Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Bab.1 Rumah neraka

Luna adalah seorang gadis yang berusia sekitar dua puluh lima tahun dan dia di paksa untuk bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan orang tua angkatnya yang kejam pada dirinya.

Luna bekerja menjadi kurir makanan di sebuah toko, siang ini sehabis mengantarkan pesanan makanan milik pelanggan, Luna langsung duduk beristirahat sebentar di sebuah kursi di depan toko bosnya.

"Capek banget hari ini," keluh Luna sambil mengusap keringat yang menetes di pelipisnya.

Luna merogoh kantongnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang di kasih pelanggan tadi sebagai tips untuk dirinya "Wah banyak sekali tipsnya, syukurlah bisa buat nambah-nambah tabunganku untuk sewa rumah kecil-kecilan," gumam Luna tersenyum sambil memperhatikan lembaran uang di tangannya itu.

Tapi tiba-tiba saja Luna tersentak kaget karena ada seseorang yang menyambar lembaran uang itu dari tangannya "Ini buat aku, karena kamu tidak pantas memegangnya!" ucap seorang perempuan paruh baya dengan mata melotot dan wajah judes menatap Luna.

"Tapi Bu, uang itu untuk pegangan aku. Kemaren uang gajiku kan sudah Ibu ambil semua," Luna memohon pada ibu angkatnya itu.

"Tidak bisa! semua uang yang kamu dapat harus kamu setorkan pada ku! Bentak ibu angkat Luna sambil mendelik menatap Luna.

"Tolong Bu, aku tidak punya uang sama sekali untuk pegangan, tolong kembalikan uang itu Bu...," Luna menangis sambil memohon pada ibu angkatnya itu.

"Tugas kamu hanya untuk mencari uang dan kamu tidak berhak untuk memegang uang hasil kerja kamu, mengerti!" Wanita itu menjambak rambut Luna dengan kasar yang membuat Luna meringis menahan sakit.

Luna menangis menatap ibu angkatnya yang sudah pergi dari hadapannya itu sambil membawa uang tips yang dia peroleh hari ini.

Dari arah dalam toko terlihat seorang wanita yang seumuran dengan Luna berlari tergopoh-gopoh menghampiri Luna, Dia adalah Susan teman kerja Luna.

"Luna, kamu tidak apa-apa?" tanya Susan sahabat baik Luna dengan wajah penuh kekhawatiran menatap Luna.

Luna menyeka sisa-sisa air matanya "Aku tidak apa-apa Susan," ucap Luna berusaha menyembunyikan kesedihannya di hadapan sahabatnya itu.

"Dasar perempuan jahat! kamu harus secepatnya keluar dari rumah itu Luna, ibu angkat mu itu kejam dia akan terus menyiksa kamu dan mengambil uangmu," ucap Susan geram dengan kelakuan ibu angkat Luna itu.

"Aku masih mengumpulkan uang untuk menyewa rumah kecil-kecilan, tapi sayangnya uang yang aku dapat dari tips pelanggan selalu di ambil oleh ibu semua," Luna menipiskan bibirnya menahan kekesalannya.

"Ya Tuhan...di mana hati nurani ibu angkat kamu itu Luna? Uang tips punyamu pun dia embat juga," Susan menggelengkan kepalanya tak habis pikir mendengar perkataan Luna barusan.

"Sudahlah Susan, aku bisa cari lagi uang tipsnya untuk tabungan aku," Luna mengulas senyum palsunya pada Susan, dia tidak mau Susan ikut sedih dengan kenyataan hidup yang di alaminya saat ini.

"Lun, kalau kamu butuh tambahan uang untuk menyewa rumah aku bisa bantu, aku akan berikan sebagian dari uang tabungan aku untuk kamu," Susan menatap Luna serius.

"Tidak Susan, aku tidak akan pernah memakai uang kamu, kamu juga sebagai tulang punggung keluarga, biar aku usaha cari tips lagi kamu tidak usah pikirin aku, kamu juga punya kebutuhan yang sangat banyak untuk pengobatan ibu kamu," Luna tersenyum berusaha setegar mungkin di hadapan Susan.

Susan menghela napas panjang menatap sahabatnya itu.

Sore harinya setelah usai bekerja Luna pulang ke rumahnya ke rumah orang tua angkatnya itu.

Luna baru saja menjejakkan kakinya di depan pintu ruang tamu rumahnya terdengar suara galak ibu angkatnya "Heh Luna! kamu bawakan kami makanan gak?! tanya ibu angkat Luna yang sedang duduk di kursi sofa dengan suaminya itu yang menatap Luna dengan tatapan sinis.

"Aku tidak punya uang Bu, uangku sudah Ibu ambil semua tadi," ucap Luna pada ibu angkatnya itu.

Ibu angkat Luna tersenyum sinis menatap Luna sambil berkata padanya "Ya sudah kalau kamu pulang tidak membawa makanan untuk kami, malam ini kamu tidak boleh makan!"

Luna menarik napas dalam-dalam hal seperti ini sudah biasa dia terima dan untungnya Luna sudah mengisi perutnya dengan kenyang tadi di tempat kerjanya bareng Susan.

"Eh...!! tunggu!! banyak kerjaan tuh di dapur, cucian piring menumpuk dan jangan lupa setelah cuci piring kamu masakin kita makan malam," ucap ibu angkat Luna dengan ketus.

Luna tak menjawab sepatah katapun, dia berlalu begitu saja meninggalkan ibu angkatnya yang masih duduk santai di sofa bersama suaminya itu.

Di dalam kamar mandi dapur yang sempit dan berbau lembap, Luna berlutut di depan tumpukan piring kotor. Air dingin menyiram jemarinya yang mulai kasar dan pecah-pecah. Setiap gesekan sabun pada piring keramik itu seolah menjadi saksi bisu betapa remuknya jalan hidup yang harus ia jalani. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga, membaur bersama busa sabun dan aliran air kran.

Kenapa hidupnya harus selenyap ini? Ia tidak pernah meminta dilahirkan jika hanya untuk dijadikan mesin pencetak uang bagi keluarga yang bahkan tidak memiliki setetes pun darah yang sama dengannya. Ayah dan ibu angkatnya hanya menganggapnya sebagai benalu yang kebetulan bisa dimanfaatkan untuk membayar cicilan rumah dan gaya hidup malas mereka.

Setelah menyelesaikan tumpukan piring dan memasakkan makan malam sederhana untuk kedua orang tua angkatnya, Luna bergegas masuk ke dalam kamarnya, Sebuah ruangan kecil di pojok belakang yang lebih mirip gudang penyimpanan barang bekas. Tanpa menyapa atau menatap pasangan suami istri yang kini sedang melahap makanan buatannya di meja makan, Luna langsung mengunci pintu kayu yang sudah lapuk itu.

Ia merebahkan tubuhnya yang pegal di atas kasur tipis tanpa sprei. Matanya menatap langit-langit kamar yang bersarang laba-laba. Rasa lelah fisik tak sebanding dengan rasa hampa di dadanya. Luna merogoh bagian bawah kasurnya, mengambil sebuah celengan kaleng kecil yang ia sembunyikan dengan sangat rapi. Ia mengocoknya pelan, mendengarkan gemerincing beberapa koin sisa yang berhasil ia selamatkan minggu lalu.

"Sedikit lagi, Luna... sedikit lagi kamu pasti bisa bebas," bisiknya pada diri sendiri, mencoba memberi suntikan semangat yang kian hari kian mengikis.

Malam semakin larut, suara gelak tawa orang tua angkatnya dari ruang TV perlahan memudar berganti dengan kesunyian malam. Namun, tidur Luna malam ini terasa tidak tenang. Dadanya sesak oleh prasangka buruk dan keinginan kuat untuk lari dari neraka ini secepat mungkin.

Luna mencoba memejamkan matanya dan tak terasa iapun tertidur setelah hari yang sangat melelahkan itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!