Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diseberang toko
Reza sudah duduk di meja paling pojok ketika Alya tiba jam empat kurang lima menit posisi yang sengaja dipilih, Alya menduga, karena menghadap langsung ke jendela dengan pandangan ke arah studio Alinea di seberang jalan.
Ia terlihat berbeda dari yang alya ingat delapan tahun lalu rambutnya lebih pendek, ada garis kelelahan di sekitar matanya yang dulu tak pernah Alya lihat, seolah waktu juga bekerja pada orang yang dulu tampak selalu punya segalanya di bawah kendali.
"Kamu dateng juga," kata reza, tidak berdiri, hanya menggeser cangkir kopinya sedikit ke samping seolah memberi ruang untuk Alya duduk.
"Kamu yang minta ketemu," jawab alya, duduk di kursi seberangnya, punggung tegak, tidak membiarkan tubuhnya menunjukkan kegugupan yang sebenarnya masih ia rasakan.
Reza menatapnya lama sebelum bicara lagi. "Postingan kamu kemarin. Aku baca."
"Aku nggak nulis itu buat kamu," kata alya.
"Aku tau," kata reza, dan ada sesuatu di suaranya yang tak biasa Alya dengar bukan lagi nada mengejek yang sama seperti di telepon beberapa hari lalu. "Justru itu yang bikin efeknya lebih kena kalau kamu nulis itu buat nyerang aku, aku bisa lawan balik lewat pengacara, lewat rilis pers, lewat apa pun tapi kamu nulis itu kayak lagi ngomong ke diri kamu sendiri. Itu jauh lebih susah dilawan."
Alya diam, menunggu, tidak yakin arah pembicaraan ini akan ke mana.
"Direksi Vertex minta aku tarik semua pendekatan ke klien-klien Alinea," lanjut Reza, menatap ke luar jendela sesaat sebelum kembali menatap alya. "Bukan karena mereka takut kalah di somasi tapi karena reputasi Vertex sendiri yang mulai kena imbas ada tiga studio kreatif lain yang mulai cerita pengalaman serupa di media sosial sejak postingan kamu viral. Itu jadi masalah yang lebih besar dari sekadar rebut satu-dua klien kecil."
"Jadi kamu di sini buat nyampein itu secara formal?" tanya alya, mencoba tetap tenang meski dadanya mulai terasa ringan mendengar kabar itu.
"Sebagian," kata reza. Ia berhenti sebentar, tangannya memutar cangkir kopi yang sudah tak lagi mengepul. "Sebagian lagi aku di sini buat sesuatu yang lebih personal, yang nggak bisa aku sampein lewat email korporat."
Alya menunggu, tidak membantu mengisi jeda itu seperti yang sudah ia pelajari dari Dimas.
"Aku minta maaf," kata reza akhirnya, kata-kata yang terdengar asing bahkan di mulutnya sendiri, seperti bahasa yang jarang ia pakai. "Bukan cuma soal minggu ini. Tapi soal delapan tahun lalu juga waktu itu aku direktur termuda di Werkstatt, dan aku ngerasa harus buktiin diri ke atasan-atasan aku dengan cara paling gampang nekan orang-orang di bawah aku supaya keliatan produktif, termasuk kamu. Aku nggak pernah bener-bener mikirin dampaknya ke kamu sampai sekarang, waktu kamu nulis itu semua secara terbuka."
"Kenapa baru sekarang?" tanya alya, suaranya lebih tajam dari yang ia niatkan. "Kenapa nggak delapan tahun lalu, waktu aku keluar tanpa apa-apa? Kenapa nggak minggu lalu, sebelum kamu kirim kontrak penawaran ke Pak Broto?"
Reza tidak langsung menjawab, matanya turun ke meja. "Karena delapan tahun lalu, aku masih mikir cara aku dulu itu bener keras itu perlu buat sukses di industri ini, dan minggu lalu, aku masih penasaran ngetes kamu, kayak yang aku bilang di telepon,aku baru bener-bener sadar aku salah waktu baca postingan kamu, dan liat gimana orang-orang lain ternyata juga ngerasain hal yang sama tapi selama ini diem karena takut."
Alya menatapnya lama, mencoba mencari kepalsuan di balik kata-kata itu, tapi yang ia temukan justru sesuatu yang lebih rumit penyesalan yang terlambat, tapi mungkin, entah bagaimana, tulus.
"Aku nggak bisa langsung maafin kamu cuma karena kamu bilang gitu di kafe ini," kata alya akhirnya, jujur. "Delapan tahun itu bukan waktu yang bisa ditebus satu permintaan maaf."
"Aku nggak minta dimaafin sekarang juga," kata reza. "Aku cuma mau kamu tau, aku bakal keluar dari Vertex minggu depan. Bukan dipecat resign sendiri direksi udah nggak sepenuhnya percaya lagi sama caraku kerja setelah semua ini, dan jujur, aku juga udah nggak yakin ini jalan yang bener buat aku lanjutin."
Alya tidak menjawab segera, mencerna kabar itu.
"Satu hal lagi," kata reza, mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, meletakkannya di meja di antara mereka. "Ini surat pembatalan NDA yang kamu tanda tangan delapan tahun lalu. Aku nggak punya otoritas buat batalin ini secara sepihak, tapi aku udah bicara ke bagian legal Werkstatt yang sekarang jadi anak perusahaan terpisah dari Vertex dan mereka setuju cabut klausul yang ngelarang kamu pake elemen desain lama kamu sendiri. Itu hak kamu dari awal. Aku minta maaf butuh delapan tahun buat akhirnya bikin ini bener."
Alya menatap amplop itu lama sebelum mengambilnya, tangannya sedikit gemetar bukan lagi karena marah atau takut, tapi karena beban yang tanpa sadar selama ini ia bawa mulai terasa berkurang.
"Kenapa aku harus percaya ini bukan trik lain?" tanyanya, meski nadanya sudah lebih pelan dari sebelumnya.
"Kamu nggak harus percaya," kata reza, berdiri dari kursinya, mengambil tasnya. "Tapi coba baca aja isinya. Kalau kamu masih ragu, bawa ke Tantri, biar dia yang verifikasi keasliannya."
Ia berhenti sebentar sebelum benar-benar berjalan pergi. "Aku nggak berharap ini bikin semuanya beres antara kita alya aku cuma nggak mau lagi jadi orang yang bikin kamu harus sembunyiin bagian dari diri kamu sendiri, kayak yang aku lakuin delapan tahun lalu."
Alya menonton punggung reza menjauh, keluar dari kafe, menyeberang jalan tanpa menoleh lagi ke arah studio alinea yang sempat jadi targetnya beberapa hari terakhir.
Ia menatap amplop di tangannya, lalu ponselnya, mengetik pesan cepat ke dimas.
Udah selesai aku ceritain semuanya begitu sampai studio tapi dimas sepertinya ini beneran selesai.