Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin-Dingin tapi Kepanasan
Evan berdiri mematung di balik dinding kaca tebal setinggi langit-langit di ruang executive lounge sirkuit.
Kaca laminasi keamanan itu memiliki fitur kedap suara yang sempurna, memisahkan Evan dari kebisingan penonton stadion yang sedang menggila di bawah sana. Ruangan ber-AC tempatnya berpijak terasa sangat dingin seperti suasana hatinya saat ini.
Dari ketinggian lantai dua gedung Pit Building, pemandangan di bawah terlihat sangat jelas seperti sebuah panggung teater raksasa.
Di bawah sana, ribuan penonton bersorak membahana. Bendera kotak-kotak hitam-putih dikibarkan dengan riuh. Sean baru saja memenangkan balapan dengan selisih waktu yang sangat tipis namun dramatis.
Tapi Evan sama sekali tidak melihat bendera kemenangan itu. Matanya terkunci rapat pada satu titik kecil di area pit lane.
Sean tampak turun dari mobil balap merah menyala itu. Helmnya sudah dilepas, membuat rambutnya berantakan karena peluh dan sapuan angin kecepatan tinggi. Wajah adiknya berseri-seri, dipenuhi luapan adrenalin.
Anehnya, Sean tidak lari ke arah tim mekanik untuk berfoto kemenangan. Dia juga tidak menghampiri deretan sponsor untuk sekedar melakukan jabat tangan formal yang menguntungkan bisnisnya.
Cowok itu malah berlari kencang menuju Aira.
Aira berdiri di samping pagar pembatas besi, tampak menunggu dengan melipat tangan di depan dada. Saat Sean mendekat, Gadis itu melemparkan sebuah senyuman lebar. Sebuah senyum tulus dan bebas yang sangat jarang sekali Evan lihat di rumah, apalagi ditujukan untuk dirinya.
"Gimana?!" teriak Sean lantang. Suaranya hampir tertelan riuh rendah stadion, tapi gestur tubuhnya begitu ekspresif hingga terbaca jelas oleh Evan dari atas gedung.
"Taktik yang lo kasih dipadu sama kemudi dewa gue... terbukti, kan?" Nggak ada lawan!" seru Sean.
Sean tidak sekadar berbicara. Cowok itu merangkul bahu Aira sekilas dalam sebuah pelukan kemenangan yang singkat namun terasa sangat hangat, lalu melakukan high-five yang keras dan kompak.
PLAK!
Tawa Aira meledak seketika. Terdengar renyah dan tanpa beban.
Karena kebisingan suara mesin dan sorak-sorai penonton yang luar biasa bising, Sean terpaksa harus mendekatkan wajahnya ke telinga Aira untuk melanjutkan omongannya. Jarak mereka berdua mendadak menjadi begitu dekat.
Hidung Sean bahkan nyaris menyentuh pelipis Aira. Mata Sean menatap lekat-lekat wajah cewek itu, penuh dengan kekaguman dan keakraban yang tidak bisa dipalsukan. Ada sepasang cahaya di mata Sean yang rasanya hanya muncul ketika dia berada di dekat Aira.
Momen kedekatan fisik itu sebenarnya berlangsung hanya tiga detik saja. Tapi bagi kamera para awak media yang mengintai di pinggir lintasan, itu adalah emas murni untuk berita mereka.
KLIK! KLIK! KLIK!
Puluhan lampu kilat kamera menyala bertubi-tubi, mengabadikan chemistry alami antara seorang pembalap muda yang karismatik dan gadis tomboi yang mempesona. Foto-foto itu pasti akan menjadi headline berita gosip malam nanti.
Di lantai atas, rahang Evan mengeras sempurna. Urat di sepanjang lehernya tampak menegang, menonjol jelas di balik kerah kemeja hitamnya.
Dadanya bergemuruh. Rasa sesak itu datang secara tiba-tiba, seolah-olah ada sebuah tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga membuatnya sulit untuk menarik napas.
Dia marah karena harga dirinya sempat hancur dihadapan Kakek Baskara gara-gara gadis ini. Dia marah karena Papi Surya membelanya secara terang-terangan kemarin.
Tapi ternyata ada hal lain. Ada sebuah rasa panas yang menjalar aneh dari ulu hati menuju ke tenggorokannya. Sebuah rasa tidak nyaman yang sangat asing bagi hidupnya.
Setiap kali dia melihat Aira tersenyum bebas untuk pria lain, apalagi untuk adik kandungnya sendiri. Rasa panas itu makin menjadi-jadi.
Evan mencoba menamai perasaan itu di dalam kepalanya sebagai sebuah kekesalan terhadap ketidakprofesionalan. Tapi otaknya yang tajam tahu betul kalau itu adalah kebohongan besar.
Itu adalah rasa cemburu. Dan pengakuan batin itu sukses membuatnya merasa sangat muak pada dirinya sendiri.
"Tuan Evan?"
Sebuah suara berat memecah lamunannya secara mendadak.
Evan berkedip beberapa kali, memaksakan topeng dinginnya kembali turun menutupi ekspresi wajahnya. Di sebelahnya berdiri Mr. Henderson, Direktur Operasional dari Federasi Balap Internasional. Pria paruh baya berkumis tebal itu tersenyum ramah, menunjuk ke arah lintasan melalui kaca jendela.
"Investasi Wirasena Group di sirkuit ini benar-benar luar biasa," puji Henderson dengan aksen Inggris yang kental. "Terlebih adik Anda, Sean. Dia benar-benar menjadi bintang utama hari ini. Performa mobilnya... unbelievable. Apakah ada rahasia teknis khusus dibalik mesinnya?"
Evan mengalihkan pandangan matanya dari kaca jendela dengan kaku. Suaranya terdengar datar tanpa emosi.
"Terima kasih, Mr Henderson. Wirasena Group hanya menaruh modal pada aset yang memiliki garansi kemenangan mutlak. Dan Sean memang... berbakat."
Kata berbakat itu entah kenapa terasa sangat pahit dan asam di lidah Evan sendiri.
Sementara Evan sibuk melayani obrolan formal dengan klien asing itu, Tama yang berdiri takzim di belakangnya diam-diam melirik ke arah layar tablet kerjanya. Layar tablet itu menampilkan live feed dari kamera sirkuit yang sedang melakukan zoom-in pada wajah Sean dan Aira.
Gambar mereka berdua yang sedang tertawa bersama terpantul dengan sangat jelas di layar digital itu. Tama tersenyum tipis di dalam hati, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak berkomentar apa pun secara langsung.
Waduh, pikir Tama geli. Tuan Muda Sean memang jauh lebih kelihatan seperti manusia biasa ketimbang bosnya. Hangat, ramah, dan tahu cara memperlakukan perempuan. Berbanding terbalik dengan Tuan Muda Evan yang kaku dan sedingin es balok.
Wajar saja kalau Nona Aira bisa langsung nyaman dan nyambung begitu diajak mengobrol. Perempuan mana pun pasti lebih memilih cowok yang royal senyuman daripada yang hobinya cuma kasih tatapan mengintimidasi setiap hari.
Tama melirik sekilas ke arah punggung bosnya yang tampak menegang kaku.
Rasain, batin asisten itu puas. Makanya, kalau dari awal tidak mau terbakar cemburu seperti ini, jangan belaga sok gengsi membuang istri sendiri di rumah. Sekarang begitu Nona Aira didekati pria lain, baru tahu rasa, kan?
"Kak, di luar sini makin pekat. Paru-paru lo nggak bakal kuat kalau lama-lama berdiri di area terbuka begini," kata Sean. Suaranya melunak penuh perhatian.
Cowok itu menunjuk ke arah gedung pit building di sebelah kiri mereka. "Yuk, ikut gue ke Driver's Lounge di lantai atas garage. Tempatnya sepi, AC-nya dingin, dan layar monitor datanya lengkap. Gue mau tunjukin grafik telemetry tikungan terakhir ke lo. Ada anomali aneh di sektor dua yang cuma bisa kita bahas berdua secara detail."
Aira mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Sean. Tidak ada rasa curiga sama sekali di wajahnya. Hanya ada sebuah kepercayaan penuh dan ketertarikan profesional yang mendalam sebagai sesama pecinta otomotif.
Bagi seorang mekanik sejati, data telemetry adalah hal yang paling seksi di dunia mereka.
"Boleh juga," jawab Aira mantap dengan sepasang mata yang berbinar cerah. "Gue emang butuh lihat data suspensi sama suhu ban belakang buat ajang evaluasi setelan mesin berikutnya."
Mereka berdua berjalan beriringan melintasi koridor pembatas. baju mereka kadang bersentuhan secara tidak sengaja akibat sempitnya jalan. Sean sesekali membungkukkan tubuhnya sedikit untuk mendengarkan Aira berbicara, memberikan atensi penuh yang membuat siapa pun yang melihat dari kejauhan akan mengira mereka adalah sepasang kekasih, bukan sekadar saudara ipar.
Mereka berbelok masuk ke dalam lorong privat gedung pit, menuju ke arah lift khusus tim balap mereka.
Di lantai VIP atas, Evan melihat momen penutupan pintu itu dengan mata kepala sendiri. Melihat bagaimana Aira mengikuti langkah Sean masuk ke dalam ruangan tertutup. Sendirian. Hanya mereka berdua.
Rasa sesak di dalam dadanya seketika berubah menjadi amarah yang membakar seluruh akal sehatnya. Seluruh logika bisnis yang selama ini dia agungkan runtuh begitu saja, digantikan oleh ego dan insting posesif yang mendadak menguasai dirinya secara paksa.
"Maaf, Mr. Henderson," potong Evan tiba-tiba.
Pria itu sama sekali tidak menunggu respon atau jawaban dari pria asing di hadapannya itu. Pandangan matanya sudah tidak fokus lagi pada urusan klien bisnis, melainkan tertuju lurus pada pintu lift yang baru saja tertutup rapat di kejauhan.
"Ada urusan keluarga mendesak yang harus saya selesaikan sekarang."
Tanpa menunggu jawaban atau permisi lebih lanjut dari orang-orang di ruangan VIP, Evan langsung berbalik badan dengan gerakan yang sangat cepat. Langkah kaki lebar dan tegasnya memancarkan aura intimidasi yang pekat saat membelah ruangan.
Evan sendiri sebenarnya tidak tahu pasti apa yang akan dia lakukan saat menemukan mereka berdua di dalam ruangan tertutup itu nanti.
Yang dia tahu dengan pasti saat ini, dia harus segera menghentikan interaksi mereka. Sekarang juga. Sebelum rasa cemburu yang mengimpit dadanya ini benar-benar membunuh seluruh kewarasannya.