Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Arini bangkit dan berjalan untuk keluar rumah tapi tangannya dicekal paksa oleh Rayhan yang tidak terima perkataan nya barusan.
"Apa maksud mu, jangan mengadu domba aku dan Sahira karena kamu tidak suka dengan hubungan kami".
Arini berbalik kemudian menyentak tangan itu dengan kasar sehingga Rayhan terhuyung karena tidak siap.
Matanya membesar melihat tindakan Arini yang sangat kasar barusan padanya itu. Selama ini perempuan itu tidak pernah meninggikan suaranya, bersikap kasar dan kurang ajar padanya dan sekarang Arini bahkan berkata keterlaluan seperti itu.
"Aku tidak peduli dengan hubunganmu bersamanya Ray, aku hanya mengingatkan kamu untuk berhati-hati karena aku tidak mau kamu membuat orangtuamu nantinya terluka, terserah kalian mau lakukan apapun asalkan perhatikan mereka".
Dia sangat menyayangi kedua mertuanya dan menganggap mereka sebagai orangtua nya tapi dia tidak akan bisa berbuat apapun nanti setelah mereka resmi bercerai karena dia bukan lagi bagian dari keluarga itu.
"Tidak usah beromong kosong Arini, urus saja urusanmu, biarkan aku mengurusi orangtua ku sendiri, ingat kamu bukan siapa-siapa lagi bagi mereka, dan jangan sekali-kali kamu membuat mereka semakin membenci Sahira karena aku tidak akan tinggal diam!!". Ucapnya dengan murka.
Arini tersenyum pahit, dia memang tidak ada harganya Dimata Rayhan selama ini.
Arini mengikis jarak keduanya dengan mata tajam penuh keyakinan.
"Kamu akan mengemis permintaan maaf padaku dan juga kedua orangtua mu setelah ini Ray, aku jamin cepat atau lambat, dan masalah yang kamu katakan tenang saja, aku bisa mengurus diriku dari pada mengurus hubunganmu dengan Sahira, dan saat hari itu tiba, menangis darah pun aku tidak akan pernah memaafkan mu".
Arini pergi dari sana meninggalkan Rayhan yang mematung dengan tangan mengepal erat dan tidak terima.
Setelah kepergian Arini, Dia segera membereskan bekas makan mereka dan mencucinya, hal yang tidak pernah dia lakukan lagi selama dirinya mengenal Arini, gadis itu selalu melakukan apapun untuknya, kini hanya bayangannya saja tanpa bisa dia sentuh.
Setelah melakukan tugasnya, Rayhan kini berangkat kekantor untuk bekerja sedangkan Arini kembali kerumah lamanya tempat orangtuanya dulu tinggal.
"Rumah ini masih sama, ayah menepati janjinya untuk kembali menempati rumah ini, aku sungguh rinduku kedua orangtuaku".
Kedua orangtuanya memang telah meninggal setelah pernikahannya itu, ayah dan ibunya mengalami kecelakaan dan sakit dirumah sakit, sebab itu pernikahannya hanya dilakukan secara sederhana dan dihadapan kedua orangtuanya.
"Maafkan ayah nak, ayah tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan pernikahan kalian".
Dia hanya bisa menunduk, wajahnya sangat malu berhadapan Dnegan menantunya ini karena perbuatan putranya.
Mereka memang sudah janjian semalam, dia menepati janjinya untuk tetap merawat peninggalan orang tua Arini terutama rumahnya ini.
"Uruslah usaha ayahmu nak, kamu bisa mendapatkannya kembali, itu adalah surat perjanjian ayah dan ayahmu dulu sebelum kamu menikah".
Kening Arini mengkerut, dia tidak tahu kedua ayahnya ini membuat perjanjian seperti itu.
Melihat wajah menantunya yang kebingungan, dia mengusap tangan itu pelan.
"kedua ayahmu memang melakukannya nak, tadinya usaha itu akan diberikan kepada Rayhan agar dia bisa mengelola nya karena pernikahan kalian agar bisa mandiri secara finansial tapi perjanjian itu, jika kalian bercerai maka semua itu mutlak milikmu tanpa terkecuali".
Sang ibu mertua hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, dadanya sesak memikirkan nasib pernikahan anaknya yang tidak bisa diselamatkan sama sekali.
"Apa yang Rayhan lihat selama ini, itu bukan sepenuhnya milik kami nak, itu sebagian milikmu, dan hanya ayah, ibu dan kedua orangtua mu yang tahu".
"Tadinya semua itu akan dikelolah oleh kalian secara bersama tapi karena keadaannya seperti ini maka kami langsung memisahkan semuanya tanpa terkecuali, ayah hanya memegang amanat dari ayahmu dan mengembalikannya sama seperti sedia kala tanpa kurang sedikitpun".
Mata Arini berkaca-kaca melihat mertuanya yang begitu menyayanginya, setelah dia dan Rayhan berpisah, dia Tidka akan lagi bisa melakukan hal seperti ini kepada mereka.
"Terima kasih ayah, ibu, aku sangat menyayangi kalian".
Ketiganya berpelukan erat karena akan berpisah sebentar lagi.
"Maafkan kami nak jika selama ini kami banyak salah padamu, terutama ayahmu ini yang memaksakan pernikahan ini padamu".
Arini menggeleng kemudian memeluk ayah Rayhan itu dengan rasa sayang dan penghormatan kepada orangtuanya sendiri.
"Aku akan tetap menyayangi ibu dan ayah apapun yang terjadi, kabari aku jika terjadi apapun dan jika kalian butuh apapun, aku akan siap membantu kapanpun itu".
Keduanya mengangguk kemudian pergi dari sana meninggalkan Arini sendirian untuk memulai hidup baru, dan pergi ke pengadilan untuk mengurus gugatan cerai itu .
Beberapa hari telah berlalu, sidang perceraian keduanya akhirnya digelar dan tentu saja langsung di sahkan karena keduanya tidak meminta apapun dan tidak memberatkan apapun tentang mereka, bahkan Arini tidak berkata apapun soal perceraian itu.
Kini keduanya berhadapan karena Rayhan harus mengikrarkan kalimat talak kepada Arini setelah ini.
Dia menarik nafasnya dalam-dalam, entah mengapa dirinya merasakan sesak luar biasa melihat tatapan Arini yang tenang dan siap lepas darinya itu sedangkan kedua orangtuanya hanya bisa membuang muka dan menangis.
"Arini putri Sufyan, aku talak satu kamu, aku membebaskan kamu dari semua tanggung jawab dan hal yang lainnya".Ucapnya dengan suara bergetar.
"Terima kasih". Ucapnya menutup mata meresapi kata yang begitu meremukkan dadanya itu.
Keduanya akhirnya berpisah, sedangkan disisi pengunjung, Sahira akhirnya bersorak dalam hati dengan sangat girang.
"Akhirnya aku bisa beraksi sekarang, aku akan mencoba mengambil hati kedua orang tua Rayhan, aku harus mendapatkan hartanya
Dia berjalan ingin menemui keduanya tapi langkahnya terhenti ketika melihat keduanya memeluk erat Arini sambil menangis terguguh seperti itu.
Dia mengepalkan tangannya karena tidak terima kalah dari wanita yang tidak ada apa-apa menurutnya itu.
"Ayah, ibu, aku pamit yah, jaga diri kalian baik-baik setelah ini, aku akan datang jika kalian nanti butuh sesuatu tapi tolong jika kalian rindu, cukup kalian saja yang datang, aku tidak mau ada kesalahpahaman nantinya".
"Iya nak, maafin kami yah, semoga kamu bahagia dan mendapatkan pendamping hidup yang jauh lebih baik dari anak ibu".
"Amin Bu, terima kasih doanya, kalau begitu aku pamit yah".
Arini kembali memeluk keduanya tanpa peduli kehadiran Rayhan yang melihatnya dari belakang, baginya laki-laki itu hanya debu yang tidak ada harganya.
"Terima kasih nak, kamu hati-hati".
Arini mengangguk dan pergi dari sana tanpa menoleh sama sekali.
Rayhan yang melihat sikap Arini seperti itu merasa kehilangan, hatinya sekarang bimbang tanpa kejelasan.
"Selamat siang ayah, ibu, bagaimana kabar kalian?". Sapa Sahira dengan percaya diri
"Kau".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.