Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Suasana rumah megah dua lantai itu mendadak terasa begitu asing dan hampa. Lampu-lampu kristal di ruang tengah memancarkan cahaya keemasan yang mewah, namun keheningan yang menyelimutinya sungguh menyayat hati. Tidak ada aroma harum adonan kue yang biasa dibawa Alana saat pulang, tidak ada suara lembut yang menyapa hangat, dan tidak ada kehangatan seorang ibu yang biasanya mengisi sudut-sudut rumah besar tersebut.
Di dalam kamar tidurnya yang serba merah muda, Tania duduk di tepi ranjang. Jemari mungilnya memeluk erat boneka kelinci kesayangannya. Piyama bergambar kartun sudah membalut tubuh kecilnya, tetapi matanya yang bulat terus menatap lurus ke arah pintu kamar yang terbuka lebar.
Setiap kali mendengar derap langkah kaki di koridor luar, dada Tania berdesir penuh harap. Namun, sosok yang muncul di ambang pintu bukanlah Bundanya, melainkan Bi Sastro yang membawa segelas susu hangat di atas nampan kayu.
"Non Tania belum tidur?" sapa Bi Sastro lembut, melangkah masuk dan meletakkan gelas susu di atas meja nakas.
Tania mendongak, raut wajahnya dipenuhi raut kekecewaan yang sangat polos. "Bi Sastro... Bunda mana? Ini kan sudah jam sembilan malam. Biasanya Bunda sudah pulang dan nemenin Tania tidur."
Bi Sastro meremas kedua tangannya di balik celemek. Hatinya mencelos mendengarkan pertanyaan itu. Di pikirannya, terbayang sosok Alana yang saat ini tengah terbaring lemah berkawan selang infus di kamar rumah sakit, berjuang sendirian menahan sakit demi menutupi penderitaannya.
"Anu... Non Tania," ujar Bi Sastro sehalus mungkin, duduk di sisi ranjang dan mengelus rambut halus Tania. "Bunda tadi telepon Bi Sastro. Bunda pesan, malam ini Bunda belum bisa pulang ke rumah."
"Kenapa belum bisa pulang, Bi?" potong Tania cepat, matanya mulai berkaca-kaca. "Kan Tania mau cerita kalau tadi di sekolah Tania dapat nilai seratus untuk menggambar. Tania mau pamer ke Bunda..."
"Bunda lagi banyak sekali pekerjaan di toko kue, Sayang," jawab Bi Sastro dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan kebohongan yang sudah diamanatkan oleh Alana. "Pesanan kue untuk acara besar besok menumpuk banget. Kalau Bunda pulang, nanti kuenya tidak selesai."
Tania mengepalkan tangan kecilnya di atas piyama. "Kalau gitu, anterin Tania ke toko kue Bunda sekarang aja, Bi! Tania mau nungguin Bunda di sana. Tania janji nggak bakal nakal, Tania cuma mau tidur di samping Bunda..."
Mendengar permintaan polos itu, dada Bi Sastro terasa bagai dihantam beban berat. Mata wanita tua yang sudah menganggap Alana dan Tania seperti keluarganya sendiri itu mulai mendung. Dia tahu betul betapa dalamnya kasih sayang antara ibu dan anak ini, tetapi amanat Alana untuk tidak membawa Tania ke rumah sakit harus tetap dijaga rapat-rapat.
Bi Sastro merengkuh bahu kecil Tania, menatap mata anak itu dengan penuh kehangatan dan ketegasan seorang pengasuh yang penyayang.
"Non Tania... dengarkan Bi Sastro ya, Nak," tutur Bi Sastro pelan, mengusap pipi Tania yang mulai dibasahi setetes air mata. "Kalau Non Tania ke toko kue sekarang, kasihan Bundanya. Kerjaaan Bunda itu banyak sekali, Nak. Nanti Bunda jadi tidak fokus dan makin kelelahan karena harus mengurus Non Tania juga di sana."
Tania terdiam, bibir mungilnya gemetar menahan tangis.
"Non Tania sayang kan sama Bunda?" tanya Bi Sastro lembut.
Tania mengangguk pelan. "Sayang banget, Bi..."
"Nah, kalau sayang sama Bunda, Non Tania harus jadi anak yang pintar dan penurut," bujuk Bi Sastro, membelai punggung Tania dengan ritme yang menenangkan. "Malam ini Non Tania tidur yang nyenyak di rumah. Biarkan Bunda menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang. Nanti kalau pekerjaan Bunda sudah selesai dan kuenya sudah matang semua, Bunda pasti langsung pulang dan peluk Non Tania. Mau kan, Sayang?"
Tania menunduk dalam-dalam, menatap boneka kelinci di pangkuannya. Meski hatinya amat merindukan dekapan Bundanya, kepolosan dan rasa sayangnya pada Alana membuat anak berusia enam tahun itu akhirnya mengalah. Dia menyapu air matanya dengan lengan piyama.
"Ya udah deh, Bi... Tania tidur sekarang. Tapi besok Bunda pasti pulang kan, Bi?" tanya Tania memastikan dengan mata berbinar penuh harap.
Bi Sastro tersenyum haru, mengangguk mantap meski hatinya teriris. "Iya, Nak. Anak pintar. Sekarang minum susunya dulu, terus Bi Sastro usap punggungnya sampai Non Tania tidur ya."
Sementara itu, beberapa kilometer dari rumah mewah tersebut, suasana yang bertolak belakang tersaji di sebuah ruangan berukuran luas.
Ruang perawatan VIP di rumah sakit swasta itu terasa begitu sunyi dan dingin. Hanya ada suara dengung halus dari mesin pendingin udara serta detak teratur dari monitor penanda denyut jantung yang memecah keheningan malam. Aroma antiseptik yang khas memenuhi setiap sudut ruangan bernuansa krem tersebut.
Alana terbaring kaku di atas ranjang pasien yang ditinggikan sedikit di bagian kepala. Wajahnya yang biasa terpancar keanggunan kini tampak begitu pucat pasi, bagaikan kain mori tanpa rona. Jarum infus masih tertancap erat di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan nutrisi dan obat lambung dosis tinggi untuk meredakan iritasi hebat di organ pencernaannya.
Ruangan VIP ini memang sangat luas dan memiliki fasilitas lengkap ada sofa empuk panjang untuk penunggu, televisi LED besar, dan kamar mandi dalam yang bersih. Namun, fasilitas mewah itu justru makin mempertegas betapa tragisnya keberadaan Alana saat ini.
Dia benar-benar sendirian.
Sore tadi, Alana secara tegas memaksa Maya untuk pulang ke rumah dan mengurus toko kue. Alana tidak mau merepotkan orang lain, apalagi membuat Maya melewatkan waktu istirahatnya hanya untuk menunggunya di rumah sakit. Kepribadian Alana yang selalu enggan menjadi beban bagi siapa pun membuat wanita itu memilih untuk mengurungi dirinya dalam kesendirian yang menyiksa ini.
Mata Alana menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang putih bersih. Rasa perih melilit di perutnya memang sudah sedikit mereda berkat efek obat penenang dan penawar nyeri, tetapi rasa sakit yang bermukim di dalam dadanya justru kian menganga lebar.
Alana menggeser pandangannya pelan ke arah meja kecil di samping ranjang. Di sana, ponsel pintarnya tergeletak bisu.
Tidak ada satu pun panggilan masuk. Tidak ada satu pun pesan singkat.
Alana memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya meloloskan diri, mengalir membasahi pelipis dan meresap ke dalam bantal rumah sakit.
Gema pasti sudah berada di Surabaya saat ini. Pria itu mungkin sedang menghadiri jamuan makan malam bisnis yang mewah, atau sedang beristirahat di kamar hotel bintang lima tanpa pernah terlintas satu detik pun di pikirannya untuk mempertanyakan keadaan istrinya. Di mata Gema, Alana hanyalah sosok yang bertanggung jawab atas rumah, dan selama tidak ada laporan masalah dari perantara kantornya, Gema tidak akan pernah peduli.
"Betapa bodohnya aku..." batin Alana menjerit dalam keheningan yang menyayat.
"Mengapa aku masih mengharapkan sebaris pesan dari pria yang bahkan tidak pernah menganggapku ada? Mengapa aku masih merindukan kehangatan dari pria yang hatinya sudah membeku sepenuhnya?"
Alana mengangkat tangan kanannya yang gemetar, menutupi matanya yang basah oleh air mata. Rasa sepi malam ini terasa jauh lebih mematikan daripada iritasi lambung yang merusak tubuhnya. Di rumah mewah sana, dia terasingkan. Di ruang rawat VIP yang dingin ini, dia terlupakan.
Dalam keheningan malam yang kian larut, Alana meringkuk perlahan di atas ranjangnya, memeluk dirinya sendiri. Dia merindukan tawa polos Tania, merindukan pelukan hangat putri kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup.
Dengan napas yang tersengal pelan menahan bisikan tangis agar tidak memicu kembali mual di perutnya, Alana berbisik pada kegelapan kamar.
"Tunggu Bunda ya, Tania... Bunda pasti sembuh... Bunda pasti pulang untuk kamu..."
Kalimat lirik itu menjadi mantra terakhir yang menemani Alana sebelum rasa lelah luar biasa akibat efek obat-obatan perlahan membawa tubuhnya yang ringkih kembali tenggelam ke dalam lelap yang sunyi.
kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.
sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅