Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 Malaikat pelindung
Malam ini Luna membawa Emily tidur di kamar utama bersama dirinya dia menjadi sangat protektif sekali terhadap Emily setelah siang tadi Leon memerintahkan padanya untuk tidak membawa Emily keluar rumah sekalipun itu ke taman belakang mansion.
"Mami Luna, Emily kok di ajak tidur di kamar mami Luna dan papa? Nanti papa bisa marah kalau tahu Emily tidur di sini," ucap Emily polos.
"Enggak sayang, papa gak akan marah kalau Emily tidur di sini kan mami Luna yang ajak Emily," ucap Luna tersenyum pada gadis kecil itu.
"Ya udah kalau begitu Emily naik ke atas tempat tidur ya mami Luna," ucap Emily yang sudah mengangkat salah satu kakinya siap naik ke atas king size spring bed itu.
"Ya sayang," ucap Luna sambil membantu Emily naik ke atas kasur itu.
"Emily mau di bacain buku cerita?" tanya Luna sambil mengangkat buku cerita yang ada di tangan kanannya.
"Mau mami Luna...!!" ucap Emily kegirangan.
Luna naik ke atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya ke papan spring bed itu sementara Emily berbaring di sebelah Luna, kemudian Luna pun mulai membacakan buku cerita itu pada Emily.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Leon yang mengenakan setelan celana dan kemeja hitam dan di balut dengan blazer hitam panjang itu masuk ke dalam kamar, dia berjalan menghampiri Luna, Luna menghentikan membaca buku cerita untuk Emily saat melihat Leon masuk ke dalam kamar.
"Aku akan pergi menghadiri pertemuan darurat malam ini ke luar kota tolong jaga Emily dengan baik dan jangan sampai dia terlepas dari pengawasanmu, aku percayakan dia padamu dan jangan sekali-kali membiarkan dia jauh dari kamu," ucap Leon dengan tatapan mata tajam menatap Luna seolah mata itu berkata bahaya sedang mengintai dan siap menyerang kapan saja dan Luna paham dengan tatapan tajam mata Leon, Luna tahu kalau Leon sangat menyayangi dan mengkhawatirkan putrinya, Leon tidak mau terjadi suatu apapun pada Emily.
"Iya aku mengerti, ucap Luna pada Leon sambil memeluk Emily.
"Papa, Emily takut....papa cepet pulang ya...," ucap Emily sedih.
"Gak apa-apa sayang di sini ada mami Luna yang akan temani Emily dan jaga Emily, Emily gak usah takut ya," Luna memeluk tubuh Emily yang sedang duduk di sampingnya itu.
"Iya Emily, apa yang di katakan mami Luna itu benar, kamu tidak usah takut karena ada mami Luna di samping kamu," Leon menatap pada Emily yang sepertinya tidak mau dia tinggalkan malam ini.
"Tapi papa pulangnya jangan lama-lama ya," terlihat kalau Emily mengkhawatirkan Leon.
"Ya papa tidak akan lama," Leon kemudian berbalik dan keluar dari kamar utama itu.
Leon yang di dampingi beberapa pengawalnya itu sudah pergi dengan mengendari mobil hitam bergerak menembus kegelapan malam yang sangat pekat itu.
Luna kembali membacakan buku cerita untuk Emily dan tiba-tiba saja hujan deras dan petir menyambar di luar mansion. Ketika Leon sedang menghadiri pertemuan darurat di luar kota, sistem keamanan mansion tiba-tiba mengalami gangguan akibat serangan terencana dari pihak penyusup. lampu di seluruh mansion tiba-tiba mati.
Emily menjadi takut dan panik saat tahu lampu kamar tiba-tiba saja mati "Mami Luna ...aku takut....," ucap Emily sambil memegang erat lengan Luna yang masih berada di sampingnya itu.
"Tenang sayang jangan takut, mami Luna di sini bersama Emily, tunggu sebentar ya mami Luna mau ambil lilin dulu, Luna hendak beranjak dari atas tempat tidur itu tapi tiba-tiba dia mendengar ada benturan keras dan suara langkah kaki asing di luar pintu kamar, Emily mulai menangis ketakutan menyadari bahaya yang mendekat seperti trauma masa lalunya.
"Sayang...Emily jangan nangis ya di sini ada mami Luna sayang," Luna merengkuh tubuh Emily yang sedang menangis itu.
"Emily takut mami Luna...." ucap Emily masih menangis.
Luna mengusap kepala Emily dengan lembut mencoba menenangkan rasa takut gadis kecil itu.
Luna menoleh ke kanan ke kiri mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan Emily karena dia tahu di luar bahaya sudah siap menerjang dan akhirnya mata Luna tertuju pada sebuah lemari yang sangat besar yang berdiri di balik dinding kamar itu, tempat rahasia seperti yang dikatakan Leon padanya.
"Emily sayang...sekarang Emily harus nurut sama mami Luna ya?" ucap Luna pada Emily dan Emily pun menganggukkan kepalanya sambil menghentikan tangisannya.
"Di luar ada orang jahat yang mau masuk ke dalam kamar ini sayang dan sekarang mami Luna akan menyembunyikan Emily ke dalam lemari pakaian itu," bisik Luna pada Emily.
Emily yang sepertinya sudah tahu akan keadaan bahaya langsung mengangguk-anggukkan kepalanya saat Luna memberikan instruksi padanya.
Luna melompat dari atas tempat tidur itu "Ayo sayang," Luna mengulurkan tangannya pada Emily yang masih berada di atas kasur itu kemudian Emily turun dari kasur itu dan berjalan bersama Luna menuju ke arah lemari pakaian.
Luna membuka lemari pakaian itu dan menyuruh Emily untuk masuk ke dalam sana. "Sayang kamu bersembunyi di sini ya dan jangan keluar kalau bukan mami Luna yang memanggil, paham?" ucap Luna pada Emily.
"Iya mami Luna, Emily ngerti," ucap Emily sambil duduk meringkuk di dalam lemari pakaian yang cukup besar untuk menampung tubuh mungilnya itu.
Dengan perlahan Luna mulai menutup pintu lemari itu tapi tiba-tiba tangan kecil Emily menahan pintu lemari itu "Kenapa sayang?" tanya Luna saat Emily mencegahnya menutup pintu lemari itu. " Mami Luna hati-hati ya, Emily tidak mau kehilangan ibu lagi," ucapnya sedih. Luna menundukkan kepalanya dan mencium kepala Emily dengan sayang "Mami Luna tidak akan meninggalkan Emily, percaya sama mami Luna ya." Emily menganggukkan kepalanya yang kemudian membiarkan Luna menutup rapat pintu lemari pakaian itu.
Setelah selesai menyembunyikan Emily di dalam lemari rahasia di balik dinding kamar. Luna menggenggam erat sebuah patung besi berat di atas meja, siap mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menghadang siapa pun yang mencoba menyakiti anak itu.
Pintu kamar didobrak oleh seorang pria bersenjata tajam yang bertopeng. Penyusup itu menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk mencari Emily. Saat penyusup mendekati area lemari, Luna melompat dari balik bayangan dan menyerangnya dengan sisa keberanian yang ia miliki.
Luna menghantam dengan sekeras-kerasnya tubuh penyusup bertopeng itu dengan patung besi yang sudah dia persiapkan sejak tadi.
Tapi penyusup itu bukan lawan tanding Luna dengan sekali kibasan tangannya penyusup itu sudah bisa membuat Luna jatuh tersungkur ke lantai, dengan sedikit terhuyung Luna mencoba mengumpulkan tenaganya untuk melawan kembali penyusup itu tapi sayang tenaga Luna tidak sekuat tenaga penyusup itu dan lagi-lagi Luna terkena tendangan keras dari kaki penyusup itu dan Luna kembali tersungkur kedua kalinya ke lantai kamar itu.
Luna terkena sabetan senjata tajam di lengannya saat mencoba menahan penyusup tersebut, namun ia terus bertahan dan berteriak memanggil bantuan. Tepat sebelum penyusup itu makin beringas, tembakan membahana memecah kegelapan—Leon bersama tim pengawalnya menerobos masuk dan melumpuhkan penyusup tersebut.
Melihat Luna yang bersimbah darah namun tetap berdiri kokoh melindungi posisi lemari Emily, runtuhlah seluruh dinding dingin di hati Leon. Pria itu langsung menerjang memeluk Luna yang lemas, sementara Emily keluar dari persembunyian dan menangis histeris memeluk mereka berdua. Malam itu, Leon bersumpah tak akan pernah membiarkan wanita yang telah menjadi malaikat pelindung bagi putrinya itu terluka lagi.