Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Tergoda Lagi
Suara pintu lift yang terdengar berdenting lembut menandai kepulangan mereka ke lantai eksekutif. Nayla berjalan tenang mendahului Tristan, melangkah menuju meja kerjanya yang berada tepat di depan pintu kaca ruangan sang CEO. Di balik langkah anggun wanita itu, Tristan menyusul dengan sisa-sisa pertahanan diri yang sudah remuk redam.
Begitu melangkah masuk ke ruang kerjanya, Tristan langsung menutup pintu. Pria itu menyandarkan punggungnya di pintu, mengembuskan napas panjang yang terasa membakar dada. Ia melonggarkan dasinya dengan kasar, lalu berjalan cepat mengitari meja kerja besarnya. Pikirannya benar-benar kacau, seperti benang wol yang diacak-acak anak kucing.
Bayangan Nayla dalam balutan lingerie dusty rose berlapis lace tadi enggan pergi dari kepalanya. Setiap kali Tristan memejamkan mata, yang terbayang adalah bagaimana kain sutra transparan itu jatuh meluncur di bahu Nayla, memperlihatkan leher jenjang dan beningnya kulit wanita itu. Ingatan itu berbaur liar dengan kenangan malam mereka bersama, membuat napas Tristan kembali tidak beraturan.
"Sial, Tristan. Fokus! Kamu CEO Nebula Fashion Group, bukan pria kasmaran usia belasan!" makinya pada diri sendiri.
Ia mencoba duduk di kursi kebesarannya dan membuka dokumen laporan keuangan. Namun, jangankan membaca angka-angka di kertas, matanya bahkan tak bisa diajak kompromi. Fokusnya terus-menerus terdistraksi oleh keberadaan Nayla di luar sana.
Secara tidak sadar, Tristan berdiri dari kursinya. Langkah kakinya membawa tubuhnya berjinjit pelan mendekati dinding kaca ruangannya yang tertutup tirai vertikal. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, bahkan menahan napas seolah-olah lantai kayu itu bisa berbunyi kencang. Tristan menyibak sedikit celah tirai dengan dua jarinya.
Dari balik celah sempit itu, Tristan mengintip. Di luar sana, Nayla sedang duduk di mejanya, tampak sibuk mengetik sesuatu di laptop sambil sesekali merapikan helai rambut yang jatuh di pipinya. Tristan menatapnya tanpa berkedip.
'Ternyata dari samping pun dia cantik sekali,' batin Tristan, mengagumi garis rahang dan bibir peach basah milik sekertarisnya itu.
Tiba-tiba, Nayla bergerak menoleh ke arah ruangannya.
Sontak, refleks bertahan hidup Tristan menyala penuh. Dalam hitungan milidetik, dia menarik jarinya, melepaskan tirai, dan melompat mundur. Sayangnya, gerakan panik itu membuat kakinya tersandung kaki kursi kerjanya sendiri.
BRUK!
Tristan jatuh terlentang di atas karpet mahal ruangannya. Suara benturan tubuhnya cukup keras, disusul dengan jatuhnya sebatang pulpen dari atas meja yang menimpa dahi Tristan persis di tengah-tengah.
"Awh..." ringis Tristan pelan sambil memegangi dahinya yang berdenyut. Ia meringkuk di lantai, berharap suara gaduh itu tidak terdengar sampai ke luar.
Belum sempat Tristan bangkit berdiri sepenuhnya, ekor matanya menangkap bayangan sosok di balik kaca es. Melalui celah bawah tirai yang sedikit merenggang, terlihat sepasang sepatu hak tinggi milik Nayla sedang melangkah mantap mendekati pintu ruangannya. Nayla hendak masuk!
Kepanikan tingkat tinggi langsung menguasai otak sang CEO dingin. Tristan yang saat itu masih berada di lantai langsung merangkak secepat kilat melintasi karpet, bagaikan agen rahasia yang terdesak dalam misi. Pria itu melempar tubuhnya ke atas kursi kerja, merapikan dasinya yang miring dalam satu tarikan cepat, memposisikan ulang berkas di mejanya, dan mengambil pulpen lain untuk berpura-pura menulis.
Semua gerakan super cepat itu selesai tepat setengah detik sebelum gagang pintu bergerak turun.
Klek.
Pintu terbuka. Nayla melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia membawa sebuah papan jalan berisi catatan rapat.
Di depan mejanya, Tristan sudah duduk tegap sempurna. Tubuhnya kaku, wajahnya dipasang datar dan sedingin es, seolah-olah dia adalah patung pahlawan yang tidak tersentuh emosi manusia. Matanya tertuju lurus pada kertas di depannya, sama sekali tidak berani menengadah menatap Nayla karena takut matanya akan memperlihatkan kegugupan yang luar biasa.
"Pak Tristan," panggil Nayla dengan suara lembutnya yang begitu jernih.
"Hmm? Ada apa?" jawab Tristan dengan suara yang sengaja dibuat berat dan sangat formal, meski dadanya berdegup kencang seperti penonton konser rock. Ia sengaja terus mencoret-coret kertas kosong di depannya, padahal dirinya hanya menggambar lingkaran-lingkaran tidak jelas.
"Saya baru saja menerima telepon dari tim produksi di lapangan," kata Nayla melangkah mendekati meja kerja Tristan. "Ada sedikit masalah untuk sampel koleksi jaket terbaru."
"Masalah apa?" tanya Tristan cepat, masih enggan menatap mata wanita di hadapannya. Ia berpura-pura sangat sibuk membolak-balik halaman berkas.
"Bahan material utamanya mengalami kelangkaan pasokan dari pemasok utama. Khususnya bahan kulit impor untuk jaket limited edition yang rencananya akan diproduksi minggu depan. Tim produksi menanyakan apakah kita bisa menggantinya dengan bahan sintetis lokal atau harus menunda jadwal rilis."
Tristan mendengarkan informasi itu, namun otaknya sibuk memproses hal lain, aroma harum bunga melati dan vanila yang samar-samar tercium dari tubuh Nayla saat wanita itu berdiri di dekat mejanya. Wangi yang sama dengan wangi yang melekat di bajunya malam itu.
Tristan berdeham keras untuk menutupi rasa canggungnya yang kian memuncak. "Ganti bahan? Tidak bisa. Kualitas nomor satu. Bilang pada mereka untuk cari vendor sekunder di Italia atau kita tunda rilisnya dua hari. Saya tidak mau kompromi masalah bahan kulit."
Tristan mengangguk-angguk kaku, tetap mempertahankan pandangannya pada meja kerja, tidak berani mendongak sedikit pun. Baginya, menatap wajah Nayla saat ini sama saja dengan menyerahkan diri pada godaan.
Nayla memperhatikan tingkah laku atasannya itu dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. Ia sangat tahu betapa kaku dan anehnya sikap Tristan saat ini.
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan pada tim," sahut Nayla pelan. Namun, wanita itu tidak segera berbalik pergi. Ia malah maju satu langkah lebih dekat ke meja Tristan.
Tristan mulai merasa gelisah. Kenapa dia belum keluar juga? batinnya menjerit panik.
"Pak Tristan..." panggil Nayla lagi. Kali ini nada suaranya terdengar sedikit ragu namun ditahan oleh rasa geli.
"Apalagi, Nayla? Saya sedang sangat sibuk," cetus Tristan dengan nada sok tegas, berusaha membentengi dirinya.
"Itu... ada serangga di kemeja Anda," ucap Nayla santai.
Seketika itu juga, benteng ketenangan Tristan runtuh total. "Apa?! Serangga?!"
Tristan langsung melonjak berdiri dari kursinya dengan mata membelalak lebar. Pria yang biasanya tampil berwibawa itu kini sibuk menepuk-nepuk dada dan bahunya sendiri secara sporadis, hampir saja melompat dari karpet karena panik membayangkan ada ulat atau kecoa yang merayap di pakaian mahalnya.
"Di mana?! Di bagian mana?!" serunya panik, lupa akan topeng CEO dinginnya.
Nayla menahan senyumnya yang hampir pecah melihat reaksi berlebihan sang atasan. Dengan langkah tenang, ia mendekati Tristan yang masih tampak kebingungan.
"Tenang, Pak. Jangan bergerak," bisik Nayla lembut.
Suara pelan namun penuh kendali itu membuat Tristan mendadak bungkam. Tubuhnya seketika mematung saat Nayla mengikis jarak di antara mereka. Wanita itu kini berdiri amat dekat dengannya, hanya terpisah oleh jarak beberapa sentimeter saja.
Nayla mengangkat tangannya yang lentik, perlahan mengarahkan jarinya ke kerah kemeja putih Tristan. Jari-jari lembut itu menyentuh kain kemeja tepat di dekat dada atas Tristan, dengan sangat hati-hati mengusap sebutir benang hitam kecil, bukan serangga yang menempel di sana.
Penglihatan Tristan memburam untuk hal lain, fokusnya tersedot sepenuhnya pada wajah Nayla yang berada persis di depan matanya. Dari jarak secantik ini, Tristan bisa melihat dengan sangat jelas setiap rinci ketampakan wanita itu, bulu matanya yang lentik, kulit pipinya yang mulus tanpa celah, dan aroma napasnya yang terasa hangat menyapu leher Tristan.
Nayla mendongak. Tangannya masih berada di dada Tristan, menempel di atas detak jantung pria itu yang terpacu luar biasa kencang.
Kedua pasang mata itu akhirnya bertemu secara langsung. Tatapan mereka terkunci rapat. Tak ada lagi sekat pekerjaan, tak ada lagi tirai yang membatasi, dan tak ada lagi ketakutan akan status atasan dan bawahan. Dalam keheningan ruangan yang mencekam namun sarat dengan ketegangan elektrik itu, udara di sekitar mereka seolah mengental dan memanas.
Tristan bisa merasakan kehangatan telapak tangan Nayla di dadanya. Tatapan mata Nayla yang jernih seakan menantangnya, menelanjangi seluruh gengsi dan rasa gengsi yang Tristan bangun mati-matian sejak tadi pagi. Bibir peach basah milik Nayla berada hanya selangkah dari pandangannya, merekah begitu menggoda.
Pertahanan Tristan hancur lebur tanpa sisa. Rasa lapar, gairah yang tertahan sejak di studio tadi, dan kerinduan liar yang menumpuk di dadanya meledak seketika.
Pria itu tidak lagi peduli pada akal sehatnya. Sebelum Nayla sempat menarik tangannya kembali, tangan kekar Tristan meluncur cepat ke tengkuk leher Nayla, menahannya dengan protektif namun lembut. Sementara tangan satunya merangkul pinggang wanita itu, menarik tubuh molek Nayla merapat tanpa cela ke dalam pelukannya.
Tristan menundukkan kepalanya dan langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Nayla.
Ciuman itu mendarat dengan intensitas yang dalam dan menuntut, seolah Tristan sedang menumpahkan seluruh rasa frustrasi dan hasrat membakar yang menyiksanya sepanjang hari. Suara helaan napas Nayla tertahan di tenggorokan saat kehangatan bibir Tristan menyapu bersih seluruh jarak di antara mereka.