Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:684
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Penyusup di Jam Istirahat

Suasana di dalam kelas A masih dipenuhi oleh bisik-bisik riuh dari para murid yang sesekali melirik ke arah sudut belakang tempat Nasya duduk sendirian. Kejadian di gerbang sekolah tadi pagi benar-benar mengubah status Nasya dalam sekejap dari seorang gadis sekolah biasa yang tidak menonjol, kini menjadi sosok yang paling dicari tahu karena dikawal langsung oleh Eksan Prasetya. Nasya hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura fokus membaca buku pelajaran meskipun jemari tangannya meremas ujung roknya dengan sangat cemas.

Ketika bel tanda jam istirahat pertama berbunyi dengan nyaring, seluruh murid berhamburan keluar kelas. Nasya memilih untuk tetap diam di bangkunya, mengingat instruksi ketat dari Eksan untuk tidak pergi ke tempat sepi sendirian. Tangannya bergerak menyentuh balik kerah seragamnya, merasakan bentuk kepala kobra kecil pada kalung pemberian Eksan yang tersembunyi dengan aman. Benda itu kini menjadi satu-satunya pelindung tidak terlihat bagi jiwanya yang terancam.

Namun, ketenangan sementara itu terusik ketika pintu kelas kembali terbuka. Tiga orang murid pria dari kelas lain melangkah masuk dengan gaya yang terkesan angkuh dan mencurigakan. Nasya belum pernah melihat mereka sebelumnya di koridor sekolah ini. Salah satu dari mereka, seorang pemuda bertubuh jangkung dengan senyuman sinis yang dingin, langsung berjalan lurus menuju meja tempat Nasya duduk.

"Jadi, kau yang bernama Nasya?" tanya pemuda jangkung itu dengan nada suara yang sengaja direndahkan, namun sarat akan nada intimidasi yang kental.

Nasya mendongakkan kepalanya perlahan, jantungnya seketika berdegup kencang melihat sorot mata pemuda di hadapannya yang terasa sangat asing dan berbahaya. "iya. Ada urusan apa ya?" Nasya dengan suara yang menciut ketakutan.

Pemuda jangkung itu tidak langsung menjawab. Ia menarik sebuah kursi kosong di depan meja Nasya, lalu duduk dengan posisi menyilang kaki dengan santai, sementara dua temannya berjaga di depan pintu kelas yang kini sudah sepi. "Aku hanya penasaran dengan gadis yang sanggup membuat seorang Eksan Prasetya mengamuk besar dan menghancurkan faksi Red Wolf dalam satu malam," ucapnya sembari menyunggingkan seringai tipis yang mengerikan.

Pria itu perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan, mempersempit jarak aman di antara mereka hingga Nasya bisa merasakan hawa mengintimidasi yang sangat pekat. "Namaku teringat di jalanan sebagai bagian dari faksi White Tiger dari wilayah utara. Ketua kami, sang Macan Putih, mengirim ke sini untuk menyampaikan sebuah pesan kecil kepadamu, Manis."

Mendengar nama geng White Tiger disebut, wajah polos Nasya seketika berubah memucat pasi bagaikan kehilangan seluruh pasokan darahnya. Tubuhnya gemetar hebat di atas kursi. Ketakutannya yang teramat sangat kembali bangkit, menyadari bahwa ramalan Raka dan Eksan subuh tadi benar-benar terbukti. Musuh baru dari wilayah utara kini sudah menyusup masuk menembus dinding pertahanan sekolahnya.

"tolong... jangan ganggu aku. Aku tidak tahu apa-apa tentang urusan jalanan kalian," bisik Nasya dengan air mata yang mulai mengenang di sudut mata jernihnya.

"Kau mungkin tidak tahu apa-apa, tapi keberadaan mu adalah kunci untuk meruntuhkan kekuasaan Eksan di kota ini," balas penyusup dari White Tiger itu dengan suara rendah yang sarat akan kekejaman. Tangan kanannya bergerak maju hendak menyentuh dagu Nasya secara paksa. "Ikutlah dengan kami secara sukarela sekarang juga sebelum faksi kami bertindak kasar di sekolah ini—"

*BRAK!*

Pintu kelas A mendadak dihantam terbuka dari luar dengan kekuatan yang sangat luar biasa dahsyat hingga engsel kayunya bergetar hebat. Dua anak buah White Tiger yang berjaga di depan pintu seketika terpental ambruk ke lantai semen setelah dihantam secara brutal menggunakan tendangan lurus berkekuatan gila.

Sesosok pemuda bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam berlambang mawar berdarah melangkah masuk menembus debu pintu ruangan. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan sepasang mata elangnya memancarkan aura kematian yang luar biasa pekat, berkilat tajam penuh nafsu membunuh yang amat sangat mengerikan saat melihat wanitanya sedang diintimidasi oleh tikus-tikus dari wilayah utara.

Dia adalah Eksan Prasetya. Sang raja berandal jalanan telah kembali ke kelasnya setelah menyelesaikan urusan formal di ruang kepala sekolah.

"Lepaskan tangan kotor dari gadisku sebelum aku mencabut seluruh jemari tanganmu dari tempatnya..." suara Eksan terdengar sangat rendah, berat, serak, namun dipenuhi oleh getaran rasa intimidasi tingkat tinggi yang membuat seluruh isi kelas itu mendadak terasa mencekam dan kehilangan pasokan udaranya.

Pemuda jangkung dari White Tiger itu seketika tersentak kaget. Seringai di wajahnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kepanikan yang mendalam saat melihat Eksan sudah berdiri tegak di ambang pintu dengan kepalan tangan kanan yang mengeras sempurna hingga urat-urat birunya menyembul menegang di sepanjang lengan kekarnya.

"Eksan Prasetya?!" bisik pemuda jangkung itu dengan posisi kaki yang mendadak lemas ketakutan. Ia buru-buru bangkit berdiri dari kursi dan mundur dua langkah ke belakang, mencoba mencari celah untuk melarikan diri lewat jendela samping kelas.

Eksan tidak memberikan waktu satu detik pun bagi musuhnya untuk berpikir atau mengambil langkah seribu. Layaknya monster jalanan yang mengamuk hebat karena wilayah terlarangnya diusik, Eksan melesat maju menembus jarak di antara mereka dengan kecepatan gila yang tak masuk akal bagi ukuran seorang remaja pria yang perut kirinya masih dibalut perban tebal.

Satu pukulan mentah berkekuatan penuh dari tangan kanan Eksan menghantam telak bagian rahang kiri pemuda jangkung dari White Tiger tersebut sebelum pria itu sempat mengangkat kedua tangannya untuk bertahan. Bunyi berderak yang sangat mengerikan dari tulang wajah yang bergeser terdengar begitu nyaring di ruangan kelas yang sunyi, disusul oleh tubuh kekar penyusup itu yang langsung terpental ambruk menghantam meja kayu hingga hancur berkeping-keping di atas lantai.

Eksan berdiri tegak di atas tubuh musuhnya yang terkapar mengerang kesakitan memegangi wajahnya yang bersimbah darah. Ia mengalihkan pandangan matanya yang pekat kembali ke arah dua anak buah White Tiger yang baru saja bangkit berdiri di dekat pintu kelas dengan tubuh yang gemetar hebat karena ketakutan yang luar biasa melihat kekejaman sang ketua Black Cobra.

"Bawa bangkai teman kalian ini pergi dari sekolahku sekarang juga..." perintah Eksan dengan nada suara yang sangat tenang namun terdengar begitu menusuk layaknya bilah es tajam langsung ke ulu hati mereka. "Dan sampaikan pada ketua sialan kalian di wilayah utara... jika aku melihat ada satu lagi tato macan putih yang berani menampakkan hidungnya di sekitar gerbang sekolah ini, aku bersumpah demi nama Black Cobra akan meratakan seluruh distrik mereka menjadi tanah pemakaman berdarah berikutnya."

Tanpa membuang waktu sedikit pun, kedua anak buah White Tiger itu langsung buru-buru membopong tubuh teman jangkung mereka yang sudah setengah tidak sadarkan diri. Mereka berlari tunggang-langgang melarikan diri keluar menembus koridor sekolah yang mulai ramai oleh kerumunan murid lain yang menonton jalannya aksi kekerasan tersebut dengan napas tertahan penuh ketakutan.

Setelah memastikan seluruh penyusup musuh telah menjauh sepenuhnya dari kawasan kelas, Eksan perlahan-lahan mengembuskan napas berat yang terasa panas dari tenggorokannya. Ia mengabaikan rasa perih yang kembali berdenyut tajam di perut kirinya yang dibalut perban, lalu segera membalikkan tubuh tegapnya mendekati Nasya yang saat ini sedang menangis sesenggukan di sudut meja.

Eksan melangkah mendekat, lalu dengan gerakan posesif yang sangat protektif dan hangat, ia langsung menarik tubuh mungil Nasya masuk ke dalam dekapan perlindungan dada bidangnya yang tegap di hadapan ratusan murid sekolah yang menonton dari balik jendela luar kelas.

"Sudah aman, Nasya. Jangan menangis lagi," bisik Eksan dengan nada suara rendah yang dipenuhi kelembutan yang sangat asing bagi jiwanya yang terbiasa keras dan dingin. "Selama aku masih berdiri tegak di sampingmu, tidak akan ada satu ekor macan pun dari wilayah utara yang boleh menyentuh seujung kuku dari apa yang sudah sah menjadi milik seorang Eksan."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!