Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam sebelum Festival Desa digelar, suasana di sekitar area bukit dekat panggung utama tampak hening dan pekat. Namun di balik kegelapan itu, pergerakan berbahaya sedang berlangsung.
Srek... srek...
Tiga anggota tim eksekutor musuh merayap pelan di antara semak-semak, bersiap menanam pengacau sinyal dan mengecek jalur pelarian.
Pip! Pip!
"Aman gak, Bro? Periksa lagi posisinya, jangan sampe salah," bisik salah satu anggota musuh sambil menatap layar gawai di tangannya.
Pria di sebelahnya mengangguk seraya memegang walkie-talkie. "Aman, tenang aja. Besok lusa tinggal bikin rusuh, terus culik istrinya . Gak bakal ada yang tahu ini sih."
Sebelum mereka sempat melanjutkan obrolan, sebuah bayangan meluncur dari atas dahan pohon tanpa menimbulkan suara gesekan daun sedikit pun.
Wosh... Srett!
Arka mendarat tepat di belakang pria pertama. Sebelum si musuh sempat menoleh, jemari Arka yang kokoh sudah mengunci rahang dan lehernya, lalu menekan titik saraf utama di leher belakang.
Buk!
Pria itu langsung terkulai lemas tanpa sempat bersuara.
Dua anggota musuh sisanya yang menyadari rekannya mendadak roboh langsung terperanjat kaget.
"Hebat sekalit! Siapa itu?!" umpat musuh kedua panik sambil berusaha mencabut senjata dari balik jaketnya.
Brak!
Belum sempat pistol itu tertarik keluar, Arka sudah merangsek maju. Gerakannya begitu cepat dan presisi.
Krak!
Satu tendangan tajam mendarat di lutut musuh kedua hingga terdengar bunyi gemeretak halus, disusul cengkeraman kuat pada pergelangan tangan musuh ketiga yang memaksa senjatanya jatuh ke tanah.
Tuk!
"Diam, atau mati sekarang di sini," bisik Arka dingin dengan tatapan mata membunuh.
Pria itu gemetaran, napasnya tertahan karena cengkeraman Arka di lehernya begitu kuat. Sebelum ia sempat berteriak, satu pukulan telak Arka ke titik vital dada langsung menyapu bersih kesadarannya.
Srek... srek...
Dari balik kegelapan semak-semak, Lingga muncul bersama beberapa anggota The White Dragon.
"Bawa mereka semua ke markas bawah tanah. Buka mulut mereka untuk memastikan tidak ada tim cadangan lain," perintah Arka dingin.
"Siap, Bos!" sahut Lingga seraya memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyeret ketiga musuh yang sudah pingsan.
Ctek!
Arka memungut pistol yang jatuh di tanah, melepas magazinnya dengan satu gerakan terampil, lalu menyapu pandangan ke sekeliling area bukit yang kembali sunyi.
"Ingat aturan utamanya," bisik Arka pelan pada Lingga. "Besok tempat ini harus bersih total. Kinanti cuma boleh melihat keceriaan festival, bukan jejak pembantaian."
Suara langkah kaki Lingga dan anak buahnya perlahan memudar ditelan pekatnya malam. Area bukit di belakang panggung festival kembali diselimuti kesunyian. Hanya ada desir angin malam yang meniup dedaunan pinus dan derik jangkrik yang bersahut-sahutan.
Arka berdiri bergeming selama beberapa saat. Matanya yang tajam menyapu setiap jengkal tanah di sekitarnya. Dengan teliti, ia memastikan tidak ada jejak perkelahian yang tertinggal. Senjata yang berhasil ia sita dimasukkan ke dalam kantong kain hitam, lalu disembunyikan di bawah perakaran pohon tua yang rimbun. Tidak boleh ada satu pun benda asing yang memicu kecurigaan warga desa esok hari.
Ssshh...
Arka mengembuskan napas panjang. Aura membunuh yang tadinya memancar begitu pekat perlahan menyurut, menguap bersama dinginnya malam. Raut wajahnya yang keras bertransisi kembali menjadi tenang. Ia meraba celana kainnya, memastikan tidak ada percikan darah atau kotoran tanah yang mencolok.
Srek... srek...
Dengan langkah ringan tanpa suara, Arka berjalan meninggalkan bukit menuju rumah bambunya.
Sesampainya di halaman depan, Arka tak langsung masuk. Ia berhenti di dekat gentong air samping rumah. Dipayungi cahaya bulan yang temaram, Arka membasuh tangan dan wajahnya hingga bersih. Air dingin yang membasahi kulitnya seolah membasuh sisa-sisa kegelapan dari dalam dirinya. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan air gentong pantulan seorang pria yang pernah ditakuti di dunia bawah, kini bertaruh nyawa demi menjaga kebahagiaan sederhana bersama Istrinya.
Krieeet...
Arka mendorong pintu rumah pelan-pelan agar tak menimbulkan suara bising. Di dalam kamar yang remang, Kinanti tampak tertidur lelap di atas dipan kayu. Selimut tipis menutupi badannya, sementara napasnya teratur dan tenang. Wajah cantiknya terlihat begitu damai dalam lelap.
Arka menyunggingkan senyum tipis. Rasa lelah dan ketegangan yang sempat menguras tenaganya mendadak sirna begitu saja. Ia melangkah mendekati , merapikan pinggiran selimut Kinanti, lalu meraba lembut puncak kepala istrinya.
"Mas bakal lindungi kamu," bisik Arka amat pelan, hampir tak terdengar. "Nggak bakal ada satu orang pun yang bisa ngerusak kebahagiaan kita."
Ayam jantan berkokok bersahut-sahutan menandakan fajar telah menyingsing. Sinar matahari pagi menembus celah-celah dinding bambu, membawa hangat yang mengusir dinginnya embun malam.
Kliang! Kliang!
Suara benturan katel dan adukan bumbu dari arah dapur membangunkan Kinanti. Wanita itu mengucek matanya pelan, mendapati sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong.
"Mas Arka...?" panggil Kinanti luyu sambil menguap.
Ia bangkit dari dipan, merapikan kain sarungnya, lalu berjalan menuju dapur. Di sana, ia melihat suaminya sudah rapi mengenakan kemeja kotak-kotak lusuh dan celemek kesayangannya. Arka sedang sibuk memotong adonan cilok yang baru saja matang di atas talenan kayu.
"Loh, Mas? Kok udah bangun dari subuh?" tanya Kinanti kaget, melihat dandang besar dan persediaan bumbu kacang yang sudah siap rapi.
Arka menoleh, melemparkan senyum paling manis yang ia miliki. "Selamat pagi, Istriku. Biar nggak terburu-buru, Sayang. Hari ini festival kan ramai banget, Mas mau pastikan stok cilok kita cukup buat semua warga desa."
Kinanti berjalan mendekat, menempelkan telapak tangannya ke dahi Arka. "Mas nggak capek? Kemarin kan udah seharian keliling belanja bahan."
Deg.
Arka terkekeh pelan, menggenggam tangan hangat Kinanti di dahinya lalu mencium telapak tangan itu lembut. "Mana ada capek kalau liat kamu tersenyum terus. Lagian, Mas semangat banget mau jualan bareng kamu hari ini."
Pipi Kinanti langsung merona merah. Ia menarik tangannya pelan karena malu, meski senyum bahagia tak bisa disembunyikan dari bibirnya. "Mas Arka mah biasa banget bikin gombalan pagi-pagi."
"Iya dong, kan biar semangat kerjanya," sahut Arka terkekeh. "Udah, kamu mandi dulu sana. Nanti kita berangkat bareng ke panggung utama."
Dari balik jendela dapur, Arka menatap langit pagi yang cerah. Di dalam hatinya, ia menyiagakan seluruh indranya. Panggung festival desa siap menjadi arena, dan Arka sudah memosisikan dirinya sebagai perisai tak terlihat untuk wanita yang paling dicintainya.