Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Kota yang Menjelma Liar
Pukul lima lewat tiga puluh menit pagi. Langit kota masih berwarna kelabu pekat, tertutup jelak asap industri dan debu sisa hujan semalam.
Namun, jalanan di sekitar kawasan ruko sudah bergemuruh oleh deru mesin truk trailer dan klakson bus karyawan yang tak sabar.
Bagi Intan Saputri, kota ini tidak pernah benar-benar tidur. Kota ini adalah monster beton yang menjelma liar—siap menelan siapa saja yang datang dengan hati yang lemah dan kepala yang terlalu mendongak ke atas.
Intan berdiri di depan pintu kaca ruko Katering Barokah milik Pak Budi. Napasnya mengembun tipis saat diterpa angin pagi yang dingin dan berbau minyak solar. Ia membetulkan letak celana kain hitamnya, lalu mendorong pintu kaca itu.
Denting!
"Bagus, kamu tepat waktu."
Puji Pak Budi dari balik meja kasir. Pria berkacamata tebal itu sudah memegang seikat nota pesanan dan secangkir kopi hitam yang masih mengepul.
"Di sini kita kejar-kejaran dengan jam makan siang para pekerja proyek."
"Terlambat sepuluh menit saja, ratusan kotak nasi bisa basi di jalan atau ditolak pemesan. Paham?"
"Paham, Pak."
Jawab Intan lugas.
"Ikut saya ke belakang."
"Tugas pertamamu pagi ini: rekap semua pesanan dari lima lokasi proyek berbeda, cocokkan dengan nota pembayaran, lalu atur jadwal pengantaran dengan para kurir."
Ruang belakang ruko itu tampak bagaikan dapur perang. Suara dentang wajan berukuran raksasa, kepulan uap masakan yang membakar mata, dan teriak-teriak para pekerja dapur yang menyiapkan ratusan porsi nasi kotak memenuhi udara yang pengap.
Bau bumbu balado, minyak goreng, dan daging tumis menyatu menjadi aroma yang menyengat.
Jika ini adalah Intan yang dulu—gadis yang panik hanya karena mendengar suara riuh di pasar desa—ia pasti sudah pusing, kewalahan, dan ingin melarikan diri kembali ke kamarnya yang sunyi.
Namun Intan yang sekarang hanya mengangguk pelan. Mati rasa yang membelenggu jiwanya justru membuatnya bekerja bagaikan mesin yang dingin dan presisi.
Ia duduk di sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan, di hadapan sebuah komputer tua yang layarnya bergaris-garis.
Jemari rampingnya menari lincah di atas papan ketik, memasukkan angka demi angka dari tumpukan nota yang kumal.
Proyek PT Gemilang Karya – 150 kotak Proyek Pembangunan Pergudangan Blok C – 80 kotak Proyek Konstruksi Apartemen Bintang Lima – 200 kotak
Matanya meneliti setiap nama perusahaan kontraktor, nama sub-kontraktor, hingga nomor kontak penanggung jawab lapangan yang tertera di sudut kertas.
Di dalam dadanya, ada desir penasaran yang terus menyala. Dari ratusan nama proyek dan kontraktor ini, di manakah Rian bersembunyi?
"Intan!"
"Jangan melamun!"
"Ini nota tambahan dari Proyek Graha Utama!"
Seru seorang pria berbadan tegap dengan jaket kulit kusam, melemparkan selembar kertas basah ke mejanya.
Pria itu adalah Bang Doni, kurir senior katering yang bertugas mengantar pesanan menggunakan kendaraan bak terbuka.
Wajahnya berseri kasar, matanya menatap Intan dengan pandangan menilai yang tak tertutup.
"Terima kasih, Bang."
"Nanti saya rekap."
Sahut Intan tanpa mendongak, matanya tetap tertuju pada layar komputer.
Bang Doni terkekeh pelan, menyandarkan sikunya di tepi meja Intan.
"Budimannya Pak Budi dapet anak buah baru yang mungil begini."
"Kamu kuat tahan di sini, Mbak?"
"Kota ini keras, lho."
"Apalagi kalau kamu harus ikut saya turun ke lokasi proyek nanti siang."
"Isinya orang-orang kasar semua."
"Pria-pria proyek itu mulutnya suka sembarangan kalau lihat anak gadis."
Intan menghentikan ketikannya sejenak. Ia memutar kepalanya dan menatap Bang Doni lurus-lurus.
Tidak ada kedipan, tidak ada rasa canggung, dan tidak ada sedikit pun aura ketakutan khas anak desa.
"Saya di sini untuk kerja, Bang."
"Bukan untuk mendengarkan omongan orang."
Jawab Intan dengan nada datar yang teramat dingin.
Bang Doni tertegun. Senyum menggodanya perlahan memudar, tergantikan oleh rasa heran.
Anak perempuan di hadapannya ini memang bertubuh mungil dan berwajah belia seperti anak sekolah, tetapi sorot matanya mengandung kebekuan yang membuat orang enggan bermain-main dengannya.
"Ehem... ya baguslah kalau begitu."
Gumam Bang Doni canggung, lalu ngeloyor pergi menuju dapur.
Intan kembali mengarahkan pandangannya ke layar monitor. Kota ini memang liar, penuh dengan manusia-manusia yang suka meremehkan dan memangsa sesamanya.
Namun bagi Intan, keliaran kota ini justru menjadi tempat persembunyian yang sempurna untuk mematangkan rencananya.
Pukul sebelas siang, terik matahari membakar atap-atap seng ruko. Waktunya pengiriman gelombang pertama.
Pak Budi menghampiri meja Intan.
"Intan, staf lapangan kita yang biasa ikut Doni tiba-tiba izin sakit."
"Kamu ikut Doni mengantar pesanan ke area proyek zona tiga, sekalian minta tanda tangan bukti terima pembayaran dari pihak kontraktor. Kamu berani?"
Jantung Intan berdesir pelan. Zona tiga. Itu adalah kawasan proyek konstruksi terbesar yang sedang berjalan di pinggiran kota—tempat yang paling sering disebut-sebut dalam ingatan obrolannya bersama Rian.
"Saya berani, Pak."
Jawab Intan cepat.
Ia segera mengambil papan jalan berklip, menyelipkan sebatang pena dan buku catatan hitam kecilnya ke dalam saku celana, lalu berjalan menuju mobil bak terbuka yang sudah terparkir di depan ruko dengan tumpukan ratusan box katering.
Sepanjang perjalanan di atas mobil bak terbuka, angin panas berdebu menerpa wajah Intan.
Truk-truk molen pengaduk semen, derek-derek raksasa yang menjulang ke langit, dan raungan mesin pemotong besi menyambut kedatangan mereka di gerbang Proyek Zona Tiga.
Debu tanah merah membubung tinggi saat mobil mereka berhenti di depan pos keamanan proyek.
Puluhan pekerja berhelm kuning dan rompi oranye tampak lalu lalang dengan wajah lelah dan tubuh berpeluh.
"Tunggu di mobil saja kalau takut kotor, Tan."
Ujar Bang Doni sambil melompat turun.
"Tidak, Bang. Saya ikut."
Tolak Intan tegas.
Ia melangkah turun, menapakkan sepatu ketsnya di atas tanah merah yang berdebu.
Pandangan mata belasan pekerja proyek langsung tertuju padanya.
Siulan godaan dan gumaman pelan mulai terdengar dari beberapa sudut.
"Wah, ada anak magang manis nih..."
"Dek, nyari siapa?"
"Mau main di proyek?"
Intan tidak memedulikan semua godaan itu. Telinganya seolah tuli. Pandangannya justru menyapu seluruh area lapangan dengan cermat: mengamati deretan mobil dinas bertuliskan nama-nama perusahaan kontraktor, papan nama direksi proyek, hingga papan pengumuman K3 yang terpampang di dekat kantor lapangan.
Setiap sudut, setiap detail, dan setiap pria berjas helm yang melintas ia teliti satu per satu.
Rian mungkin merasa telah berhasil menenggelamkan jejaknya di balik kejamnya kota ini.
Namun pria itu tidak tahu, bahwa di tengah keliaran kota beton yang bising ini, korban yang dulu ia bodohi kini telah berdiri tepat di jantung dunianya—siap mencium setiap jejak busuk yang ditinggalkannya.
Intan meremas papan jalan di tangannya, menatap ke arah kantor direksi proyek di ujung jalan tanah merah. Perburuan di kota liar ini resmi dimulai.
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe 😀
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya