Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Bab 1

Aromanya selalu sama setiap pagi di rumah mungil yang terletak di ujung gang ini: perpaduan bumbu kacang yang gurih, uap adonan yang mengepul dari dandang, dan wangi sabun mandi yang menempel di tubuh Arka.

​Kinanti merapikan kemeja kerjanya di depan cermin kecil kamar, sembari memperhatikan suaminya yang sibuk memotong tahu di meja dapur. Dari belakang, Arka tampak seperti pria biasa pada umumnya mengenakan kaus oblong abu-abu yang sedikit kusam dan celana bahan yang longgar. Tidak ada yang akan menyangka, pria yang selalu tersenyum manis dan tidak pernah bersuara keras ini menghabiskan harinya di jalanan dengan mendorong gerobak kayu.

​"Mas, nanti mangkal di depan SMA Nusantara kaya biasa?" tanya Kinanti seraya mendekat dan membantu menata piring di meja makan.

​Arka menoleh, mengukir senyum hangat yang selalu berhasil membuat hati Kinanti tenang dan merasa aman. "Iya, Kin. Jam istirahat anak-anak biasanya ramai. Lumayan, uang hasil jualan minggu ini bisa buat nambah-nambah tabungan kita, sekalian beli vitamin buat kamu."

​Arka kemudian berbalik hendak mengambil mangkuk kaca berisi kuah bumbu. Namun, gerakan Kinanti yang agak terburu-buru membuat tangannya tidak sengaja menyenggol pisau dapur berukuran besar di tepi meja. Pisau tajam itu meluncur jatuh mengarah tepat ke kaki Kinanti yang bertelanjang.

​Sebelum Kinanti sempat berteriak kaget, dengan kecepatan yang hampir tak terkejar oleh mata manusia biasa, tangan Arka melesat ke bawah. Dia menyambar gagang pisau itu tepat satu sentimeter sebelum mata pisau menyentuh kulit kaki istrinya.

​Kinanti berkedip beberapa kali, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap pisau di tangan Arka, lalu beralih menatap wajah suaminya yang masih tampak santai.

​"Mas Arka... refleksnya kok bisa cepat banget?" tanya Kinanti dengan nada heran.

​Arka terkekeh pelan, memasukkan kembali pisau itu ke dalam rak kayu dengan wajah tanpa dosa. "Tiap hari ngaduk adonan kenyal puluhan kilo sama motong tahu ribuan kali, Kin. Kalau tangan Mas nggak lincah, bisa-bisa jari Mas sudah putus dari dulu."

​Kinanti tersenyum geli mendengar alasan logis itu. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah keluar menuju pintu depan, Kinanti mendadak menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada bahu kanan Arka. Kaus oblong abu-abu yang dikenakan suaminya sedikit tersingkap, memperlihatkan goresan panjang berwarna samar di dekat lehernya.

​Kinanti berbalik, berjalan mendekat dengan raut wajah cemas. Tangannya terulur mengusap lembut kulit di sekitar bekas luka tersebut.

​"Mas... bekas luka yang ini makin kelihatan jelas," gumam Kinanti pelan, menatap suaminya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Setiap kali lihat luka-luka di tubuh Mas Arka, aku suka merasa gagal jadi istri."

​Arka memegang tangan Kinanti yang berada di bahunya, lalu mengusap punggung tangan istrinya itu dengan jempolnya. Senyum hangatnya kembali terkembang, menutupi fakta bahwa luka itu adalah bekas sabetan pisau komando saat ia bertarung mati-matian melawan belasan pembunuh bayaran beberapa tahun lalu.

​"Kok ngomongnya gitu, Kin? Nggak ada yang gagal," bisik Arka lembut.

​"Ya habisnya... Mas Arka bilang luka-luka ini karena dulu sering kena ledakan kompor, ketumpahan minyak panas, sama kena kawat pas kerja serabutan sebelum ketemu aku," Kinanti menunduk, menggigit bibir bawahnya. "Mas Arka kerja keras banget dari dulu sampai tubuhnya penuh banyak luka gini. Sementara aku belum bisa ngasih kehidupan yang lumayan buat Mas."

​Hati Arka tersentuh. Wanita di depannya ini begitu polos dan tulus. Kinanti tidak pernah tahu bahwa sebelum mengenalnya, tangan Arka tidak pernah menggenggam spatula atau pisau dapur melainkan senjata api, pisau lempar, dan memegang kendali atas bisnis haram bernilai jutaan dolar. Kinanti juga tidak tahu bahwa Arka rela meninggalkan semua kekayaan dan kekuasaan megah itu, berpura-pura menjadi rakyat jelata yang miskin, hanya agar bisa hidup berdampingan dengan Kinanti tanpa menyeret wanita itu ke dalam bahaya.

​Bagi Arka, hidup dalam kemiskinan dan mendorong gerobak kayu setiap hari jauh lebih berharga daripada hidup di dalam istana mewah yang bergelimang darah maupun uang.

​Arka merengkuh kedua pipi Kinanti, menatap langsung ke dalam manik mata istrinya. "Dengar ya, Kin. Hidup sama kamu itu sudah lebih dari cukup buat Mas. Mas nggak butuh kemewahan. Bisa nyiapin sarapan buat kamu tiap pagi dan liat kamu tersenyum kaya gini, itu sudah jadi kebahagiaan terbesar Mas."

​Mata Kinanti berkaca-kaca mendapat perlakuan sehangat itu. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka, menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan. "Janji ya, Mas? Jangan pernah paksain diri. Kalau capek jualan, istirahat. Nggak usah mikirin bayar kontrakan atau beli barang-barang mahal."

​"Iya, Mas janji, Sayang," sahut Arka, mengusap lembut rambut panjang Kinanti.

​Setelah momen emosional itu berlalu, Kinanti akhirnya benar-benar pamit. "Aku berangkat dulu ya, Mas. Hati-hati di jalan."

​"Kamu juga hati-hati di jalan ya," balas Arka lembut, mengecup dahi istrinya dengan penuh kehangatan.

​Begitu langkah kaki Kinanti menghilang di balik pintu pagar dan suara angkutan umum menjauh dari ujung gang, senyum manis di wajah Arka perlahan memudar. Binar hangat di matanya berubah mendadak dingin, tajam, dan penuh intrik, seperti mata seekor pemangsa yang siap menerkam.

​Arka mengunci pintu pagar. Raut wajahnya yang tadinya penuh cinta dan kelembutan luntur dalam sekejap. Kehangatan di matanya berganti menjadi kilatan dingin yang mampu membekukan darah siapa pun yang melihatnya.

​Arka berjalan perlahan menuju gerobak ciloknya yang terparkir di halaman samping rumah. Suasana gang yang sepi membuatnya leluasa. Ia berlutut di samping gerobak, meraba bagian bawah kompartemen tempat penyimpanan bumbu dan kayu pelapis.

​Dengan satu dorongan tombol tersembunyi yang amat presisi, papan kayu rahasia bergeser tanpa suara. Di dalam rongga kedap udara itu, tidak ada adonan tepung atau bumbu dapur. Yang ada hanyalah sebuah ponsel berlapis baja khusus serta pistol Glock 19 hitam berperedam suara yang terawat sempurna.

​Ponsel khusus itu mendadak bergetar halus. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Arka mengambil ponsel tersebut dan menempelkannya ke telinga.

​"Tuan Arka," suara teriakan beraksen asing terdengar dari seberang telepon dengan nada panik. "Orang-orang dari klan Red Dragon udah berhasil ngelacak keberadaan tuan di kota ini. Mereka tahu tuan masih hidup dan nyamar"

​Arka memegang gagang pendorong gerobak kayunya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke arah jalanan luar gang.

​"Biarkan mereka mencari," sahut Arka dengan suara yang sangat dalam dan tenang, jauh berbeda dari suara lembut yang ia gunakan saat berbicara dengan Kinanti beberapa menit lalu.

"Tapi ingat satu hal. Siapa pun dari mereka yang berani melangkah masuk ke wilayah ini dan mengganggu ketenangan istriku... kupastikan mereka tidak akan pernah pulang dalam keadaan bernapas."

​Arka mematikan sambungan telepon, mengembalikan senjata dan ponselnya ke tempat tersembunyi, lalu mendorong gerobak kayunya keluar rumah menuju terik matahari. Pria yang ditakuti dunia bawah tanah itu kini siap kembali menjadi tukang cilok biasa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!