Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Fajar Kebahagiaan di Rumah Bukit Hijau
Sedan coupe midnight blue itu berhenti dengan halus di pelataran berpagar tinggi kawasan Bukit Hijau. Bayu Anggara dan Dimas keluar dari dalam kabin mobil baru mereka. Di dalam ruang keluarga yang terang berudara sejuk, Dokter Farhan, dokter spesialis senior yang disewa Bayu, baru saja melepas stetoskopnya dari dada Ibu Rahmi. Ibu Rahmi duduk santai di sofa kulit empuk, mengenakan gamis katun lembut berwarna krem, dengan wajah yang tampak segar, cerah, dan memancarkan rona merah sehat.
“Selamat siang, Dokter Farhan,” sapa Bayu seraya melangkah masuk bersama Dimas. Kemeja cokelatnya tampak rapi, dan matanya langsung tertuju pada sang ibu dengan penuh perhatian. “Bagaimana hasil peninjauan menyeluruh kondisi kesehatan Ibu hari ini?”
Dokter Farhan melepaskan kacamata bacanya, mengulas senyuman lebar penuh kepuasan seraya memegang lembar hasil laboratorium medis. “Selamat siang, Bayu, Dimas. Saya punya berita luar biasa untuk kalian berdua.”
Ibu Rahmi menatap putra tunggalnya dengan senyum hangat, dadanya berdesir melihat kehangatan di mata Bayu. “Dokter dari tadi cuma tersenyum-senyum saja, Bayu. Ibu jadi penasaran.”
“Hasil analisis laboratorium darah lengkap, fungsi organ internal, dan pemeriksaan elektrokardiogram terkini menunjukkan hasil yang luar biasa,” urai Dokter Farhan mendetail dengan nada gembira. “Seluruh parameter peradangan kronis yang selama bertahun-tahun menggerogoti tubuh Ibu Rahmi telah hilang sepenuhnya. Tekanan darah stabil di angka 120 per 80, dan regenerasi jaringan organ beliau berjalan sempurna.”
Dimas membelalakkan matanya gembira, melangkah maju dua tindak. “Dok! Maksud Dokter... Tante Rahmi sudah sembuh total?!”
“Seratus persen pulih total,” tegas Dokter Farhan mantap. “Ibu Rahmi tidak perlu lagi mengonsumsi obat-obatan dosis tinggi atau menjalani terapi rutin harian. Kondisi fisik beliau saat ini benar-benar prima dan bugar, sama seperti orang yang sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit kronis.”
Tenggorokan Bayu mendadak serasa tersumbat oleh gelombang rasa haru yang begitu hebat. Ia membetulkan letak kacamata titaniumnya seraya melangkah cepat mendekati ibunya. “Ibu... Ibu dengar sendiri penjelasan dokter, kan? Ibu sudah sembuh total...”
Air mata kebahagiaan menetes perlahan menelusuri pipi halus Ibu Rahmi. Wajahnya yang dulu sering pucat dan lesu akibat menahan sakit menahun, kini memancarkan sinar kebahagiaan yang murni. Ibu Rahmi merentangkan kedua tangannya.
“Kemari, Nak... Kemari, Bayu,” bisik Ibu Rahmi dengan suara bergetar penuh haru.
Bayu langsung berlutut di depan sofa, memeluk erat ibunya. Ia menyandarkan kepalanya pada pangkuan sang ibu, merasakan kehangatan dan detak jantung ibunya yang berdenyut stabil dan kuat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berjuang dalam kegelapan dan kemelaratan, air mata rasa syukur mengalir hangat di sudut mata Bayu.
“Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih...” bisik Bayu tulus, jemarinya menggenggam jemari ibunya dengan erat. “Semua perjuangan ini... akhirnya tidak sia-sia, Bu.”
Ibu Rahmi mengusap lembut rambut putra tunggalnya, mengecup puncak kepala Bayu dengan kasih sayang yang meluap-luap. “Ini semua berkat ketulusan, doa, dan kerja kerasmu, Bayu. Anakku yang sangat berbakti...”
Dimas yang berdiri di belakang mereka mengusap matanya dengan ujung lengan baju, menahan tangis haru yang tak terbendung. “Sumpah, Bay... gue terharu banget... Tante Rahmi akhirnya bisa senyum dan sehat beneran sekarang.”
Ibu Rahmi mendongak, menatap Dimas dengan senyuman paling hangat. “Dimas, kemari, Nak. Kamu juga bagian dari keluarga kecil ini. Ibu tahu betul betapa kamu selalu setia menemani dan membantu Bayu saat situasi kami sedang sangat sulit dulu.”
Dimas mendekat seraya terkekeh pelan dalam haru, menjabat tangan Ibu Rahmi dengan penuh rasa hormat. “Tante Rahmi sudah seperti ibu kandung aku sendiri. Aku seneng banget lihat Tante sehat begini!”
Dokter Farhan membereskan peralatan medisnya ke dalam tas kulit, menatap keluarga kecil tersebut dengan rasa takjub dan kagum. “Pak Bayu, dedikasi dan perhatian Anda dalam menyediakan perawatan terbaik, nutrisi berkualitas, serta lingkungan tinggal yang tenang di rumah ini adalah faktor kunci kesembuhan mutlak ibu Anda. Ini adalah keajaiban medis yang dipicu oleh baktimu yang luar biasa.”
“Terima kasih banyak atas penanganan profesional Anda selama ini, Dokter Farhan,” sahut Bayu seraya berdiri dan mengantar dokter senior itu hingga ke pintu depan. “Saya sangat mengapresiasi seluruh dedikasi Anda.”
“Sudah menjadi kewajiban saya, Nak Bayu. Saya pamit dulu,” ujar Dokter Farhan ramah sebelum melangkah keluar menuju kendaraannya.
Pintu utama tertutup kembali. Suasana rumah mewah berarsitektur minimalis hangat itu terasa semakin sunyi dan damai. Sinar mentari siang menembus jendela kaca tinggi, membiaskan pendar keemasan di atas keramik marmer.
Ponsel di saku kemeja Bayu bergetar sangat halus. Suara sintesis Jarvis mengalun jernih melalui earphone mikro di telinga kiri Bayu.
“Konfirmasi medis independen,” lapor Jarvis mendetail. “Pemindaian spektral biometrik mengonfirmasi fungsi organ vital Ibu Rahmi berada pada tingkat efisiensi seratus persen. Seluruh indikator kegagalan sistemik telah terhapus murni dari basis data kesehatan.”
Bayu mengulas senyum puas yang sangat dalam di hatinya. “Terima kasih, Jarvis,” bisik Bayu pelan.
“Dengan senang hati, Bayu,” jawab Jarvis santai. “Pencapaian ini adalah hasil mutlak dari ketetapan hati Anda.”
Bayu melangkah kembali ke ruang keluarga. Di sana, Ibu Rahmi sudah berdiri tegak dari sofanya tanpa memerlukan bantuan tongkat sama sekali. Beliau melangkah dengan ringan menuju meja makan yang telah disiapkan.
“Bayu, Dimas,” panggil Ibu Rahmi dengan suara yang riang dan segar. “Ibu merasa sangat bugar hari ini. Bagaimana kalau siang ini Ibu yang memasakkan sayur lodeh, ayam goreng, dan tempe goreng kesukaan kalian?”
Dimas membelalakkan mata gembira. “Wah! Masakan Tante Rahmi?! Sumpah, kangen banget aku sama sayur lodeh buatan Tante! Tapi... Tante kan baru sembuh, apa nggak capek?”
“Ibu tidak capek sama sekali, Dimas,” kekeh Ibu Rahmi hangat seraya menyingsingkan sedikit lengan gamisnya. “Tubuh Ibu rasanya sangat ringan dan bertenaga. Rasanya seperti lahir kembali.”
Bayu menghampiri ibunya, memegang kedua tangan sang ibu dengan kelembutan yang tinggi. “Ibu boleh memasak, tapi biar Bayu dan Dimas yang menyiapkan seluruh bahan-bahannya di dapur.”
“Siap, Bos Bayu!” seru Dimas antusias. “Gue yang bagian memotong tempe dan kupas bawang!”
Ibu Rahmi tertawa renyah, tawa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar di rumah kontrakan sempit mereka dulu. Beliau memandangi putra tunggalnya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa bangga dan kebahagiaan yang tak terhitung nilainya.
“Bayu,” panggil Ibu Rahmi lembut seraya mengusap pipi Bayu.
“Iya, Bu?” sahut Bayu penuh kehangatan.
“Dulu... saat kita tidak punya uang sama sekali untuk membeli obat 500.000 rupiah di rumah sakit,” kenang Ibu Rahmi dengan nada suara yang dalam, “Ibu sempat takut tidak akan bisa melihatmu sukses dan bahagia. Tapi hari ini, Ibu melihatmu tumbuh menjadi pria yang sangat mandiri, bijaksana, dan tidak pernah lupa pada orang tua.”
Bayu menggenggam tangan ibunya di pipinya, menatap mata ibunya dengan binar penuh cinta dan keteguhan.
“Seluruh harta, keahlian, dan keberhasilan yang aku miliki tidak ada artinya jika Ibu tidak berada di sisiku dalam keadaan sehat, Bu,” tutur Bayu tenang, jujur, dan sangat berwibawa. “Tugas Bayu adalah memastikan Ibu selalu bahagia dan terlindungi sepanjang hidup Ibu.”
Ibu Rahmi tersenyum bahagia, memeluk Bayu sekali lagi dengan kehangatan seorang ibu yang tak terhingga.
Di dalam rumah yang nyaman di kawasan Bukit Hijau itu, gelak tawa dan kebahagiaan haru membungkus keluarga kecil Bayu. Setelah melewati badai ujian hidup yang membakar, fajar kemenangan sejati telah menyingsing. Kesehatan sang ibu yang pulih total menjadi hadiah paling indah bagi Bayu Anggara, mengukuhkan bahwa perjuangan dan baktinya telah membuahkan hasil yang paling sempurna.