Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Sarapan dari Mayor
Dan Rendra mulai mencari jalan untuk mendatanginya.
Jalan itu membawanya ke depan kos Laras sebelum pukul tujuh pagi.
Laras baru selesai mandi setelah semalaman membantu pemantauan ternak melalui telepon. Rambutnya masih lembap ketika ketukan keras terdengar dari pintu.
"Laras, buka. Aku tahu kamu di dalam."
Ia mengenali suara itu dan langsung kehilangan selera terhadap teh hangat di mejanya.
"Ada apa?" tanya Laras setelah membuka pintu separuh. Tubuhnya tetap berada di balik daun pintu, menghalangi Rendra melihat isi kamar.
Rendra mengenakan kemeja rapi, seolah datang untuk kunjungan biasa. "Kita perlu bicara."
"Semua urusan kita sudah selesai di Pengadilan Agama."
"Ini tentangmu."
"Berarti bukan urusanmu."
Pemilik kos yang sedang menyapu halaman melambatkan gerakannya. Rendra memperhatikan perempuan itu, lalu menurunkan suara agar terdengar lembut.
"Aku dengar kamu bekerja sampai malam dengan Pak Yohanes. Grup WhatsApp juga ramai membicarakan kalian. Aku datang karena tidak ingin namamu rusak."
Laras hampir tertawa. "Orang yang mempermalukanku di lobi rumah sakit sekarang khawatir pada nama baikku?"
"Aku tetap pernah menjadi suamimu."
"Pernah. Kata itu penting."
Rendra mengembuskan napas, seakan menghadapi pasien yang sulit. "Kamu tidak mengenal orang-orang di sini. Pak Yohanes bisa memanfaatkan keadaanmu. Mayor Bram juga bukan lelaki yang cocok untukmu."
"Kamu mengenal Mayor Bram?"
"Semua orang tahu dia dingin, kasar, dan tidak bisa punya anak. Kamu baru lepas dari masalah kesuburan, kenapa buru-buru masuk pernikahan dengan lelaki seperti itu?"
Laras menatapnya. "Karena Bram memberi tahu kondisinya sebelum menikah. Dia tidak memalsukan kepedulian, membiarkan ibunya menyiksa tubuh calon istri, lalu merangkul perempuan lain di tempat kerja."
Wajah Rendra mengeras. "Aku sudah jelaskan soal Vania."
"Penjelasanmu tidak mengubah apa yang kulihat."
"Kamu sengaja menikah dengan mayor itu untuk membuatku menyesal?"
"Tidak semua keputusan saya berputar mengelilingi Anda, dr. Rendra."
Peralihan dari `kamu` menjadi `Anda` menampar lebih keras daripada bentakan.
Rendra maju dan menahan daun pintu sebelum Laras sempat menutupnya. "Jangan keras kepala. Kalau pernikahan itu gagal, orang akan menertawakanmu dua kali. Pulang saja ke Jawa. Aku bisa meminta Mama tidak membicarakan masalah jamu lagi."
"Kemurahan hati yang luar biasa." Laras menarik pintu, tetapi tangan Rendra masih menahannya. "Lepaskan."
"Aku belum selesai."
"Tapi dia sudah bilang lepaskan."
Suara rendah dari belakang membuat bahu Rendra menegang.
Bram berdiri di gerbang kos membawa dua bungkus nasi dan termos kecil. Di belakangnya, Wahyu memegang map dokumen. Laki-laki setinggi hampir dua meter itu tidak perlu menaikkan suara untuk membuat halaman mendadak sunyi.
Rendra melepaskan pintu.
"Mayor," sapanya kaku. "Saya hanya bicara dengan mantan istri saya."
"Mantan istri," ulang Bram. "Jadi tidak ada alasan menahan pintu kamarnya setelah diminta pergi."
"Ini masalah pribadi kami."
"Masalah pribadi kalian selesai ketika akta cerai diterbitkan. Sekarang Laras calon istri saya."
Rendra melirik sarapan di tangan Bram, lalu kembali menatap wajah Laras. "Kamu benar-benar mau menikah dengannya?"
"Saya sudah menjawab pertanyaan itu kepada orang yang berhak mendengarnya. Bukan kepada Anda."
"Kamu belum tahu hidup sebagai istri tentara. Dia bisa pergi berbulan-bulan. Dia juga tidak akan memberimu anak."
Bram tidak tampak tersinggung. "Kondisi saya sudah dibicarakan terbuka dengan Laras. Tidak ada yang saya sembunyikan."
Kalimat singkat itu membuat Rendra terdiam. Untuk seorang lelaki yang menyimpan rahasia tubuhnya di balik jas dokter dan laporan palsu, kejujuran Bram terasa seperti ancaman.
"Pergi," kata Bram.
Rendra memandang Laras sekali lagi, seolah menunggu sedikit keraguan. Ia tidak menemukannya. Dengan rahang mengeras, ia berbalik dan meninggalkan halaman kos.
Pemilik kos pura-pura baru mulai menyapu lagi setelah gerbang tertutup.
Bram tidak mengejar atau mengancam. Ia hanya menunggu sampai motor Rendra menghilang di ujung jalan, kemudian menyerahkan satu bungkus nasi kepada Laras.
"Kamu sudah sarapan?"
Pertanyaan biasa itu membuyarkan sisa ketegangan.
"Belum. Mayor datang hanya untuk membawa sarapan?"
"Dan ini." Wahyu menyerahkan map.
Di dalamnya terdapat hasil verifikasi administrasi dari satuan, surat persetujuan awal, serta jadwal akad yang tersedia di KUA. Semua data perceraian Laras, identitas, dan status Bram telah diperiksa.
"Jadwal paling cepat sembilan hari lagi," kata Bram. "Kalau terlalu cepat, kita pilih tanggal lain."
"Bukankah Bunda ingin segera?"
"Yang menikah kita, bukan Bunda."
Laras membaca berkas sampai akhir. Tidak ada kolom kosong, tidak ada bagian yang disembunyikan. "Tanggal ini tidak masalah. Pekerjaan di peternakan juga sudah lebih terkendali."
"Kalau ada keadaan darurat, akad bisa disesuaikan."
"Mayor selalu bicara seolah menyusun rencana operasi."
"Lebih baik daripada datang tanpa rencana."
Laras melirik nasi hangat di tangannya. "Berapa harganya?"
Bram menyebut jumlahnya tanpa mengejek. Laras langsung menulis di catatan kecil.
"Ini sarapan sebelum menikah," katanya. "Belum masuk biaya rumah tangga."
"Masukkan sebagai utang saya kepada calon istri."
"Kenapa utang Mayor?"
"Karena saya datang terlambat dan membiarkan dia mengganggumu beberapa menit."
Laras menatapnya, lalu melihat ujung bibir Bram bergerak sangat tipis. Lelaki itu ternyata bisa bercanda, meski wajahnya hampir tidak berubah.
"Saya bisa menghadapi Rendra sendiri," kata Laras.
"Saya tahu."
Laras menunjukkan tangkapan layar fitnah yang beredar. "Ini alasan dia datang. Ada yang menyebarkan kabar saya mendapat pekerjaan karena hubungan dengan Pak Yohanes."
Bram membaca seluruh rangkaian pesan, termasuk waktu unggahan dan akun pertama yang masih terlihat. "Kamu mau melaporkannya?"
"Belum. Saya sudah meminta Pak Sutrisno membuat pernyataan tentang penanganan PMK dan tim yang terlibat. Dinas juga punya daftar hadir. Saya ingin menyimpan bukti dulu, lalu melihat apakah pengirimnya berhenti atau justru menambah tuduhan."
"Kalau pesan itu masuk grup keluarga satuan, dampaknya bukan hanya ke pekerjaanmu."
"Karena itu saya tidak akan membalas dengan marah. Saya akan balas dengan dokumen."
Bram mengirim tangkapan layar itu ke ponselnya sendiri setelah Laras mengizinkan. "Wahyu bisa membantu menyimpan salinan tautan dan nomor asal. Bukan untuk mengambil alih. Hanya supaya bukti tidak hilang kalau pesan dihapus."
Laras mempertimbangkannya. "Baik. Tapi tidak ada tekanan dari satuan kepada orang peternakan hanya karena saya calon istri Mayor."
"Setuju. Kalau perlu tindakan, kita bicarakan dulu."
Pemilik kos yang sejak tadi menahan rasa ingin tahu akhirnya mendekat membawa piring. "Mbak Laras, makan di teras saja. Nasinya keburu dingin. Saya juga bisa jadi saksi kalau dokter tadi memaksa pintu."
"Terima kasih, Bu."
Perempuan itu menoleh kepada Bram. "Pak Mayor juga makan?"
"Saya sudah. Sarapan itu untuk Laras."
Tatapan pemilik kos langsung berubah penuh arti. Laras tahu kabar tentang seorang mayor yang mengantarkan nasi akan segera mengalahkan gosip Pak Yohanes di lingkungan kos.
Untuk sekali ini, ia tidak keberatan.
"Tadi Mayor tidak perlu datang sebagai penyelamat."
"Saya juga tahu." Bram mengambil kembali termos kosong dari Wahyu. "Tapi setelah kita menikah, kalau dia datang ke pintu rumah kita dan menolak pergi, beri tahu saya."
Ia berjalan menuju gerbang, lalu berhenti satu langkah sebelum keluar.
"Urusan dia, biar saya yang urus."