan kelasnya jauh di bawah Naya , jadi terima saja hasil kebodohan kamu Aslan
cinta semu 2
bagus thor q suka
cinta semu 2
kapok ...kakean tingkah ...wong Lanang g bersyukur 🤭
sunaryati jarum
kok punya cuma satu bab Thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!