Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Jadi lebih dekat
Selanjutnya...
Hari-hari di rumah besar itu tak lagi diwarnai oleh keheningan yang membekukan. Sejak kehadiran Mbak Minah, asisten rumah tangga paruh baya yang direkrut Fadil, suasana rumah perlahan hidup.
Kehadiran Mbak Minah tak hanya meringankan beban fisik Aura, tetapi juga membawa keceriaan sederhana yang selama ini hilang dari dinding-dinding rumah tersebut.
Aura tidak pernah memposisikan dirinya sebagai majikan yang berjarak. Setiap kali Mbak Minah sedang memotong sayuran di dapur atau merapikan bunga di area taman belakang, Aura hampir selalu ikut berkutat di sampingnya.
Sifat Aura yang hangat, humoris, dan apa adanya membuat Mbak Minah betah dan sering menceritakan kisah-kisah lucu dari kampung halamannya.
Tanpa Aura sadari, perubahan atmosfer ini menarik perhatian sosok pria yang tinggal bersamanya.
Fadil yang biasanya langsung mengurung diri di kamar kerja atau bergegas pergi begitu sampai di rumah, kini makin sering menghabiskan waktu di area umum di rumah tersebut.
Seperti saat ini, pria itu menaruh laptopnya di meja ruang tengah, berpura-pura sangat sibuk menatap deretan angka dan laporan keuangan. Namun, pandangannya justru lebih sering teralih menuju area dapur terbuka di sudut sana.
Dari kejauhan, Fadil memperhatikan bagaimana helai-helai rambut Aura berayun lembut saat wanita itu tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Mbak Minah tentang ayam peliharaannya yang mengejar seorang tukang pos.
Tawa Aura terdengar sangat jernih, lepas, dan tanpa beban, sebuah tawa murni yang tak pernah Aura tunjukkan saat berhadapan langsung dengannya.
Melihat gelak tawa itu, sudut bibir Fadil tanpa sadar terangkat tipis. Sebuah senyuman samar dan hangat terukir secara alami di wajah tegasnya.
"Dia punya tawa yang sangat cantik," batin Fadil.
Lambat laun, ada rasa penasaran yang bertumbuh di dalam hati Fadil. Selama ini, ia hanya memandang Aura dari sudut pandang korban dan rasa curiga.
Namun kini, ia semakin memperhatikan interaksi kecil sehari-hari, semakin ia menyadari betapa anggun, tulus, dan sederhananya sosok wanita yang kini berstatus sebagai istrinya tersebut.
Suatu sore menjelang akhir pekan, hujan gerimis turun membasahi pelataran. Mbak Minah sudah pamit izin ke kamar belakang untuk beristirahat.
Sementara Aura berdiri di dekat meja dapur, sedang sibuk meracik camilan sore, pisang goreng renyah dan dua cangkir kopi hitam manis.
Fadil kini melangkah keluar dari kamar kerjanya dengan setelan kaos santai berwarna abu-abu. Pria itu berjalan mendekati area dapur, lalu bersandar pada konter kayu seraya memperhatikan jemari Aura yang cekatan membalik pisang di dalam wajan.
"Mbak Minah cerita apa tadi sampai kamu tertawa terpingkal-pingkal di dapur?" tanya Fadil tiba-tiba, suaranya yang santai memecah kesunyian dapur.
Aura tersentak kecil, dan hampir saja mencengkram spatula kayu dengan lebih kuat. Ia kemudian menoleh dan mendapati Fadil sedang menatapnya dengan raut wajah yang penuh rasa ingin tau.
"Ah... itu, Mas," jawab Aura sedikit canggung seraya mematikan kompor. "Mbak Minah cuma cerita lucu waktu dia pertama kali belajar naik motor matic di kampung. Ceritanya seru sekali."
Fadil pun terkekeh kecil, suara tawa yang sangat langka dan terdengar renyah. "Aku perhatikan dari ruang tengah, sepertinya seru sekali. Kamu sampai lupa kalau ada suamimu yang sedang bekerja di sebelah."
Pipi Aura mendadak merona merah mendengar kata "suamimu" meluncur begitu lancar dari bibir Fadil.
Untuk menutupi rasa canggung dan debaran halus di dadanya, Aura bergegas menata pisang goreng yang masih mengepul ke atas piring porselen.
"Kalau begitu, ini sebagai permohonan maaf karena sudah bising," ujar Aura seraya mengulurkan piring pisang goreng dan secangkir kopi hangat ke hadapan Fadil. "Silakan dinikmati, Mas."
Fadil tidak langsung meraih piring tersebut. Ia justru memajukan langkahnya satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi maskulin khas tubuhnya terhirup jelas oleh Aura.
Fadil menatap manik mata Aura yang bening, lalu mengulurkan tangannya bukan untuk meraih piring, melainkan untuk menyapu sedikit sisa tepung yang menempel di pipi kanan Aura.
Sentuhan jemari Fadil yang hangat di kulit pipinya membuat Aura menahan napas seketika. Jantungnya berdegup begitu kencang bagaikan genderang perang.
"Terima kasih," bisik Fadil, matanya tak lepas dari wajah Aura yang makin merona. "Aku lebih suka melihatmu tertawa seperti tadi daripada melihatmu diam dan bersikap formal padaku."
Fadil lalu meraih cangkir kopinya, mengambil satu potongan pisang goreng, lalu melangkah kembali ke ruang tengah dengan ukiran senyum tipis di bibirnya.
Aura kini berdiri bersandar di konter dapur, sambil menyentuh pipi kanannya yang terasa menghangat, sementara bayangan senyum tipis Fadil berputar-putar di dalam benaknya.
Sedangkan Fadil, ia duduk di sofa seraya menyesap kopi hitam buatan Aura. Sesekali ia melirik ke arah dapur, dan mendapati Aura yang masih terpaku dan canggung.
Ada kepuasan aneh yang menyelusup di hati Fadil saat melihat respons malu-malu dari wanita itu. Dinding pertahanan yang selama ini ia bangun rapat-rapat rasanya makin terkikis oleh kesederhanaan dan ketulusan Aura.
Tak lama kemudian, dering telepon genggam milik Fadil yang tergeletak di atas meja kaca memecah keheningan.
Fadil meraih ponselnya, lalu menggeser layar saat melihat nama adiknya yang bernama Farah tertera di sana.
"Halo, Farah?"
"Mas Fadil! Kak Aura ada di dekatmu tidak?" suara Farah dari ujung telepon terdengar riang dan penuh semangat.
"Ada di dapur. Kenapa?"
"Lusa kan weekend, Farah mau main ke rumah Mas! Sekalian ajak Mama juga. Mama bilang kangen dan mau makan masakan Kak Aura juga mau lihat suasana rumah baru kalian. Boleh ya, Mas?"
Fadil diam sejenak, lalu melirik ke arah Aura yang kini sedang memiringkan kepala, dan ikut mendengarkan percakapan itu secara samar-samar.
"Tentu saja boleh. Nanti Mas bilang ke Aura supaya siapkan makan siang," jawab Fadil.
"Yey! Oke Mas, sampai ketemu lusa ya!"
Setelah panggilan terputus Fadil meletakkan kembali ponselnya lalu memanggil Aura.
"Aura, bisa kemari sebentar?"
Aura merapikan celemeknya lalu melangkah mendekat ke ruang tengah. "Iya, Mas Fadil? Ada apa?"
"Lusa Farah dan Mama mau datang berkunjung," ujar Fadil seraya menatap Aura. "Mama ingin makan siang di sini dan mengobrol bersamamu. Kamu keberatan?"
Aura tersentak pelan, namun senyum lebar langsung berkembang di bibirnya. Ibu mertua dan adik iparnya selama ini dengan perlahan bersikap sangat hangat dan menerima kehadirannya dengan baik, tanpa menghakimi lagi situasi sulit pernikahan mereka.
"Sama sekali tidak keberatan, Mas!" jawab Aura antusias, dengan mata yang memancarkan binar kebahagiaan. "Aku malah senang sekali Mama dan Farah mau datang. Aku akan siapkan menu spesial untuk mereka."
Melihat binar bahagia dan antusiasme murni di wajah Aura, sorot mata Fadil makin melunak. "Baiklah. Catat semua bahan yang kamu butuhkan, nanti malam aku antar kamu ke supermarket untuk belanja."
"Eh? Mas Fadil mau ikut belanja?" tanya Aura kaget. Biasanya untuk urusan belanja dapur, Aura menyerahkannya pada Mbak Minah atau pergi sendiri.
Fadil berdiri dari sofa, lalu merapikan kemejanya seraya menatap Aura. "Tentu saja. Kenapa? Apa aku tidak boleh mengantar istriku belanja?"
"B-boleh, Mas... Terima kasih."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣