Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Mengikuti

Jalan setapak yang menurun dari rumah kedelapan itu terasa jauh lebih panjang dibandingkan saat mereka naik tadi. Setiap langkah yang mereka ambil terasa berat, seakan ada sesuatu yang menarik mereka ke belakang, menahan agar tidak pergi. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang berani menoleh ke belakang. Semua orang hanya berjalan lurus ke depan, mata tertuju pada tanah di depan kaki mereka, napas teratur namun terasa berat di dada. Keheningan di sekitar mereka bukan lagi keheningan yang damai ia penuh, sesak, seakan dipenuhi oleh ribuan bisikan yang tidak bisa didengar secara jelas, namun bisa dirasakan dengan kuat di dalam hati.

Raka berjalan di paling belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal. Sesekali ia menoleh ke belakang, sekilas, hanya untuk memastikan bahwa semua orang masih ada di sana. Namun setiap kali ia menoleh, ia merasakan hal yang sama ada sesuatu yang bergerak di antara pepohonan, di pinggir jalan setapak itu, mengikuti langkah mereka. Bukan binatang, bukan angin. Itu bayangan yang lebih tinggi dari manusia, bergerak dengan kecepatan yang sama dengan mereka, selalu berada di jarak yang sama, tidak mendekat dan tidak menjauh. Raka tidak pernah bisa melihatnya dengan jelas hanya sekilas, di sela-sela dedaunan yang lebat, bentuknya samar namun selalu ada. Ia tidak mengatakan apa pun kepada teman-temannya. Ia tidak ingin menambah ketakutan mereka. Tapi di dalam hatinya, ia tahu mereka tidak pulang sendirian. Sesuatu ikut bersama mereka.

Ketika mereka akhirnya sampai di halaman rumah Bu Wiyati, semua orang berhenti serentak, menarik napas panjang seakan baru saja melepaskan beban yang sangat berat. Cahaya matahari pagi yang hangat menyinari wajah mereka, namun tidak ada yang merasa hangat. Tubuh mereka masih terasa dingin, seakan udara dingin dari atas bukit itu ikut menempel di pakaian, di kulit, di tulang mereka.

Bu Wiyati sudah menunggu di beranda, duduk tenang di kursi rotan sambil memegang cangkir teh yang masih berasap. Ia tidak bertanya apa-apa saat mereka masuk. Ia hanya menatap wajah mereka satu per satu, dan dari tatapannya, seakan ia sudah tahu apa yang terjadi di atas sana tanpa perlu ada yang menceritakan.

"Kalian membawa sesuatu kembali," ucapnya pelan, bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang pasti. "Bukan benda. Bukan roh. Tapi kesan. Sesuatu yang menempel pada hati kalian. Itulah yang harus kalian jaga dengan baik. Jangan biarkan ia tumbuh menjadi ketakutan. Karena ketakutan itu yang akan membukakan pintu bagi hal-hal lain yang tidak diinginkan."

Mereka duduk di ruang tengah, melepaskan lelah, minum air hangat yang disiapkan Bu Wiyati. Namun tidak ada yang merasa benar-benar beristirahat. Setiap kali ada angin berhembus, setiap kali pintu kayu berderit pelan, setiap kali ada bayangan yang bergerak di sudut ruangan mata mereka semua beralih ke arah itu, jantung berdegup lebih kencang, napas tertahan sejenak. Mereka tahu bahwa mereka sudah kembali ke tempat yang aman, namun perasaan diawasi itu tidak hilang. Ia tetap ada, di sudut ruangan, di balik pintu, di dalam bayangan mereka sendiri.

"Kita tidak melanjutkan syuting hari ini," kata Raka setelah terdiam cukup lama. Suaranya lemah namun tegas. "Kondisi kita tidak memungkinkan. Pikiran kita masih di atas sana. Dan kalau kita memaksakan diri... takutnya kita tidak fokus, dan itu justru membahayakan kita semua."

Beberapa orang mengangguk setuju. Tidak ada yang keberatan. Mereka semua merasa lelah bukan lelah secara fisik, tapi lelah batin, lelah karena terus-menerus berada di antara dua dunia yang begitu tipis batasnya.

Siang itu berlalu dengan lambat. Beberapa orang tidur sebentar di ruang tamu, berdekatan satu sama lain. Beberapa yang lain duduk di beranda, melihat ke arah jalan setapak yang menuju ke atas bukit, berbicara pelan satu sama lain bukan soal syuting, bukan soal film, tapi soal kehidupan, soal keluarga, soal hal-hal yang membuat mereka merasa masih manusia, masih berada di dunia yang nyata.

Laras duduk sendirian di sudut beranda, menatap ke arah pohon-pohon di kejauhan. Ia tidak tidur. Ia tidak berbicara. Matanya tampak jauh, seakan pikirannya masih berada di rumah kedelapan itu, berdiri di depan pintu kayu yang tertutup rapat, menunggu sesuatu yang belum datang.

"Kau merasakannya, bukan?" tanya Dimas pelan, duduk di sebelahnya tanpa menyentuh. "Sesuatu yang ikut turun bersama kita."

Laras mengangguk pelan, tanpa mengalihkan pandangannya. "Ia tidak jahat, Dimas. Tapi ia kesepian. Kesepian yang begitu dalam hingga ia tidak tahu lagi cara untuk tidak sendirian. Itulah sebabnya ia mengikuti kita. Bukan untuk menyakiti. Tapi karena kita adalah manusia pertama yang sejak lama memperlakukannya seperti manusia."

"Dan itulah yang berbahaya," jawab Dimas pelan, matanya menatap ke arah bukit yang mulai memerah terkena sinar matahari sore. "Karena kalau ia terbiasa dengan kehadiran kita... ia tidak akan lagi membiarkan kita pergi. Dan kita tidak bisa tinggal di sini selamanya."

Sore itu, langit di atas Kampung Pitu berubah warna menjadi jingga keunguan yang sangat indah, begitu cantik hingga hampir tidak nyata. Namun keindahan itu terasa menyedihkan. Seakan alam itu sendiri sedang menangis, sedang meratapi nasib keluarga yang terjebak di atas sana, dan nasib mereka yang kini perlahan-lahan terlibat semakin dalam dalam misteri yang tidak mereka ketahui ujungnya.

Malam kembali tiba, perlahan, seakan langit itu enggan menurunkan kegelapan lagi. Namun ia tetap turun menyelimuti kampung itu, menyelimuti rumah Bu Wiyati, dan menyelimuti rumah kedelapan yang kini kembali hilang dalam kegelapan di atas bukit. Lampu-lampu dinyalakan lebih awal malam ini. Semua pintu dan jendela diperiksa kembali. Mereka berkumpul di ruang tengah seperti malam sebelumnya bukan karena takut, tapi karena bersama-sama, mereka merasa lebih kuat.

Dan di luar, di antara pepohonan di pinggir halaman, sesosok bayangan berdiri diam. Ia tidak mendekat. Ia tidak mengetuk. Ia hanya berdiri di sana, menatap cahaya lampu yang hangat dari dalam rumah itu, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa sendirian sepenuhnya.

Di dalam ruangan, Laras tiba-tiba berbicara pelan, ke arah jendela yang tertutup rapat.

"Kami di sini besok. Tapi tolong... beri kami waktu. Jangan mendekat saat kami beristirahat. Kami juga butuh waktu untuk memahami semuanya."

Tidak ada jawaban. Namun di luar sana, angin malam berhembus pelan, menggerakkan dedaunan seakan mengangguk setuju. Dan perlahan, bayangan itu mundur, menghilang ke dalam kegelapan namun tidak pergi jauh. Ia hanya menunggu, di tempat yang aman, di tempat yang tidak akan menakuti mereka.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!