Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Pintu besi tebal itu bergeser terbuka dengan suara desis hidrolik yang tertahan. Cahaya berpendar lemah dari belasan monitor tabung usang yang memenuhi ruangan langsung menyiram wajah Ren dan Leo, memantulkan bias kehijauan di dinding beton yang lembap. Udara di dalam ruangan itu terasa panas dan pengap, dipenuhi oleh bau ozon, sirkuit terbakar, dan aroma sisa kopi kaleng murahan yang berserakan di atas meja kerja yang berantakan.
Sebelum Ren sempat menarik napas atau mencabut Rust-Bite Blade dari pinggangnya, sesosok bayangan tiba-tiba melesat keluar dari balik tumpukan server komputer.
Grep!
Sebuah tangan kurus namun cekatan menyambar kerah mantel Ren dan Leo secara bersamaan, lalu menyeret tubuh mereka berdua masuk ke dalam ruangan dengan sentakan bertenaga yang mengejutkan.
Brak!
Pintu besi itu kembali tertutup rapat, mengunci diri secara otomatis tepat sedetik sebelum derap langkah berat sepatu bot baja para anggota patroli The Iron Jackals melintas di luar koridor. Suara gesekan senjata laras panjang dan derit rantai besi terdengar samar-samar melewati dinding, menjauh perlahan seiring berlalunya waktu.
Di dalam ruangan yang remang-remang itu, napas Leo memburu hebat. Ia bersandar pada tumpukan kardus server, dadanya naik turun tak beraturan, sementara matanya melotot lebar menatap sosok yang baru saja menarik mereka.
Sosok itu adalah seorang pemuda seusia mereka, berpostur agak kurus dengan rambut acak-acakan berwarna cokelat debu. Ia mengenakan kacamata berbingkai kawat tebal yang melorot di ujung hidungnya, memantulkan barisan kode program komputer yang bergerak cepat di layar monitor di belakangnya. Pemuda itu mengenakan jaket lab usang dengan lengan yang digulung sampai siku, memperlihatkan kulit pucat dan beberapa goresan luka bakar kecil khas solder listrik di pergelangan tangannya.
Gavin—pemilik ruangan itu—melepaskan cengkeramannya dari kerah baju mereka. Ia mundur dua langkah, mengatur napasnya yang ikut tersenggal, lalu mendorong letak kacamata ke pangkal hidungnya dengan jari telunjuk. Matanya yang tajam dan siaga menatap tajam bergantian ke arah Ren dan Leo.
"Kalian benar-benar bodoh atau memang berniat mati dengan cara yang paling konyol?" bisik Gavin tajam, suaranya bergetar karena amarah dan kepanikan yang tertahan. "Berjalan santai di koridor utama Sektor 7 tanpa penyamaran yang benar, sementara para anjing-anjing Iron Jackals sedang memburu siapa saja yang mencurigakan? Sensor gerak di tangga darurat itu sudah rusak tiga hari lalu, tapi kalau penjaga lantai bawah mendengar suara napas kalian saja, kepala kalian sudah dijadikan pajangan di dinding gerbang!"
Leo, yang masih mencoba menenangkan debar jantungnya, mendengus kesal sambil menegakkan tubuhnya. "Hei, asal kau tahu, kami masuk dengan cara paling senyap yang—"
"Senyap kepalamu!" potong Gavin cepat, melambaikan tangannya dengan gestur frustrasi. "Kalian meninggalkan jejak gangguan elektromagnetik dari sirkuit yang belum kalian shielding dengan benar. Kalau aku tidak segera meretas ulang sistem sensor lantai tiga, alarm pangkalan ini sudah meraung sejak kalian menginjakkan kaki di anak tangga kedua!"
Leo tertegun sejenak, menutup mulutnya rapat-rapat. Sebagai seorang mekanik yang bangga dengan keahliannya, ditegur soal sistem isolasi elektromagnetik oleh pemuda berkacamata itu terasa seperti pukulan telak di harga dirinya. Ia melirik sekilas ke arah konsol server Gavin, dan matanya melebar saat melihat struktur kode arsitektur jaringan yang terpampang di layar. Kode itu begitu rapi, rumit, dan sangat efisien—jauh melampaui standar peretas jalanan biasa.
Sementara Leo terpukau oleh keahlian teknis sang informan, Ren sama sekali tidak ikutan tegang. Pemuda berambut acak-acakan itu berdiri tegak di tengah ruangan, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Ia mengamati sekeliling ruangan, lalu menatap lurus ke arah Gavin yang masih mengatur napas.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya suara dengung kipas pendingin server dan detak jam dinding mekanis tua yang terdengar mengisi keheningan.
Ren melangkah maju satu langkah pelan. Tangannya terulur lurus ke depan, tepat di hadapan Gavin, tanpa ada tanda-tanda ancaman atau permusuhan.
Gavin mengerutkan keningnya, menatap tangan Ren yang terulur, lalu mendongak menatap mata pemuda itu dengan tatapan bingung dan curiga. "Apa... apa yang kau lakukan?" tanya Gavin waspada, bersiap meraih kunci pas yang tergeletak di dekat tumpukan keyboard.
Ren menatap mata Gavin lekat-lekat, kilatan cahaya biru samar dari The Core Engine berpendar sekilas di balik iris matanya.
"Baiklah, apa kau mau jadi temanku?" tanya Ren dengan nada suara yang begitu polos, datar, dan tanpa beban.
Blink.
Gavin terdiam. Seluruh saraf di otaknya seolah berhenti memproses informasi selama sepersekian detik. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya di balik lensa kacamata tebalnya, mengira ia salah dengar atau salah memahami situasi.
Di sudut ruangan, Leo yang mendengar kalimat itu langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia menepuk jidatnya dengan keras, memutar bola matanya malas, lalu mendesah panjang seolah ingin menenggelamkan diri ke dalam lantai beton. Astaga... orang ini benar-benar tidak punya bakat negosiasi sama sekali, batin Leo frustrasi. Datang ke sarang sindikat kriminal paling berbahaya, lalu mengajak peretas buronan berandalan menjadi 'teman' dengan gaya bicara selugu itu?
"Teman?" suara Gavin terdengar melengking tinggi, nadanya penuh ketidakpercayaan. "Kau... kalian menerobos masuk ke markas persembunyianku, mempertaruhkan nyawa melewati patroli sindikat, memicu hampir setengah sistem keamananku, dan sekarang... sekarang kau mengajakku berteman?!"
"Ya," jawab Ren singkat, tegas, dan mutlak. Tanpa menunggu persetujuan atau jawaban apa pun dari Gavin, tangan Ren menarik tangan pemuda berkacamata itu, lalu mengguncangnya pelan dalam sebuah jabat tangan sepihak. "Keputusan bagus. Sekarang kau resmi jadi temanku."
Gavin terperanjat kaget, tangannya terjabat begitu saja tanpa sempat ia tarik. Mulutnya terbuka sedikit, membentuk huruf 'O' sempurna. Belum pernah seumur hidupnya—selama ia hidup berpindah-pindah dari satu lubang tikus ke lubang tikus lainnya sebagai buronan Aether Corp dan The Iron Jackals—ia menemui manusia seaneh dan sekepala batu seperti pemuda di hadapannya ini.
"Hei! Tunggu dulu! Aku tidak pernah bilang aku setuju!" protes Gavin panik, menarik tangannya kembali dengan cepat dan merapikan jaket labnya yang kusut. Ia menatap Ren dengan tatapan galak namun kikuk. "Aku seorang Data-Ghost! Aku menjual informasi pada penawar tertinggi atau menyembunyikan diri agar tidak dieksekusi mati! Aku tidak punya waktu untuk mencari 'teman', apalagi bergabung dengan... entahlah, perkumpulan orang gila!"
"Kami bukan perkumpulan," potong Ren tenang, suaranya menghunjam masuk ke dalam kesadaran Gavin dengan bobot yang tak terbantahkan. "Kami adalah kru kereta. Dan keretaku—atau lebih tepatnya, keahlianmu—dibutuhkan di sana."
Gavin tertegun. Ia hendak melontarkan argumen penolakan lainnya, namun sebelum ia sempat membuka mulut, Leo melangkah maju, memasang ekspresi serius sambil melipat tangan di dada.
"Dengar, kawan," ucap Leo dengan nada setengah merajuk namun profesional. "Meskipun cara bicara Kapten kita ini mirip anak kecil yang baru keluar dari gua es, dia tidak sedang bercanda. Kami tahu siapa kau, Gavin. Kami melacak sinyal enkripsi gelombang pendekmu dari Sektor 7 ini. Kau adalah orang yang sama yang meretas sistem gerbang pengaman Korporasi Frost-Guard tiga bulan lalu, lalu menghilang tanpa jejak sebelum mereka berhasil melacak koordinatmu."
Wajah Gavin mendadak memucat. Lensa kacamata tebalnya memantulkan cahaya monitor yang berkedip lebih cepat. Sisa-sisa warna merah muda di pipinya akibat rasa terkejut tadi langsung lenyap, digantikan oleh ekspresi siaga tingkat tinggi. Identitas aslinya sebagai peretas ulung yang berhasil membobol sistem korporasi besar adalah rahasia terbesar yang ia jaga dengan nyawanya sendiri.
"Bagaimana... bagaimana kalian bisa tahu soal itu?" bisik Gavin tegang, tubuhnya menegang kaku, sementara tangannya perlahan meraba sebuah tombol darurat tersembunyi di bawah meja kerjanya—tombol yang dapat menghapus seluruh isi harddisk utamanya dalam waktu tiga detik jika ia terdesak.
Ren tidak bergerak sedikit pun. Ia bisa melihat gerakan tangan Gavin yang mencurigakan, tetapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda ancaman. Sebaliknya, Ren merogoh saku mantelnya, lalu meletakkan sebuah komponen modul data kecil di atas meja kerja Gavin—sebuah modul memori militer curian yang ia ambil dari jasad komandan regu korporasi di stasiun sebelumnya.
Gavin menatap modul data itu dengan kening berkerut. Ia melirik Ren, lalu perlahan-lahan menarik tangannya menjauh dari tombol penghancur data. Dengan rasa penasaran yang bercampur rasa curiga, ia mengambil modul tersebut, memasangnya ke dalam slot pembaca khusus di komputernya, dan menekan tombol execute.
Bzzzt...
Layar monitor utama Gavin langsung memuat direktori data yang terenkripsi sangat padat. Namun, begitu algoritma deskripsi otomatis miliknya bekerja, mata Gavin melebar tajam. Di balik layar, barisan data rahasia mulai terbuka satu persatu: peta topografi lengkap dari seluruh jaringan terowongan bawah tanah Korporasi Aether, jadwal rotasi patroli unit tempur berat, hingga koordinat titik kelemahan pelindung termal Tembok Es Raksasa.
Data itu... adalah peta harta karun yang paling diincar oleh seluruh pemberontak di dunia bawah.
"Ini..." Gavin tercekat, suaranya nyaris berbisik. Ia menatap layar, lalu kembali mendongak menatap Ren dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya—bukan lagi rasa curiga atau kesal, melainkan campuran antara rasa takjub dan ngeri. "Dari mana kau mendapatkan ini? Data ini... tingkat enkripsinya menggunakan sandi lapis lima milik komando pusat Aether! Bahkan aku butuh waktu berbulan-bulan untuk meretas seperempat dari data ini!"
"Dari mayat seorang komandan yang mencoba membunuhku tadi malam," jawab Ren datar tanpa ekspresi.
Gavin menelan ludah dengan kasar. Ia menatap Ren dari ujung kepala sampai kaki, menyadari bahwa pemuda pendiam di hadapannya ini bukanlah pemulung biasa yang tersesat di Zona Periferi. Ada sesuatu yang jauh lebih besar, lebih gelap, dan lebih mematikan yang bersemayam di dalam diri pemuda itu—sesuatu yang didukung oleh sistem purba yang tidak dapat dijelaskan oleh logika komputer mana pun.
Leo tersenyum miring, melihat ekspresi Gavin yang mulai melunak. "Jadi, bagaimana, Gavin? Mau terus tinggal di ruangan pengap ini menunggu anak buah Iron Jackals mendobrak pintu dan memenggal kepalamu, atau kau mau bergabung dengan kami, menjadi bagian dari kru kereta pertama yang akan menembus Tembok Es, dan menggunakan akses jeniusmu untuk menghancurkan sistem korporasi itu dari dalam?"
Gavin terdiam. Ia menatap layar monitor yang menampilkan peta rahasia korporasi, lalu melirik ke arah modul data, dan terakhir menatap Ren yang berdiri tenang menunggu jawabannya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja secara ritmis, menunjukkan pergolakan batin yang hebat di balik kacamata tebalnya. Sebagai seorang peretas yang hidup dalam persembunyian, risiko bergabung dengan buronan lain adalah kematian yang pasti. Namun, diam di tempat ini juga berarti menunggu waktu hingga jejaknya terendus oleh algoritma pelacak korporasi.
Gavin menghela napas panjang, melepaskan kacamatanya sejenak untuk mengusap matanya yang lelah, lalu kembali mengenakannya dengan mantap. Ia mendongak menatap Ren.
"Baiklah," ucap Gavin parau, nada suaranya terdengar pasrah namun menyimpan kilatan tekad baru. "Aku ikut dengan kalian. Tapi ingat, kalau kereta rongsokan kalian itu meledak di tengah badai, aku akan memastikan rohku menghantui kalian berdua."
Ren mengangguk kecil. "Keputusan yang bagus, Teman."
Gavin mendengus pelan, menggelengkan kepalanya menghadapi kekasaran logika pertemanan Ren. Ia segera berbalik ke arah konsol utamanya, jemarinya menari lincah di atas keyboard, memulai proses download seluruh basis data rahasia korporasi ke dalam penyimpanan portabel untuk dipindahkan ke sistem kereta mereka nanti.
"Aku akan mengunduh seluruh jadwal patroli dan peta rute rahasia ini ke perangkat kalian," ujar Gavin cepat, matanya fokus menatap layar. "Tapi kalian harus bergerak cepat. Sistem peringatan lokal di pos penjagaan bawah tanah baru saja mendeteksi adanya upaya peretasan eksternal dari luar sektor ini. Seseorang sedang melacak alamat IP kita."
Mendengar kata-kata itu, Leo langsung menegang. "Melacak? Siapa?!"
Sebelum Gavin sempat menjawab, seluruh lampu monitor di ruangan itu mendadak padam total secara serentak. Layar komputer berubah menjadi warna merah pekat, memunculkan sebuah simbol mata digital raksasa berbingkai bintang tiga—lambang absolut dari pusat kendali Korporasi Aether.
Di saat yang sama, suara alarm berfrekuensi tinggi berderit nyaring dari lorong luar, disusul oleh suara hantaman keras pada pintu besi bangunan pabrik, menandakan bahwa pasukan elit penyergap telah tiba di depan pintu mereka tanpa memberi ruang untuk bernapas.