Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sure, I’ll Take You All On.....
Fio --dengan kekuatan tenaga dalamnya, melesat bagai kilat dari bawah. Kurang satu detik tiba di hadapan Ila. “Ini akhir” Dia hendak mengincar leher gadis di depannya.
Ila benar-benar tidak sempat menghindar. Dia masih sadar dan menahan sakit, wajahnya yang hancur terselimuti darah membuka mata.
Tangan yang tinggal satu --itupun pergelengannya tidak menyatu sempurna, menodong ke arah Fio, tepat kepala. Tampak ingin melepaskan sesuatu.
Fio menggerakan katananya, cepat bahkan hampir tidak terlihat.
KYARKK!!! “ARGHHHHHH!!!!!!!!!”
Di detik yang krusial. Fio berhasil menebas leher Ila, tapi tidak seutuhnya, pedangnya baru sampai setengah. Dan sebaliknya, serangan energi tak kasat mata baru saja menghancurkan satu mata Fio. Efeknya juga membuat tubuh lelaki itu terhempas kuat mengantam jalan raya.
Drawen yang siaga, ikut lompat menyerang.
Ila mulai juga mulai jatuh, tubuhnya mengeluarkan asap. Palu berat Drawen menghunjam tubuh Ila tepat di depan dinding gedung, temboknya hancur berantakan. Membuat lubang besar di dinding. Tubuhnya berkali-kali menembus tembok-tembok ruangan. Bentukan robot nilam juga menjalar bersamaan ketika itu. Mencecar tubuh Ila dengan tajam.
Berhasil dapat, lima duri panjang dari bentukan robot berhasil menancap pada anggota tubuh Ila di dinding terakhir. Darah mengucur deras, tapi itulah kesempatan Ila.
Hening sejenak di ruangan Ila tertusuk. Gadis itu cepat meregenerasi tubuh. Asap mengepul tebal, tangan yang terpotong tumbuh lagi. Tulang-tulang kembali merapat, dan semua luka di tubuhnya sempurna menutup. Hanya pakaiannya saja yang koyak. Kain lengan yang ikut terpotong sebelumnya tidak tumbuh, hanya melihatkan tangan baru yang bersih.
Duri-duri bentukan robot juga keluar paksa dari tubuh Ila, terjatuh kembali seperti cairan di lantai.
Hening beberapa detik, Drawen dan Nilam datang dari lubang di dinding ruangan. Seketika mereka terkejut, melihat Ila baik-baik saja.
Gadis di sana hanya berhembus, sembari mengikat rambut panjangnya. “Sejauh ini, justru kalian yang terluka. Lebih baik hentikan saja”
Mata kedua pria di hadapan Ila bergetar kaku. Gadis ini, benar-benar monster, bukankah anak itu berkali-kali menerima serangan, di pukul palu, tangannya terputus, bukan?
Beberapa detik lengang, diwarnai suara hujan di luar.
Nilam tiba-tiba melepas pakaiannya. Melempar ke arah Ila.
“Ayo keluar!!” Nilam menyergah, menarik tubuh Drawen.
Mereka berdua segera pergi menggunakan palu besar, menembus tembok dinding.
Ila yang polos menangkap pakaian Nilam, menatap heran.
--padahal itu ledakan duri.
Drawen dan Nilam menatap gedung dari luar. Satu detik hening, tiba-tiba terdengar banyak sekali suara benturan, sebagian dinding gedung mulai hancur berkeping-keping, dari sana keluar duri-duri tajam yang sangat rapat memenuhi ruangan, Ila di sana, secara teknis ledakan duri barusan, pasti tubuh gadis itu akan tercincang.
Tapi entah bagaimana caranya. Asap kembali mengepul --ledakan duri tidak mengeluarkan asap, duri-duri yang memenuhi ruangan sampai keluar, kembali meledak.
Tak lama kemudian, Ila melompat dan hinggap di salah satu duri besar yang tersisa. Air hujan menimpa pakaian di tubuhnya yang tampak rusak parah, robek di mana-mana.
Beberapa detik Ila baru menyadari hal itu. Dia seketika tersentak, ada bagian yang seharusnya tidak boleh terlihat.
Namun dua pria yang menaiki palu besar melayang justru menatap jeri gadis itu, dia lagi-lagi berhasil selamat dari serangan dan kembali meregenerasi.
Alih-alih justru membuat gadis itu malu, coba menutup beberapa lubang di pakaian. Balik menatap Drawen dan Nilam yang melayang belasan meter di atas. “Apa yang kalian lihat, Hah!!”
Ila segera berlari ke dalam gedung.
Nilam dan Drawen saling tatap, mereka sedikit bingung dan gentar. Tidak peduli apa yang akan dilakukan gadis itu, tapi mereka harus melakukan sesuatu. Ila sudah tidak bisa di atasi bahkan oleh petarung berpengalaman seperti mereka. Di tambah, dua rekannya telah tumbang.
“sepertinya kita tidak akan bisa membereskan gadis itu dengan cara seperti ini” Ujar Nilam, nafas dadanya menderu. “sepertinya terpaksa kita lakukan ini” Pria itu mengetuk-ngetuk gadget yang muncul dari gelangnya.
“Kau ingin melakukan akselerasi lebih?” Dahi drawen mengkerut.
“Bahkan aku akan memanggil robot pemusnah dari Ibukota langsung”
Wajah Drawen berubah, sedikit cemas. “Bukankah itu terlalu Naif?”
Nilam menggeleng yakin. “Gadis ini mungkin masih bisa mengatasinya”
“Melakukannya di pemukiman kota besar seperti ini? Robot-robot terlalu broken untuk ini..” Jelas Drawen serius.
“Aku akan berhati-hati” Nilam berkata datar. “Sebelum gadis itu menjadi masalah serius”
Sementara itu, jauh dari tempat mereka berdua. Ila kembali memutuskan berlari menjauh, menghindari pertarungan. Dia sudah mengganti pakaiannya jadi lebih ringan. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna hitam dan celana panjang training putih –tak perlu berpikir kapan dia menggantinya, dia sangat cepat.
Di jalan raya, gadis itu berlari sangat cepat. Tapi seseorang berhasil menyusul, menyejajari laju larinya.
Seseorang dengan senjata katana memanjang dari pinggang, ia berlari membungkuk layaknya ninja. Sama cepat seperti Ila. Gadis itu menoleh, sedikit bergidik. Mata kanan orang di sampingnya telah hancur tak berupa, darah berkelebat terbawa terbang.
Hujan menderu, mereka berdua saling tatap. Kekuatan larinya sangat luar biasa, sama seperti ketika menonton Moto gp dengan mata secara langsung.
Tampak hanya kelebatan, bulih air dan udara terhempas.
TAP! Satu kaki Fio menghentak, tubuhnya berkelir ke samping mengincar Ila, katana terhunus.
Tap! Ila melompat tinggi.
Serangan Fio berhasil di hindari. Dia kemudian ikut melompat mengejar Ila.
Pertama gadis itu menginjakkan kaki di permukaan sebuah tembok gedung. Berdiri seimbang di medan vertikal. Coba menghadap ke bawah.
Bak guntur, Fio tiba sekejap. Desingan katana terdengar.
Ila menghindar lihai.
Gerakan beruntun Fio kerahkan, cepat mengincar Ila.
Satu, meleset, dua, ke arah leher, meleset lagi, tiga, coba menusuk, Ila hanya memiringkan tubuhnya. Serangan mengenai udara kosong. Sebaliknya, gadis itu telah mendapat celah setelah melakukan perfect Dodge.
Ila balik membalas, serangan telapak sempurna mengenai perut Fio. Lelaki itu terpental –di medan vertikal dia meluncur deras ke bawah.
Grap! Kakinya berhasil berpijak di permukaan dinding. Tubuhnya kembali seimbang. Serangan kilat kembali dia kerahkan.
Muncul di belakang Ila, menyilangkan katana.
Tap! Ila menggunakan kecepatan kilatnya juga. Muncul di samping Fio. Tinju lekas melesat.
Sekejap Fio sadar, berputar menghindar. Kembali di belakang Ila, kakinya melintang kuat. Gadis di depannya hanya menunduk –sembari memutar arah, tendangan barusan meleset.
Tinju Ila kembali bebas, siap menghantam.
Namun di detik yang menentukan.
SYINGG!!! Fio berhasil memotong tangan tersebut.
Ila terperanjat, namun dia tetap melancarkan tinjuan satu tangan yang lain. BUGH! Kali ini benar-benar mengenai perut Fio. Lelaki itu segera terpental jauh ke atas –menuju atap gedung.
Fio yang sudah beradaptasi dengan medan miring ini mudah saja memantulkan tubuhnya kembali mendekati Ila. Ini kesempatannya.
Sying!! Serangannya kembali mendesing, namun Ila berhasil melompat menghindar.
Fio menaikan akselerasi serangannya, mengejar Ila dan menebas.
Ila juga mulai terus-terusan menghindar di permukaan dinding gedung, hanya itu yang dia bisa. Satu kali Fio menerjang, tiga sampai empat tebasan harus dihindari dalam satu detik.
Ila melompat mundur, dan Fio juga tiba, katananya menyilang. Sing! sing!. Gadis itu meliuk-liuk menghindar, tidak ada celah menyerang –untuk memulihkan tangannya saja belum sempat. Mundur lagi, Fio muncul lagi kurang dari kejapan mata. Lanjut melancarkan serangan. Kaki-kaki mereka rusuh berpindah kesana-kemari dalam ritme super cepat, sekali lompat lima meter di jangkau.
Dari kejauhan saja pertarungan intens tersebut tampak hanya kelihatan titik hitam semi putih di kejar garis hitam yang kadang mengeluarkan sebuah kilatan cahaya.
Pertarungan dengan kecepatan tinggi.
Permukaan dinding gedung besar itu berhasil di kelilingi dua titik barusan hingga sepuluh kali dalam tiga detik.
Fio mencecar Ila dengan bringasnya. Terus mengayun katana dengan gerakan dan arah yang terus berbeda agar tidak bisa di tebak.
Sementara Ila –dengan tangannya yang masih terpotong, tidak ada pilihan lain, hanya itu yang di bisa.
Tap! Tap! Sing! Sing!...... Whuut!
Tap Sing! Sing!
Bertahan beberapa detik, fokus Ila mulai berkurang. Barusan hampir mengenai lehernya. Dia harus melakukan sesuatu.
Tap! Tap! Tap! Tap! Kaki-kaki mereka terus menari di permukaan gedung. Pikiraan Ila buntu, dia hanya akan terus seperti ini.
TAS! Ila coba melompat kebawah.
TAS!! Fio melesat. Ikut terjun ke bawah.
Kini dua kaki mereka lepas dari permukaan tembok. Pertarungan mengudara, FIO mudah saja mengatur gerakannya. Tanpa pijakkan, tanpa bantuan alat, dia seperti diberikan sayap untuk menyerang.
Katananya masih terus menebas.
Ila juga berusaha bergerak, mengarahkan tubuhnya ke berbagai arah. Sing-sing-sing-sing-sing!!!!! Lagi-lagi Ila berhasil menghindari semuanya.
Kiri, kanan, kanan lagi, atau bahkan mendorong jauh dari gedung.
Hingga dalam hitungan detik tubuh mereka tiba di permukaan tanah. Kakinya menggertak aspal hingga retak. Namun di sini lah Ila berhasil menemukan waktu untuk objektif. Tangannya mulai beregenerasi.
Fio berdiri terdiam beberapa meter di depan Ila, nafasnya tersengal parah. Mulutnya justru mengeluarkan darah, bercampur dengan cairan merah yang sama keluar dari kelopak mata kanan –mata di sana sudah hacur.
Sementara Ila, dia juga tersengal, tapi sebentar lagi mungkin staminanya kembali. Gadis itu menatap Prihatin.
Fio hanya menatap jeri di tempat. Batinnya sebal karena tidak satupun serangan cepat barusan yang berhasil menyentuh tubuh Ila.
“Hentikan saja” Ila berkata –sedikit berteriak karena terbungkam hujan. “Sia-sia kamu buang-buang tenaga di depanku”
Hening di tengah hujan lebat, mereka tetap menjaga jarak, Ila memang karena ingin menunggu upaya selanjutnya. Sementara Fio, sesuatu terjadi pada tubuhnya, ini efek samping akibat menggunakan akselerasi yang memaksa tubuh dengan ekstrim. Semua gerakannya barusan –di mulai gerakan kilat layaknya guntur, tebasan-tebasan, keseimbangan dan banyak lagi gerakan rumit, bukan karena memang Fio murni bisa melakukannya secara mahir, namun ia mendorong potensi sekian anggota yang dibutuhkan untuk banyaknya gerakan berat. Akibatnya, tubuh lelaki itu kehilangan tenaga mendadak, kerongkongannya kering telak.. mulut terpaksa mengeluarkan darah sebab hal itu.
“Selain itu” Ila mendekat, berhembus berat. “Aku belum serius, aku belum coba pukul telak wajahmu” namun kali ini dia agak mengintimidasi. “Beritahu teman-temanmu sebelum aku muak. Gini-gini juga bikin muak, jangan sampai banyak nyawa yang tidak berdosa terlibat”
Fio tercekat, dalam hati ia tersentak, berkutat ingin membalas. Tubuhnya kembali memaksa maju, satu langkah. Tapi dia justru terjatuh.
“Lah!..” Ila terkejut, gadis itu tidak tahu kondisi sebenarnya Lelaki itu. “Kamu kenapa, aku belom nyerang loh”