Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti mulus di carport kediaman mereka. Begitu mesin mobil dimatikan oleh Pak Mamat, Alana langsung membuka pintu dan melangkah keluar tanpa memedulikan Gema. Langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer teras dengan tempo cepat, memancarkan amarah yang menumpuk di dada.
Gema mengikutinya dari belakang dengan wajah memerah dan dada yang bergemuruh. Pria itu tidak bisa membiarkan perdebatan di dalam mobil menggantung begitu saja. Rasa panik, rasa bersalah, dan ketakutan kehilangan telah melumpuhkan akal sehat dan egonya.
"Alana, tunggu!" seru Gema seraya melangkah lebar menyusul Alana yang sudah masuk ke dalam foyer rumah.
Alana membalikkan badan di tengah ruang keluarga yang luas. Dia melempar tas tangannya ke atas sofa marun, lalu memutar tubuh berhadapan lurus dengan suaminya. Tidak ada lagi raut ketakutan, tidak ada lagi ekspresi serba salah. Yang ada di wajah Alana hanyalah kelelahan luar biasa yang terpancar dari mata indahnya.
"Apalagi yang mau Mas bicarakan?" suara Alana meluncur tajam, menggema di ruangan yang sepi itu karena Bi Sastro sedang keluar menjemput Tania di sekolah. "Belum cukup Mas menceramahi saya di depan restoran? Belum cukup Mas memojokkan saya di dalam mobil tadi?"
"Saya tidak memojokkan kamu, Alana! Saya cuma minta kamu bersikap rasional!" tegur Gema, mencoba merebut kembali wibawanya sebagai kepala rumah tangga. "Kamu menuduh saya seolah-olah saya ini suami paling jahat di dunia. Saya memberi kamu rumah ini, kebebasan mengurus tokomu, fasilitas, semuanya! Apa yang kurang?!"
Alana tertawa getir. Tawa yang terdengar bagaikan pecahan kaca yang menusuk ulu hati Gema.
"Fasilitas?" bisik Alana dengan nada sarkatis yang mematikan. "Mas pikir semua materi ini bisa membayar rasa sakit hati saya selama enam tahun? Mas pikir uang Mas bisa menyembuhkan luka dari kebiasaan buruk Mas yang selalu merendahkan saya di depan mendiang Mbak Kirana?!"
Langkah Gema mendadak terhenti. Keningnya berkerut rapat, matanya memicing tajam. "Apa maksudmu?"
Alana melangkah satu tindak mendekati Gema, mendongak menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan keberanian yang terhimpun penuh.
"Kebiasaan Mas sebulan sekali mengajak Tania ziarah ke makam Mbak Kirana..." tutur Alana, suaranya gemetar menahan tumpahan rasa sakit yang terendam bertahun-tahun. "Setiap kali Mas berdiri di depan batu nisan itu, Mas selalu menceritakan semua kekurangan saya. Mas adukan keluhan Mas, Mas ceritakan keburukan dan kealpaan saya seolah-olah saya ini sosok pengganggu yang merusak hidup Mas! Kamu pikir aku tidak tahu, Mas?!"
Wajah Gema seketika pucat pasi. Darah seolah menyurut habis dari dadanya. Pria itu menyeringai ragu, lidahnya mendadak kaku. "Alana... kamu..."
"Anak kamu sudah besar, Mas!" pangkas Alana dengan nada menohok yang amat telak. "Tania sudah bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah! Dia sudah bisa melaporkan setiap ucapan Mas di depan nisan kakaknya yang menurut sudut pandang Mas itu benar!"
Gema membeku total. Lidahnya terasa kelu bagaikan terikat batu yang amat berat.
"Kamu mungkin lupa, Mas, bagaimana peran aku di kehidupan Tania," lanjut Alana dengan air mata yang mulai merebak di pelupuk matanya, namun tatapannya tetap menghunjam tajam. "Aku yang menyuapinya saat dia sakit, aku yang mengusap punggungnya saat dia terbangun menangis di tengah malam, aku yang mengajarinya membaca dan mengeja! Sampai-sampai anak kamu sendiri lebih memilih untuk membela aku daripada kamu saat kamu sibuk mengadu di depan makam ibunya!"
Pukulan fakta itu menghantam kesadaran Gema begitu keras hingga pria itu hampir limbung. Bayangan kejadian setiap bulan di pemakaman mendadak berputar di kepalanya. Gema teringat, beberapa kali saat dia bergumam menceritakan betapa berbedanya Alana dengan almarhumah Kirana di depan nisan, Tania kecil selalu menarik-narik ujung kemejanya.
"Ayah jangan ngomong gitu! Bunda Alana baik! Bunda nggak kayak yang Ayah bilang!"
Suara lengkingan kecil Tania di pemakaman dulu yang selalu diabaikan Gema kini bergema bagaikan petir di siang bolong. Gema mengira Tania tidak paham. Gema mengira anak itu hanya merajuk sepele. Pria itu tidak pernah menyangka bahwa Tania mengerti rasa sakit Bundanya dan melaporkan semuanya pada Alana.
Gema mendadak diam membisu. Seluruh kata-kata pembelaan diri yang dia susun di dalam kepalanya runtuh seketika.
"Kamu pikir jadi aku itu tidak capek, Mas?!" jerit Alana halus, napasnya menderu parau seraya menepuk dadanya sendiri dengan jemari yang bergetar. "Capek, Mas! Capek! Serius aku capek! Aku ada di titik lelah yang sudah benar-benar ingin meninggalkan rumah ini dan pergi sejauh mungkin dari kamu!"
Gema menahan napasnya. Rasa takut yang sangat pekat mencengkeram dadanya mendengar kata pergi.
"Tapi aku bertahan..." lanjut Alana, suaranya memelan namun sarat akan kepasrahan yang menyayat hati. "Aku bertahan murni cuma karena aku tidak mau melihat Tania kehilangan sosok orang tua yang utuh untuk kedua kalinya. Cuma Tania alasan aku masih berdiri di rumah dingin ini!"
Alana mengusap sudut matanya yang basah dengan kasar. Dia memalingkan wajah sejenak, menata napasnya yang tidak beraturan sebelum kembali menatap Gema dengan kepedihan yang tiada tara.
"Kalau saja Mbak Kirana tidak menyuruh aku untuk menikah dengan kamu dulu, Mas..." Alana menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan yang menyiksa merayapi ruangan. "Mungkin saat ini aku bisa menikah dengan laki-laki yang memang sudah mencintai aku apa adanya. Bukannya terjebak menikah dengan laki-laki yang cintanya sudah habis di mendiang istrinya yang saat ini sudah ada di bawah batu nisan!"
Jleg!
Kalimat itu menancap sangat dalam di ulu hati Gema. Rasa malu dan penyesalan yang teramat besar menghantam dada pria itu tanpa ampun. Selama enam tahun, Gema selalu merasa dialah korban dari takdir ini pria yang kehilangan cinta sejati dan terpaksa menikahi adik iparnya. Namun detik ini, mata Gema dipaksa terbuka lebar untuk melihat kenyataan sebaliknya: Alana-lah korban sebenarnya dari pesan terakhir Kirana.
"Mungkin menurut kamu jadi ibu sambung itu hanya sebuah peran sepele, Mas," tutur Alana lagi, suaranya merendah menjadi bisikan dingin yang sarat akan kegetiran. "Tapi kamu tidak tahu, Mas... peran apa yang harus aku jalankan setiap hari di rumah ini. Kamu tidak pernah tahu bagaimana aku harus menata hati dan menata kehidupan setiap harinya untuk selalu berusaha ikhlas dan menerima takdir ini. Apalagi... menerima suami yang sudah tidak ada cinta lagi di kehidupannya."
Keheningan menyelimuti ruang keluarga. Alana berdiri tegak dengan sisa-sisa ketegarannya, menatap Gema yang kini tertunduk kaku di hadapannya.
Gema tidak mampu lagi menyela. Benteng keangkuhannya, ego laki-lakinya, dan segala pembenaran yang dia pegang selama enam tahun ini telah hancur berkeping-keping. Pria yang biasanya dipuja di dunia bisnis karena ketegasannya itu kini berdiri tanpa daya, menyadari betapa dalam luka yang telah dia goreskan pada wanita yang selama ini diam-diam menjaga dunianya tetap utuh.
Alana tidak sudi lagi memandang wajah suaminya. Dia menyambar tas tangannya kembali dari sofa, memutar tubuh dengan cepat, lalu berjalan menuju tangga utama. Sepatu hak tingginya mengetuk anak tangga dengan suara nyaring, menggema di seluruh sudut rumah yang luas namun terasa mati itu.
Gema baru tersadar dari kebekuannya saat melihat punggung Alana makin menjauh.
"Alana! Alana, tunggu dulu!" panggil Gema parau. Pria itu berlari kecil menyusul Alana naik ke lantai dua. "Kita belum selesai bicara, Alana! Tolong dengarkan saya dulu!"
Namun Alana tak mengindahkan panggilannya sedikit pun. Dengan napas yang masih memburu dan dada yang dipenuhi hawa panas kemarahan serta kepedihan, wanita itu melangkah lebar menuju kamar utamanya. Begitu kakinya melewati ambang pintu, Alana langsung menarik gagang pintu dan membantingnya dengan keras.
Brak!
Suara dentuman pintu yang tertutup rapat itu memecah sunyi lantai dua. Sebelum Gema sempat menggapai gagang pintu, terdengar bunyi klik yang tegas dari dalam. Alana telah mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam.
Gema menghentikan langkahnya tepat di depan pintu jati yang tertutup kukuh. Tangannya terangkat, bergetar hebat saat mencoba memutar gagang pintu, namun kuncinya sudah terkunci mati.
"Alana! Buka pintunya, Alana!" ketuk Gema keras. Suaranya tidak lagi terdengar berwibawa, melainkan sarat akan kecemasan dan keputusasaan. "Saya minta maaf... tolong buka pintunya! Kita bicara baik-baik!"
Di dalam kamar yang redup, Alana menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang terkunci. Tubuhnya perlahan meluruh, merosot hingga terduduk di atas marmer yang dingin. Kedua tangannya menekap mulutnya sendiri untuk menahan tangis yang akhirnya pecah tanpa bisa dibendung lagi.
Air matanya mengalir deras, merusak riasan anggun yang pagi tadi dibanggakannya. Seluruh benteng ketegaran yang dia bangun seharian ini runtuh perlahan. Rasa sakit yang terkumpul selama enam tahun dikacaukan oleh penolakan, rasa tidak dihargai, dan bayang-bayang almarhumah kakaknya kini tumpah sepenuhnya dalam heningnya kamar.
"Alana, tolong..." gedoran Gema di luar terdengar makin pelan, disusul suara helaan napas yang sarat akan rasa frustrasi dan penyesalan mendalam. "Buka pintunya, Sayang... Tolong beri saya kesempatan bicara..."
Alana memejamkan matanya rapat-rapat, menggelengkan kepala dalam diam. Kata Sayang yang keluar dari bibir Gema terasa begitu asing, terlambat, dan menyakitkan. Alana memeluk kedua lututnya rapat-rapat, membiarkan keheningan kamar menyembunyikan tangisnya dari pria yang kini berdiri ketakutan di balik pintu terkunci itu.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....