Indonesia
NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32 Imajinasi Pria Memang Liar

"Tidak ada kalau."

Keira berdiri beberapa langkah dari pintu lobi timur. Fandy baru saja menyusulnya dan mengulang pertanyaan dengan lebih terus terang.

"Kalau dulu aku tidak pindah, apa kamu mungkin berubah pikiran?"

"Tidak. Aku sudah menolakmu. Bukan karena kamu lemah atau kuat, tapi karena aku memang tidak mau berpacaran denganmu."

Fandy mengusap belakang leher. "Aku hanya ingin tahu."

"Sekarang sudah tahu."

Suara langkah mendekat dari belakang. Nathan muncul dengan setelan gelap, kacamata perak, dan wajah yang langsung dingin saat melihat jarak Fandy dari Keira.

Namun ia tidak menyela. Ia berhenti di sisi Keira dan menunggu perkenalan.

"Nathan, ini Fandy, teman SMA dan manajer pemasaran baru Nebula." Keira lalu menoleh kepada Fandy. "Ini suamiku."

Nathan mengulurkan tangan. "Senang bertemu."

"Fandy." Jabat tangan itu berlangsung sedikit terlalu kaku. "Saya tidak tahu suami Keira bekerja di mana."

"Di sebelah kantornya."

Jawaban itu cukup benar tanpa membuka NARA. Nathan mengambil tas dokumen dari tangan Keira setelah mendapat anggukan.

"Sudah selesai, Sayang?"

Panggilan itu halus, tetapi tepat sasaran.

"Sudah. Ayo pulang."

Keira memberi salam singkat kepada Fandy. Nathan berjalan bersamanya menuju pintu tanpa menoleh lagi.

Dari dekat meja registrasi, seorang laki-laki yang sejak tadi berpura-pura membaca brosur memperhatikan semuanya. Erwin Gunawan tidak mendekati Keira. Ia menunggu sampai mobil pasangan itu pergi, baru menghampiri Fandy.

"Pertemuan yang kurang menyenangkan?" tanyanya.

Fandy memandang orang asing itu. "Kita kenal?"

"Belum. Erwin. Aku bergerak di bidang teknologi, kadang bekerja dengan perusahaan gim." Ia menyerahkan kartu nama Zenith Tech. "Kenalan yuk. Mungkin kita punya kepentingan yang sama."

Fandy membaca kartu itu, lalu melihat kembali ke arah pintu yang sudah kosong.

Di mobil, Keira menceritakan bagian yang belum diketahui Nathan. Pengakuan di belakang gedung olahraga, kunjungan Fabian, masalah beasiswa, dan kepindahan mendadak.

"Aku tidak punya bukti," katanya. "Hanya polanya mirip."

"Aku bisa mencari."

"Cari sumber terbuka saja. Jangan masuk perangkat siapa pun."

"Baik."

Nathan mengirim satu pesan kepada Tim, meminta pencarian arsip publik mengenai yayasan sekolah dan perusahaan tempat ayah Fandy pernah bekerja. Tidak ada perintah sabotase, tidak ada akses ilegal. Ia sengaja memperlihatkan teks pesan sebelum mengirim.

"Begini cukup?"

Keira membaca. "Cukup. Kalau menemukan sesuatu, berikan kepadaku dulu."

"Aku ingin langsung menemui Fabian."

"Itu bukan yang kuminta."

Nathan menghapus kalimat tambahan yang sempat ia ketik. "Baik. Kamu dulu."

Sore itu, hasil awal datang. Sebuah artikel lokal menyebut ayah Fandy mengundurkan diri setelah pemasok besar menghentikan kontrak. Pemasok tersebut, melalui dua anak perusahaan, terhubung dengan Grup Kencana. Tidak ada bukti instruksi Fabian. Namun waktunya tepat tiga hari setelah kunjungan ke sekolah.

Keira membaca artikel itu tanpa bergerak.

Ia teringat Fandy remaja yang mengembalikan buku catatannya pada hari terakhir. Anak itu meminta maaf meski tidak melakukan kesalahan. Saat Keira bertanya kenapa, ia hanya berkata keluarganya harus pergi.

"Aku seharusnya bertanya lebih banyak," gumamnya.

"Kamu berumur enam belas atau tujuh belas. Itu bukan tanggung jawabmu."

"Tetap saja ada orang yang kehilangan hidupnya karena berdiri terlalu dekat denganku."

Nathan menutup layar ponsel. "Yang bertanggung jawab adalah orang yang memakai kekuasaan untuk menyakiti. Bukan kamu."

Keira menatapnya. "Karena itu aku tidak mau kamu menjadi orang seperti itu."

Kalimat tersebut masuk lebih dalam daripada larangan biasa. Nathan mengangguk. "Aku tidak akan menyentuh pekerjaannya."

"Atau keluarganya."

"Atau keluarganya."

"Atau membuat akun anonim untuk mempermalukannya."

Nathan terdiam.

"Nathan."

"Aku tidak akan melakukan apa pun kepada Fandy selama dia menghormati batasmu."

Keira menganggap itu kemajuan yang bisa diterima untuk hari ini.

Nathan menjawab terlalu cepat. Keira menyentuh lengannya. "Dan jangan merusak pekerjaan Fandy hanya karena dia bertanya soal masa lalu."

"Aku tidak akan."

"Wajahmu bilang ingin."

"Wajahku sedang membayangkan skenario legal."

"Itu tetap mengkhawatirkan."

Nathan memalingkan muka ke jendela. Setelah beberapa detik, ia berkata, "Dia masih menyukaimu."

"Itu urusannya."

"Dia bertanya apakah punya kesempatan kalau dulu lebih kuat."

"Dan aku bilang tidak."

"Aku dengar."

"Lalu apa masalahnya?"

Nathan menatap cincin di tangan Keira. "Tidak ada. Aku hanya tidak suka cara dia melihatmu."

"Kamu pernah bilang laki-laki bisa berimajinasi jauh hanya karena melihat satu foto wajah. Sekarang kamu melakukan hal yang sama dari satu tatapan."

"Imajinasi pria memang liar."

Keira menggeleng, tetapi menggenggam tangannya. "Batasi imajinasimu pada mobil ini."

"Sulit. Kamu ada di sini."

"Nathan."

"Baik. Aku diam."

Malam di Verde, kecemburuan itu muncul lagi ketika Fandy mengirim pesan kerja tentang materi panel. Isinya profesional. Keira membalas singkat, lalu memperlihatkan percakapan kepada Nathan tanpa diminta.

"Aku tidak perlu membaca pesanmu," kata Nathan.

"Aku tahu. Aku menunjukkan supaya kamu berhenti membuat cerita sendiri."

Nathan memandang layar, kemudian mengembalikannya tanpa menggulir. "Terima kasih."

"Besok kita ke rumah Ko Adrian. Cindy, Dimas, mungkin beberapa teman mereka datang."

"Apakah Fandy datang?"

"Tidak."

"Aku langsung merasa acara itu berkualitas."

Nathan kemudian membuka lemari dan mengeluarkan tiga set pakaian untuk acara santai besok. Semuanya sengaja dipilih senada dengan pakaian Keira.

"Kita tidak perlu memakai baju pasangan setiap kali bertemu orang," kata Keira.

"Ini strategi komunikasi nonverbal."

"Kepada siapa?"

"Seluruh dunia."

Keira memilih kaus biru tua yang paling sederhana, lalu menyerahkan kemeja dengan warna sama kepadanya. "Hanya karena ini yang paling tidak berlebihan."

"Aku menerima alasan apa pun selama hasilnya sama."

Ia tersenyum terlalu puas. Keira memutuskan tidak memberi tahu bahwa dirinya juga mulai menyukai kemudahan terlihat sebagai bagian dari pasangan itu.

Keira melemparkan handuk kecil kepadanya. Nathan menangkapnya dan mengikuti Keira ke kamar.

Di tempat lain, Fandy duduk di bar Hotel Sentosa bersama Erwin. Satu gelas sudah kosong di depan mereka.

"Aku tidak menyuruhmu merusak rumah tangga siapa pun," kata Erwin dengan suara santai. "Aku cuma bilang, terkadang orang menikah terlalu cepat karena tidak tahu seluruh kebenaran."

"Kebenaran apa?"

Erwin mengeluarkan ponsel. Di layar ada foto Nathan, diambil dari sudut jauh, bersama seorang perempuan yang wajahnya tidak terlihat.

"Kita cari tahu bersama," katanya.

Fandy tidak langsung menyentuh ponsel itu. Ia tahu foto tanpa konteks mudah menipu. Namun luka lama dan pertanyaan yang baru ditolak Keira membuat kewaspadaannya tidak sekuat seharusnya.

"Kenapa Anda peduli?"

"Karena Zenith pernah dirugikan NARA," jawab Erwin. "Aku mencari fakta. Kau ingin memastikan teman lamamu tidak dibohongi. Kita tidak perlu menjadi teman untuk bekerja sama."

Fandy akhirnya mengambil kartu nama yang tadi diletakkan di meja.

Erwin tersenyum. Satu celah kecil sudah cukup baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!