Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Dunia Sudah Berubah
Ruby tiba di rumahnya setelah membunuh banyak Zombie. Mereka hanya bisa berjalan dengan pelan, karena ketiga anak kecil sangat syok melihat kota yang sangat kacau.
Jangankan mereka, Dokter William saja yang sudah dewasa terdiam seribu bahasa. Jika terus seperti ini, kedepannya mereka tidak bisa hidup dengan tenang.
"Apa kalian baik-baik saja? Nggak ada orang yang datangkan?" tanya Ruby pada seorang wanita yang menjaga Tisa di rumahnya.
"Nak kami baik-baik saja! Hanya beberapa orang yang lewat depan rumah."balasnya. "Syukurlah kalian pulang dengan selamat!"
"Hmm.. Kedepannya mereka nggak bakalan lewat saja! Setelah semua persediaan di pusat perbelanjaan habis, mereka pasti mulai menjarah dari rumah ke rumah!" ujar Ruby.
"Ya. Jika mereka sudah kelaparan, nggak ada lagi yang namanya rasa kemanusiaan. Dan pada akhirnya kita saling membunuh!" sela Jack yang sudah berbaring di lantai.
Membayangkannya saja membuat mereka sangat takut. Berarti, kedepannya bukan cuman zombie yang harus diwaspadai, tapi mereka sesama manusia.
"Jadi mulai sekarang, kita harus pergi mencari perbekalan untuk ditimbun!" Dokter William sudah menebak, seperti apa kondisi di masa depan.
Yang mereka lihat hari ini barulah permulaan, orang-orang yang mereka temui ditengah jalan belum memperlihatkan rasa waspada.
"Besok saja! Hari ini aku ingin istirahat!" Ruby beranjak untuk pergi mandi mumpung air masih mengalir. "Tapi, kalau Kak Wiliam mau keluar, jangan pergi jauh-jauh!"
"Hmm baiklah. Kalian semua istirahat saja, aku nggak bakalan lama!" kata Dokter Wiliam. Dia masih bertenaga, karena hanya membunuh beberapa zombie saja.
Ruby meminta bantuan wanita itu, dia tetangga Ruby yang bernama Jen. Dia sudah mengambil semua baju anaknya yang masih layak pakai, sehingga ketiga anak kecil itu bisa berganti pakaian.
Sedangkan Dokter Wiliam pergi bersama dengan Jack. Mereka cuman pergi ke pusat perbelanjaan yang paling dekat, karena mereka juga khawatir meninggalkan rumah tanpa ada seorang pria dewasa.
Setelah mandi, Ruby dan Manda menyiapkan makanan yang tidak terlalu mencolok. Mereka belum tahu, bagaimana reaksi para zombie jika mencium bau makanan.!
Mereka tidak berani bertindak gegabah, apalagi erangan zombie sudah terdengar kembali di luar sana.
Pada akhirnya, mereka menyiapkan roti dengan selai. Ada juga beberapa makanan yang perlu direbus.
"Tante Jen. Telur dan Ubinya direbus saja, baunya juga nggak sampai keluar!" pinta Ruby. Takutnya Mohan dan yang lainnya datang dikondisi perut yang kosong.
***
Di sisi Jack dan Dokter Wiliam, keduanya sudah tiba di Minimarket terdekat. Ternyata ada beberapa orang yang juga ingin masuk ke dalam.
"Bang! Kita jangan langsung ke sana!" kata Jack sambil menarik tangan Dokter Wiliam untuk segera bersembunyi.
"Ada apa?" tanya Dokter Wiliam dengan bingung. Bukankah mereka juga ingin masuk untuk mengambil perbekalan.
"Kita lihat kondisinya dulu,!" balasnya dengan wajah serius. "Kita nggak tahu, apa yang mereka sudah rencanakan.!"
Dokter Wiliam hanya bisa menurut dengan patuh. Dari pengamatan, ada dua kelompok yang berbeda ingin masuk ke dalam minimarket.
Tapi di dalam minimarket ternyata ada banyak zombie, kedua kelompok itu sedang berunding untuk bekerja sama. Kelompok satu melawan para zombie, dan kelompok yang lainnya mengambil persediaan.
"Aku nggak setuju! Bagaimana kalau kalian berkhianat!" salah satu dari kelompok pertama langsung menolak usulan tersebut.
"Haaahh baiklah.. Jika kalian tidak setuju, kita kerja masing-masing saja!" balas dari kelompok kedua.
Pada akhirnya mereka semua masuk kedalam minimarket secara bersama-sama untuk melawan zombie.
Grrr-Khhh....
Grrr-Khhh....
Grrr-Khhh....
Clas... Jleb.... krek.... krak....
Keributan itu menyita perhatian para zombie yang ada diluar. Mereka berjalan mencari sumber suara.
Grrr-Khhh....
Orang-orang yang ada di dalam tidak menyadarinya. Mereka hanya fokus membunuh zombie dan mengambil perbekalan.
"Astaga... Zombie-zombie itu mengepung minimarketnya. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Dokter Wiliam.
"Bang! Menurutmu sendiri apa yang harus kita lakukan?" Jack bertanya balik. Dia masih lelah, belum punya tenaga untuk melawan para zombie itu.
Dokter Wiliam terdiam. Disisi lain dia ingin membantu, tapi dia juga sadar, jika cuman mereka berdua, mereka pasti kewalahan.
"Kita pergi saja!" kata Jack.
"Kita benar-benar pergi?" Dokter Wiliam merasa tidak tega melihat orang-orang itu mati begitu saja di dalam sana.
"Bang! Jujur saja, aku nggak bakalan bisa membunuh semua zombie itu!" kata Jack sambil berjalan pergi.
Dokter Wiliam juga tidak bisa berbuat apa-apa, sebelum menjauh dia masih sempat menoleh dan melihat zombie-zombie itu berhasil menjebol pintu kaca.
Dokter Wiliam benar-benar merasa sangat bersalah, dirinya yang seorang Dokter mana tega melihat orang mati begitu saja.
Jack tersenyum melihat Dokter Wiliam yang terus diam. "Bang! Dunia sudah berubah. Jangan merasa bersalah karena nggak bisa bantu mereka.!"
"Ya. Semuanya telah berubah!" balasnya dengan hati yang hancur. Nyawa manusia tidak lagi berharga, peradaban akan berubah total. Siapa yang kuat, dialah pemenangnya.
...----------------...
Setelah pulang, Dokter Wiliam menceritakan semua apa yang dia lihat kepada mereka semua. Dirinya masih terus kepikiran dengan nasib orang-orang yang ada di dalam sana.
Ruby mengerti ke khawatirannya, dirinya saja jika punya kekuatan, pasti akan menyelamatkan mereka. Tapi mereka hanyalah manusia biasa yang harus bertahan hidup di dunia yang kacau.
"Kak Wili. Jangan terus dipikirkan! Kedepannya, pasti sering terjadi. Atau kemungkinan besar, kita di posisi mereka, kita hanya bisa berjuang sekuat tenaga untuk selamat, tanpa berharap bantuan orang lain!"
Dokter Wiliam mengangguk mengerti, dia pasti berusaha meyakinkan hatinya, jika dirinya tidak bersalah atas kematian mereka.
Manda meminta mereka berdua segera mandi dan makan. Agar mereka bisa beristirahat lebih awal.
***
Di malam hari, mereka berkumpul di ruang tengah untuk tidur bersama. Tidak ada yang mau tidur di kamar. Kebetulan ruangannya luas dan kosong.
"Kalian benar-benar nggak ada yang mau tidur di dalam kamar?" tanya Ruby sambil menatap mereka yang sudah menggelar karpet bulu.
"Kak Ruby! Kami tidur di sana saja!" suara gadis kecil itu terdengar sudah mulia ceria kembali.
"Benar. Kami mau tidur bersama!" Tisa juga sudah mulai menerima, jika ibunya bukan lagi manusia.
Ruby tersenyum melihat mereka sudah mulai berdamai dengan keadaan. "Oh baiklah. Tidur bersama, memang sangatlah menyenangkan.! Lalu kalian berdua?" tanyanya pada pasutri.
"Heheh kami juga tidur di sini. Tenang saja, kalian nggak bakalan dengar suara yang aneh-aneh!" Balas Manda yang sudah berbaring di samping anak-anak. Dia merindukan Sila, entah bagaimana kondisi mereka di perkebunan.
"Hmm baguslah..! Tapi kalau kalian nggak tahan, langsung ke kamar saja!" Kata Ruby dan segera pergi sebelum terkena amukan. Dia dan Jack yang berjaga pertama.
"RUBY TUTUP MULUTmuuuuu...!"
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka