Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5.
Meskipun sudah resmi menjalin hubungan, pagi itu baik Rafa maupun Kahiyang tetap memegang kesepakatan yang telah mereka buat. Di kantor, keduanya tetap bersikap seperti biasa. Tidak ada interaksi berlebihan yang bisa membuat rekan-rekan mereka curiga.
Sejak pagi, keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Rafa berkutat di depan komputer dengan beberapa berkas di atas mejanya. Begitu pula Kahiyang tenggelam pada pekerjaannya.
Namun, sesekali perhatian mereka teralihkan. Saat Kahiyang tanpa sengaja menoleh, pandangannya bertemu dengan Rafa yang sedang melihat ke arahnya. Keduanya sama-sama terdiam sesaat sebelum buru-buru mengalihkan pandangan.
Kahiyang menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang muncul di bibirnya. Sementara Rafa kembali menatap layar komputer, berusaha terlihat serius meskipun sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyuman tipis.
Begitulah beberapa kali terjadi sepanjang hari. Hanya tatapan singkat dan senyum yang diam-diam membuat keduanya salah tingkah sendiri. Hingga tanpa terasa, jam kerja pun berakhir.
Kahiyang segera merapikan meja kerjanya, memasukkan beberapa barang ke dalam tas, lalu memeriksa kembali layar komputernya untuk memastikan tidak ada pekerjaan yang tertinggal. Setelah semuanya beres, ia pun bergegas meninggalkan ruangan.
Rafa yang masih berada di mejanya memperhatikan kepergian Kahiyang. Dia menunggu beberapa saat hingga keadaan di sekitar cukup sepi, barulah bergegas keluar ruangan.
"Mbak," panggilnya pelan ketika berhasil menyusul.
Kahiyang menghentikan langkah dan menoleh. "Iya, ada apa?"
Rafa berhenti di sampingnya. Sesaat terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sampai akhirnya bertanya dengan suara rendah.
"Untuk ulang tahun perkawinan Eyang nanti... menurut Mbak, kita sebaiknya bawa kado apa?"
Kahiyang sempat tertegun, lalu menjawab dengan tegas. "Kita nggak perlu bawa kado."
Rafa mengernyitkan kening. "Kenapa?"
Kahiyang menatapnya sambil tersenyum. "Karena kamu sudah merupakan kado istimewa buat Eyang."
Rafa terdiam. Ucapan sederhana itu entah kenapa membuat dadanya terasa hangat. Senyum kecil perlahan muncul di bibirnya.
"Oh..." Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
Kahiyang terkikik kecil melihat reaksinya. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa, Mbak." Rafa buru-buru mengalihkan pandangan. Namun, senyum kembali terbit di bibirnya.
Beberapa detik kemudian, dia bertanya lagi. "Kalau begitu, besok kita berangkat jam berapa? Terus... aku jemput Ayang di mana?"
"Kamu mau jemput aku?" tanya gadis itu sedikit terkejut sambil menatap sang pemuda.
Rafa mengangguk mantap. "Iya, sebagai lelaki sudah seharusnya aku melakukan hal itu. Setidaknya aku bisa memastikan kita berangkat dan sampai di sana dengan aman."
Kahiyang terdiam. Ada sesuatu dari cara Rafa mengucapkan kalimat itu yang membuat hatinya menghangat. Tidak terdengar berlebihan, apalagi dibuat-buat. Rafa hanya menyampaikannya dengan polos, tetapi justru itu yang membuatnya terasa tulus. Ia pun akhirnya tersenyum kecil. "Baiklah."
Kemudian menyebutkan alamat rumahnya. Rafa mendengarkan dengan saksama, bahkan mengulang alamat tersebut dalam hati agar tidak lupa.
"Berarti aku datang sebelum jam segitu, kan?" tanyanya untuk memastikan.
Kahiyang tersenyum. "Iya, jangan sampai telat,"
"Oke.Nggak akan," jawab Rafa mantap.
Lantas Kahiyang hendak melangkah pergi, tetapi Rafa tiba-tiba memanggilnya lagi.
"Yang..." Kahiyang menoleh.
"Aku antar pulang, ya?" ucap Rafa sedikit ragu.
Kahiyang bisa melihat ketulusan di mata pemuda itu, tetapi ia tak ingin memanfaatkan keadaan. "Nggak perlu. Besok saja kamu jemput aku di rumah. Karena malam ini mama sama papaku nginap di sana."
"Baiklah," jawab Rafa meski sedikit kecewa.
"Aku pulang, ya," pamit Kahiyang, lalu berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.
"Hati-hati di jalan," pesan Rafa masih berdiri beberapa saat di tempatnya, memandangi punggung Kahiyang yang semakin menjauh. Tanpa sadar, senyum kembali menghiasi wajahnya.
Besok adalah hari penting bagi keluarga Kahiyang. Dirinya akan datang bukan sebagai teman kerja, melainkan sebagai lelaki yang berdiri di sampingnya.
...
Keesokan harinya, Rafa datang tepat waktu. Ia memarkirkan kendaraannya di halaman rumah Kahiyang, lalu turun dengan tenang. Penampilannya masih seperti biasa -- kemeja lengan panjang rambut disisir rapi hingga klimis, serta kacamata berbingkai tebal yang menjadi ciri khasnya. Sederhana, bersih, dan sopan. Tidak ada kesan berlebihan dalam penampilannya.
Belum sempat Rafa mengetuk pintu, tetapi pintu rumah sudah terlebih dahulu terbuka. Kahiyang keluar dengan penampilan anggun dan langsung sambil tersenyum melihatnya.
Sesaat Rafa begitu terpesona hingga tak mampu berkata-kata. Sampai akhirnya Kahiyang melambaikan tangan di depan wajahnya.
"Halo, Raf. Ayo, kita berangkat. Aku nggak mau kita telat," ajaknya sambil menggelengkan kepala geli.
Rafa mengangguk sambil menggaruk pelipisnya salah tingkah. "Oh... O-oke!" jawabnya tergagap.
Dia kemudian membukakan pintu untuk Kahiyang. Setelah memastikan gadis itu sudah duduk dengan nyaman, Rafa beralih ke sisi pengemudi dan menyalakan mesin. Mereka pun berangkat menuju rumah Eyang.
...
Sementara itu, kediaman Eyang Bramantyo sudah dipenuhi keluarga besar. Suara percakapan dan tawa terdengar dari berbagai sudut rumah. Di rumah tengah, Bu Arimbi dibantu beberapa kerabat sedang menata piring, mengisinya dengan kue basah dan cake serta minuman. Tangannya bergerak cekatan memastikan semuanya tersusun rapi.
Tak lama kemudian, Bu Retno datang menghampiri. Begitu berdiri di samping Bu Arimbi, matanya langsung berkeliling seolah mencari bahan pembicaraan.
"Eh, Mbak Imbi..." ucapnya sambil menjawil lengan sang kakak.
Bu Arimbi hanya menoleh sekilas. "Ada apa, Retno?"
Bu Retno kembali melihat sekeliling. "Ayang mana? Kok belum kelihatan? Apa jangan-jangan dia nggak datang lagi seperti sebelum-sebelumnya"
Bu Arimbi kembali menata piring tanpa tergesa. "Nanti juga datang."
"Kali ini dia datang masih sendirian atau sudah bawa pasangan?" Bu Retno bertanya lagi, seolah memastikan sesuatu.
"Insya Allah," jawab Bu Arimbi singkat.
Bu Retno mendecakkan lidah. "Halah, paling juga nggak datang lagi. Kalaupun datang pasti masih sendiri lagi."
Bu Arimbi tidak menanggapi hal itu membuat jiwa julid Bu Retno justru semakin menjadi.
"Kasihan juga ya, dia. Nggak bisa move on dari Tedy. Salah sendiri sih, jadi gadis terlalu cuek nggak bisa menjaga pasangannya, ya jangan salahkan kalau Cantika merebut Tedy darinya, karena dia sama sekali nggak cocok," tambahnya tanpa rasa malu.
"Retno...cukup!" tegur Bu Arimbi pelan penuh tekanan.
"Aku cuma heran aja, Mbak." Bu Retno tertawa kecil. "Jangan-jangan dia memang susah dapat jodohnya?"
Beberapa orang di sekitar mereka mulai melirik dan berbisik-bisik. Bu Arimbi hendak membalas, tetapi suara seseorang dari arah pintu lebih dulu terdengar.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumussalam..."
Percakapan di sekitar ruangan seketika mereda. Beberapa kepala menoleh bersamaan melihat siapa yang datang.
Kahiyang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum anggun. Di sampingnya seorang pemuda berdiri tegap sikapnya tenang dengan senyum sopan.
Dari dalam ruang tengah, Bu Retno bergegas keluar dan menghampiri pasangan yang baru datang tersebut. Matanya menyipit, menelisik penampilan Rafa dari atas ke bawah.
"Oh, ya ampun...! Jadi dia yang dibilang kekasih kamu, Ayang!" seru Bu Retno dengan gayanya yang dibuat-buat sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ya Tuhan... Bibi pikir kamu akhirnya akan memilih pria yang lebih mapan, ganteng, dan keren, atau lebih segalanya dari Tedy. Tapi ternyata... ah, sudahlah," Bu Retno tertawa mencemooh.
"Atau jangan-jangan dia bukan kekasih kamu ya, Ay?" tanya Cantika tiba-tiba, muncul entah dari mana, langsung berdiri di samping Bu Retno dan sambil menatap Rafa dengan pandangan jijik.
Belum sempat Kahiyang membuka mulut untuk menjawab, Cantika kembali membuka suara.
"Astaga...lihat saja tampangnya nggak banget, deh!" Ia memutar bola matanya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Mana rambutnya klimis, kacamatanya tebal pula, culun banget. Pasti kamu memungut dia dari pinggir jalan, ya? Terus kamu sewa cuma buat pamer di sini? Aah...emang sih, cowok culun ya, cocoknya sama perawan tua."
"Cukup...!"
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭