Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Cegil Di Pesta Mewah 09.
Di balik punggung rampingnya, Galang berdiri dengan rahang mengeras. Cowok itu lantas memanggil nama gadis malang tersebut.
Bukan untuk menahan dengan cinta, melainkan untuk menghentikan pelarian Livy sebelum menghancurkannya sepenuhnya.
"Mau ke mana, Liv?" suara Galang menggelegar, memotong obrolan di sudut ruangan.
Livy tidak berbalik. Jantungnya bertalu hebat. Kebiasaan obsesifnya untuk selalu tahu gerak-gerik Galang, meneror setiap siswi yang mendekati cowok itu, hingga membuat kekacauan di kelas demi menarik perhatian Galang, malam ini runtuh.
Livy jelas ingin pergi.
Untuk pertama kalinya, harga diri gadis itu yang setinggi langit merasa terancam.
"Saya bilang berhenti, Livy."
Langkah Livy akhirnya tertahan di dekat pintu keluar. Atmosfer aula mendadak senyap. Musik dimatikan sepihak oleh panitia. Ratusan pasang mata kini tertuju pada mereka. Di sana ada anak-anak seluruh angkatan SMA Wijaya. Di sudut dekat bar, ada Pak Joko—satpam sekolah yang sengaja diundang Galang karena sering membantunya. Bahkan, di barisan kursi belakang, terlihat Bu Sarah dan Pak RT, tetangga dekat rumah Galang yang memang dekat dengan keluarga cowok itu.
Semua orang menyaksikan. Dan Galang memastikan tidak ada satu pun yang terlewat.
Galang berjalan mendekat.
Langkah sepatunya terdengar intimidatif di atas lantai marmer. "Kamu pikir, dengan kamu datang ke sini pakai baju kayak gini, bikin drama murahan, saya bakal luluh?"
Livy membalikkan badan. Matanya yang dilapisi eyeliner tebal menatap Galang, mencoba bertahan dalam mode 'cegil' andalannya—tangguh dan tak peduli. "Saya cuma mau ngerayain ulang tahun kamu, Lang. Apa salah nya?"
Galang terkekeh. Suara kekehannya terdengar sangat dingin, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar merinding.
"Ngerayain ulang tahun saya atau mau memuaskan ego sakit kamu itu?" tanya Galang, tepat di depan wajah Livy. Jarak mereka begitu dekat, namun Livy merasa Galang berada di belahan dunia lain.
"Lang, ini tempat umum..." bisik Livy, suaranya mulai bergetar.
"Kenapa? Malu?" Galang menunjuk sekeliling dengan gestur meremehkan. "Kamu punya urat malu sejak kapan, Liv? Kamu teror semua cewek di sekolah. Kamu rusak barang-barang orang yang berani nyapa saya. Kamu bersikap seolah kamu pemilik hidup saya!"
Bisik-bisik mulai terdengar dari kerumunan murid. Pak Joko, sang satpam, hanya bisa menggelengkan kepala kasihan sama Livy, sementara tetangga Galang saling berpandangan cemas.
"Saya lakuin itu karena saya sayang sama kamu, Galang!" pekik Livy, mulai lepas kendali. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Sayang kamu itu penyakit, Livy," potong Galang cepat, telak, dan tanpa perasaan. "Kamu itu bukan jatuh cinta. Kamu cuma cewek egois, manipulatif, dan sakit jiwa yang obsesif. Kamu tahu apa yang paling menjijikkan dari kamu?"
Livy menggeleng pelan. Dadanya sesak. Sungguh, ia tidak siap dengan kelanjutan kalimat itu.
Galang maju satu langkah lagi, menunduk agar tatapannya sejajar dengan Livy. Setiap kata yang keluar dari mulutnya ditegaskan dengan penekanan yang menghujam jantung.
"Setiap detik kamu ada di sekitar saya, saya merasa muak. Kehadiran kamu itu sampah di hidup saya. Kamu pikir kamu berharga? Enggak, Liv. Kamu itu cuma pengganggu, parasit yang numpang tenar lewat nama saya di sekolah. Jangankan buat cinta, buat kasihan aja, kamu gak layak."
Deg.
Dunia Livy runtuh saat itu juga. Patah hati terhebatnya datang tanpa ada teriakan histeris dari mulutnya. Kata-kata Galang barusan memotong seluruh pasokan oksigen di paru-paru nya.
Air mata Livy luruh begitu saja, merusak riasan wajahnya yang sempurna.
Namun, tidak ada suara tangisan. Livy menangis dalam diam yang paling sunyi. Bibirnya bergetar, tetapi tak mampu membalas satu patah kata pun. Seluruh keberanian dan kepribadian 'gila' yang selama ini ia agungkan menguap tak bersisa. Ia ditelanjangi oleh kenyataan bahwa cowok yang dipujanya setengah mati, justru memandangnya sebagai sebuah kehinaan.
"Mulai malam ini, jauh-jauh dari hidup saya. Jangan pernah sebut nama saya lagi. Karena di mata saya, kamu gak lebih dari sekadar hama," ucap Galang final, membalikkan badan tanpa memedulikan Livy yang sudah hancur total.
Livy berdiri di sana, sendirian di bawah sorotan lampu, disaksikan oleh seluruh dunianya yang kini balik menertawakan dan mengasihaninya dalam diam. Tatapan iba dari Pak Joko dan bisik-bisik sinis dari teman-teman sekolahnya menjadi latar belakang dari kehancuran total seorang Livy.
Sebelum akhirnya tangisan sesegukan Livy pecah, gadis itu berbalik dan berlari menjauhi tempat pesta mewah yang di singgahinya.
......................
...****************...
To be continue,