Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pusaran Hitam
Pagi itu udara masih dingin, sisa embun menempel di rumput lapangan upacara, dan bau nasi goreng dari kantin seberang menguar samar terbawa angin. Galih baru melangkah dua kali melewati gerbang sekolah ketika suara serak menyelip ke telinganya, dekat sekali, seolah diucapkan tepat di sebelah kepalanya. "Jaga baik-baik dirimu, Nak. Penjaga itu sedang mencarimu."
Ia menoleh cepat. Trotoar di sisi kiri kosong, hanya ada tukang parkir yang sibuk mengatur motor dan beberapa anak kelas sepuluh yang berlarian mengejar bel. Namun di seberang jalan, persis di persimpangan dekat warung kelontong, berdiri seorang kakek berjubah lusuh warna coklat pudar. Rambutnya putih semua, punggungnya sedikit membungkuk, dan matanya menatap lurus ke arah Galih seakan sudah mengenalnya sejak lama.
Galih mengerjap. Saat ia membuka mata lagi, kakek itu masih berdiri di sana, tidak bergeming, tidak berkedip.
Ia menggeleng pelan lalu memilih tidak ambil pusing. Sudah tujuh belas tahun ia hidup dengan kemampuan yang tidak bisa ia jelaskan sendiri, kadang mendengar suara yang tidak didengar orang lain, kadang melihat bayangan yang menghilang begitu ia berkedip. Guru bimbingan konseling dulu menyebutnya gejala kecemasan remaja. Teman sekelas menyebutnya aneh. Galih sendiri sudah berhenti mencari penjelasan sejak kelas sepuluh. Diam saja lebih gampang.
Ia masuk ke koridor menuju kelas XII-IPS 2 dengan langkah pelan, menyusuri sisi tembok sambil mengamati teman-temannya dari jarak yang nyaman baginya. Kebiasaan lama. Ada yang tertawa keras di dekat deretan loker, ada yang buru-buru menyalin PR sambil duduk di lantai, ada yang berbisik-bisik lalu sesekali melirik ke arahnya sebelum buru-buru membuang muka. Galih tidak pernah benar-benar masuk ke kerumunan mana pun. Ia hafal betul pola itu, siapa yang biasanya datang telat, siapa yang suka menyontek di menit terakhir, siapa yang diam-diam menangis di kolong meja saat pelajaran membosankan. Semua ia simpan sendiri, tak pernah diceritakan pada siapa pun. Ia memilih bangku pojok dekat jendela, tempat favoritnya, tempat ia bisa melihat semua orang tanpa harus terlibat dengan siapa pun.
Bel belum berbunyi. Beberapa anak masih berdiri di depan kelas, membicarakan ulangan matematika yang akan berlangsung siang nanti. Galih meletakkan tasnya di bawah meja, menyandarkan punggung ke kursi kayu yang mulai reyot, lalu menatap keluar jendela. Langit pagi itu biru cerah, tanpa mendung sedikit pun.
Sepuluh menit kemudian, warna biru itu berubah.
Mulanya hanya semburat abu tipis di ujung horizon, seperti asap yang tersapu angin. Galih hampir tidak menyadarinya sampai suara riuh kelas mendadak surut. Beberapa anak berdiri dari kursi, menoleh ke jendela dengan wajah bingung.
"Kok gelap ya?" seseorang bergumam pelan.
Dalam hitungan detik, langit yang tadi biru berubah hitam pekat, bagai matahari ditelan bulat-bulat. Lampu neon di langit-langit kelas berkedip liar sebelum akhirnya mati total. Suara dengung aneh, rendah dan bergetar, merayap masuk lewat celah jendela, membuat kaca-kaca bergetar pelan.
Galih berdiri dari kursinya, jantung berdebar cepat. Ia menoleh ke arah halaman sekolah dan melihatnya untuk pertama kali. Sebuah pusaran hitam raksasa berputar cepat di tengah lapangan upacara, menyedot debu, dedaunan kering, bahkan tiang bendera yang mulai bergoyang lepas dari akarnya.
"Itu apa itu?!" jerit seorang anak di dekat pintu.
Kepanikan pecah seketika. Beberapa siswa berlari menuju pintu, saling dorong, saling injak, sementara yang lain berdiri kaku memandangi jendela dengan mata terbelalak. Meja dan kursi mulai bergeser sendiri, berderit keras di atas lantai ubin sebelum terseret ke arah jendela yang kacanya sudah retak oleh tekanan angin. Bau ozon yang tajam, seperti udara sesudah petir menyambar, memenuhi ruangan dan membuat bulu kuduk Galih berdiri.
Galih merasakan tarikan aneh di seluruh tubuhnya. Bukan angin biasa. Sesuatu yang jauh lebih kuat, menarik dari dalam, seolah gravitasi ruangan itu berpindah arah menuju satu titik di luar jendela.
"Tolong!"
Jeritan histeris memenuhi ruangan. Tas-tas melayang, buku-buku berhamburan ke udara, seorang anak yang mencoba berpegangan pada gagang pintu justru ikut terangkat dari lantai, tubuhnya melayang beberapa senti sebelum menghilang ditelan kegelapan di luar jendela yang kini menganga lebar seperti mulut raksasa.
Kaki Galih kehilangan pijakan. Ia mencengkeram tepi mejanya kuat-kuat, buku jarinya memutih, tapi tarikan itu terlalu kuat. Tubuhnya perlahan terangkat, sentimeter demi sentimeter, sementara dengung tadi berubah menjadi raungan yang memekakkan telinga.
Di tengah kekacauan itu, sekilas, Galih melihatnya.
Di halaman sekolah yang kini dipenuhi angin puting beliung dan serpihan reruntuhan, berdiri sesosok kakek tua yang sama, yang tadi berbisik padanya di persimpangan jalan. Jubahnya berkibar liar diterjang badai, namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri, seperti angin dahsyat itu tidak berlaku baginya. Matanya masih menatap lurus ke arah Galih, tenang, seakan semua kekacauan ini sudah ia duga sejak awal.
Galih ingin berteriak, bertanya siapa dia, apa yang terjadi, kenapa harus dirinya yang mengalami ini. Suaranya justru tenggelam oleh raungan angin yang semakin liar. Tangannya yang mencengkeram meja mulai terlepas satu jari demi satu jari, kekuatannya habis melawan tarikan yang jauh lebih besar dari tenaga manusia mana pun.
"Sial," desisnya pelan, gigi bergemeletuk menahan panik.
Ia melompat, mencoba meraih tepi jendela dengan tangan kanannya, berharap bisa bertahan barang sedetik lagi. Jarinya sempat menyentuh kusen kayu yang dingin, tapi licin oleh keringat dan getaran hebat membuatnya tak bisa mencengkeram apa pun. Wajah ibunya, kamar tidurnya yang berantakan, PR matematika yang belum ia kerjakan, semuanya berkelebat cepat dalam benaknya seperti mengejek nasib sialnya pagi itu.
"Kenapa harus aku," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri.
Tepat saat jarinya lepas sepenuhnya dari kusen jendela, dunia di sekitarnya runtuh menjadi kegelapan total. Tubuh Galih terlempar bebas, tertarik masuk ke dalam pusaran yang kini menelan seluruh isi kelas XII-IPS 2, meja, kursi, papan tulis, dan setiap murid yang tadi berteriak minta tolong.
Ia merasakan tubuhnya berputar tanpa arah, terseret melewati sesuatu yang terasa seperti lorong sempit tanpa ujung. Suara di sekelilingnya bukan lagi teriakan manusia, melainkan dengungan memekakkan yang menekan gendang telinganya dari segala penjuru, seolah waktu sendiri sedang robek menjadi kepingan-kepingan kecil. Cahaya dan gelap berganti-ganti terlalu cepat untuk dicerna matanya, sampai akhirnya semua warna melebur menjadi satu titik hitam yang menelan segalanya.
Detik terakhir sebelum kesadarannya padam, satu bayangan masih tertinggal jelas di kepalanya. Kakek tua itu, berdiri tegak di tengah badai, menatapnya dengan mata yang seolah tahu persis ke mana Galih akan pergi.
Kemudian tidak ada apa-apa lagi.
Hanya kegelapan, kecepatan yang tidak masuk akal, tubuhnya yang berputar tak tentu arah seperti daun kering diterbangkan puting beliung, dan rasa sakit luar biasa ketika akhirnya ia membentur sesuatu yang keras, dingin, dan sama sekali bukan lantai kelas yang selama ini ia kenal. Kesadaran Galih putus total tepat pada benturan itu, meninggalkannya tergeletak sendirian di tempat yang belum pernah ia injak seumur hidupnya.