Indonesia
NovelToon NovelToon
Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bonggiw01

Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!

Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.

ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

“Kak, mereka mengikuti kita… bagaimana ini, kak... aku takut… mereka mengikuti kita sampai ke luar kota!” bisik Luna dengan suara bergetar, matanya terus melirik ke belakang. 

Dari kejauhan, lima pendekar berjalan santai mengikuti nya. mata mereka Terus tertuju pada Luna yang sangat cantik.

“Luna, kamu harus tenang, aku akan membereskan mereka, kau harus memperhatikan apa yang akan aku lakukan..."

“Tapi Kak… mereka banyak! Mereka semua pendekar dari salah satu perguruan pedang! Sebaiknya kita lari saja! Ini berbahaya” suara Luna nyaris pecah, rasa panik menguasainya.

Ryan menghentikan langkah ketika mereka sudah berada di padang rumput yang cukup jauh dari gerbang kota. “Sepertinya di sini sudah cukup jauh dari kota.” 

Ia berbalik menghadap para pengejarnya.

 “Ho… kau memilih tempat yang bagus untuk mati, Bocah.”

“Benar. Tidak kusangka kau begitu pengertian memilih tempat eksekusi mu sendiri.” timpal yang lain sambil memainkan pedangnya.

“Kau sudah selesai berpura-pura kuat? Atau kau mau berpura-pura sampai mati? Hahaha…” ejek salah satu dari mereka.

“Jika kau bersujud sekarang, mungkin kami akan mengampuni nyawa mu,” kata yang berwajah bengis, senyum sinisnya memamerkan gigi kuningnya.

Ryan tidak menanggapi ejekan itu.

“Luna, mundur sedikit.” 

Meski ketakutan, Luna mengikuti perintah kakaknya dan melangkah ke belakang.

SREEENG!

Kelima pendekar itu serentak mencabut pedang mereka dan mengarahkan nya pada Ryan.

“Kau ingin melawan kami berlima sekaligus? Hahaha… aku suka kepercayaan dirimu!”

"Kurasa dia bukan percaya diri. Tapi dia hanya anak bodoh yang tidak tahu situasi"

“Sudah cukup bicara nya, Ayo kita potong-potong tubuh dia” ucap salah satu sambil menyeringai.

Kelimanya saling menatap sebelum mereka mengangguk.

WUUUSSSH!

Tanpa aba-aba, mereka bergerak sangat cepat dan menyerang Ryan bersamaan, ayunan pedang datang dari segala arah, membelah udara.

Namun…

SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!

Suara daging terpotong terdengar sepersekian detik. 

Gerakan Ryan terlalu cepat untuk diikuti mata. 

TAK!!

Bahkan katana nya sudah kembali ke dalam sarung.

Detik berikutnya…

BYUUUR! BYUR! BYUR!

Darah muncrat liar ke udara. 

Tangan, kaki, dan leher mereka terpotong dalam satu gerakan bersih. 

Brug! Brug! Brug!

Tubuh-tubuh itu ambruk ke tanah, beberapa sudah tak bernyawa, sementara satu pria masih hidup, meski kedua tangan dan kakinya telah lenyap.

Luna terkejut mundur, wajahnya pucat. 

Tangannya menutup mulut, napasnya tersengal. 'Ini… ini pertama kalinya aku melihat orang dibunuh… seperti ini!' pikirnya, ngeri.

“AAAAAGGRRHHH!! BAJINGAN!! TANGANKU!! KAKIKU!! BAGAIMANA INI BISA TERJADI?! KAU MEMOTONG SEMUA NYA, BANGSAT!” jerit pria yang tersisa, darah mengalir deras membasahi tanah.

Ryan menoleh ke Luna. “Luna, kemari.”

Luna menggeleng cepat, air mata mulai membasahi pipinya. “T-tidak, Kak… a-aku takut…” suaranya lirih dan bergetar.

“Luna, kamu adalah keturunan Clan Kabut Dingin. Darah pendekar pedang kuat mengalir di tubuhmu,” kata Ryan, nadanya tetap tenang.

“Aku… aku takut, Kak… ini menyeramkan sekali…” Luna memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar hebat.

“Aku tahu kau takut. Tapi dunia ini penuh dengan orang jahat seperti mereka. Jika kau tidak menjadi kuat… maka mereka yang akan melukaimu,” ucap Ryan.

Pria yang tergeletak di tanah menjerit lagi, kali ini suaranya lebih lemah namun penuh rasa sakit. 

“SIAL!! BUNUH AKU!! TOLONG!! INI TERLALU MENYAKITKAN! BUNUH AKU SEKARANG!”

Ryan menatap Luna lagi. “Kemari.”

Dengan langkah ragu, Luna maju perlahan, seakan setiap meter mendekati Ryan membuat napasnya semakin sesak.

“Pegang pedang ini,” Ryan memberikan salah satu pedang milik pendekar yang tewas.

Luna menatap bilah pedang itu, lalu menatap Ryan. “Kak… aku takut…”

“Aku tahu kau pasti bisa. Kau adikku,” jawab Ryan dengan nada tegas.

Dengan tangan gemetar, Luna menggenggam pedang itu. Beratnya terasa berkali lipat di tangannya.

“Sekarang… bunuh dia,” kata Ryan, nadanya datar.

Luna terbelalak. “Ti-tidak, Kak! Aku tidak bisa!”

“Kamu bisa, Luna. Ini hanya langkah pertama,” Ryan mencoba meyakinkan.

Luna memandang pria yang terkapar. Matanya melihat darah yang terus memancar dari luka di tubuhnya. 

Aroma anyir memenuhi hidungnya.

“Bunuh aku… aku mohon… bunuh aku…” suara pria itu kini penuh memohon.

"Cepat lakukan" ucap Ryan.

Luna menangis, air matanya jatuh di bilah pedang.

"AAAAAAaaaaaaaa...!"

Namun akhirnya, dengan satu teriakan putus asa…

SRAAAAAK!

Pedang itu menembus dada pria itu. 

Napas terakhirnya keluar dalam hembusan lemah, lalu tubuhnya terkulai.

Luna menatap tangannya, lalu tubuh pria itu, lalu kembali ke pedang. “A-aku… baru saja… membunuh orang… Ti-tidak… ini tidak mungkin…”

Ryan menepuk pundak Luna. “Bagus. Langkah pertama memang selalu sulit. Tapi nanti selanjutnya akan terasa lebih mudah.”

Luna menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Apa ini… benar, Kak? Aku takut…”

“Mereka orang jahat, Luna. Dan orang jahat pantas mendapatkan itu,” jawab Ryan sambil menariknya ke dalam pelukan, menenangkan getaran di tubuh adiknya.

Di balik pelukan itu, Ryan tahu, ini adalah awal. 

'Dia harus belajar menjadi lebih kuat. Dunia ini tidak akan pernah baik bagi siapapun yang lemah'

------------

Sementara itu, di waktu bersamaan... sepuluh penjaga Clan Taring Naga tiba di lokasi pembantaian. 

Bau darah menyengat menusuk hidung mereka, bercampur aroma tanah basah yang lengket oleh cairan merah pekat. 

Tubuh-tubuh yang terpotong berserakan, matanya terbuka lebar seperti belum menerima kenyataan bahwa nyawa mereka telah diambil.

Hendrik, pemimpin regu itu, berdiri di tengah para mayat.

 “Sial… Kita terlalu meremehkan Kultus Iblis. Tidak kusangka Gilbert akan kalah dan tewas seperti ini.”

Seorang pendekar lain menelan ludah, ngeri melihat potongan tubuh yang tak beraturan. “Tuan… siapa yang mampu melakukan ini pada Mereka?”

Hendrik mengepalkan tangan. “Sepertinya benar kata Tetua Qiwel… Lulusan Kultus Iblis memang anak-anak berbahaya, dan mereka tidak bisa di biarkan berkeliaran begitu saja!” Matanya menyipit, menatap arah hutan.

“Apa yang harus kita lakukan Tuan?” tanya salah satu bawahannya.

“Segera kirimkan laporan ini pada Tetua Qiwel. Dan kalian...” ia menunjuk setengah dari pasukannya, “ikuti aku. Kita akan memburu pelakunya. Prajurit Kultus Iblis itu harus dimusnahkan… sebelum mereka membuat kekacauan lebih besar.”

“Siap!” seru para penjaga.

WUUUSSH!

Tanpa membuang waktu, Hendrik dan timnya melesat mengejar jejak Ryan.

--------------

Di sisi lain, di jalan setapak menuju perbukitan, seekor gagak hitam melayang di udara.

KOAK! KOAK!

Burung itu turun, mendarat dengan presisi di bahu Ryan.

Ryan meliriknya sekilas. 'Ada misi dari komandan Risman? Apa yang dia inginkan dari ku?' pikirnya.

Ia mengambil gulungan kecil yang terikat di kaki gagak itu.

Ia membuka dan membaca cepat.

(“Aku menemukan petunjuk. Pengkhianat itu mengirim informasi pada Clan Taring Naga. Mereka kini mengetahui identitasmu, Ryan. Kabar baiknya, hanya Clan cabang yang tahu. Ryan, satu-satunya cara memastikan identitasmu tetap aman… adalah dengan membantai semua orang di sana. Jangan biarkan satu pun hidup.”) Pesan dari komandan Risman.

Ryan menggulung kembali surat itu, tatapannya berubah dingin. 'Jadi hanya cabang saja yang tahu… dan aku harus menghapus mereka semua agar informasi ini tidak bocor ke anggota Clan pusat...'

Ia melirik ke arah Luna yang berjalan di sisinya, 'Aku harus menitipkan Luna pada Bella… dan meminta bantuan beberapa orang agar tak ada yang kabur saat pembantaian.'

Dengan cepat, ia menulis balasan singkat, mengikatkan kertas itu kembali ke kaki gagak.

KOAK! KOAK!

Gagak itu terbang tinggi, meninggalkan mereka, mengecil menjadi titik hitam di langit sore.

Ryan menoleh ke Luna. “Luna, ayo kita kembali ke Kota Thora.”

“Kenapa, Kak? Apa kita akan beristirahat sebentar di sana?” tanya Luna heran.

“Kamu harus mulai berlatih menggunakan pedang. Dan untuk sementara… aku akan menitipkanmu.”

“Dititipkan? Pada siapa?” Luna mengerutkan dahi.

“Pada seorang teman.”

"Apa kakak Serius mau nitipin aku ke temen kakak? Gimana kalo temen kakak macam-macam pada ku?"

"Jangan khawatir, dia seorang wanita"

Luna menatap kakaknya tak percaya. “Kakak punya teman cewek? Kok aku gak tahu?”

Ryan tersenyum tipis. “Kamu akan tahu setelah bertemu dia.”

Tanpa menambah penjelasan, Ryan melanjutkan langkah. 

 ia sudah memikirkan cara paling efisien untuk memusnahkan cabang Clan Taring Naga tanpa memberi mereka kesempatan melarikan diri.

1
Endi Tu Endy
dari awal lagi kah
Terserah
gass thor 🍻
V.MaryGrace
lanjut thorr
Terserah
ninggalin jejak dulu
Ed Troivan
update terus💪👍
The Rizki: kenalan yuk
total 1 replies
Ed Troivan
Lumayan ceritanya thorku 💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
xebeck D ron
awal lagi nih?
ZAHRANI
keren mantap jiwa thor👍👍
Heroik gg
katanya season 2 bang kok balik season 1
Anonim
👍
Betesyon Betesyon
ini cerita nya di mulai dari awal lagi kah?
RR
lagi pindahan atau lagi tes ombak nih bang😁, semangat terus pokonya dahh
ZAHRANI: bang jangan sampek hiatus😭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!