Indonesia
NovelToon NovelToon
MONTIR PRIBADI HATI TUAN MUDA

MONTIR PRIBADI HATI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.

Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.

Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.

Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.

Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.

"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JARAK YANG TEEJAGA DAN BUKU YANG TERBUKA

Pukul tujuh malam lewat sedikit, ketukan pintu yang khas dan bersemangat itu kembali terdengar. Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskan sisa ketegangan akibat keributan dengan Senti di workshop tadi siang, lalu membuka pintu kayu rumahku.

Maikel sudah berdiri di sana dengan kemeja flanel longgar andalannya. Wajah tampannya langsung dihiasi cengiran lebar begitu melihatku.

"Selamat malam, Ibu Guruku! Wah, auranya beda ya kalau udah jadi karyawan resmi," godanya langsung tanpa basa-basi sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

Aku memutar bola mata malas, namun ada desiran hangat yang menyelinap di dadaku.

"Masuk, Kel. Jangan berisik, Ibu baru saja tidur di kamar setelah minum obat."

"Siap, Bos," bisik Maikel patuh, langsung mengambil posisi duduk bersila di seberang meja kayu kecil kami.

Malam ini, suasana hatiku agak berbeda. Ucapan Ibu saat sarapan pagi tadi tentang “Maikel terlalu muda untuk kamu, Jem” dan “jangan sama anak SMA” terus berputar-putar di dalam kepalaku bagaikan kaset rusak. Aku mengambil jarak duduk sedikit lebih mundur dari biasanya, mencoba membangun kembali dinding pembatas yang sempat goyah.

Maikel yang menyadari pergeseran posisiku langsung mengernyitkan dahi. Dia menopang dagunya dengan tangan kiri, menatapku penuh selidik.

"Kak Jema... lu kok duduknya jauh banget di ujung sana? Gue kan murid les lu, bukan virus yang perlu dikarantina."

"E-enggak apa-apa. Biar lebih luas saja space mejanya," jawabku agak gugup, buru-buru membuka buku paket matematika bab dimensi tiga untuk menutupi kecanggunganku.

"Ayo cepat buka catatan kamu. Malam ini kita bahas tentang jarak titik ke bidang dalam kubus."

Maikel menerima selembar kertas kosong yang kusodorkan, namun matanya tetap menatapku lekat-lekat.

"Lu lagi ada masalah ya, Kak? Mukanya ditekuk terus dari tadi. Apa orang-orang di perusahaan baru lu ada yang bikin lu kesel?"

Pertanyaannya yang teliti hampir membuatku tersedak ludah sendiri.

"Enggak ada. Pekerjaanku lancar. Sudah, jangan banyak tanya dan fokus ke soal nomor tiga ini," ujarku ketus, mengetuk permukaan meja dengan ujung pulpen.

Maikel menghela napas panjang, lalu mulai menggerakkan pulpennya di atas kertas buram. Ajaibnya, malam ini dia benar-benar mengikuti instruksiku dengan cepat.

Garis pembantu proyeksi dan hitungan rumusnya berjalan sangat runtut, membuktikan kalau dia tidak berbohong soal janjinya untuk belajar serius.

"Gini kan, Kak? Proyeksi titik R ke bidang LMN itu jatuh di titik tengah diagonalnya, terus tinggal pakai rumus Pythagoras buat cari panjang jaraknya," jelas Maikel, memutar kertas coretannya ke arahku.

Aku memeriksa deretan angka dan variabel buatannya. Mataku membelalak pelan.

"Wah... beneran ketemu jawabannya. Keren, Kel. Cara berpikir kamu taktis banget."

Maikel langsung menegakkan punggungnya, tersenyum bangga dengan binar jenaka yang sangat kurindukan.

"Tentu dong. Kan gue udah bilang, gue itu aslinya genius tingkat dewa. Gimana? Udah makin bangga belum punya murid kayak gue?"

"Iya, iya, aku bangga," sahutku pelan sembari memberikan senyuman tipis yang tulus.

Namun, sedetik kemudian, pandanganku jatuh pada seragam SMA putih-abu-abu yang tersampir di dalam tas ranselnya yang terbuka sedikit.

Kenyataan bahwa dia adalah seorang remaja delapan belas tahun yang masih harus menempuh ujian kelulusan sekolah kembali menampar logikaku. Aku buru-buru menarik kembali senyumanku, mengubah ekspresi wajahku menjadi kaku.

Maikel yang menyadari perubahan drastis pada raut wajahku kembali mencondongkan tubuhnya melewati meja.

"Kak... lu beneran aneh banget malam ini. Kadang senyum, kadang cemberut, terus dari tadi kayak sengaja ngehindarin tatapan mata gue. Kenapa, sih? Gue ada salah ngomong?"

"Maikel, tolong posisinya jangan terlalu dekat," ujarku tegas, sedikit memundurkan tubuhku lagi.

"Kita di sini cuma buat belajar. Ingat batas hubungan kita, kamu itu murid les dan masih anak SMA, sedangkan aku guru kamu dan... kita beda usia cukup jauh."

Mendengar kalimat pembatasan yang kuucapkan dengan dingin, gerak-gerik Maikel langsung terhenti. Cengiran jail di wajah tampannya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat dalam, serius, dan memancarkan getaran kedewasaan yang mutlak.

Dia meletakkan pulpennya perlahan ke atas meja, menatap tepat ke dalam manik mataku tanpa berkedip sedikit pun.

"Beda usia?" tanya Maikel dengan nada suara yang merosot drastis menjadi berat dan penuh penekanan.

"Lu dari kemarin hobi banget bawa-bawa status anak SMA dan umur gue ya, Kak Jema."

Aku menelan ludah dengan susah payah, mendadak merasa terintimidasi oleh tatapan matanya yang mengunci pergerakanku.

"Itu... itu fakta, Maikel. Dunia kita berbeda."

"Dunia kita enggak berbeda, Jema," potong Maikel cepat, memanggil namaku tanpa embel-embel 'Kak' untuk kesekian kalinya dengan nada yang teramat posesif. Dia menumpukan kedua tangannya di atas meja, menatapku lurus-lurus.

"Sebentar lagi gue lulus SMA. Setelah itu, status anak sekolahan yang lu jadiin benteng pertahanan itu bakal hilang. Umur gue delapan belas tahun, dan di mata hukum gue udah jadi pria dewasa yang sah. Jadi, stop pakai alasan umur buat jaga jarak dari gue."

Jantungku seketika bertalu-talu dengan sangat kencang, menghantam rongga dadaku hingga rasanya mau melompat keluar. Wajahku membara panas karena intensitas tatapannya yang begitu membakar. Keras kepalanya bocah ini benar-benar tidak ada tandingannya di dunia.

"Maikel, kamu—"

"Gue bakal buktiin ke lu, Jema," potong Maikel lagi dengan senyuman tipis yang teramat tulus di sudut bibirnya. Dia menarik tubuhnya kembali, menyampirkan tas ranselnya di bahu karena jam dinding sudah menunjuk ke angka sembilan malam lewat sedikit.

"Gue bakal lulus dengan nilai biru semua sesuai syarat lu. Dan setelah itu, gue bakal runtuhin semua dinding pembatas yang lu bikin di dalam hati lu itu. Lahir dan batin."

Dia bangkit berdiri, berjalan menuju pintu depan dengan langkah tegap nan anggun yang entah kenapa terlihat sangat gagah. Begitu sampai di ambang pintu, dia membalikkan badan dan mengedipkan sebelah matanya, kembali ke mode jailnya yang menyebalkan.

"Gue pulang dulu ya, Ibu Guru Galak kesayangan gue. Jangan merindukan pangeran ganteng lu ini malam-malam ya, ntar gak bisa tidur," godanya riang.

"Maikel Sebastian Bach! Pulang sekarang juga!" seruku dengan wajah yang sudah memerah padam karena kesal sekaligus salah tingkah yang luar biasa.

Maikel tertawa renyah, tawa bebasnya menggema memecah keheningan gang sepi saat dia melangkah menuju mobil sport merahnya. Setelah menutup pintu dan memutar kunci ganda, aku bersandar di balik pintu kayu, memegangi dadaku yang bergemuruh hebat bagai mesin mobil balap.

Aku kesal karena selalu kalah telak berdebat dengannya, namun di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada rasa senang dan desiran bahagia yang teramat pekat merayap naik, mengabaikan total semua wejangan logis tentang batasan usia yang diberikan Ibuku tadi pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!