Indonesia
NovelToon NovelToon
Keira: Tersisihkan Dari Keluarga

Keira: Tersisihkan Dari Keluarga

Status: tamat
Genre:Penyesalan Keluarga / Teen Angst / Teen School/College / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.

Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Saat seluruh keluarga dan teman-teman mereka sibuk menjaga Keyna di rumah sakit, Keira memilih duduk sendirian di bangku taman. Hingga suatu sore, Kenzo datang dan duduk di sampingnya.

"Jadi selama ini aku tak pernah benar-benar mengenalmu," ucap Kenzo pelan, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Ia merasa gagal memahami sosok yang selama ini ia anggap sebagai adiknya.

Keira terdiam. "Kak... jika kau di posisiku, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya tiba-tiba.

Kenzo mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Jika kau diminta memilih mengorbankan nyawamu sendiri demi saudaramu..."

"Kalau kau di posisiku, apa yang akan kau pilih?" tanya Keira pelan, matanya menatap lurus ke depan.

Kenzo menjawab tanpa ragu. "Aku tak akan egois dengan nyawaku sendiri, Keira. Aku pasti akan memilih mendonorkan jantungku untuk saudaraku sendiri. Apalagi dia sedang sakit. Mustahil aku membiarkannya meninggal karena penyakit itu."

Keira tersenyum getir. "Jadi, menurutmu aku harus menyerahkan jantungku untuk Keyna?"

"Jujur... ya," jawab Kenzo tulus.

"Ternyata bagiku, nyawa Keyna lebih berharga daripada nyawaku sendiri," ucap Keira pelan, tawa kecil yang getir lolos dari bibirnya. "Kau baru saja mengenalnya, tapi sudah begitu mudah memutuskannya." Hati Keira terasa perih. Kata-kata Kenzo bagai duri yang menancap dalam.

"Dengar, Keira. Keyna anak yang tak pernah menyakiti siapa pun. Dia sudah merasakan sakit sejak kecil. Tolong, kali ini kalahkan egoismu demi saudaramu sendiri."

Keira menatapnya tajam. "Kau tak tahu apa-apa tentang hidupku, Kenzo. Kau tak tahu betapa beratnya hari-hariku, betapa punahnya diriku yang sudah hancur sejak kecil. Kau dengan mudah bilang 'donorkan saja', padahal kau tak tahu betapa aku berjuang setiap hari hanya untuk tetap berdiri di sini."

Suaranya bergetar, namun ia tetap menatap lurus. "Kata-katamu membuatku merasa tak punya alasan lagi untuk hidup. Aku kecewa padamu."

Menghadapi semuanya sendirian memang tak mudah. Terutama saat jiwanya sedang rapuh. Keira tak butuh perintah, ia butuh seseorang yang memahaminya. Tapi mengapa semua orang justru mendesaknya untuk menyerah pada hidupnya sendiri?

"Kalau kau benar-benar menginginkannya... jangan menyesal nanti," ucapnya dingin, lalu berbalik pergi tanpa menoleh sedikit pun.

***

"Keyna hilang!" teriak Gina panik, berlarian ke seluruh ruangan namun tak menemukan jejak putranya.

"Bagaimana bisa hilang begitu saja?" Iren datang dengan wajah bingung, melihat Gina yang histeris.

"Entahlah, tadi aku menjenguk dan tak ada siapa pun di dalam kamar. Tolong bantu mencarinya... aku akan hubungi suamiku dulu." Gina menangis tersedu-sedu, lalu berlari pergi.

Keira yang baru saja tiba melihat keributan itu dan mendekat. "Ada apa?"

"Semuanya karena kau!" Iren mendorongnya kasar.

"Apa maksudmu?" Keira membentak balik, menahan amarahnya.

"Kalau kau segera mendonorkan jantungmu, pasti dia sudah sadar dan tak akan pergi!" Iren memukulnya lagi.

"Jantung, jantung, jantung! Mulutmu tak pernah lelah mengatakannya!" Keira melepaskan tangannya dengan kasar, meludah darah yang keluar dari bibirnya akibat pukulan tadi.

"Kalau kau begitu ingin jantungku, kenapa kau tak saja yang mendonorkan milikmu? Bukankah kau juga menyayanginya?" ejek Keira dingin.

"Kau saudara kandungnya! Cocok itu pasti kau!"

"Memangnya aku lahir hanya untuk jadi cadangan organ tubuhnya? Aku juga punya nyawa!" Keira menatapnya dengan tatapan yang tak bisa lagi digoyahkan.

"Keyna hilang karena kau! Dan kau masih bisa tenang begitu? Tak punya hati kau!" Iren kembali membentak.

"Hilang? Maksudmu?"

Orang-orang yang datang menjenguk terkejut mendengarnya. Keyna hilang?

"Tadi Tante Gina bilang dia tak ada di ruang rawat," jawab Iren sambil menatap tajam Keira.

"Jadi sekarang semua salahku juga? Kenapa hidupku selalu penuh masalah?" Keira mengusap wajahnya kasar. Ia lelah. Lelah selalu disalahkan, lelah selalu diminta berkorban, lelah tak pernah dihargai.

"Benci sekali aku padamu," ucapnya pelan, lalu berbalik pergi. "Kalian semua takkan pernah puas, kan?"

'Bodoh sekali kenapa harus pergi begitu saja,' batinnya, namun kakinya tetap melangkah mencari Keyna.

Suasana di rumah sakit semakin mencekam. Semua orang berkumpul dan berusaha mencari keberadaan Keyna. Kecemasan melanda setiap wajah.

"Keyna hilang... bagaimana ini?" Gina menangis tersedu-sedu.

"Tenanglah dulu, Gina. Kita pasti menemukannya," hibur Bara, meski ia sendiri tampak khawatir.

"Semua ini karena kau!" Gina tiba-tiba menunjuk suaminya. "Kenapa kau tak bisa menjaganya sendiri? Di mana pengawal yang kau sewa? Semua ini karena bisnismu!"

"Jangan menuduhku begitu saja!" Bara ikut berdiri emosi. "Kau sebagai ibunya sendiri ke mana tadi? Kenapa ruangannya kosong?"

"CUKUP!" teriak Keira, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Kalian berantem tak akan menyelesaikan apa pun!"

"Dan ini semua gara-gara kau juga!" Segar yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Tatapannya penuh kebencian.

"Disalahkan lagi?" Keira tertawa getir. "Biarlah aku diam saja, toh pada akhirnya aku tetap yang salah."

"Kau penyebab utama semua ini!" Segar mendekat, suaranya meninggi. "Kau seharusnya sadar posisimu. Hidupmu sudah enak sejak kecil, kenapa kau begitu sulit hanya untuk mendonorkan satu jantung itu?" Ia mendorong tubuh Keira hingga mundur beberapa langkah.

"Sudahlah, mari kita cari Keyna sekarang," ucap Arya memecah suasana, lalu berjalan pergi diikuti yang lain.

Keira meringis menahan sakit di bahunya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Selalu seperti ini. Tak peduli apa pun yang terjadi, ia selalu yang disalahkan. Selalu.

1
Sulati Cus
g usah berharap py temen klu semua palsu, mending sendiri apapun akan aman jika sendiri🤔
Sulati Cus
km nya aneh msh bertahan dg keluarga toxic😔 mending pergi kerja sambil sekolah, ku dulu kg kek gitu pdhl jmn dulu tu susah nyari duit g kek sekarang dg ngoten, nulis online apapun keknya menghasilkan uang😅
Herlina Susanty
buat Keira pergi thor
Herlina Susanty: pergi ke mana aj lah thor yg penting gag kecewa trus 🤣🤣💪
total 2 replies
Cty Badria
karena kamu bodoh 1000% bodoh
Cty Badria
kok cmn 1 up nya
lily
masih membaca kpn bangkitnya ni si keira...
Murni Dewita
ya udah gak usah aja gabung sama orang2 yg spt t
Cty Badria
lupakan saja mereka dari pd sakit hati. buat hekulah hatimu tuk mereka
Cty Badria
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Cty Badria
kenapa g keluar Dr rmh itu setiap hr dipukuli...aj rasanya bodoh banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!