Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

​Ruang Kepala Sekolah SMA Garuda jauh lebih besar dan ber-AC dingin dibandingkan ruang BK. Di salah satu dindingnya terdapat sebuah papan tulis putih (whiteboard) besar yang penuh dengan grafik kehadiran siswa dan jadwal rapat guru. ​Pak Surya duduk di kursi kulitnya, sementara Bella duduk di seberang meja. Tidak ada aura permusuhan di ruangan ini, hanya rasa penasaran yang mendalam dari seorang pemimpin institusi.

​"Jadi, Bella," Pak Surya memulai, menyilangkan jari-jarinya di atas meja. "Saya telah mengamati kelasmu akhir-akhir ini. Kamu tidak lagi mewarnai rambutmu, tidak lagi membolos, dan nilai harian kelompokmu tiba-tiba meroket. Bu Ratna mencurigai kamu menggunakan metode ilegal atau ancaman untuk memaksa teman-temanmu. Tapi saya ingin mendengar langsung dari sumbernya. Apa yang sebenarnya sedang kamu kerjakan?"

​Bella menyadari bahwa ini adalah momen krusial. Pak Surya bukanlah musuh, akan tetapi beliau adalah Top Management (Manajemen Puncak). Jika Bella bisa memenangkan dukungan Pak Surya, restrukturisasi sekolah yang lebih luas bisa dilakukan dengan dukungan eksekutif penuh.

​"Bapak Surya," Bella memulai dengan nada yang lebih hangat namun tetap profesional. "Saya tidak menggunakan ancaman fisik maupun sekte ilegal. Saya sekadar mengimplementasikan prinsip-prinsip Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dasar kepada rekan-rekan saya."

​Pak Surya menaikkan sebelah alisnya. "Manajemen SDM? Kamu belajar itu dari mana? Dari perusahaan ayahmu?"

​"Mari kita sebut saja itu sebagai pencerahan otodidak," Bella mengelak dengan mulus. "Pak Surya, apakah Bapak keberatan jika saya menggunakan papan tulis Bapak sebentar? Saya ingin mempresentasikan analisis saya mengenai mengapa sistem kedisiplinan di SMA Garuda selama ini tidak berjalan efektif."

​Kepala sekolah itu tampak terkejut atas permintaan yang sangat tidak lazim dari seorang siswi, namun rasa penasarannya mengalahkan egonya. Ia mengangguk dan memberikan spidol kepada Bella.

​Bella berdiri, berjalan ke papan tulis, dan menghapus sebagian jadwal lama. Dengan gerakan tangan yang cepat dan presisi, ia menggambar sebuah diagram tulang ikan (Fishbone Diagram / Ishikawa Diagram). Di ujung kanan, di bagian "Kepala Ikan", ia menuliskan masalah utama: TINGKAT KEDISIPLINAN DAN PRESTASI SISWA RENDAH.

​Kemudian, ia menarik garis-garis diagonal sebagai "tulang" dan menuliskan faktor-faktor utamanya: Man (Manusia), Method (Metode), Machine (Fasilitas), dan Measurement (Pengukuran).

​Pak Surya memajukan tubuhnya, menatap papan tulis itu dengan kekaguman yang mulai tumbuh. Ia pernah melihat diagram semacam ini saat mengikuti seminar manajemen pendidikan beberapa tahun lalu.

​"Berdasarkan Root Cause Analysis (Analisis Akar Masalah) yang saya lakukan selama minggu lalu," Bella menunjuk tulang berlabel Method, "Sistem kedisiplinan sekolah ini mengandalkan pendekatan Punitive (Hukuman) murni, bukan Preventive (Pencegahan) atau Developmental (Pembinaan). Saat seorang siswa terlambat, mereka dijemur. Apakah itu menyelesaikan masalah mengapa mereka terlambat? Tidak. Itu hanya memberikan kelelahan fisik yang menurunkan konsentrasi belajar mereka di jam berikutnya."

​Bella lalu menunjuk tulang berlabel Measurement. "Pengukuran kinerja siswa juga hanya berfokus pada hasil akhir (nilai ujian), tanpa menghargai proses kemajuan (progres). Tidak ada reward system (sistem penghargaan) untuk perbaikan perilaku. Itulah sebabnya Geng Bone Breakerz saya dulu tidak pernah mau berubah, karena mereka merasa sudah dicap sebagai sampah, jadi untuk apa repot-repot menjadi emas?"

​Ruangan itu hening total, hanya terdengar dengungan AC. Pak Surya menatap siswi di depannya dengan mulut sedikit terbuka. Ia tidak sedang berbicara dengan seorang berandal remaja, ia merasa sedang diaudit oleh seorang Konsultan Manajemen Bisnis lulusan universitas terkemuka.

​"Lalu... apa yang kamu lakukan pada kelompokmu?" tanya Pak Surya, suaranya kini mencerminkan rasa hormat yang tidak disadari.

​"Saya mengubah sistem pengukurannya, Pak," Bella berbalik, menatap Pak Surya. "Saya menetapkan KPI. Saya memberikan sistem bonus transparan bagi mereka yang mematuhi aturan operasional, saya mengidentifikasi soft skill mereka dan memberi mereka tanggung jawab (Job Description). Saya memperlakukan mereka seperti aset yang berharga, bukan liabilitas (beban). Dan seperti yang Bapak lihat dari data absensi, metode ini membuahkan hasil 100% dalam waktu kurang dari satu bulan."

​Pak Surya mengusap dagunya, mencerna presentasi brutal namun sangat akurat itu. Institusi sekolahnya memang terjebak dalam birokrasi dan cara-cara lama.

​"Bella, analisis ini sungguh luar biasa. Saya hampir tidak percaya ini keluar dari pemikiran seorang anak kelas sebelas," kata Pak Surya, masih terpana. "Lalu, apa ekspektasimu sekarang? Apa yang kamu inginkan dari sekolah?"

​"Saya hanya meminta Otonomi Terbatas," jawab Bella langsung ke pokok masalah. "Selama kelompok saya dapat mempertahankan KPI akademis dan tidak melanggar aturan sekolah secara fisik, saya meminta manajemen sekolah terutama Bu Ratna untuk berhenti melakukan investigasi tak berdasar (Sidak yang tidak perlu) yang mengganggu jam operasional kami. Biarkan saya yang mengurus pembinaan internal kelompok saya."

​Pak Surya tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, ia melihat secercah harapan untuk mengubah sekolah ini menjadi lebih baik.

​"Disetujui," kata Pak Surya mantap. "Saya akan memberikan instruksi kepada Bu Ratna untuk memberimu ruang gerak. Tapi ingat, Bella, dengan otonomi datang akuntabilitas. Jika anggotamu membuat kekacauan, saya akan meminta pertanggungjawabanmu secara penuh sebagai manajer mereka."

​"Saya tidak akan menerima tanggung jawab ini jika saya tidak siap dengan risikonya, Pak," balas Bella sambil tersenyum tipis, senyuman korporat yang dingin namun meyakinkan. "Terima kasih atas waktunya. Saya pamit kembali ke kelas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!