"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di balik jendela kaca, tirai tipis tersingkap sedikit, memperlihatkan angin malam Jombang yang berhembus. Suasana begitu hening, hanya terisi oleh bunyi gesekan kain dan desir pita perekat saat Naya merapikan isi koper besarnya yang terbuka di atas karpet.
Di atas meja kerja, tergeletak selembar kertas tebal berstempel resmi Pengadilan Agama Mojokerto—akta cerai yang menandai akhir dari satu tahun pengabdian yang hampa. Naya sempat menatap lembaran itu sekilas. Tidak ada derita, tidak ada lagi sesak yang tertinggal. Perasaannya murni lega, layaknya seorang tahanan yang akhirnya melangkah keluar melintasi gerbang besi menuju udara bebas.
Esok pagi, penerbangan menuju Dubai akan membawa dirinya terbang tinggi, mengejar impian lama yang sempat ia kubur di bawah lantai ndalem Al-Anwar.
Ketukan pelan tiga kali di daun pintu memecah lamunannya. Pintu terdorong sedikit, menampilkan sosok Umma Mahera yang tersenyum penuh kehangatan. Wanita paruh baya itu melangkah masuk dengan anggun, membawa secangkir teh chamomile hangat yang uapnya masih membumbung halus.
"Belum selesai kemas-kemasnya, Naya?" tanya Umma Mahera seraya meletakkan cangkir itu di meja samping tempat tidur.
Naya mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang merekah di wajah cantiknya. "Sudah beres semua, Umma. Pakaian, dokumen akademis, sampai berkas beasiswa semuanya sudah masuk koper. Besok pagi tinggal angkat saja."
Umma Mahera duduk di tepi ranjang, memerhatikan jemari putrinya yang dengan telaten melipat pashmina terakhir. Ada binar kebanggaan yang tak tertutupi di mata sang ibu, namun juga terselip rasa haru yang mendalam.
"Alhamdulillah..." bisik Umma Mahera pelan, mengusap puncak kepala Naya yang terbalut jilbab instan. "Umma senang sekali melihatmu hari ini, Nak. Kamu bisa berdiri tegap, melangkah ke depan tanpa beban. Umma doakan seluruh cita-citamu menjadi dokter psikiater dimudahkan oleh Allah. Kamu berhak membahagiakan dirimu sendiri."
Naya menghentikan tangannya. Ia menatap pashmina di pangkuannya sejenak, lalu mendongak menatap ibunya. Tatapan mata Naya yang biasanya cerdas dan tenang kini menyimpan pendar keraguan yang teramat halus.
"Umma..." panggil Naya pelan.
"Iya, Sayang?"
"Bagaimana... kalau seandainya Naya tidak ingin menikah lagi?"
Pertanyaan itu meluncur begitu mulus dari bibir Naya, namun dampaknya membuat hening mendadak menyergap kamar tersebut. Umma Mahera membeku. Jemari tangan yang tadinya mengelus kepala Naya terhenti di udara. Ruangan itu seolah kehilangan suaranya selama beberapa saat, hanya menyisakan detak jam dinding yang berputar konstan.
Umma Mahera menatap dalam-dalam ke iris mata putrinya. "Kenapa bicara begitu, Naya?" tanya sang ibu lembut, suaranya sangat berhati-hati.
Naya meremas kain pashmina di tangannya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengurai simpul rumit yang selama ini mengendap diam-diam di dasar hatinya.
"Entah kenapa... Naya merasa sangat lelah, Umma," bisik Naya, suaranya agak serak oleh kejujuran yang jujur. "Lelah membayangkan harus beradaptasi lagi dengan orang baru. Lelah harus menyatukan kepala, membangun koneksi cinta dari nol, belum lagi kewajiban melayani seorang suami... Naya rasanya tidak punya energi lagi untuk semua itu."
Umma Mahera menatap sang anak dengan rasa pilu yang merayap di dadanya. Di luar, Naya memang tampak begitu tangguh, logis, dan rasional menghadapi perceraian. Namun di dalam, luka batin akibat penolakan dingin Reyhan telah membentuk tembok pertahanan yang amat tebal. Luka itu tidak berdarah, tetapi membuat jiwa Naya trauma pada konsep pernikahan itu sendiri.
Umma Mahera menggeser duduknya, merengkuh kedua tangan Naya yang terasa agak dingin ke dalam genggamannya yang hangat.
"Dengarkan Umma, Nak," tutur Umma Mahera dengan nada bicara yang amat bijak, tenang, dan mengayomi. "Abah, Umma, maupun Mas Arsyaka sama sekali tidak pernah menuntut Naya untuk segera mencari pengganti atau menikah lagi dalam waktu dekat. Sama sekali tidak. Naya bebas mengambil waktu sebanyak yang Naya butuhkan untuk menyembuhkan diri, fokus studi, dan menikmati hidup."
Naya menyimak, menatap mata ibunya yang memancarkan kearifan murni.
"Tapi..." lanjut Umma Mahera seraya tersenyum teduh, "keputusan untuk menutup diri selamanya atau berikrar tidak akan pernah menikah lagi... jangan terburu-buru dipikirkan sekarang. Karena kalau kita memutuskannya hari ini, bukankah sama saja kita menentang takdir Allah yang belum dituliskan?"
Naya tertegun.
"Kita tidak pernah bisa memprediksi masa depan seperti apa, Naya. Bagaimana jika Allah sudah menyiapkan garis takdir yang lain? Bagaimana kalau suatu hari nanti, Allah mempertemukanmu dengan pasangan hidup yang jauh lebih baik? Pria yang menghargai pemikiranmu, yang menghormati ilmu dan impianmu, serta mencintaimu karena Allah tanpa tapi? Apakah Naya akan menolaknya begitu saja? Apakah Naya mau menentang keputusan Allah yang ingin membahagiakanmu?"
Setetes embun hangat akhirnya menetas dari sudut mata Naya. Kata-kata ibunya masuk ke meresap ke dalam sanubari, meluruhkan batu tebal yang mengganjal dadanya.
"Jadi, jangan pernah membatasi dirimu dengan pikiran seperti itu," pungkas Umma Mahera seraya mengusap air mata di pipi Naya. "Jalani saja kehidupan Naya saat ini. Nikmati perjalananmu ke Dubai, kejarlah ilmumu, dan biarkan takdir Allah berjalan sebagaimana mestinya."
Naya mengangguk pelan, menyadari kebenaran ucapan ibunya. Tanpa kata-kata lagi, ia berhambur ke dalam pelukan Umma Mahera. Didekapnya tubuh sang ibu erat-erat, meresapi kehangatan murni yang membuatnya merasa utuh kembali.
"Matur nuwun, Umma..." bisik Naya di bahu ibunya. "Naya sayang sekali sama Umma."
"Umma juga sangat sayang padamu, Nak," balas Umma Mahera, membelakangi kepala Naya penuh kasih.
**
Malam di kawasan Pacet merambat makin pekat. Di dalam ruang makan ndalem, suasana sepi merajai. Hanya terdengar denting halus sendok yang beradu dengan piring porselen, menciptakan ritme kaku yang menyiksa batin.
Di meja kayu panjang itu, Kyai Ahmad duduk di kepala meja, didampingi Bu Nyai Khadijah yang sejak tadi lebih banyak menunduk seraya mengaduk sup di mangkuknya tanpa selera.
Di seberang mereka, Reyhan duduk tegap dengan jubah koko abu-abu gelap. Wajahnya yang biasa tampak berseri kini tirus, matanya redup, dan tidak ada lagi pendar percaya diri yang dulu selalu ia banggakan sebagai seorang lulusan Al-Azhar.
Bu Nyai Khadijah meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap putra tunggalnya dengan pandangan sarat kepedihan yang ditahan.
"Bagaimana proses di pengadilan agama tadi, Reyhan?" tanya Bu Nyai Khadijah, suaranya halus namun mengayunkan beban berat.
Reyhan menghentikan kunyahannya. Ia menelan makanan dengan susah payah—rasanya bagai menelan segumpal pasir kering di tenggorokannya. Pria itu menyapu bibirnya dengan serbet kain, mencoba menjaga nada suaranya agar tidak bergetar.
"Lancar, Umi," sahut Reyhan singkat. Matanya bergulir menatap taplak meja, tak berani menatap iris mata ibunya. "Semua proses sidang berjalan cepat."
Keheningan kembali menyergap selama beberapa detik. Kata lancar yang diucapkan Reyhan terdengar begitu ironis, seolah menyembunyikan kenyataan bahwa dalam beberapa menit di ruang sidang tadi, statusnya sebagai suami dari Adskhania Nayara Malik resmi berakhir untuk selamanya. Tak ada lagi kata kita, tak ada lagi ikatan yang mengaitkan namanya dengan perempuan berhati mulia itu.
Kyai Ahmad yang sejak tadi membisu akhirnya meletakkan cangkir teh hangatnya. Pria sepuh itu menghela napas panjang—helatan napas yang berat, sarat kekecewaan yang telah mengendap menjadi ketegasan mutlak.
Pandangan matanya yang tajam dan bijaksana tertuju lurus pada putra tunggalnya.
"Besok pagi, berangkatlah ke Kediri," ujar Kyai Ahmad. Suaranya rendah, namun tiap suku katanya mengandung perintah yang tak bisa dibantah. "Jemput Rani."
Reyhan tersentak kecil. Tangannya yang memegang tepi meja meremas kain pelapisnya pelan. "Abi..."
"Jangan memotong ucapan Abimu, Reyhan," potong Kyai Ahmad tegas, menatap putranya tanpa celah kompromi. "Bagaimanapun juga, Rani sudah satu bulan berada di rumah orang tuanya. Dan statusnya... masih menjadi istri sirimu."
Reyhan mengepalkan jemarinya di bawah meja. Rasa sesak mendadak membakar dadanya. Bayangan Rani—perempuan yang dulu ia sangka tempat bernaung dari kekangan, namun ternyata memicu kehancuran rumah tangganya—kini terasa bagai jerat yang makin mencengkeram lehernya.
"Kamu sendiri yang memilih melangkah ke jalan ini, Reyhan," lanjut Kyai Ahmad, nadanya amat dingin. "Jangan jadi pria penakut yang susah diatur. Ingat apa yang kamu katakan sendiri tempo hari saat membelanya di depan Naya dan Abi. Kamu bilang kamu mencintainya karena Allah, kamu bilang kamu siap bertanggung jawab. Maka tunjukkan tanggung jawab itu sekarang!"
Bu Nyai Khadijah memalingkan wajahnya ke arah jendela, menyapu air mata yang menetes pelan di pipinya. Kehilangan Naya adalah luka terdalam bagi sang ibu, dan melihat putranya terjebak dalam konsekuensi atas kebodohannya sendiri membuat hatinya kian tercabik.
"Bawa Rani kembali ke ndalem barat," tutur Kyai Ahmad lagi. "Dan ingat pesan Abi... urus berkas-berkasnya ke Kantor Urusan Agama. Resmikan pernikahan kalian secara hukum negara. Abi tidak mau ada fitnah lagi yang mencemari nama baik Pesantren Al-Anwar hanya karena keegoisanmu yang setengah-setengah."
Reyhan memejamkan matanya rapat-rapat. Di balik kelopak matanya yang tertutup, memori tentang Naya berputar bagai kaset lama. Dan kini semuanya telah hilang, digantikan oleh kewajiban moral atas pernikahan siri yang kini membungkus jalannya dengan kehampaan mutlak.
Ia tidak punya alasan lagi untuk bersuara. Ia tidak punya hak untuk memprotes. Ini adalah piala beracun yang ia tempa sendiri dengan keegoisannya.
Reyhan menghembuskan napas pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang ayah.
"Inggih, Abi," jawab Reyhan pasrah, suaranya parau dan nyaris tenggelam oleh desir angin malam di luar. "Reyhan akan berangkat besok pagi."
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah