Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Udara pagi di dalam penthouse mewah milik Rangga Pratama terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Sinar matahari yang menerobos celah tirai kaca raksasa di ruang tengah gagal menghangatkan suasana yang mendadak beku oleh ketegangan. Di atas sofa impor berona krem, Resti duduk dengan postur tegap, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi wajah yang menyiratkan ketidaksabaran yang memuncak.

Hari-hari berlalu sejak kepulangannya dari Paris, dan Resti merasa kesabarannya telah habis. Ia tidak lagi peduli pada drama pura-pura rapuh atau air mata tiruan yang biasa ia gunakan untuk menarik simpati. Yang ia inginkan saat ini adalah kepastian mutlak—sebuah status resmi yang menempatkannya kembali di tempat tertinggi sebagai Nyonya Pratama.

Rangga berdiri beberapa langkah di hadapan Resti. Pria itu sudah mengenakan setelan jas kantor lengkap dengan dasi yang terikat rapi, namun posturnya tampak kaku, seolah memikul beban tak kasat mata yang sangat berat di pundaknya. Semalaman penuh Rangga tidak bisa memejamkan mata. Ingatan tentang perjamuan elit malam sebelumnya—di mana istrinya sendiri, Rania, dipuja oleh para konglomerat sementara ia diabaikan dengan kalimat telak "Bukan urusanmu" terus berputar di kepalanya bagaikan rekaman kaset rusak yang tak berujung.

"Rangga, sampai kapan kita akan terus hidup dalam situasi konyol seperti ini?" suara Resti memecah keheningan, bernada tinggi dan menuntut. Wanita itu mendongak, menatap tajam ke arah mata Rangga. "Kau tahu betul kenapa aku kembali ke sini. Aku sudah meminta maaf atas kebodohanku di masa lalu. Aku adalah pengantin wanita yang asli di altar hari itu! Akulah tunanganmu yang sah secara sosial!"

Resti bangkit dari sofa, melangkah mendekati Rangga dengan tatapan penuh permohonan yang mendesak. Jemarinya yang lentik terulur menyentuh kerah jas Rangga, mencengkeramnya pelan.

"Ceraikan dia, Rangga," desis Resti lembut namun penuh penekanan, mencoba menggunakan pesona lamanya untuk menaklukkan sang CEO. "Ceraikan Rania sekarang juga. Pernikahan kalian hanyalah pernikahan paksa yang terjadi karena kecelakaan keadaan akibat ulah keluargaku. Rania bukan siapa-siapa, dia hanya gadis pengantin pengganti yang numpang lewat. Nikahi aku secara resmi, seperti rencana awal kita sebelum semua kekacauan ini terjadi. Kita buat hidup kita kembali normal."

Tuntutan itu meluncur begitu mulus dari bibir Resti, seolah-olah menceraikan seseorang adalah hal sepele semudah membalikkan telapak tangan. Selama bertahun-tahun, kalimat seperti itu akan langsung disetujui oleh Rangga tanpa keraguan sedikit pun. Dulu, menikah dengan Resti adalah satu-satunya tujuan hidup dan puncak kebanggaan yang ia impikan di dunia bisnis maupun asmara.

Namun, detik ini, ketika kalimat itu menggema di ruang tengah penthouse, reaksi yang ditunjukkan oleh Rangga di luar dugaan.

Pria itu tidak langsung mengiyakan.

Rangga tertegun di tempatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, mendengar desakan untuk menikahi Resti justru tidak lagi mendatangkan binar antusiasme atau rasa kelegaan di dadanya. Sebaliknya, ada keraguan yang sangat besar dan pekat bergolak di dalam batinnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena debaran cinta seperti dulu, melainkan karena rasa gamang yang asing dan menakutkan.

Rangga menatap wajah cantik Resti di hadapannya. Wanita yang selama ini ia agungkan, wanita yang ia bayangkan sebagai satu-satunya pelabuhan hidupnya. Tapi entah mengapa, bayangan itu kini terasa hampa. Di balik tatapan penuh harap Resti, pikiran Rangga justru terlempar jauh, menembus dinding kamar utama yang tertutup rapat.

Pikiran Rangga melayang kepada Rania.

Bayangan wajah datar Rania—dengan sorot mata dingin yang tidak lagi memancarkan kehangatan, wanita yang dengan tenang mengatakan "Bukan urusanmu" di dalam mobil malam tadi—tiba-tiba berkelebat begitu kuat di kepala Rangga.

Entah dari mana datangnya, sebuah sensasi aneh mencengkeram rongga dada Rangga seketika. Sebuah rasa takut yang luar biasa tiba-tiba merayap naik, menghantam ulu hatinya dengan keras. Rangga mendadak merasa ngeri memikirkan kemungkinan terburuk: bagaimana jika Rania benar-benar pergi dari hidupnya? Bagaimana jika surat gugatan cerai yang selama ini ia anggap remeh benar-benar ditandatangani dan dieksekusi secara permanen oleh wanita itu?

Rangga merasakan dadanya menjadi sesak, seolah-olah pasokan oksigen di ruangan itu tiba-tiba tersedot habis. Sensasi nyeri yang tajam dan menusuk mendadak menjalar di balik kemeja kerjanya setiap kali ia membayangkan wajah Rania menangis karenanya.

Tunggu. Menangis karenanya?

Rangga tertegun oleh pemikirannya sendiri. Selama ini, Rania tidak pernah menangis di hadapannya, wanita itu memilih menelan segala kepedihan dalam diam. Namun bayangan air mata Rania—air mata yang mungkin telah tumpah berliter-liter akibat keegoisan dan pengabaian yang ia lakukan—membuat Rangga merasa seperti pria paling brengsek di muka bumi. Ide untuk melepaskan Rania, menandatangani surat cerai demi kembali pada Resti, yang tadinya tampak begitu masuk akal, kini terasa seperti sebuah tiket menuju kehancuran total bagi jiwanya sendiri.

Melihat kebisuan Rangga yang memanjang, kerutan di dahi Resti semakin dalam. Cengkeraman tangan wanita itu di kerah jas Rangga semakin mengerat.

"Rangga? Kenapa kau diam saja?" desak Resti dengan nada tidak sabar, mulai merasa ada yang salah dengan reaksi pria di hadapannya. "Ada apa denganmu? Kau tidak sedang ragu, kan? Ingat, dia itu adik tiriku, gadis tidak berguna yang hanya memanfaatkan situasi keluargamu! Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Pertanyaan Resti menyadarkan Rangga dari lamunannya yang dalam. Pria itu menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh hebat, lalu dengan gerakan perlahan namun tegas, Rangga mengangkat tangan kanannya dan melepaskan cengkeraman tangan Resti dari kerah jasnya.

Rangga mundur satu langkah, menciptakan jarak fisik yang jelas di antara mereka berdua.

"Resti," ucap Rangga dengan suara yang terdengar serak, berat, dan jauh lebih dingin dari biasanya. "Urusan pernikahan... tidak semudah itu untuk diputuskan sekarang."

Resti membelalakkan matanya, terkejut setengah mati. "Apa maksudmu tidak semudah itu?! Rangga, kau suaminya secara hukum saat ini! Kau bisa menceraikannya kapan saja jika kau mau! Kenapa kau mendadak membela wanita itu."

"Ini bukan soal membelanya," tukas Rangga cepat, rahangnya mengeras untuk menutupi kepanikan yang mulai menguasai intonasi suaranya. Pria itu membuang muka sejenak, menatap ke luar jendela kaca, sebelum kembali menatap tajam mata Resti. "Pernikahan ini melibatkan banyak hal—reputasi perusahaan, ikatan hukum keluarga besar, dan... situasi yang sedang rumit di kantor pusat. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Jangan mendesakku terus, Resti."

Setelah mengucapkan kalimat penolakan halus tersebut, Rangga tidak menunggu tangisan histeris atau omelan lanjutan dari Resti. Pria itu segera berbalik badan, menyambar tas kerjanya yang terletak di atas konsol meja, dan melangkah lebar menuju pintu utama penthouse.

Cklek.

Pintu tertutup rapat. Rangga meninggalkan Resti yang berdiri mematung di tengah ruang keluarga dengan wajah memerah padam karena amarah dan rasa tidak percaya yang meluap-luap.

Di dalam kabin mobil mewahnya yang meluncur membelah kemacetan pagi kota, Rangga menyandarkan kepalanya di kursi pengemudi. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, sementara napasnya masih terasa berat.

Sentuhan jemari di dadanya terasa ngilu. Keengganannya untuk mengiyakan permintaan Resti tadi bukan lagi sekadar keraguan biasa; itu adalah pengakuan bisu dari lubuk hatinya yang paling dalam—bahwa pria arogan bernama Rangga Pratama itu kini telah tersesat sepenuhnya ke dalam pesona dingin dan ketulusan wanita yang selama ini ia sia-siakan. Dan gagasan tentang kehilangan Rania adalah ketakutan terbesar yang tidak sanggup ia bayangkan wujudnya di dunia nyata.

Jangan lupa like ya😉

1
Ketoprak Encok
maaf aja nih kak, otak aku emang buntu banget, dari bab 27 makanya aku cepetin aja namatin cerita ini. tapi thanks kak udah luangin waktunya buat baca
Forta Wahyuni
koq kacau balau novelnya thor, alurnya simpang siur n apa jiplakan.
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!