Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Pameran Seni
Suasana di gedung pameran seni kota Bern tampak begitu megah. Lukisan, patung, dan karya seni bernilai tinggi tertata rapi di sepanjang dinding putih yang berada di bawah pantulan lampu kristal. Clara berjalan santai sambil sesekali mengawasi kedua anaknya yang berjalan cepat mendahuluinya.
Di sisi Clara berjalan Ketty, sahabat karib sekaligus orang pertama yang mengulurkan tangan padanya saat ia tiba di kota ini lima tahun silam.
Selama ini, Ketty sangat berperan besar membantu Clara membesarkan si kembar. Bagi Ketty, Ken dan Key sudah seperti darah dagingnya sendiri. Begitu juga sebaliknya, kedua jenius kecil itu sangat lekat dan akrab memanggilnya dengan sebutan Bunda.
"Ket, aku titip si kembar sebentar, ya. Aku harus menyerahkan lukisan koleksiku ke kurator pameran," ucap Clara lembut.
"Siap! Tenang saja, mereka aman di bawah pengawasanku," sahut Ketty tersenyum hangat.
Clara berjongkok menyamakan tingginya dengan si kembar.
"Ken, Key, observasi karya seninya pelan-pelan saja. Tetap di radius pandangan Bunda Ketty. Mama ada urusan sebentar."
"Dimengerti, Ma!" seru keduanya serempak dengan gestur hormat ala tentara kecil.
Setelah kepergian Clara, Ketty melangkah santai mengikuti langkah kaki mungil Ken dan Key yang menyusuri galeri.
"Pelan-pelan, Sayang. Koefisien gesek lantainya rendah, kalian bisa tergelincir," tegur Ketty meniru gaya bicara si kembar sambil tertawa kecil.
Namun, rasa ingin tahu Ken dan Key terlalu besar. Mereka melangkah cepat menyusuri lorong panjang, saling berdebat mengkritisi lukisan.
"Lihat ini, Key! Proporsi dan saturasi warna kuning pada lukisan bunga matahari ini sangat brilian. Guratannya tegas," puji Ken seraya membenarkan letak kacamatanya.
"Menurut analisis Key, justru teknik gradasinya kurang mulus, Kak Ken. Masih lebih bagus mahakarya Mama di rumah," balas Key kritis sambil melompat-lompat kecil menyeimbangi langkah kakaknya.
Keduanya begitu asyik mendebatkan teori warna hingga abai pada lingkungan sekitar. Di sebuah persimpangan lorong yang agak sepi, Alexio baru saja melangkah keluar dari ruang pameran privat. Ia berjalan sendirian, sengaja meninggalkan Reno untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Hatinya gundah, beban rindu lima tahun terasa semakin berat mengimpit dada.
BRUK!
Terdengar bunyi benturan saat tubuh kecil Key menabrak kaki jenjang Alexio yang sekokoh pilar. Guncangan itu membuat Key kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai marmer yang mengkilap.
Alexio tersentak. Ia menunduk dengan rahang mengeras, bersiap menyorot dingin siapa pun yang ceroboh menabraknya. Namun, saat pandangannya jatuh pada dua bocah berambut pirang di bawah sana, napas Alexio seolah dirampas paksa dari tenggorokannya. Darahnya berdesir hebat.
Di hadapannya, Ken tengah mengulurkan tangan membantu adiknya berdiri.
"Kau tidak mengalami cedera struktural pada tulang ekormu kan, Key?" tanya Ken penuh selidik.
"Hanya benturan ringan, Kak Ken. Tapi massa otot pria ini keras sekali seperti titanium," gerutu Key sambil mengusap dahinya yang sedikit memerah.
Ken mengangkat wajah, berniat menegur pria dewasa di depannya. Namun, saat tatapan Ken bertemu dengan Alexio, anak itu mematung. Ken mengerutkan kening, mengamati wajah Alexio lekat-lekat layaknya sedang memindai data biometrik.
Key yang penasaran ikut mendongak. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali.
Waktu di lorong itu seolah berhenti berdetak bagi Alexio. Sepasang mata anak-anak itu menatap tepat ke manik matanya. Abu-abu terang, tajam, dan berkabut. Itu adalah mata miliknya. Sorot mata yang sama persis.
"Kak Ken ..." bisik Key, menarik lengan baju kakaknya. "Pigmentasi iris matanya ... identik dengan kita."
Ken mengangguk pelan, otak jeniusnya berputar cepat menghitung probabilitas. Ia melangkah maju, mendongak menatap Alexio yang masih membeku.
"Permisi, Tuan," sapa Ken dengan artikulasi yang terlalu rapi untuk anak umur empat tahun. "Mengingat hukum genetika Mendel tentang pewarisan sifat dominan, dan kesamaan spesifik pada warna iris mata kita ... apakah ada kemungkinan Anda adalah ayah biologis kami?"
Alexio tertegun kaku. Pertanyaan cerdas yang keluar dari bibir mungil itu menghantamnya seperti sambaran petir. Ia tidak tahu siapa anak-anak ini, belum pernah melihat mereka sebelumnya, namun ada tarikan tak kasat mata yang menjerat jantungnya. Tangannya yang besar perlahan terulur gemetar, ingin menyentuh pipi halus Key.
"Ken! Key! Apa yang kalian lakukan? Mundur dari Tuan itu!"
Suara panik Ketty membelah udara. Ia berlari kecil mendekat, merasa sungkan melihat anak-anak asuhnya menghalangi jalan seorang pria asing.
Mendengar suara itu, pertahanan si kembar runtuh. Mereka berbalik dan berlari menerjang Ketty, memeluk kaki wanita itu erat-erat.
"Bunda!" seru keduanya manja.
Panggilan itu bergema di telinga Alexio, menghantam kewarasannya. Hatinya yang baru saja melambung tinggi, seketika terhempas ke dasar jurang. Harapannya layu disiram kenyataan pahit.
"Bunda? Jadi wanita ini ibu mereka? Tapi wanita ini jelas bukan Clara." batin Alexio getir. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuh. "Apa yang kau harapkan, Xio? Berkhayal anak-anak ini milikmu sementara Clara saja belum kau temukan jejaknya?"
Ketty menatap Alexio. Ia seketika mengenali siapa pria ini, penguasa Van Der Berg Group yang sering menghiasi sampul majalah bisnis global. Aura dingin dan intimidasinya terasa begitu mencekik.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Van Der Berg," ucap Ketty sopan, sedikit menunduk.
"Anak-anak ini memang memiliki rasa ingin tahu yang terlalu tinggi dan kadang mengabaikan sekitar. Saya harap mereka tidak mengganggu kenyamanan Anda."
Ken menoleh kembali ke arah Alexio, masih menggenggam jari Ketty. "Tapi Bunda, hipotesisku—"
"Ken, Key, minta maaf sama Tuan ini sekarang juga," potong Ketty tegas namun lembut.
Key memajukan bibir bawahnya sebelum menatap Alexio. "Maafkan keteledoran kami, Tuan Tampan. Sebagai kompensasi karena menabrak Anda, Anda boleh berkunjung ke kediaman kami. Kami punya banyak kue cokelat untuk memperbaiki mood Anda."
Ken mengangguk setuju. Ia melambaikan tangan kecilnya, entah kenapa merasa enggan berpisah. "Sampai jumpa lagi, Tuan Tampan. Perhatikan langkah Anda, visibilitas di lorong ini agak kurang bagus."
Tanpa sadar, ujung bibir Alexio berkedut, membentuk senyum tipis yang amat langka. Tangannya reflek membalas lambaian mungil itu dengan gerakan kaku.
Ketty menuntun kedua anak itu pergi. Alexio mematung di tempatnya, menatap nanar punggung kecil si kembar hingga mereka tertelan kerumunan pengunjung. Ada rongga kosong yang mendadak menganga di dadanya.
Di sudut lain lorong, tepat di balik pilar penyangga yang kokoh, Clara baru saja kembali dari ruang kurator. Langkahnya terhenti mendadak. Netranya menangkap sesosok punggung tegap berbalut setelan mahal yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
Saat pria itu sedikit memutar kepala dan cahaya lampu menyorot profil samping wajahnya, Clara menahan napas sekuat tenaga. Ia membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Mata abu-abu itu. Rahang tegas itu. Semuanya terasa begitu hidup dan mengintimidasi.
"Mungkinkah ... dia ada di sini? Di gedung yang sama denganku?"
Clara mematung di balik pilar. Jantungnya berpacu brutal layaknya genderang perang. Ia terjebak antara hasrat untuk lari menghindar, atau melangkah maju menghadapi takdir yang selama lima tahun ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Bersambung ...
asli part ini bacanya seru