Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 ~ Daddy Axel Sudah Ketemu
Melihat kegaduhan itu, Damian langsung berlari mendekat.
"Lihat apa yang sudah kau buat! Dasar..."
"Ada apa?" potong Damian cepat, matanya menatap sekeliling mencari apa yang terjadi.
Wajah Eliza yang tadi penuh kemarahan seketika berubah. Bibirnya mencebik, matanya berkaca-kaca, beralih menjadi kesedihan yang dibuat-buat namun terdengar meyakinkan.
"Lihat, Damian... anak kecil itu menumpahkan minuman ke gaunku..." Ia menunjuk bagian kain yang basah, suaranya bergetar seakan tak sanggup menahan luka. "Gaun ini sangat mahal... bagaimana kalau rusak?"
Damian menatap noda basah itu sekilas. "Ini hanya gaun. Tidak perlu kau buat keributan seheboh ini."
"Apa?!" Eliza melotot tak percaya. "Ini gaun dari perancang asal Prancis! Aku bahkan menunggunya dua bulan lamanya! Sekarang kau bilang ini cuma gaun?!"
"Eliza, cukup!" suaranya rendah namun tegas. "Aku tidak mau berdebat di tempat seperti ini. Kalau kau tidak nyaman... kita pulang."
"Tapi Damian..."
"Daddy?"
Suara mungil itu tiba-tiba terdengar jernih, memotong kata-kata Eliza.
Keduanya serentak menoleh.
Axel berdiri tak jauh dari sana, menatap Damian dengan mata yang berbinar. Wajah keduanya begitu berbeda, Eliza penuh kemarahan yang tertahan, sementara Damian... matanya membelalak, napasnya tertahan.
"Mommy tidak bohong..." bisik bocah itu pelan, seakan meyakinkan dirinya sendiri. "Daddy Acel memang cangat tampan..."
Langkah kecilnya maju dua langkah, tanpa ragu sedikit pun. Tangan mungilnya terulur, menarik ujung celana panjang Damian.
"Daddy?" panggilnya sekali lagi.
Satu kata itu menghantam dada Damian lebih keras daripada apa pun.
Daddy?
Bagaimana mungkin? Anak ini memanggilnya Daddy? Dan wajah itu... wajah kecil yang menatapnya lekat-lekat itu... persis. Persis seperti dirinya di masa kecil. Persis seperti potret lama yang dulu pernah dilihatnya.
Damian terpaku. Seluruh tubuhnya kaku. Dunia seakan berhenti berputar di detik itu.
Damian menunduk perlahan, menatap wajah kecil itu lekat-lekat. Matanya membelalak, napasnya tertahan. Semua kepingan teka-teki yang selama ini tak tersambung, kini jatuh pada tempatnya satu per satu.
Wajah itu. Mata itu. Bentuk dagu itu. Bahkan cara menatapnya... persis sama.
"Kau..." suaranya bergetar pelan, hampir tak terdengar. "Siapa..."
"Daddy kenapa diam caja?" Axel mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap bingung. "Acel cudah cali-cali Daddy.. Tapi cekalang Daddy Acel cudah ketemu!"
Tangan kecil itu masih memegang ujung celananya. Damian merasakan sentuhan itu hangat, nyata, begitu tulus. Dadanya terasa sesak, campuran antara rasa tak percaya, kebahagiaan yang meledak, dan kemarahan yang perlahan tumbuh menyadari semuanya.
"Anak siapa..." gumamnya sendiri.
"Damian!"
Suara Eliza tiba-tiba menghentak, memecah keheningan itu. Wanita itu menarik lengan Damian dengan kasar. "Apa yang kau lakukan?! Ini anak orang asing! Pulanglah, biarkan pelayan yang mengurusnya!"
Namun Damian tak bergerak. Ia melepaskan tangan Eliza dari lengannya perlahan, tanpa menoleh sedikit pun.
"Dia bukan anak orang asing," ucapnya rendah, namun tegas.
"Apa maksudmu?"
Damian tak menjawab. Ia berjongkok di hadapan Axel, menyamakan tingginya dengan anak itu. Tangannya gemetar pelan menyentuh pipi gembil itu.
"Siapa Mommy-mu, Nak?" tanyanya lembut, berusaha menahan getaran di suaranya.
Axel tersenyum lebar. "Mommy Acel ada dicana! Ayo ikut acel menemui Mommy.."
Jantung Damian seakan berhenti berdetak.
Mommy?
Batin Damian. Entah mengapa Damian merasakan ada chemistry yang begitu kuat dengan anak kecil itu.
Semakin banyak ia berpikir, semakin menatap wajah lucu itu.. Damian semakin penasaran, siapa ibunya? Mungkinkah dia benar-benar putranya?
'Jika benar wanita yang tidur bersamanya hamil seperti apa yang dikatakan oleh dokter.. Bisa jadi anak itu sudah sebesar ini sekarang..'
Damian mulai mengaitkan pecahan ingatannya satu persatu.
'Mungkinkah wanita malam itu ada ditempat ini juga?' pikirnya mulai berharap.
Jika iya, hanya wanita itulah satu-satunya yang bisa membebaskannya dari semua kegilaan ini. Setidaknya setelah ia bertemu dengan wanita itu, Damian akan yakin, jika bukanlah pria aneh.
Damian adalah pria normal yang masih bisa merasakan menikmati sentuhan wanita.
"Damian... jangan sentuh anak itu..." Eliza menarik lengan pria itu, suaranya gemetar karena cemas sekaligus kesal. "Ayo kita pulang sekarang."
Namun Damian tak bergerak. Tangan yang tadi menyentuh pipi kecil itu masih terasa hangat. Matanya tak lepas dari bocah yang menatapnya polos.
"Axel!!"
Suara itu.
Satu panggilan itu begitu lembut, namun penuh kepanikan, membuat seluruh tubuh Damian menegang. Ia kenal betul suara itu. Tiga tahun lalu, suara inilah yang terakhir kali ia dengar sebelum semuanya hilang.
Evan berdiri di sana, napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Wajahnya pucat pasi, seakan seluruh darah di tubuhnya tiba-tiba tersedot pergi. Matanya yang indah itu menatap ke arah mereka, pada Axel yang masih tersenyum lebar, lalu perlahan beralih pada Damian yang berdiri tegak perlahan.
Dan saat mata mereka bertemu... waktu seakan berhenti.
Tatapan Damian begitu berat, begitu dalam, tak bisa dibaca sekaligus menyakitkan. Di sana ada kebingungan yang akhirnya terjawab, ada kepastian yang tak bisa lagi disangkal, dan ada luka yang selama tiga tahun ia pendam kini terbuka lebar, segar, dan perih.
"Evan?" gumam Damian pelan, seakan tak percaya lidahnya sendiri mengucapkan nama itu.
Wanita itu berdiri mematung. Tubuhnya kaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Evan menghela napas panjang, dadanya sesak sebelum ia melangkah. Berat sekali, seakan kakinya tertanam di lantai. Namun ia memaksakan diri bergerak cepat, mendekat, lalu menarik tubuh mungil Axel ke dalam pelukannya erat, seakan tak ingin melepaskan lagi.
"Maaf sudah mengganggu... permisi."
Ia hampir membalikkan badan, namun satu panggilan itu menghentikan langkahnya seketika.
"Evan?!"
Eliza melangkah mendekat, menatapnya tajam, tak ada sedikit pun keramahan di wajahnya.
"Jadi ini anakmu?"
•
•
❤️
AYO DI BACA, INI NOV YG PALING SERU DI NOVELTOON😀😀😀😀😀
gemess sama Axel