Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENIH PEMBERONTAKAN
Angin malam berembus cukup kencang melintasi pelataran dalam Istana Singhasari. Suasana di dalam ruangan tempat Anusapati berkumpul bersamaku terasa agak tegang.
Seorang mata-mata kepercayaan kerajaan baru saja berlutut, menyampaikan laporan rahasia terkait pergerakan di wilayah-wilayah yang dikelola oleh saudara-saudara Anusapati.
"Secara umum, aktivitas di wilayah lain berjalan seperti biasa, Gusti," ujar mata-mata itu dengan suara direndahkan. "Namun ada satu hal yang janggal di Kediri. Akhir-akhir ini, makin banyak orang asing yang berdatangan. Mereka bukan sekadar pedagang atau musafir biasa, melainkan para ahli silat dan pendekar pilih tanding dari berbagai penjuru daerah. Jumlah mereka terus bertambah."
Mendengar laporan itu, Anusapati menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Raut wajahnya mendadak serius, matanya memicing tajam menatap lilin yang bergoyang ditiup angin malam.
"Sepertinya Tohjaya sudah mulai bergerak," gumam Anusapati pelan namun tegas. "Dia mulai mengumpulkan kekuatan secara diam-diam di Kediri."
Aku yang duduk di sampingnya hanya menyunggingkan senyum tipis. Setelah baru saja menyelesaikan transaksi raksasa di Dharmasraya dan memeras siluman Semeru, mendengar Tohjaya mulai merekrut pendekar rasanya seperti melihat anak kecil yang sedang mengumpulkan kelereng.
Aku menegakkan tubuh, lalu menepuk pelan meja di depanku.
"Kalau begitu, biar aku yang mencari tahu langsung ke Kediri," ucapku santai. "Kita lihat sehebat apa para pendekar yang dikumpulkan Tohjaya di sana."
Anusapati menoleh menatapku, ada rasa lega sekaligus antisipasi di matanya. Ia tahu betul, menyerahkan urusan penyelidikan ini ke tanganku berarti informasi yang didapat nanti tidak cuma akurat, tapi juga siap menghadapi kejutan apa pun yang disiapkan Tohjaya.
Keesokan harinya, aku sudah tidak lagi berpenampilan sebagai Arya Sena dari Tugaran. Dengan mengamalkan mantra perubahan wujud, wajah dan perawakan tubuhku berganti menjadi seorang pria tua renta berdandan pengembara sederhana, lengkap dengan tongkat kayu di tangan kanan.
Aku melangkah santai menyusuri riuhnya pasar dan sudut-sudut kota Kediri. Benar saja apa yang dilaporkan mata-mata Anusapati. Di sepanjang jalan, terlihat puluhan pria bertubuh tegap dengan langkah mantap, menyandang pedang, gada, atau keris berukir di pinggang mereka.
Tatapan mata mereka tajam dan penuh kewaspadaan jelas sekali perawakan para ahli silat dan jawara bayaran dari luar daerah.
Aku mendekati salah satu warga lokal yang sedang duduk bersandar di pos ronda sambil memperhatikan laluan para pendekar asing itu.
"Sepertinya ada banyak pendatang akhir-akhir ini ya, Nganten?" tanyaku dengan suara serak khas orang tua.
Warga itu menoleh, lalu menghela napas pendek. "Benar, Pak Tua. Penguasa Kediri sedang giat-giatnya merekrut orang-orang luar untuk dijadikan prajurit."
Aku mulai melemparkan umpan provokasi secara halus. "Kenapa bisa begitu? Padahal rakyat Kediri kan juga banyak, dan rasanya anak-anak muda di sini tidak kalah gagah dibanding orang-orang luar itu. Kenapa harus merekrut orang luar?"
Warga tersebut langsung menggigit umpanku. Ia menegakkan posisi duduknya, wajahnya tampak kesal. "Benar! Kau juga berpikiran begitu, kan? Entah apa yang ada di isi kepala penguasa itu. Padahal orang Kediri sendiri banyak yang butuh pekerjaan, kenapa malah merekrut orang luar?"
Melihat emosinya mulai terpancing, aku memperdalam umpan dengan nada berbisik rahasia. "Mungkinkah... akan terjadi perang besar lagi?"
Pertanyaan menohok itu membuat beberapa warga di sekitar pos yang ikut mendengarkan langsung bungkam seketika. Raut wajah mereka berubah terkejut dan cemas.
"Kami baru saja merasa hidup agak stabil, Pak Tua... Masa harus ada perang lagi?" bisik salah satu warga lain dengan wajah cemas.
Aku menggeleng-gelengkan kepala berpura-pura prihatin, menyiramkan minyak ke dalam api kecurigaan mereka. "Mungkin saja. Coba kalian pikirkan baik-baik... Untuk apa orang-orang luar itu direkrut dalam jumlah besar? Apakah untuk perang besar, atau justru untuk alat menindas dan memeras rakyat Kediri asli nantinya? Banyak sekali kemungkinannya."
Seorang warga menepuk lututnya sendiri, matanya membelalak menyadari alur pikiranku. "Benar kata Pak Tua ini! Kalau prajuritnya orang Kediri asli, tentu mereka tidak akan tega menyusahkan atau memeras saudara setanah airnya sendiri. Tapi kalau yang dikerahkan orang luar bayaran... beda cerita!"
Melihat benih-benih keraguan dan ketidakpercayaan rakyat Kediri terhadap pergerakan rahasia Tohjaya mulai tertanam manis, aku menyunggingkan senyum tipis di balik jenggot kupingku.
"Ah, ini cuma pemikiran orang tua pikun. Jangan terlalu dipikirkan," ucapku santai sambil mengibaskan tangan.
Aku kembali melangkah pelan meninggalkan pos ronda itu, menotokkan tongkat kayuku ke ubin jalan, siap menyebarkan desas-desus serupa ke sudut-sudut kota Kediri lainnya untuk mengacaukan stabilitas internal kekuatan Tohjaya dari bawah.
Setelah berjalan cukup jauh aku melihat para prajurit Kediri mulai berkumpul dan memeras rumah rumah warga "pajak pajak" ucap mereka
Pemilik rumah membalas seperti tidak terima "loh pajak lagi, baru beberapa hari kalian memungut, sekarang pajak hari, mau tiap hari kalian memungut pajak" jawab salah seorang pemilik rumah
"Diam, ini perintah raja Anusapati, beliau meminta upeti, yang kemarin untuk penguasa Kediri"
Pemilik rumah seperti melawan tetapi apa daya, dia dipukuli prajurit dan barang-barangnya dibawa paksa.
Melihat perlakuan kasar para prajurit Kediri yang memukuli dan merampas harta warga desa itu, mataku memicing tajam. Tohjaya ternyata sengaja memeras rakyatnya sendiri dengan dalih membawa-bawa nama Anusapati untuk merusak citra sang raja di mata rakyat Kediri. Strategi licik yang sangat tipikal.
Setelah rombongan prajurit itu pergi membawa barang pampasan, aku melangkah pelan mendekati pemilik rumah yang masih terkapar meringis kesakitan. Aku memegang lengannya, membantunya berdiri bersandar pada tiang teras.
"Sering mereka melakukan ini, Pak?" tanyaku dengan suara serak khas orang tua, pura-pura prihatin.
Pria itu mengusap sudut bibirnya yang berdarah lalu mengangguk lemah. "Terima kasih, Ki... Iya, akhir-akhir ini gencar-gencarnya mereka memungut pajak," ucapnya dengan nada penuh kekecewaan dan amarah.
"Kenapa tidak melaporkan saja perbuatan penguasa Kediri ini ke atasannya?" tanyaku lagi memancing.
"Kau dengar sendiri tadi, kan? Atasannya juga busuk! Raja Anusapati terus meminta dan memeras pajak dari kita lewat mereka!" serunya getir.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis di balik jenggot penyamaranku. "Tapi yang aku dengar justru berbeda. Kalau Penguasa Singhasari itu memang busuk, tidak mungkin beliau bersedia membagi wilayah kekuasaannya secara adil kepada saudara-saudaranya. Mungkin nama Raja Anusapati cuma dijadikan dalih saja oleh Penguasa Kediri untuk menutupi keserahakannya sendiri."
Pria itu mendadak terdiam, matanya membelalak menatapku dengan raut ragu.
Aku melanjutkan omonganku dengan nada meyakinkan, "Di pusat wilayah yang dikelola Raden Mahisa dan Panji sepertinya aman-aman saja, tidak ada rakyat yang diberatkan oleh pajak berlebih. Apalagi di pusat Singhasari sendiri, Raja Anusapati malah membebaskan seluruh pajak rakyat selama sebulan penuh setelah beliau naik tahta."
"Yang benar kamu, Ki?!" tanya pria itu tak percaya, matanya memancarkan sedikit harapan.
"Iya, coba saja kau cari kabar dari para pedagang yang lalu-lalang," saranku mantap. "Kalau ini murni tindakan Penguasa Kediri yang memfitnah Sang Raja demi membiayai prajurit-prajurit asingnya, kalian tidak boleh diam saja. Kalian harus bertindak dan melaporkan kejahatan Penguasa Kediri ini langsung ke Raja Anusapati secara diam-diam."
Pria itu memegang dadanya yang sakit, lalu mengangguk-angguk paham dengan raut wajah yang kini berubah penuh dendam dan tekad terhadap Tohjaya.
Benih pemberontakan rakyat Kediri terhadap penguasanya sendiri kini sudah benar-benar tertanam. Aku membalikkan badan dan melanjutkan langkahku menyusuri lorong kota, siap membawa fakta kebusukan Tohjaya ini kembali ke hadapan Anusapati.
Terima kasih banyak atas dukungannya!
Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!