Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembalasan Gadis Mafia

Pembalasan Gadis Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmawati18

Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.

Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.

Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.

Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Rencana Gagal

"Loh, Adik!"

"Nak...?"

Damian, Gideon, Leonard dan Theodore langsung melangkah mendekat ketika melihat gadis yang ada di dalam karung itu adalah Alexa. Keempat pria itu sangat marah, wajahnya memerah. Namun, langkah mereka terhenti. Alexa memberi kode kepada keluarga angkatnya itu.

"Apa kalian kenal dengan wanita ini?" tanya Anya dengan wajah serius.

Gideon berusaha menahan amarahnya, melihat Adik kesayangannya disiksa seperti itu di depan matanya sendiri. "Kenal apaan! Aku ini Tuan Muda kedua Bleiz. Mana mungkin aku kenal dia." Gideon menatap adiknya dengan wajah tidak tega.

Alexa mengangguk dan menghela nafas lega. Untung saja Kakak-kakak dan ayah angkatnya itu tidak gegabah.

"Tentu Tuan Muda kedua Bleiz. Nggak usah kasihan dengan perempuan ini. Jujur saja, perempuan ini tuh, cuman perempuan murahan!" jelas Anya tertawa.

Damian dan Leonard begitu sangat geram melihat Anya dan Zionathan.

PLAK.

Satu tamparan melayang di pipih Anya. Damian tidak tahan melihat adiknya di katai murahan. Wajahnya datar, amarah jelas terlihat di wajahnya. Namun, ia tahan demi keinginan Alexa.

Anya berteriak kesakitan. "Argggkk,,, Tuan Muda Bleiz Pertama, kenapa anda menamparku?" tanya Anya, ia memegang pipinya meringis kesakitan. Sudut bibirnya berdarah.

Damian menatap tajam kepada Anya. "Nampar kamu? Itu karena kamu sudah banyak bicara." ucapnya dengan tegas.

Leonard menghentakkan tongkat kasti di tangannya. Ia melangkah mendekati Anya dengan wajah penuh amarah. Matanya sudah memerah dari tadi, seperti ingin menerkam seseorang.

Anya mundur selangkah, wajahnya pucat ketakutan. Keringat membasahi pelipisnya. "Eh,,, mau apa?" ucapnya terbata-bata. Zionathan menahan tubuh adiknya itu.

Leonard menunjuk Anya dan Zionathan dengan tongkat kasti besi berwarna silver yang selalu ia bawa. "Urusan kita sudah selesai. Pergi kalian semua dari sini!" bentaknya.

Zionathan berbisik di telinga adiknya itu. "Anya, hey,,, barusan aku dengan, ketiga Tuan Muda Bleiz ini tak menentu, mereka susah di tebak. Bisa-bisa bunuh orang. Kita pergi saja, yuk." Zionathan mengingatkan Anya.

Zionathan dengan wajah ketakutan berusaha mengangkat pandangannya menatap pria-pria sangar yang berdiri di depannya. "Tuan-tuan, kami permisi dulu.... Baik kami permisi dulu." Zionathan dan Anya meninggalkan ruang bawah tanah itu.

Theodore dengan wajah khawatir, segera membuka ikatan tangan Alexa. Ketiga saudara angkatnya membantu Alexa untuk berdiri. Theodore menatap putrinya dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca.

"Oh,,, Alexa, anakku sayang!" ucapnya memegang pipih putri angkatnya itu. Ia memastikan putri angkatnya tidak kenapa-kenapa dan tidak terluka parah.

Alexa menatap Theodore dengan senyum kecil di wajahnya. Perhatian dan kasih sayang keluarga angkatnya begitu sangat tulus. Berbeda dengan keluarga aslinya sendiri.

Damian terlihat sangat khawatir melihat adik angkatnya itu. "Adik kecilku... Bukannya kamu bilang kalau mereka sangat baik padamu?" tanyanya dengan suara lembut. "Kenapa nggak biarin aku bunuh mereka?" nada suara Damian naik satu oktaf.

Gideon masih berusaha menahan amarahnya. "Adik kecil, aku benar-benar tidak bisa terima penghinaan itu! Kalau tidak membunuh mereka, aku tidak akan tenang!" Gideon mengepalkan tangannya.

"Biar ku remas-remas mereka berdua!" Leonard pun sudah tersulut emosi. Tongkat kasti besi yang ia pegang sepertinya sebentar lagi akan patah di tangannya.

Theodore tidak menerima jika putri kesayangannya itu diperlakukan tidak baik.

"SEMUANYA!! KEMARI!!" Teriak Theodore dengan suara tegas dan keras.

"Siap!" ucap semua pengawal bersamaan.

"Habisi semua keluarga Zayn!" perintah Theodore. Kali ini ia benar-benar sangat marah melihat perlakuan buruk keluarga Zayn kepada putri angkatnya itu. Hatinya seperti teriris-iris melihat Alexa di hina oleh keluarga kandungnya sendiri.

"Siap, laksanakan!" Ucap pengawal itu lagi serempak.

Damian dengan kedua adiknya hendak meninggalkan ruangan itu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Namun, langkahnya terhenti. Alexa menarik tangan kakak pertamanya itu.

"Kakak, jangan!" Alexa berusaha menahan saudara-saudaranya itu. Damian dan kedua adiknya menoleh ke arah Alexa. Dengan wajah penuh tanya.

Alexa menatap Theodore dengan mata berkaca-kaca. "Ayah, sudahlah. Ini tidak separah yang ayah pikirkan. Ini hanya masalah kecil saja, ayah. Aku sembunyikan ini, karena aku masih mau bermain-main. Aku pasti buat mereka hidup sengsara selamanya." jelas Alexa dengan wajah berusaha untuk meyakinkan Ayah dan Kakak-kakaknya.

Theodore kembali menatap putri kesayangannya itu dengan tatapan yang meneduhkan. Theodore memegang kedua tangan Alexa. "Putriku yang baik, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Theodore, ia ingin memastikan kalau keputusan yang di ambil Alexa itu sudah keputusan yang tetap.

Alexa tersenyum. Tatapannya tertuju pada pria paruh baya di depannya. "Ayah, aku sudah sangat yakin." ucapnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Theodore terdiam sejenak. Ia masih belum merasa tenang. Ia menghela nafas panjang. "Baiklah, karena Alexa,,,, punya rencananya sendiri, maka ayah,,, baik ayah akan ikut kamu." Theodore menepuk-nepuk kedua pundak putrinya itu.

"Hm." balas Alexa tersenyum manis.

Damian memegang pundak Alexa. Ia menatap gadis itu. "Adik, kamu harus ingat, kami ada di belakangmu." ucapnya dengan tatapan cemas.

"Kami pasti bantu kamu untuk balas dendam." lanjut Gideon dengan wajah datar dan masih di selimuti amarah.

"Kami akan bantu kamu mengambil alih Grup Zayn!" Leonard mengelus lembut rambut Alexa. Sebelah tangannya meremas kerasa tongkat kasti yang dari tadi dipegangnya.

"Sudahlah." Alexa menatap keluarga angkatnya itu.

"Iya, aku tahu. Kalau begitu, aku balik lagi, ya." Alexa tersenyum. Ia meninggalkan Markas Serikat Bleiz.

Theodore menatap kepergian putrinya itu hingga Alexa tak lagi terlihat di lorong ruang bawah tanah yang gelap itu.

Suasana mendadak hening. Theodore memikirkan sesuatu sambil mondar mandir di depan ketiga putranya dan beberapa pengawal di ruangan itu.

Theodore berdiri di depan semua pengawal itu.

"Kalian semua! Lindungi Alexa diam-diam!" perintahnya dengan tegas. Raut wajahnya masih menunjukkan kecemasan.

"Siap! Laksanakan!" Semua pengawal sudah siaga. Untuk melindungi Nona Muda Bleiz.

Damian menatap Ayahnya. "Ayah, aku mau lindungi Alexa sendiri." ucapnya dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.

Theodore menepuk pundak Damian dan mengangguk. Menandakan ia setuju. Theodore tidak ingin siapa pun berani menyentuh apalagi sampai menyakiti putri kesayangannya sedikit pun.

"Aku juga!" ucap Gideon turut ikut dibelakang Damian dengan pistol di tangannya.

"Aku juga." Leonard pun berjalan mengikuti kedua kakaknya itu dengan membawa tongkat kasti besinya.

Sementara itu, di ruang tamu tempat kediaman keluarga Zayn. Zionathan dan Anya, sendang duduk dan memikirkan sesuatu. Zionathan menopang dagunya dengan kedua tangan. Wajahnya gelisah.

"Kak, nanti ayah pulang. Jangan sampai salah ngomong, ya." Anya memperingatkan Zionathan.

Zionathan menoleh dan tersenyum. "Tenang saja, Alexa kan sifatnya liar. Dia kabur sendiri, tidak bisa salahin siapa-siapa." jelasnya sambil tersenyum licik. Ia sangat yakin kalau Alexa tidak akan kembali lagi.

Namun, tiba-tiba saja, dari belakang muncul seseorang.

"Kalian bilang,,,, siapa yang kabur?"

Zionathan dan Anya yang mendengar suara itu pun sontak berbalik. Matanya membulat tajam melihat sosok yang tiba-tiba muncul begitu saja di tengah-tengah mereka. Zionathan menelan ludahnya tidak percaya.

***

1
Elisabeth Ratna Susanti
makin seru 👍iklan 👍
Adi Sudiro
cerita yg kesekian menjijik kan
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...
Elisabeth Ratna Susanti
misinya seru sekali 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
keren juga ya Alexa berani melawan preman 👍
Virgo♍: mkasih sudah baca ceritaku kakak🥰
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
like komen plus subscribe 🥰👍
Virgo♍: Terima kasih kakak🤗
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
membayangkannya ngeri banget ini.......seperti nonton film padahal baca.....keren Thor 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!