Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Cacing Emas Gu dengan Nama Barunya.
Menit demi menit berlalu. Kevin menatap pintu baja yang tetap tidak bergerak sedikit pun, lalu berkata dengan tenang,
"Sepertinya Walikota telah mengkhianatimu. Dia sama sekali tidak berniat membuka pintu ini."
Wajah Heri langsung berubah buruk.
"Dasar bajingan! Pengkhianat sialan itu bahkan ingin membunuhku!"
"Ini bukan waktunya memikirkan hal itu. Apa kau masih punya cara lain untuk melarikan diri?"
Tatapan Kevin tetap tenang.
"Seperti yang bisa kau lihat, udara yang masuk ke sini sangat sedikit. Kalau kita tidak segera menemukan jalan keluar, kita akan mati kehabisan udara."
Mati kehabisan udara!
Membayangkan hal itu saja sudah membuat Heri tersentak dan kulit kepalanya merinding.
Dia tersenyum getir.
"Tuan Muda, aku sudah tidak punya cara lain. Siapa sangka dia berani mengkhianatiku? Kali ini aku benar-benar tamat."
"Bagaimana bisa kau menjadi seorang pemimpin?"
Kevin menatapnya dengan tidak percaya.
"Orangmu sendiri mengkhianatimu, dan kau bahkan tidak menyiapkan rencana cadangan?"
Dia menghela napas.
"Kalau begitu, tidak ada pilihan. Kita hanya bisa menggunakan cara paling sederhana—menghancurkan pintu ini dengan satu pukulan."
"Tuan Muda, kau serius?"
Heri tampak gelisah.
"Pintu ini terbuat dari baja padat. Bahkan lebih tebal daripada dinding, sekitar setengah meter. Mungkin memang ada celah pada pintunya, tetapi dibandingkan dinding yang menyatu tanpa celah, perbedaannya tidak banyak. Pintu ini bukan sesuatu yang bisa dihancurkan hanya dengan mengandalkan tenaga."
"Bagaimana kau tahu kalau belum mencobanya?"
Kevin meliriknya dengan sinis.
"Atau kau lebih suka duduk di sini dan menunggu mati?"
"Tuan Muda, masalahnya tidak sesederhana yang kau bayangkan. Aku tauh ketahanan pintu bajah ini. Itulah sebabnya aku menyerah!"
Wajah Heri dipenuhi keputusasaan.
"Ketika ruangan baja ini dibangun, aku sendiri yang menguji kekuatan dindingnya. Untuk membuat dindingnya bergerak sedikit saja, dibutuhkan kekuatan setidaknya lima ribu kilogram."
"Dan itu baru untuk membuatnya bergeser!"
"Sedangkan pintu ini, meskipun merupakan titik terlemahnya, tetap membutuhkan setidaknya empat ribu kilogram kekuatan hanya untuk membuatnya berguncang. Kalau ingin benar-benar menghancurkannya, kau membutuhkan sedikitnya empat setengah sampai lima ribu kilogram!"
"Itu mustahil!"
Heri benar-benar kehilangan harapan.
Lima ribu kilogram!
Apakah manusia benar-benar bisa menghasilkan kekuatan sebesar itu?
Sebagai seorang ahli Tingkat Kaisar Puncak, dia sangat memahami batas kemampuan tubuh manusia.
Bahkan jika seorang ahli tingkat Leluhur diperhitungkan, kekuatan pukulan maksimal manusia hanya sekitar dua ribu kilogram.
Itu sudah merupakan batas kekuatan manusia.
Sedangkan kekuatan kaki maksimal manusia bisa mencapai sekitar dua setengah kali kekuatan pukulan dalam kondisi ideal. Namun, pada kenyataannya, mencapai angka tersebut hampir mustahil.
Kecuali seseorang benar-benar merupakan monster yang telah mencapai puncak kekuatan fisik manusia, tidak mungkin dia memiliki kekuatan kaki yang cukup untuk menghancurkan pintu baja ini.
Kemungkinan orang seperti itu ada bahkan lebih kecil daripada memenangkan lotre!
Mendengar penjelasannya, Kevin justru berkata santai,
"Oh."
Dia menguap bosan.
"Jadi, maksudmu kalau kekuatan benturannya melebihi empat setengah ribu kilogram, pintu ini bisa dihancurkan, kan?"
Heri tertegun sejenak, lalu mengangguk.
"Secara teori memang begitu. Tapi itu tidak mungkin dilakukan. Kekuatan lima ribu kilogram..."
Heri pernah mengukur kekuatan pukulannya sendiri.
Dia sudah termasuk orang yang memiliki bakat alami dalam hal kekuatan, tetapi kekuatan pukulannya hanya sekitar enam ratus lima puluh kilogram.
Kekuatan kakinya bahkan hanya sekitar seribu lima ratus kilogram.
Jika dibandingkan dengan lima ribu kilogram...
Perbedaannya seperti langit dan bumi.
Itulah alasan keputusasaan memenuhi hatinya.
Dia tahu persis bahwa dirinya tidak mampu melakukan apa pun.
"Aku mengerti."
Kevin mengangguk.
"Kalau begitu masalahnya sederhana. Aku akan menghancurkan pintunya."
Dia menatap Heri.
"Menjauhlah. Dengan kondisi tubuhmu sekarang, kau mungkin tidak akan mampu menahan gelombang benturan."
Kevin perlahan mengepalkan kedua tangannya dan meregangkan kakinya, bersiap melakukan serangan.
Heri menatapnya dengan tidak percaya.
"Tuan Muda, jangan bilang kau benar-benar ingin menghancurkannya dengan kekuatan pukulan?"
"Itu sama sekali tidak mungkin! Tolong jangan bertindak gegabah!"
"Tadi kau sendiri yang bilang bahwa kekuatan lebih dari empat setengah ribu kilogram bisa menghancurkan pintu ini, bukan?"
Kevin sedikit mengernyit.
"Benar?"
"Benar... tapi, Tuan Muda, yang kita bicarakan adalah lima ribu kilogram, bukan sekadar lima ratus kilogram!"
Heri semakin cemas.
Kevin memutar matanya.
"Kenapa kau terus mengulanginya?"
"Lima ribu kilogram saja, kan? Kau sudah mengatakannya entah berapa kali. Aku tidak tuli."
Dia melambaikan tangan.
"Jauh-jauh. Aku akan menghancurkan pintu ini."
"Masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan. Jangan buang waktuku lagi!"
Melihat sikap Kevin yang begitu tegas, Heri akhirnya terdiam.
Dia mundur ke tempat yang aman dengan ekspresi rumit.
Tuan Mudanya benar-benar tidak takut mati!
Heri harus mengakui bahwa kekuatan Kevin memang sangat mengerikan.
Namun, seberapa kuat pun Kevin, menurutnya tetap mustahil mencapai kekuatan lima ribu kilogram!
Kevin sama sekali tidak peduli dengan pikiran Heri.
Dia menenangkan pikirannya dan memanggil Cacing emas Gu di dalam tubuhnya.
"Teman kecil, bantu aku sebentar. Tingkatkan kekuatanku, ya?"
Cacing Emas Gu mulai bergerak.
Kevin langsung merasakan gelombang ketidakpuasan dari makhluk kecil itu.
Berkat ikatan darah yang menghubungkan mereka, Kevin bisa merasakan emosi Cacing Emas Gu dengan jelas.
"Kau tidak suka dipanggil 'teman kecil'?"
Kevin kebingungan.
"Kalau begitu, siapa namamu?"
"Kau juga tidak suka nama Cacing Emas Gu?"
"Memang terdengar jelek."
"Kalau begitu kita ganti saja."
Kevin berpikir sejenak.
"Karena sekarang kau sudah bersamaku, kau akan memakai marga Sanjaya."
Dia menatap makhluk kecil itu dengan puas.
"Dan tubuhmu kecil sekali, seperti kacang emas kecil."
"Bagaimana kalau Stive Sanjaya?"
"Ya! Sudah diputuskan."
"Mulai sekarang, namamu Stive Sanjaya!"
Kevin sangat puas dengan nama yang dipilihnya.
Dia merasa kreativitasnya benar-benar luar biasa.
Nama itu terdengar bagus dan juga cocok dengan wujud makhluk tersebut.
Sungguh pilihan yang sempurna!
Namun bagi Cacing Emas Gu...
Nama itu seperti sepuluh ribu kuda liar yang menginjak-injak hatinya!
Stive Sanjaya?
Nama macam apa itu?!
Namanya sebenarnya adalah Steven Gu!
Sayangnya, Kevin sama sekali tidak mengetahui pikiran tersebut. Dia hanya bisa merasakan emosinya.
Dengan sedikit pasrah, Kevin berkata,
"Baiklah, Stive. Jangan buang waktu lagi."
"Malam ini aku akan membiarkanmu menikmati sedikit darah Ku. Bukankah itu akan membuatmu senang?"
Kevin tahu bahwa makhluk kecil itu sangat menyukai Kemurnian darah Kevin.
Karena itu, dia sengaja menjadikannya sebagai imbalan.
Benar saja.
Begitu mendengar kata Darah, Stive langsung menjadi patuh.
Energi yang sangat besar segera dialirkannya ke tubuh Kevin tanpa ragu.
Ledakan!
Kevin merasakan kekuatan luar biasa mengalir ke seluruh tubuhnya.
Kekuatannya langsung meningkat dua kali lipat!
Pada saat itu, Kevin dipenuhi keberanian yang tak terbendung.
Dia merasa seolah-olah dengan satu pukulan saja, dirinya bahkan mampu menembus langit!
Tatapannya menjadi tajam.
Dia memusatkan pandangan pada bagian tengah pintu baja.
Setelah mundur beberapa langkah, Kevin tiba-tiba berlari maju.
"Pukulan Vajra! Hancurkan!"
BOOM!
Dalam sekejap, Pukulan Kevin yang dipenuhi kekuatan dahsyat dan diselimuti cahaya keemasan tebal saat menghantam pintu baja dengan ganas!
GEMURUH!
Rasanya seperti gempa bumi berkekuatan sepuluh skala Richter mengguncang seluruh ruangan.
Suara ledakan menggelegar mengguncang udara.
Pintu baja yang beratnya lebih dari lima ratus kilogram langsung terlempar ke udara akibat pukulan Kevin.
Pintu yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dihancurkan itu...
Dengan satu pukulan, terpental keluar seperti sepotong besi rongsokan!
bibirmu berjenggot?