Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan Pertama
Alena tidak tahu bahwa sore itu akan menjadi sore yang mengubah segalanya.
Ia baru saja menjemput Indra dari sekolah — sesuatu yang sudah menjadi rutinitas baru selama dua minggu terakhir, sebuah kesepakatan informal antara dirinya dan Luki agar Indra punya waktu transisi yang menyenangkan antara sekolah dan rumah, jauh dari sopir bermuka serius dan mobil hitam berkaca gelap yang biasa menjemputnya.
"Kak Alena, kita ke taman dulu, boleh?" Indra menarik ujung lengan bajunya, matanya berbinar dengan semangat anak-anak yang untuk sesaat berhasil melupakan beban berat yang ia pikul sejak menemukan video di laptop ayahnya minggu lalu.
"Sebentar aja ya. Ayahmu bakal khawatir kalau kita telat," jawab Alena, tersenyum, meski diam-diam ia juga senang mendapat alasan untuk menunda kembali ke rutinitas kerja yang semakin hari terasa semakin rumit secara emosional.
Mereka berjalan menuju taman kecil di seberang sekolah, tempat yang biasa dipenuhi anak-anak bermain sepulang sekolah dan pengasuh yang duduk di bangku sambil mengobrol. Sore itu tampak biasa saja — matahari mulai condong ke barat, angin sepoi-sepoi menerbangkan daun-daun kering, dan Indra berlari menuju ayunan dengan tawa riang yang jarang sekali terdengar akhir-akhir ini.
Alena duduk di bangku taman, mengeluarkan ponselnya untuk mengecek pesan, tidak menyadari sebuah mobil van putih tanpa pelat nomor yang mulai melambat di tepi jalan, cukup jauh dari pandangannya, tapi cukup dekat untuk mengamati setiap gerakan Indra dengan detail.
Dua pria keluar dari van itu dengan gerakan yang terlatih, berpura-pura menjadi petugas taman yang sedang memeriksa fasilitas bermain, berjalan santai mendekati area ayunan tempat Indra bermain sendirian.
"Dek, ayunan ini rusak, harus dicek dulu ya," kata salah satu dari mereka, tersenyum ramah, jongkok di depan Indra dengan gestur yang tampak tidak berbahaya bagi siapa pun yang melihatnya sekilas.
Tapi Indra bukan anak biasa.
Sejak insiden penemuan video minggu lalu, ia sudah mulai memperhatikan segalanya dengan cara yang berbeda — cara ayahnya mengajarinya tanpa sadar lewat setiap kebiasaan waspada yang selama ini ia kira hanya kebiasaan aneh orang dewasa. Ia memperhatikan sepatu pria itu — terlalu mengkilap, terlalu baru untuk seragam petugas taman yang lusuh. Ia memperhatikan cara pria satunya berdiri, tidak seperti orang yang santai memeriksa fasilitas, melainkan seperti seseorang yang sedang mengawasi area sekitar, memastikan tidak ada yang memperhatikan.
"Kak Alena!" teriak Indra, suaranya tiba-tiba melengking, jauh lebih keras dari yang diperlukan hanya untuk memanggil seseorang yang duduk beberapa meter darinya.
Alena mengangkat kepala, dan dalam sepersekian detik, insting yang sudah terlatih dari bertahun-tahun bekerja dengan anak-anak — insting yang bisa membedakan teriakan bermain dari teriakan ketakutan — langsung membuatnya berdiri dan berlari.
"Indra!"
Pria yang berjongkok di depan Indra langsung berdiri, wajahnya berubah dari ramah menjadi waspada dalam sekejap. "Ayo, cepat," bisiknya pada rekannya, tapi terlambat — Alena sudah sampai, menarik Indra ke belakang tubuhnya dengan gerakan protektif yang refleks.
"Siapa kalian?" Alena bertanya, suaranya tegas meski jantungnya berdebar kencang, matanya cepat menangkap detail yang sama yang sudah dilihat Indra — sepatu yang terlalu mengkilap, radio kecil tersembunyi di balik kerah baju salah satu dari mereka.
"Kami cuma petugas taman, Bu," jawab pria itu, mencoba tersenyum, tapi senyumnya terlalu kaku untuk terlihat meyakinkan.
Dari kejauhan, suara sirene mobil mulai terdengar — bukan polisi, tapi kendaraan yang jauh lebih familiar bagi Indra: dua SUV hitam melaju kencang menuju taman, berhenti mendadak di tepi jalan, dan empat pria berjas keluar dengan gerakan yang jauh lebih terlatih dari dua "petugas taman" yang kini mulai mundur perlahan.
Bram yang memimpin, wajahnya dingin, tangan sudah bergerak ke balik jaketnya. "Jangan bergerak," katanya, suaranya rendah dan penuh ancaman yang tidak perlu diteriakkan untuk terasa nyata.
Dua pria itu saling berpandangan sesaat, lalu berlari menuju van putih mereka, melompat masuk dengan panik, ban berdecit di aspal saat mereka tancap gas menjauh secepat mungkin sebelum orang-orang Bram sempat mengejar.
Bram tidak mengejar. Prioritasnya jelas — ia berlari ke arah Indra dan Alena, memeriksa keduanya dengan cepat, matanya menyapu seluruh area taman untuk memastikan tidak ada ancaman lain yang tersisa.
"Kalian baik-baik saja?" tanyanya, suaranya masih tegang meski sudah lebih tenang.
Indra menggenggam tangan Alena erat-erat, tubuhnya gemetar sekarang setelah adrenalin mulai surut, menyadari sepenuhnya apa yang baru saja hampir terjadi padanya.
"Mereka mau nangkep aku ya?" tanyanya, suaranya kecil, menatap Bram dengan mata yang penuh ketakutan yang belum pernah Alena lihat sebelumnya.
Bram berlutut di depannya, suaranya melunak seketika, sebuah sisi dari dirinya yang jarang sekali ditunjukkan pada siapa pun selain Indra. "Nggak akan pernah terjadi, Nak. Aku janji."
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Alena memeluk Indra erat di sampingnya, masih berusaha menenangkan degup jantungnya sendiri, sementara Bram di kursi depan sudah menelepon Luki dengan suara tegang yang jarang sekali ia gunakan.
"Tuan, ada percobaan penculikan di taman dekat sekolah. Indra dan Alena aman, tapi—"
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya sebelum telepon terputus dari seberang, dan lima menit kemudian, ponselnya bergetar dengan satu pesan singkat dari Luki yang isinya hanya tiga kata, tapi cukup untuk membuat Bram tahu persis apa yang akan terjadi malam ini.
"Bawa mereka pulang. Sekarang."
Alena menatap keluar jendela, memeluk Indra lebih erat, merasakan tubuh kecil itu masih gemetar di sampingnya. Ia tahu, dalam hatinya yang paling dalam, bahwa hari ini adalah titik balik — bukan hanya bagi Indra yang baru saja menyadari betapa nyata bahaya yang mengintai hidupnya, tapi juga baginya sendiri, yang kini tanpa bisa dihindari lagi, sudah terseret sepenuhnya ke dalam dunia yang seharusnya tidak pernah ia masuki.