Indonesia
NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:494k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8 - Perempuan Bernama Laras

Laras datang ke apartemen Nadira dua hari kemudian.

Nadira baru pulang dari rumah sakit. Ia masih memakai kemeja biru muda dan celana bahan. Rambutnya berantakan karena dua belas jam di IGD. Begitu membuka pintu dan melihat Laras berdiri di depan, rasa lelahnya berubah menjadi dingin.

"Dokter Nadira."

Laras tersenyum. Senyum itu terlalu rapi untuk seseorang yang datang tanpa janji.

"Ada perlu apa?"

"Boleh masuk?"

"Tidak."

Senyum Laras menegang.

Nadira bersandar di ambang pintu. "Kalau urusan pasien Mayor Arga, hubungi dokter penanggung jawab. Kalau urusan pribadi, saya tidak punya kewajiban menerima Anda."

Laras menatap lorong kanan-kiri, seperti takut ada tetangga yang melihat.

"Saya hanya ingin bicara baik-baik."

"Bicaralah di sini."

Laras menarik napas. "Mas Arga menyuruh saya menjaga jarak."

"Bagus."

"Itu karena kamu."

Nadira hampir tertawa. "Saya bahkan tidak meminta dia melakukan apa pun."

"Tapi sejak kamu muncul, semuanya berubah."

"Sejak saya muncul?" Nadira menatapnya lurus. "Bu Laras, saya menikah dengan Arga empat tahun lalu. Kalau mau bicara soal siapa yang muncul belakangan, kita harus hati-hati."

Wajah Laras memucat.

"Aku tahu kamu istrinya."

"Sejak kapan?"

Laras diam.

Nadira tersenyum tipis. "Jadi saat di ICU Anda menyebut dia suami Anda, Anda sudah tahu?"

"Aku panik."

"Panik membuat orang salah sebut?"

"Kendra butuh ayah."

"Saya tidak menyalahkan Kendra."

"Tapi kamu membuat Mas Arga menjauh dari dia!"

Nadira menatap perempuan itu lebih lama. Laras cantik dengan cara yang mudah membuat orang iba. Mata besar, bibir pucat, wajah yang selalu tampak rapuh. Kalau menangis, orang mungkin otomatis ingin melindungi.

Nadira dulu mungkin akan kasihan.

Hari ini tidak.

"Bu Laras, Kendra kehilangan ayahnya. Itu menyedihkan. Tapi kesedihan anak Anda tidak memberi Anda hak menjadikan suami orang sebagai pengganti."

Laras mengepalkan tangan.

"Bayu mati menyelamatkan Mas Arga."

"Saya tahu."

"Kalau bukan karena Bayu, Mas Arga tidak akan hidup."

"Saya tahu."

"Jadi wajar kalau Mas Arga bertanggung jawab pada kami."

"Bertanggung jawab, iya. Menjadi suami Anda, tidak."

Laras menatapnya benci.

"Kamu dingin sekali."

"Saya belajar dari keadaan."

"Kamu tidak tahu apa yang aku lalui."

"Dan Anda tidak tahu apa yang saya lalui."

Lorong mendadak sunyi. Dari dalam apartemen, ponsel Nadira bergetar, tapi ia mengabaikannya.

Laras menurunkan suara. "Kamu pikir Mas Arga benar-benar mencintaimu? Dia hanya merasa bersalah. Laki-laki seperti dia tidak tahan pada rasa bersalah. Nanti setelah rasa bersalahnya hilang, dia akan kembali pada tanggung jawab yang selama ini dia rawat."

Nadira merasa kalimat itu menusuk tepat ke tempat yang ia sembunyikan.

Ya.

Itulah ketakutannya.

Bagaimana kalau Arga mengejarnya hanya karena bersalah? Bagaimana kalau ia menarik karena kebetulan menjadi dokter yang menyelamatkannya? Bagaimana kalau setelah luka dan kejutan reda, ia kembali menjadi pria yang bisa meninggalkan istri bertahun-tahun demi tugas?

Namun Nadira tidak memberi Laras kepuasan melihatnya goyah.

"Kalau begitu Anda tidak perlu takut."

Laras berkedip.

"Kalau Mas Arga memang akan kembali pada Anda, tunggu saja. Tidak perlu datang ke apartemen saya."

Wajah Laras berubah merah.

"Aku tidak takut."

"Bagus."

"Aku hanya ingin memperingatkan kamu. Jangan terlalu percaya pada perhatian Mas Arga. Dia pria yang hidupnya penuh tugas. Kamu akan selalu jadi nomor dua."

Nadira tersenyum.

"Terima kasih atas peringatannya."

Ia hendak menutup pintu, tapi Laras menahan.

"Nadira."

Untuk pertama kalinya Laras memanggil namanya tanpa embel-embel dokter.

"Kalau kamu benar-benar baik, kamu akan membiarkan Kendra punya Papa."

Nadira menatap tangan Laras yang menahan pintu.

"Kalau Anda benar-benar ibu yang baik, Anda tidak akan membangun kebahagiaan anak di atas kebohongan."

Ia melepaskan tangan Laras dari pintu, lalu menutupnya.

Begitu pintu terkunci, Nadira bersandar di baliknya.

Dadanya naik turun.

Ia menang di percakapan itu, tapi tidak merasa menang.

Ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Maya.

"Halo?"

"Lo di rumah?"

"Iya."

"Gue baru dapat kabar. Laras datang ke tempat lo?"

Nadira menatap pintu. "Kamu pasang CCTV di hidupku?"

"Bima telepon gue."

"Kenapa Bima telepon kamu?"

"Karena dia nggak punya nomor Fadli dan katanya Arga panik Laras hilang dari rumah sakit."

Nadira menutup mata.

Maya langsung menangkap sesuatu. "Jadi benar dia ke sana?"

"Baru pergi."

"Dia ngapain?"

"Menjadi ibu yang tersakiti."

"Aku ke sana."

"Tidak perlu."

"Perlu. Aku harus melihat apakah mukanya masih utuh setelah ganggu sahabatku."

Nadira hampir tersenyum. "May, aku capek."

Suara Maya melembut. "Oke. Aku datang bawa makan. Aku janji nggak cari Laras. Kecuali dia masih di parkiran."

"Maya."

"Iya, iya."

Telepon terputus.

Di rumah sakit, Arga berdiri di depan Laras dengan wajah dingin.

Bima menemukan Laras di lobi apartemen Nadira dan membawanya kembali. Sepanjang perjalanan, Laras hanya menangis. Tapi kali ini Arga tidak luluh.

"Aku sudah bilang jangan ganggu Nadira."

Laras menghapus air mata. "Aku cuma bicara."

"Tanpa izin."

"Aku berhak tahu kenapa hidupku berubah."

"Hidupmu berubah karena kamu melewati batas."

"Batas?" Laras tertawa getir. "Mas baru bicara batas setelah punya dia."

"Nadira bukan penyebab batas itu ada. Dia hanya membuatku sadar aku terlalu lama membiarkannya kabur."

Laras menatapnya. "Mas Arga, aku dan Kendra bukan orang asing."

"Aku tidak pernah bilang kalian orang asing."

"Tapi kamu memperlakukan kami seperti beban."

"Aku memperlakukan kalian seperti keluarga Bayu. Itu yang seharusnya dari awal."

Laras menggeleng. "Kendra menangis semalaman. Dia tanya kenapa Papa Arga tidak mau dipanggil Papa lagi."

Arga memejamkan mata.

Nama Kendra selalu menjadi titik lemahnya. Anak itu tidak bersalah. Ia hanya menerima cerita yang diberikan ibunya.

Tapi jika Arga membiarkan kebohongan itu berlanjut, luka Kendra akan makin dalam.

"Aku akan bicara dengan Kendra pelan-pelan," kata Arga. "Tapi kamu harus berhenti membuatnya percaya aku pengganti Bayu."

"Dia masih kecil."

"Justru karena itu jangan ajari dia berbohong."

Laras menangis lagi. "Mas jahat."

"Mungkin."

Arga menatapnya tanpa goyah.

"Tapi aku akan lebih jahat kalau membiarkan Nadira terus disakiti karena rasa kasihan."

Laras terdiam.

Untuk sesaat, tidak ada suara selain mesin pendingin ruangan.

Laras menatap pria di depannya dan menyadari sesuatu yang membuatnya takut. Dulu, selama ia menangis, Arga selalu melunak. Bukan karena cinta, tapi karena ia mengingat Bayu. Karena ia mengingat darah, ledakan, dan janji terakhir seorang sahabat.

Sekarang nama Bayu tidak lagi cukup untuk membuat Arga menutup mata.

"Kamu berubah," bisik Laras.

"Aku terlambat berubah."

"Karena dia?"

Arga menggeleng. "Karena aku melihat akibat dari semua pembiaranku."

Laras tertawa pahit. "Pembiaran? Jadi selama ini aku hanya kesalahan yang kamu biarkan?"

"Jangan memutar kata-kataku."

"Kamu yang membuatku berharap."

Arga diam sebentar. Kali ini ia tidak menghindar. "Kalau benar begitu, aku minta maaf. Tapi harapan yang salah tetap harus dihentikan."

Laras menggigit bibir sampai pucat.

Di luar pintu ruang rawat, Bima mendengar kalimat itu dan menghela napas. Komandannya pelan-pelan belajar bicara seperti manusia yang punya perasaan, bukan hanya memberi instruksi.

Namun saat Bima menoleh ke ujung koridor, ia melihat seorang perempuan muda berdiri sambil memegang ponsel.

Wajahnya cantik, pakaian dan tasnya mahal. Ia menatap pintu ruang Arga dengan senyum tipis.

Bima mengenalnya dari beberapa acara keluarga bisnis.

Vania Hartono.

Anak angkat keluarga Hartono, adik angkat Kevin Hartono, pria yang sedang mengejar Nadira lewat acara sosialita rumah sakit. Bima pernah melihatnya di berita gosip bisnis.

Vania menyadari Bima melihatnya. Ia tersenyum sopan, lalu pergi.

Bima langsung merasa tidak enak.

Beberapa menit kemudian, ponsel Laras berbunyi.

Pesan dari nomor tidak dikenal.

Kamu ingin Nadira hilang dari hidup Arga? Aku juga ingin dia menjauh dari Kevin. Kita bisa bicara.

Laras menatap pesan itu.

Air matanya berhenti.

Di wajahnya muncul sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kesedihan.

Ia menghapus pesan itu setelah membacanya dua kali. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena untuk pertama kalinya ia merasa ada orang yang mengerti kemarahannya. Dan itu membuat keputusan buruk terasa seperti jalan keluar.

1
sintesa destania
ceritamu buaguusss poolll di awal thors...aju pecinta novel tapi makin kesini makin bosan...baca bukan karean apa gitu sayang juga udah bab segini ga di terusin gitu...untuk ukuran suami istri kaku banget...sekat terlalu jelas thors...kayak terlalu mengada ngada maaf....sebenarx tata bahasa bagusss tp yaitu jadi bosan baca bukan karena penasaran cm sayang aja ga di lanjutun udah mau akhir bab Maaf🙏🙏
sintesa destania: tangan typo semua maaf hp agak error
total 1 replies
Dokkan Battle
awokawok FIKS SAKIT SOUL NYA
Kembarr Kembaarr
hebat dn aneh. suami istri sdng belajar tidur saja yg 1 di apartemen. yg 1 di rumah wijaya dn hanya di antar ke apart.... di tinggal tugas 1minggu tau2 hamil. aneh memang
Dilla Fitri
jujur terlalu gimana yaa ceritanya kek flat bngt, bukan dr alurny tp dr cara mrka ngobrol kek gd emosi, gd rasa gmn2ny
imoe nawar
👍
Kembarr Kembaarr
hubungan se kaku itu.. aneh cium kening aja gak pernah ehhh.... Hamil. peluk aja hrs izin dn tdk boleh lama tdk boleh peluk erat Hamil. ....
sintesa destania
seting tempat dimana sih...kn itu di purwokerto tp da nadira
sintesa destania
gak tahu bikin nya tiba² hamil...kuarasa seperti masih menunggu...ehh udah hamidun aja
sintesa destania
cuma gitu..kasihan arga
sintesa destania
terlalu lama thor
Queeny Geulitz Syahputri
keren.
Kembarr Kembaarr
stu kala MLEK.
fatmiatun sahono
ujung nya vanis iri. nira cucu org kaya dan terhormat. sementara Vania ga tau jungtrung nya anak angkat dr mana ....🙏
Yannie Mulya
mungkin si thor nya lulusan militer, bhasa begini amat🤣
Yannie Mulya
sama😄
fatmiatun sahono
mungkin maksudnya terang menuju subuh. oke...are you y🙏
Fauziah
menarik... kata katanya efisien sesuai dgn kebutuhan
Kembarr Kembaarr
cerita ini menggambarkn kalau pengusaha licik lg picik itu mampu mengalahkn penegak hukum wakau setinggi apapun jabatannya
Partini Minok Nur Maesa
mereka itu semua ngobrolnya kok kaku bgt sich kyk polisi sama tersangka.
Partini Minok Nur Maesa
nah bnr pdhl hbs bhs Vania lho yg mulutnya betbusa ini gmn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!